Mencari Kenikmatan Dari ML

Semua orang dewasa saya yakin pasti tahu dan ngerti dengan istilah ML. Para sufi mengatakan kalau kenikmatan ML itu adalah secuil kenikmatan surga yang diturunkan ke bumi. Tapi, jangan salah sangka dulu. Di sini kita tidak akan membicarakan tentang ML yang “itu”, at least not here lah..

ML yang saya maksud di sini adalah ML yang belakangan ini sedang rajin dijalani oleh warga kota Makassar dan sekiarnya. Kalau sebelumnya ML-nya warga Makassar berlangsung 3 kali sehari dengan durasi masing-masing 2 jam maka belakangan ini frekuensinya berkurang jadi tinggal 2 kali, tapi durasinya nambah jadi 3 jam. Yaa..ujung-ujungnya samalah, 6 jam dalam sehari. Nah, ML yang saya maksud itu adalah Mati Lampu alias pemadaman bergilir.

Pokoknya tiada hari tanpa ML alias Mati Lampu. Kalau awalnya warga Makassar dan sekitarnya sudah langsung bete begitu lampu padam, maka belakangan ini sepertinya warga sudah mulai merasa terbiasa. Jadwal mati lampu yang sudah makin rutin jadi mulai bisa diantisipasi warga dengan baik. Pokoknya jadwal mati lampu itu pasti kelipatan 3, kalau bukan jam 12 pasti jam 3 atau jam 6, atau jam 9. Begitu seterusnya. Nah, belakangan warga (setidaknya di sekitar saya) sudah bisa menebak, kalau misalnya sudah jam 10 tapi listrik masih nyala berarti kira-kira mati lampunya nanti jam 3 atau jam 6, yang jelas total jenderal dalam sehari listrik padam sampai 6 jam. Bila sudah mendekati jam-jam kelipatan 3 maka silakan save kerjaan anda, kopi apa yang bisa dikopi, atau cetak apa yang mau dicetak karena listrik bisa saja putus tepat di jam-jam kelipatan 3 itu.

Nah, karena mulai menjadi sebuah hal yang rutin lama-lama saya juga jadi menemukan kegiatan lain yang menyenangkan menyangkut ML atau mati lampu ini.

Belakangan ini kalau listriknya putus di jam kantor maka saya akan menyibukkan diri dengan berkumpul kembali bersama teman-teman di divisi teknik dan perencanaan. Semenjak berpindah divisi dan berganti kerjaan saya memang sudah jarang berkumpul lama-lama dengan mereka, apalagi bergaul dan nongkrong bersama orang-orang proyek. Jadi sekarang begitu listrik putus di siang hari maka saya biasanya akan langsung ngeloyor ke divisi teknik. Nongkrong dengan teman-teman di sana, ngobrol ngalor ngidul sambil menunggu listrik tersambung kembali.

Kalau bosan di dalam ruangan yang kadang gerahnya minta ampun, saya biasanya akan ikut anak-anak pengawas ke lokasi proyek. Nongkrong di warung proyek yang sederhana sambil menyeruput Segar Sari rasa jeruk yang dingin plus (kadang-kadang) Indomie rebus. Agendanya tetap sama, ngobrol ke sana ke mari bersama para pengawas dan para kontraktor yang lama tak bersua. Saya baru sadar kalau ternyata “ritual” itu sudah lumayan lama tidak saya jalani lagi.

Terus, bagaimana kalau ML-nya malam-malam ? Kalau jadwal ML-nya pas jam 9 malam sih biasanya saya sama Nadaa langsung memilih (tepatnya terpaksa, karena tak ada pilihan lain) untuk tidur. Beberapa waktu lalu, kebetulan jadwal ML-nya jatuh pas jam 6 sore sampai jam 9 malam dan kebetulan bulan sedang purnama sempurna. Saya tiba-tiba punya ide mengajak Nadaa jalan ke belakang kompleks perumahan kami. Kebetulan di sana jalannya masih sepi dan kiri kanannya sawah atau lahan kosong jadi bulan purnama terlihat dengan jelas.

Motor saya parkir di pinggir jalan dan bersama Nadaa saya menikmati malam yang remang-remang di bawah siraman purnama. Secara sederhana saya juga menjelaskan tentang astronomi kepada Nadaa, tentang kenapa bulan bisa bersinar, tentang posisi planet-planet, tentang bintang-bintang dan lain sebagainya. Tentu saja penjelasan saya buat dengan sangat sederhana hingga bisa dimengerti Nadaa. Di sini saya juga merasa sudah berhasil menemukan sebuah hal yang menyenangkan dari rutinitas pemadaman bergilir. Jujur saja, untuk kita yang tinggal di kota besar, kemungkinan melihat dan menikmati bulan purnama rasanya sangat kecil. Kita lebih banyak menghabiskan waktu dalam rumah sambil memelototi kotak kaca bernama televisi, atau kalaupun lagi di luar rumah bulan purnamanya lebih banyak bersembunyi di belakang bangunan di sekitar kita. Jadi, malam itu saya rasanya bersyukur karena listrik yang terputus memungkinkan saya menikmati purnama bersama Nadaa.

Kemarin malam, saat listrik terputus jam 9 malam saya mengajak Nadaa untuk tidur karena tidak ada option lain. Kami berdua sebenarnya belum terlalu mengantuk, jam 9 malam masih lumayan sore buat kami, apalagi buat saya. Jadi, sambil tergolek di atas kasur menanti kantuk tiba dengan penerangan dari lampu emergency saya berinisiatif menceritakan dongeng Cinderella-satu-satunya dongeng yang saya ingat persis jalan ceritanya. Nadaa senang banget-kayaknya. Maklum, kami memang sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama menjelang tidur. Biasanya dia saya “paksa” tidur duluan karena saya belum ngantuk. Malam itu, karena lampu sedang padam saya tidak punya pilihan lain selain tidur lebih awal. Sekali lagi saya menemukan kenikmatan dari ML.

So, moral dari cerita ini adalah…di balik semua kesulitan pasti masih ada hikmah yang bisa kita dapat. Di balik semua kesusahan pasti ada kenikmatan yang tersembunyi. Setidaknya kejadian-kejadian di atas membuat saya merenungkan banyak hal dan membuat saya malu betapa tidak bersyukurnya saya dengan kondisi yang saya miliki.

Oh ya, satu lagi. Masih ingat nggak pas peringatan hari bumi bulan maret kemarin di mana kampanye mematikan lampu selama 1 jam sedang digalakkan ? Waktu itu orang-orang yakin kalau kita semua mematikan lampu selama 1 jam maka kita sudah memberi jeda kepada bumi kita untuk menarik nafas sejenak dan mengurangi bebannya. Itu padahal baru mematikan lampu selama 1 jam dalam 1 hari, nah bagaimana kalau kita memberi waktu kepada bumi untuk menarik nafas lebih panjang karena kita (meskipun terpaksa) mematikan lampu selama 6 jam dalam sehari ? Bayangkan betapa panjang nafas yang bisa ditarik oleh bumi kita tercinta ini. Kalau bumi kita ibaratkan sebagai manusia, dia pasti senang sekali karena bisa sering-sering menarik nafas dan mengurangi bebannya.

You see..? di balik semua keluhan dan caci maki kita saat listrik padam, ternyata masih ada hal-hal menyenangkan yang bisa kita lakukan, masih ada keuntungan yang bisa kita ambil. Jadi, mari kita cari celah untuk bisa merasakan nikmatnya ML. Yuk, mariii…

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

2 Comments

  1. a'ak budi
    22/11/2009
  2. mumu
    11/10/2012

Add Comment