Menipu sang Penipu

sa400257

Ini catatan yang tersisa tentang para caleg selepas pemilu.

Siang tadi, selepas jam istirahat saya kebetulan ketemu seorang teman kantor yang selalu rajin mengikuti perkembangan penghitungan suara di kantor kecamatan. Dari beliau ada sebuah cerita lucu tentang para caleg. Ceritanya begini :

Saat sedang menunggu proses penghitungan suara di tingkat kecamatan, seorang caleg mulai curhat tentang sebuah daerah yang sudah “digarap”nya tapi ternyata tak mendatangkan hasil sesuai harapan.

“ Di kampung itu (sambil menyebut nama sebuah kampung) saya sudah sumbang 2 truk sirtu untuk jalanannya, tapi suara dari sana Cuma 3 biji..” katanya memulai curhat.
Tiba-tiba caleg yang lain menimpali, “ Lho, di kampung itu juga saya nyumbang untuk rumah ibadah. Sampai rumah ibadahnya bagus, tapi suara saya juga Cuma 3 biji”
Caleg yang lain ikut menimpali, “ Kalau saya, nyumbang pemasangan paving blok untuk rumah ibada di kampung itu. Tapi, suara saya juga nihil…”
Mendengar percakapan itu, ada seorang lagi caleg yang ikut nimbrung. “ Saya nyumbang untuk perbaikan beberapa rumah di sana, plus memberi baju. Tambahan lagi, ketua RT-nya saya kasih uang satu juta untuk dia pribadi, tapi ya gitu deh..suara saya juga nihil, jauh dari target”.

Usut punya usut, ternyata para caleg ini adalah korban “permainan” ketua RT setempat. Setiap caleg yang menemui ketua RT selalu disambut dengan kata-kata yang hampir seragam.

“ Sebenarnya sudah banyak caleg yang mau menyumbang di kampung sini pak, tapi kami tolak semua. Hanya bapak ini yang kami terima” Begitu kata-kata sang ketua RT. Sebuah kata-kata yang membuat para caleg yang datang jadi berbunga-bunga dan kemudian menaruh harapan yang tinggi. Tak heran kalau mereka kemudian mau saja dimintai bantuan ini-itu.

Tapi, setelah pemilu berakhir ketahuanlah kalau ternyata perolehan suara para caleg yang sudah menyumbang itu paling banyak hanya 5 biji, alias sangat jauh dari yang diharapkan. Para caleg yang baru sadar belakangan akhirnya hanya bisa tersenyum kecut dan menertawai kebodohan mereka sendiri.

Satu cerita lagi tentang caleg yang “kena tipu”. Seorang caleg di kecamatan Manggala punya inisiatif  membuat baju seragam untuk majelis taklim di lingkungannya. Jumlahnya lebih dari 30 pasang, tentu saja dengan harapan bisa mendulang suara dari para anggota majelis taklim dan keluarganya. Apa nyana, dari 30-an lebih anggota majelis taklim itu, suara yang diperoleh hanya 3 biji. Sungguh di luar harapan. Tak heran kalau si bapak caleg sampai marah-marah, untung saja baju seragamnya tak diminta kembali.

Apa arti semua itu ?

Ternyata, masyarakat kita sudah semakin pintar memanfaatkan situasi. Mereka tahu, banyak para caleg yang berusaha menarik suara sebanyak mungkin pasca keluarnya keputusan MK tentang penghapusan sistem pemenang lewat nomor urut. Keputusan itu memberi kesempatan para caleg untuk berjuang sebisanya mencari suara sebanyak mungkin tanpa mesti bergantung pada nomor urut. Salah satu caranya adalah memberikan bantuan berupa materi kepada beberapa golongan masyarakat dengan harapan akan mendapatkan simpati yang besar.

Sebagian masyarakat kemudian tidak mau hanya jadi komoditas politik. Mereka juga tak kalah pintarnya dalam memanfaatkan “niat baik” para caleg. Maka, berbondong-bondong mereka maju ke hadapan para caleg, meminta bantuan ini-itu dengan janji akan mencari massa sebanyak-banyaknya buat sang caleg. Sebuah janji yang tak selamanya mereka tepati.

Tak heran, belakangan banyak caleg yang kemudian jadi stress dan hilangi ngatan. Bukan apa-apa, kehilangan uang dengan proses seperti itu rasanya lebih berat daripada kehilangan uang di meja judi. Kehilangan uang di meja judi bisa jadi masuk akal dan bisa diterima oleh para penjudi, toh mereka juga ikut dalam permainan dan tahu betul apa yang terjadi sehingga kemudian mereka kalah dan kehilangan uang.

Beda dengan kehilangan uang dalam proses pencalonan ini. Mereka menggelontorkan rupiah dengan harapan akan mendapatkan imbalan, tapi mereka tak pernah mengikuti atau tahu persis bagaimana uang mereka bekerja, tahu-tahu mereka sudah buntung dan kenyataan tak sesuai harapan yang sudah terlanjur mereka percayai. Bagi yang tak kuat, sakit jiwalah yang jadi imbalannya.

Terus, apakah sikap warga masyarakat yang memanfaatkan para caleg ini bisa dikategorikan penipuan ?Hmm..mungkin saja, karena mereka juga menjanjikan sesuatu yang ternyata tak bisa atau memang tak hendak mereka penuhi. Mereka mungkin berpikir, daripada nanti kita ditipu mending kita nipu duluan, toh kalaupun mereka jadi anggota dewan belum tentu bisa seberguna sekarang saat mereka sedang mencalonkan. Istilahnya mungkin bisa dibilang: Menipu para Penipu.

Ah, rasanya lucu juga mendengar cerita para caleg yang jadi korban penipuan itu. Hanya saja, kita sebagai warga musti berhati-hati . Jangan-jangan mereka yang sudah lolos dan dapat kursi di dewan ini adalah penipu yang lebih besar dan akan menipu kita semua selama 5 tahun. Semoga saja tidak..

About The Author

4 Comments

  1. rusle
    20/04/2009
  2. ipul
    20/04/2009
  3. rusle
    20/04/2009
  4. intothepresence
    20/02/2010

Add Comment