MENGEJAR KEBAHAGIAAN

Well, it’s been a long time…gara-gara restrukturisasi fungsi ruangan di kantor kami yang menyebabkan perubahan pada struktur jaringan LAN, sejak hari selasa kemarin saya jadi putus hubungan dengan dunia luar. Sampai hari ini pun fungsi internet belum bisa berjalan normal, akibatnya saya harus cari alternatif lain untuk mem-posting tulisan. Menggunakan internet dial-up dari tumah ternyata sama sekali tidak menolong. Internet yang super lemot membuat saya lebih cepat emosi, dan saat tulisan ini berhasil diposting, berarti kebetulan saya sedang punya kesabaran lebih untuk menunggu sampai proses posting selesai. Padahal saat ini saya sedang punya banyak ide untuk ditulis.

Minggu lalu, akhirnya saya dan istri punya banyak kesempatan menikmati libur akhir pekan berdua. Sebagai pengisi liburan kami memilih memutar DVD, thanks to my little girl, karena sudi membiarkan ayah bundanya pacaran berdua sementara dia sendiri sibuk bermain bersama teman-teman dan sepupunya. Empat judul film terpilih untuk masa liburan 2 hari itu, BABEL, 300, BLOOD DIAMOND dan PURSUIT OF HAPPYNESS. Sebenarnya film-film lama sih, yang dua pertama malah sudah pernah saya tonton sebelumnya, tapi karena kesempatan untuk nonton memang baru datang hari itu, dan kebetulan istri belum pernah nonton sebelumnya, ya jadilah film-film itu yang masuk ke playlist kami.

Tapi di antara keempatnya, kami paling terkesan pada PURSUIT OF HAPPYNESS, film yang diangkat dari kisah nyata kehidupan seorang bapak Afro-America ini memang syarat dengan nilai-nilai perjuangan, keteguhan hati dan kesabaran dalam menjalani hidup untuk meraih kesuksesan. Will Smith bermain apik di film ini, dia tampil berbeda dengan peran-peran “ringan”nya di film-film sebelumnya (selain ALI tentunya). Keseluruhan cerita juga dikemas dengan rapih, dan cukup menguras emosi.

Chris Gardner, seorang sales alat-alat kesehatan yang mencoba peruntungannya dengan memasarkan alat scanner gigi ternyata menemui kesulitan besar untuk menjual alatnya. Akhirnya saat modal besar yang ditanamkannya tidak bisa terputar, dia menemukan dirinya hidup dalam balutan utang yang memaksa dia dan istrinya untuk bekerja lebih keras demi mengumpulkan uang untuk membayar utang dan tagihan-tagihan. Saat beban utang dan masalah keuangan lainnya makin berat, sang istri-Linda-akhirnya memilih meninggalkan Chris untuk mencari penghidupan di kota lain yang lebih menjanjikan. Chris yang tidak mampu mencegahnya hanya meminta agar sang anak, Christopher Gardner Jr. tinggal bersamanya.

Nah, di session inilah perjuangan hidup yang sesungguhnya dimulai. Chris yang mencoba peruntungannya sebagai broker saham tetap harus membagi waktu dengan kerjaan utamanya menjual alat-alat kesehatannya yang tinggal sedikit demi menyambung hidup. Kesempatan berkarir sebagai broker telah dimulai dengan sesi training yang sayangnya belum mampu menghasilkan duit.

Perjuangan Chris membagi waktu antara training, jualan dan mengurus anak menjadi tema utama selanjutnya. Ada banyak potongan-potongan scene yang menyentuh di pertengahan film hingga akhir. Salah satunya adalah adegan saat Chris tetap menghibur anaknya dengan cerita tentang dinosaurus saat mereka harus menghabiskan malam di toilet stasiun saat terusir dari motel gara-gara belum bayar, kemudian saat bagaimana Chris dengan telaten mengurus sang anak saat mereka akhrinya mendapat tempat tidur di penampungan khusus tunawisma. Ketabahan dan keteguhan hati Chris betul-betul diuji, hingga akhirnya mendapat balasan setimpal dengan keberhasilannya direkrut sebagai salah satu broker saham dan di kemudian hari mendirikan firma sendiri dan menjadi orang yang sangat sukses.

Karena film ini diangkat dari kisah nyata, maka tumbuh kekaguman dalam diri saya akan sosok Chris ini. Cerita tentang keberhasilan ibu yang mampu membesarkan anak sendirian tentu sering kita dengar, namun agak jarang kita mendengar tentang seorang lelaki yang mampu membesarkan anaknya dalam posisi sebagai orang tua tunggal. Wanita memang harus diakui kadang-kadang memiliki ketelatenan, kesabaran dan keteguhan hati yang lebih dari seorang lelaki. Chris Gardner asli dalam wawancara di Oprah Show mengatakan bahwa keteguhan hati yang dimilikinya berasal dari masa lalunya yang kelam. Perceraian kedua orang tuanya membekas di kepalanya, di kemudian hari sang Ibu yang menikah lagi dengan dengan seorang lelaki pemabuk membuat hidupnya lebih sengsara aqkibat seringnya dia dan sang ibu menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Hal-hal inilah yang menumbuhkan tekad kuat dalam hati Chris untuk membuat kehidupan anaknya lebih baik dari hidupnya sendiri.

Adegan yang paling menyentuh bagi saya pribadi adalah saat ayah-anak ini menginap di penampungan tunawisma, Chris Jr. meraba janggut ayahnya dan berkata. “ you are a good papa”. Sangat menyentuh, sepintas saya berharap suatu saat nanti anak saya akan berkata seperti itu ke saya. Kerepotan yang dialami Chris setiap pagi, di mana dia harus pontang panting menyiapkan si kecil sambil bersiap ke kantor pernah pula saya alami. Tahun lalu, waktu istri saya sedang mengikuti diklat Pra Jabatan dan di rumah sedang tidak ada pembantu, maka setiap pagi sayalah yang harus pontang-panting membangunkan si kecil, memandikan, menyiapkan susu dan sarapannya sebelum saya sendiri bersiap ke kantor, masih untung jika semuanya lancar, ada kalanya si kecil tiba-tiba “mogok” dan males-malesan atau masih ngantuk, sehingga harus sedikit dibujuk dulu, dan tentu saja harus menggunakan semua stock kesabaran yang saya punya.

Mungkin karena adanya sedikit “kesamaan” ini yang membuat saya sangat menikmati “PURSUIT OF HAPPYNESS” (saya bahkan memutarnya lagi hari selasa kemarin), dulu saya juga sempat terbelit utang dan kebingungan untuk membayar tagihan-tagihan, tapi untungnya saya nggak sampai ditinggal istri, justru istrilah salah satu kekuatan terbesar dalam hidup saya.

Ujung-ujungnya saya sangat merekomendasikan film ini, khususnya buat anda-anda yang senang menikmati film dengan genre drama, dan terkhusus lagi buat anda-anda yang sedang merintis hidup berkeluarga dengan anak yang masih kecil dan kedua orang tua bekerja tanpa ada pembantu atau sekedar baby sitter, saya jamin anda akan tersentuh…buktikan sendiri..

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

6 Comments

  1. rusle
    03/07/2007
  2. Ifool
    03/07/2007
  3. rusle
    04/07/2007
  4. Ros Marya Yasintha
    05/07/2007
  5. Ifool
    05/07/2007
  6. tari
    06/07/2007

Add Comment