Makassar, akankah lebih manusiawi ?

Siang itu panas, suatu hari di bulan Januari. Tidak seperti biasanya, siang itu matahari sedang bersahabat. Hujan seakan sedang berhenti sejenak, mengambil ancang-ancang sebelum nantinya datang lagi mengguyur setiap inci kotaku. Dari sebuah tempat makan di sebuah mall terbesar di Makassar, aku bersama dua belahan jiwaku sedang duduk menantikan pesanan kami. Di sisiku, bocah kecil yang belum genap 4 tahun itu mengoceh riang, tak henti-hentinya dia bercerita tentang pakaian dan mainan yang baru saja kami hadiahkan untuknya.

 

Aku masih menikmati celotehannya ketika istriku menunjuk ke bawah sana, ke arah pinggir jalan besar tepat di depan mall. Kusapukan pandanganku ke arah telunjuk wanitaku. Empat orang anak sedang tertawa riang di bawah sana. Besarnya mungkin tak lebih dari ukuran anak-anak umur 9 tahun. Di masing-masing bahu mereka tersampir karung goni, sementara di tangan yang lain sepotong besi berbentuk pengait nampak tergenggam erat. Tubuh mereka kumal, selaras dengan pakaian yang sudah nyaris tak terbentuk, lebih mirip kain lap di dapur kita.

 

Anak-anak itu tampak riang dalam kemarjinalan mereka. Tertawa dan saling beekejaran lalu berhenti di sebuah bak sampah besar. Berikutnya mereka sibuk mengaduk bak sampah dengan kait dari besi, saling berlomba selayaknya kucing yang berebut makanan sisa. Satu-dua benda yang tak kutahu benda apa mereka lemparkan ke dalam karung putih yang sama kumalnya dengan tubuh mereka. Setelah puas mereka kembali berlalu sambil tetap tertawa dan saling menggoda.

 

“ Kasihan …. Pernah nggak ya mereka sedih..?”, pertanyaan itu keluar dari bibir istriku. Bisa kurasakan kegetiran di nada biacaranya. Aku diam tak menjawabnya, mataku masih lekat mengawasi keempat bocah kumal itu yang terus tertawa dan akhirnya hilang dari pandangan. Aku sendiri memang tak tahu jawaban yang pasti dari pertanyaan istriku. Entah apakah anak-anak itu pernah berhenti sejenak dari kesusahan mereka dan memikirkan begitu banyak alasan untuk bersedih. Hatiku mendadak miris membayangkannya.

 

Diam sejenak, kami tak berbicara sepotongpun. Kami sibuk dalam alam pikiran masing-masing. Hanya gadis kecil kami yang masih sibuk bercerita tentang pakaian dan mainan barunya. Saat makanan pesanan kami datang, rasa miris di hati kami mendadak menguap. Bayangan empat anak kecil kumal tadi juga mendadak lenyap. Yang tersisa hanya nafsu untuk sesegera mungkin menyudahi nasib makanan yang sudah kami pesan. Lahap dan penuh semangat, itulah kami. Kami akhirnya kemudian hanya memikirkan perut kami yang sudah terlanjur kosong. Padahal di luar sana empat anak kumal tadi entah apa sudah makan hari ini..

 

Mungkin inilah sifat yang dimiliki pejabat kita. Pedih sesaat kala melihat rakyat yang seharusnya dia perjuangkan sedang terseok-seok di pinggir jalan hanya untuk sekedar menyambung hidup hari ini, namun detik kemudian tiba-tiba berubah selayaknya monster yang sedang haus dan lapar. Menerjang semua yang ada di depannya. Tak peduli itu bukan haknya, tak peduli itu hanya untuk dirinya dan orang-orang di lingkarannya. Pejabat yang mengatur kota dan kota yang diatur oleh pejabat itu tiba-tiba menjadi sangat kejam pada semua warganya.

 

Tahun lalu Makassar sedang riuh, berdandan menor untuk ulang tahunnya yang ke-400 tahun. Segala gincu, bedak, eye shadow dan segala macam produk artifisial kecantikan dijejalkan ke wajah kota yang sebenarnya sudah mulai bopeng dan keriput ini. Label modernisasi yang berkilauan bak topeng para penari yang menutupi wajah asli kota kita. Lihatlah limpahan dana bernilai ratusan miliar yang diguyurkan para pengusaha berkantong tebal di atas tanah kota Makassar. Aku yakin, di salah satu sudut kantor pemerintahan kota ini, banyak orang-orang berseragam khaki sedang berjoget riang menyambut guyuran modal besar itu. Mereka pasti sedang kuyup oleh duit dan segala materi duniawi. Entah apa mereka masih punya waktu barang sedetik untuk menoleh ke bak sampah besar di depan kantor mereka dan menyapa saudara-saudara kita yang masih betah berpakaian kumal nan lecek.

 

Bangunan tinggi dengan lantainya yang lebih banyak dari deretan tangga nada dielus-elus agar tegak berdiri. Jalanan bertingkat-tingkat yang ditopang beton yang kuat mulai ditopang agar bisa berdiri dan dipakai. Rawa-rawa air payau yang dulunya untuk dipakai sebagai tempat hidup berbagai ekosistem alamiah mulai ditimbun untuk sebuah arena bermain yang tentu saja tak murah. Lapangan luas tempat warga berkumpul dan bercengkerama mulai dipagari seng dan sebentar lagi ditutup beton sebagian. Adakah tempat bagi saudara-saudara kita yang masih betah mengorek bak sampah yang sering kita tempati meludah itu ?. Nyaris tak ada kukira..

 

Beton, beton, beton lagi, besi baja dan beton lagi. Tak ada yang manusiawi. Semua bentuknya kokoh, dingin, kasar, tak ramah dan pongah dalam balutan duniawi yang mengkilap. Tak ada ruang bagi yang berbaju kumal di sana. Berani mendekat dan seorang lelaki berseragam dengan kumis melintang dan badan kekar akan menendang pantatmu jauh-jauh. Tak ada ruang bagi kalian yang kumal, mungkin begitu sumpah serapah mereka.

 

Sementara itu jalan raya beralaskan aspal hitam itu juga ikut-ikutan menjadi makin tidak ramah pada kita pemakainya. Jari-jari di kedua tangan kita serasa tak cukup lagi menampung nama-nama ruas jalan yang pasti macet setiap harinya. Motor makin merajai setiap senti jalanan kita. Sopir-sopir dan para pengendara makin beringas di atas aspal yang kadang tergenang air kala hujan turun. Tak ada tenggang rasa, tak ada sifat mengalah. Jalanan bukan untuk para pecundang dan pengecut. Jalanan adalah metamorfosis rimba raya yang memberlakukan hukum rimba. Yang kuatlah yang menang. Anda takut berebut jalan dengan yang lain ?, pinggirkan kendaraan anda dan tunggulah hingga malam makin pekat agar anda bisa menguasai jalan sendirian. Karena jalan raya bukan tempat buat para pecundang dan pengecut.

 

Anak-anak kita tak punya tempat bermain selain ke Mall. Setiap hari libur hanya ada satu kata di bibir mereka. Ibarat robot yang telah terprogram. Setiap libur hanya mall dan mall yang mereka tuju. Mereka merengek minta diantar ke mall. Mereka merengek minta diajak bermain ke mall, mereka merengek bahkan untuk hanya sekedar jalan-jalan dan membuat otot kaki kita kaku kecapean.

 

Dan lantai-lantai mall yang dingin itu akan menjadi guru terbaik bagi mereka untuk makin mengentalkan faham konsumerisme dan kapitalisme pada otak anak-anak kita. Dinding mall yang berwarna warni kadang terbuat dari kaca bening yang tebal dan tinggi itu mengajarkan sesuatu kepada anak-anak kita. Aku takut kalau yang mereka ajarkan itu adalah kerakusan, egoisme dan individualisme. Dan mall itu makin dingin,angkuh dan tidak manusiawi lagi. Parasnya yang elok seakan mencibir pada gerombolan anak-anak berpakaian kumal yang mengaduk-aduk bak sampah dan menawarkan payung kala hujan turun di seputaran mall. Tapi anak-anak kita menikmatinya..

 

Hampir tak ada ruang luas yang murah bahkan gratis untuk mereka bermain. Hampir tak ada ruang yang luas yang memungkinkan mereka untuk berbagi dengan temannya yang lain,untuk belajar mengalah dan belajar menghargai perbedaan. Hampir tak ada ruang yang luas dengan rumput dan pohonnya yang hijau tempat untuk kami para orang tua yang sedang menunggui anaknya bermain untuk duduk santai di atas rumput dan menggunjingkan kelakuan pejabat yang makin binal dari hari ke hari. Tak ada ruang luas yang hijau dan teduh untuk kami mempelajari demokrasi yang murah atau malah gratis.

 

Sementara itu di berbagai sudut kotaku, ibu-ibu masih sibuk menenteng jerigen-jerigen kosong berbaris dengan tak sabar di sebelah sebuah mobil tangki. Anak-anak kecil menangis bosan di gendongan ibu mereka. Wajah kusut para ibu adalah wajah murung kota kita. Di sudut lainnya, ibu yang lain kebingungan mencari sebuah tabung baja berwarna biru untuk masak siang ini. Warung terdekat memasang harga yang sangat jauh di luar batas kewarasan. Pemilik warung menjadi sangat sombong, lebih sombong dari artis yang dimintai tandatangan oleh para penggemarnya. Tanpa sadar dia telah mencontoh pejabat yang dulu mungkin pernah dibencinya.

 

Kalender baru saja diganti, tapi aku sudah tahu apa yang kuharapkan dari kotaku. Bukan poster besar dan spanduk lebar bergambar senyum sang walikota yang kami mau. Bukan kata-kata, “ masih Walikota kami yang terbaik”, yang ingin kami dengar. Sudahlah, kami sudah bosan dengan senyum, janji dan manisnya bibir itu. Kami hanya ingin Makassar lebih manusiawi, agar saudara-saudara kita bisa merasakan dirinya sebagai manusia, sama seperti kita. Bukan hanya sebagai sampah yang hanya layak mengaduk-aduk bak sampah. Aku, kamu dan kita semua hanya ingin Makassar lebih manusiawi. Karena sesungguhnya kita cinta kota ini.

About The Author

Leave a Reply

4 Comments on "Makassar, akankah lebih manusiawi ?"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
daengrusle
Guest

manusiawi atau tidak tergantung juga penduduknya, bagaimana memperlakukan kota nya dalam keseharian.

yang mungkin sering salah kaprah adalah penduduk kota sering merasa tanggungjawab menjaga kota nya itu tidak ada sama mereka, padahal justru paling besatr kontribusinya adalah penduduk.

saya pernah mengalami bagaimana lingkungan rumah saya di Pannampu dijadikan Kamp konsentrasi sampah…

🙁

deen
Guest

Pembangunan infrastruktur yang belum seimbang dengan kesiapan psikis penduduknya, akibatnya?.. terjadi ketidakseimbangan, memaksa pola pikir warga untuk menerima segala tetek bengek yg berbalut modernisasi dan globalisasi.

Harus diakui klo pemerintahan kita ini sepertinya belum benar2 memihak dan mengajak warga untuk berpikir cerdas, tapi memerangi kebodohan -betul2 anti kebodohan- dengan membiarkan warganya terpuruk dalam kebodohan sejati.

Hfff… bukan menyerah sepenuhnya dgn bergantung pada pemerintah, tapi bukankah begitumi salah satu kerjata’ sebagai bagian society -no government-.. MENGELUH dan MENGKRITIK..! hehehe..

Mulai dari diri sendiri, dari sekarang dan dari yg terkecil ^_^

yani
Guest

Aku juga cinta Makassar…
Bagaimana kalau kita lebih dulu memanusiawikan Makassar?

wpDiscuz
%d bloggers like this: