MUDIK YUK..!!! (Bagian pertama dari 3 cerita)

Mudik, mendengar kata ini pasti kita langsung mengaitkannya dengan Lebaran, suatu ritual yang sebenarnya bukan hanya milik kita orang Indonesia saja. Suatu ritual yang kadang harus dijalani dengan sangat susah payah hanya demi satu tujuan, berkumpul dengan keluarga di hari raya.

Tahun ini adalah kali kedua saya merasakan yang namanya mudik lebaran. Sebelum menikah saya memang tidak pernah merasakan denyut suatu ritual yang disebut mudik. Dulu, mudik bagi saya adalah mengunjungi rumah tempat nenek saya berdiam yang jaraknya hanya 7 km dari rumah, atau dapat ditempuh dengan kendaraan selama kurang lebih 15-20 menit. Nggak ada romantikanya bukan..?

Garis tangan kemudian memutuskan saya harus berjodoh dengan seorang gadis Jawa yang rela ikut saya ke Makassar. Artinya, saya kemudian punya alasan untuk mudik atau tepatnya pulang ke kampung halaman istri, nun jauh di pulau Jawa sana.

Dan tahun ini sama saja dengan mudik kami dua tahun lalu. Nyaris tanpa perhitungan yang matang. Dua tahun lalu, keputusan mudik kami approve 2 hari sebelum lebaran, yaitu saat tiba-tiba Sriwijaya Air berbaik hati menjual tiket Makassar-Jakarta hanya dengan harga Rp. 250.000,-. Siapa yang tidak tergoda dengan harga tiket semurah itu, di musim mudik lagi, hingga akhirnya kamipun berangkat, walaupun tak tahu nantinya akan menumpang apa dari Jakarta ke Semarang.

Tahun ini, rencana memang sudah disusun agak jauh hari sebelum lebaran, walaupun nggak bisa dibilang matang. Rencana awal, mengingat budget yang mepet, hanya istri dan anak saya yang akan pulang ke Semarang. Saya hanya akan mensupport mereka dari sini. Oke, itu garis besarnya. Detailnya kemudian adalah sebagai berikut. Berangkatnya akan menggunakan pesawat sampai Surabaya dan dilanjutkan dengan jalur darat selama 6 jam ke Semarang. Setelah mencari-cari tiket pesawat yang sesuai dengan alokasi waktu dan dana, ternyata tidak ada satupun yang sesuai. Harga termurah via Surabaya adalah Rp. 600-an ribu. Masih sangat mahal buat kami.

Mentok di plan A, kami beralih ke planB. Kebetulan seorang kenalan istri saya juga mau pulang ke Jawa, tapi pake kapal laut. Saya pikir, gak apalah istri ikut temannya sampai Surabaya, minimal ada yang temanin kan, walaupun sama-sama cewek. Tanggal keberangkatan sudah disiapkan, disesuaikan dengan jadwal “bolos” istri saya, yaitu 2 hari sebelum libur resmi dan cuti bersama para PNS.

Menjelang D-Day, plan B juga ternyata gagal. Teman istri saya ternyata berangkatnya jauh hari sebelum hari di mana istri saya bisa mulai libur. Mau bolos, kayaknya koq terlalu cepat dan terlalu lama. Konsekuensinya bisa fatal, apalagi mengingat istri saya masih PNS baru.


Ganti rencana
Setelah melalui pertimbangan dari segi finansial, akhirnya kami sepakat mengganti garis besar rencana. Saya akan ikut pulang ke Semarang, tapi dengan asumsi pulangnya pake kapal laut saja, itupun kelas ekonomi yang harganya sangat terjangkau (hanya Rp. 220.00,- per orang dewasa dan Rp. 165.000,- untuk anak-anak). Setelah jadwal keberangkatan yang disertai dengan aksi “bolos” itu disetujui (kalau saya sih liburnya resmi karena pake ijin cuti), tiket kapal kemudian resmi kami beli. Soal apakah nantinya di Surabaya mau naik bus atau travel itu urusan belakangan, yang penting bisa menginjak tanah Jawa dulu.

Sehari menjelang tanggal keberangkatan (9 Oktober) kami dapat kabar dari salah satu Oom saya yang kebetulan kerja di Pelindo bahwasanya kapal yang akan kami tumpangi ke Jawa bakal terlambat sampai 12 jam..!!!!!, 12 jam.., gila..!!. di tiket tertera rencana keberangkatan adalah jam 2 siang, tapi menurut Oom saya KM Labobar baru akan masuk Makassar pukul 10.00 malam dan biasanya akan berangkat 4 jam kemudian.

Mendengarnya saja sudah langsung bikin lemas. Bayang-bayang mudik sekejap jadi kabur, persis kayak siaran tipi yang antenanya copot. Tapi mau bagaimana lagi, ini di luar kuasa kita. Siang hari tanggal 9 Oktober, sambil menunggu jadwal keberangkatan dengan aroma bete yang sangat kental, kami kemudian mencoba mencari tiket pesawat Jakarta-Makassar atau Surabaya-Makassar tanggal 22 oktober, sesuai dengan rencana kepulangan kami. Ini sebenarnya adalah opsi cadangan karena kami sudah sepakat pulangnya naik kapal laut lagi dari Surabaya tanggal 20 oktober. Sayang, opsi cadangan ini tidak berjalan mulus. Tiket pesawat pada tanggal-tanggal yang kami inginkan ternyata masih melambung tinggi. Paling murah masih Rp. 600-an ribu.

Pukul 10 malam, kami dapat telepon dari Oom, disuruh siap-siap ke pelabuhan karena kapalnya udah mau masuk pelabuhan Makassar. Oke, dengan diiringi doa restu bapak dan ibu kami kemudian meluncur ke pelabuhan. Awalnya saya mengira penumpang KM Labobar nggak bakalan banyak-banyak amat. Pertama karena sisa hari menjelang lebaran sudah semakin dekat, artinya para pemudik yang akan ke Jawa kemungkinan sudah berkurang. Kedua, jumlah penumpang yang turun di Makassar juga sangat banyak (sebelumnya KM Labobar berlayar dari Papua).

Tapi ternyata perkiraan kami salah…jumlah penumpang yang naik juga tidak kalah banyak, bahkan sangat banyak. Semua lorong-lorong dan bawah tangga penuh sesak penumpang. Bahkan dek 7 yang terbuka lebar dan langsung berhubungan ke alam terbuka yang biasanya digunakan sebagai tempat bersantai itu juga penuh penumpang. Seumur hidup saya belum pernah naik kapal yang sampai sepenuh itu. Beruntung juga karena saya punya Oom yang berbaik hati mencarikan tempat tidur kosong buat kami mengingat tiket kami yang hanya kelas ekonomi yang berarti harus rebutan dalam mencari tempat tidur kosong. Saat penumpang lain belum naik ke kapal, saya dan Oom sudah keliling di atas kapal sambil mencari tempat yang strategis. Dan Alhamdulillah dapat juga…

Pukul 2 dinihari, kapal mulai meninggalkan Makassar menuju ke Surabaya. Perjalanannya sendiri sebenarnya cukup mengasyikkan, anak saya sangat menikmati pengalaman pertamanya menumpang kapal laut. Saya sendiri seudah hampir lupa bagaimana rasanya naik kapal laut. Terakhir kali adalah 5 tahun yang lalu, namun semenjak tiket pesawat turun drastis dan kemudian sangat terjangkau, saya tak pernah lagi melirik moda transportasi yang satu ini.

Tiba di Surabaya
Sekitar 23 jam kemudian atau sekitar pukul 12 waktu Surabaya, KM Labobar merapat ke Tanjung Perak. Satu perjalanan sudah terlewati, sekarang kami harus memikirkan perjalanan selanjutnya. Semarang masih 6 jam jauhnya dari Surabaya.

Sebenarnya dalam perjalanan pihak Pelindo sudah mengumumkan tentang tersedianya jasa angkutan travel dari Surabaya ke beberapa kota-kota besar di Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Setelah saya cek harganya, ternyata harga travel Surabaya-Semarang adalah Rp. 155.000,-, jauh di atas harga normal yang sekitar Rp. 95.000,-.

“tetangga” kami di kapal yang kebetulan orang Surabaya memberi saran. Katanya kami lebih baik naik Damri –yang katanya ada terus sepanjang hari—dari Tanjung Perak ke Bungurasih, dari sana baru naik bus patas ke Semarang. Katanya ongkos bus patas AC paling mahal Rp. 75.000,- karena normalnya adalah Rp. 45.000,-. Karena yang ngomong orang Surabaya, ya kami percaya juga. Pikir kami, lumayan juga bisa menghemat sampai setengah dari harga yang ditawarkan Pelindo.

Ternyata, setelah kami menginjak bumi Surabaya setelah sebelumnya berdesak-desakan sangat parah dengan para penumpang lainnya yang akan turun dari kapal, Damri yang dimaksud sudah tidak tersedia lagi. Tak ada pilihan lain, kami memilih naik mobil carteran dengan ongkos Rp. 60.000,- menuju Bungurasih. Tapi rupanya si sopir memberi alternatif lain, katanya bus ke Semarang sudah nggak ada di tengah malam seperti ini. Paling cepat adanya jam 5 di pagi hari. Kalau mau, katanya dia bisa membawa kami ke travel agent yang sudah membooking bus tujuan Semarang. Sebenarnya kami agak was-was juga, soalnya kami sama sekali buta soal Surabaya, takutnya kami malah jadi korban perampokan atau penipuan. Tapi jarum jam yang sudah menujukkan pukul 1 dinihari ditambah kondisi badan yang sudah nyaris minta ampun akhirnya membuat kami tidak punya pilihan lain. Bismillah, kami pun ikut si bapak sopir.

Di salah satu travel agent saya diturunkan, ketemu dengan cewek yang sepertinya bertugas sebagai respsionis. Katanya ada bus yang ke Semarang, tapi bukan sekarang melainkan jam 5 pagi nanti. O la la…masih harus nunggu 3 jam lagi dalam ketidak pastian..?, sementara badan rasanya udah capek, mata ngantuk, mana ada anak kecil lagi…

Saya tidak setuju, dan minta si bapak sopir mengantar kami ke travel agent yang lain. Untung si bapak setuju. Akhirnya kami diantar ke travel agent yang lain, saya nggak tau jalannya apa, pikiran tambah kalut, apalagi suasana Surabaya sudah sangat sunyi. Kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari saja. Ah, kalau terjadi apa-apa, bagaimana nih…?.

Di travel agent berikutnya ada sebuah bus yang sedang parkir. Tujuannya ke Tegal, dan berarti melintasi Semarang. Setelah ketemu dengan pihak travel agent saya dikasi tahu kalau busnya memang sudah mau berangkat sekarang tapi kursinya sudah penuh. Kalau mau ada satu kursi cadangan, sebenarnya punya si kernet yang adanya tepat di samping pak sopir yang sedang giat bekerja. Satunya lagi…ya di lantai tepat di samping pak sopir..bagaimana, mau nggak..?. diskusi sebentar dengan istri sebelum akhirnya kami setuju. Daripada menunggu sampai pagi, dan lagian perjalanan pagi dan siang hari di pantura jelas akan sangat memakan waktu lama karena adanya gangguan bernama macet.

Oke akhirnya deal, tapi tau tidak..?. harga yang ditawarkan ternyata Rp. 150.000,- per orang !!!!, itu adalah harga Surabaya-Tegal (katanya) di musim lebaran. Ah, sialan…tahu begini mending dari atas kapal tadi beli tiket travel aja, nggak usah capek-capek cari bus lagi sampai ke travel agent. Travel dari Pelindo artinya turun dari kapal kami langsung naik ke mobil L300 yang sudah menunggu.

Ah, sudahlah..tak ada gunanya menyesal. Saya dan istri hanya saling menertawai kesialan kami sekaligus mengirim doa buat pak Wahyu, tetangga kami di kapal yang sudah memberikan saran ini. Yah, mungkin si bapak sudah lama nggak pulang ke Surabaya sampai-sampai lupa bagaimana susahnya mencari bus di hari-hari terakhir menjelang ramadhan.

Menuju Semarang.
Akhirnya mendekati jam 2 dinihari, bus mulai meninggalkan Surabaya. Istri saya duduk di kursi cadangan milik pak kernet, sementara saya duduk di lantai beralaskan koran sambil memangku si kecil Nadaa. Sampai di sini saya memberi kredit yang tinggi untuk buah hati saya ini. Anak yang kuat dan tak kenal capek. Selama perjalanan dari Makassar sampai nanti tiba di Semarang, tidak sedikitpun dia mengeluh. Walaupun harus berdesak-desakan saat naik dan turun dari kapal laut, dia tetap tought, tetap penuh semangat dan tak pernah rewel. Saat bus mulai keluar dari kota Surabaya, kekuatan Nadaa mungkin sudah mencapai titik terendahnya. Tanpa suara diapun lantas tertidur di pangkuan saya. Sementara itu, saya juga mulai mencoba menutup mata sambil bersandar ke kursinya pak sopir.

Sekitar pukul 3.30 bus –seperti biasa—mampir di Tuban untuk selanjutnya mempersilakan penumpangnya mengisi perut di rumah makan. Alhamdulillah, saya bisa sahur juga. Padahal tadinya saya sudah sempat pesimis bakal bolos berpuasa. Saat di kapal pun sebenarnya saya sempat berpikiran untuk tidak berpuasa, tapi melihat situasi kayaknya sayang juga, soalnya selama di kapal praktis kami lebih banyak tiduran daripada beraktifitas.

Lanjut ya, turun dari bus rasanya saya tidak bisa lagi merasakan tangan kanan saya yang keram karena sepanjang perjalanan menopang tubuh Nadaa. Setelah sahur dan sempat bertemu teman lama yang sudah 5 tahun tak bersua (teman ini juga dalam perjalanan mudik dari Jakarta ke Surabaya), kamipun naik lagi ke bus, siap untuk melanjutkan perjalanan yang tersisa.
Saat siap-siap hendak berangkat itulah saya tiba-tiba menangkap suara percakapan dengan logat yang sangat saya kenal. Logat Makassar…!!. dan terungkaplah fakta bahwa ternyata 22 orang penumpang bus ini adalah orang Tegal yang cari makan di Makassar dengan cara berjualan martabak. Mereka pulangnya kompakan, naik kapal sama-sama dan sudah memesan bus sejak dari Makassar. Asyiknya lagi, mereka dijemput sang bus langsung di pelabuhan Tanjung Perak. Ah, tahu begitu kami barengan aja dari Makassarnya…satu lagi penyesalan terbit…tapi tetap saja tak ada gunanya.

Syukurnya karena teman-teman seperjalanan kami itu ternyata berbaik hati memberikan 2 lembar selimut milik mereka untuk saya gunakan sebagai alas duduk di lorong antara 2 deret kursi. Lumayan, saya bisa merebahkan badan di atas selimut dan satu lagi yang digulung menyerupai bantal. Nadaa tertidur di atas perut saya. Rasa capek segera menerbangkan saya ke alam tidur. Lumayan, bisa tertidur selama 1 jam. Waktu itu saya sama sekali sudah nggak berpikir gengsi atau semacamnya. Toh, suasana bus juga sangat gelap dan lagian nggak kenal-kenal amat sama penumpang lainnya.

Jam 5 pagi, saat bus memasuki kota Rembang saya sudah bangun. Matahari mulai mengintip (matahari di pulau Jawa nampaknya memang datang lebih cepat dari matahari di pulau Sulawesi). Saya membetulkan letak tidur Nadaa yang masih asyik terlelap kecapean, sementara saya sendiri duduk tepat di samping pak sopir yang masih sibuk bekerja. Istri saya ternyata tidak tidur sedari tadi. Jadilah kami bercakap-cakap sepanjang perjalanan, sesekali dengan pak sopir juga.

Ini juga pertama kalinya saya naik bus dan duduk tepat di barisan depan sambil mengamati pak sopir bekerja. Dan tahu tidak ?, pengalaman ini cukup menegangkan. Pak sopir –seperti tipikal sopir bus antar kota—sangat lihai melakukan manuver-manuver yang pastinya membuat kami sport jantung. Perhitungannya sangat tepat, pak sopir sepertinya tahu persis kapan mengerem, kapan mendahului kendaraan lain, dan kapan harus berbelok. Sesekali istri saya sempat berteriak tertahan juga sambil tak lupa ber-istighfar.

Akhirnya…setelah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan, pukul 8 pagi kami turun dari bus dan menginjakkan kaki ke tanah Semarang tercinta. Perjalanan belum usai. Dari terminal Terboyo Semarang kami masih harus naik taksi untuk bisa sampai di rumah mertua. Jaraknya sih nggak gitu jauh. Kira-kira 30 menit perjalanan via tol. Anak saya sampai protes, “ kenapa Semarangnya jauh sekali, Ayah..?”..hehehe dasar anak-anak..tapi Alhamdulillah dia tidak sampai rewel atau bahkan merengek. Berikutnya dia bahkan bisa menghapal urutan perjalanan hingga tiba di rumah Mbah-nya. “ naik taksi, trus naik kapal, trus naik mobil, trus naik bes, trus naik taksi lagi..”, begitu katanya…ah, Nadaa memang jadi pelepas penat kami sepanjang perjalanan.

Dan…teredeng..!!!!. rumah sederhana di kawasan Tembalang, Semarang Selatan itupun nampak di depan mata kami. Mbah Uti, Mbah Kakung dan dua Bu Lik-nya Nadaa sudah menunggu dengan suka cita. Alhamdulillah…perjalanan panjang sejak lebih dari 30 jam yang lalu melintasi laut Jawa itupun berakhir sudah. Rasa senang dan bahagia terasa cukup untuk membasuh semua kepenatan yang kami rasakan. Setelah mandi dengan air yang rasanya sangat menyegarkan itu, saya, Nadaa dan Ofie istri saya akhirnya bisa tertidur pulas hingga waktu buka puasa tiba…

Sebuah perjalanan yang sangat berwarna buat kami. Keluarga dan kebersamaan adalah suatu hal yang ternyata sangat berarti. Tak peduli apapun halangannya, kedua elemen itu harus diusahakan untuk bisa direngkuh di hari yang fitri bernama Lebaran…
Ah, nikmatnya mudik…

(di bagian kedua nanti saya akan bercerita tentang pengalaman selama di Semarang dan opini saya tentang ibu kota Jawa Tengah ini plus sedikit cerita tentang perjalanan kembali ke Makassar yang tidak seseru perjalanan ke Semarang, ditunggu ya..?)

About The Author

2 Comments

  1. Mohammad Helman Taofani
    26/10/2007
  2. Ifool
    26/10/2007

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: