Ketika Terang Hadir Di Rumah Kami

Tower PLN

Hampir tiga tahun yang lalu saya membuat sebuah tulisan berjudul : Kapan Terang Hadir di Rumah Kami yang dimuat di situs Panyingkul!. Tulisan itu saya buat saat sedang berada dalam kondisi bingung karena belum juga mendapatkan sambungan listrik PLN, pun di sekitar saya banyak warga yang masih bergulat menantikan hadirnya sambungan listrik di rumah mereka. Hampir tiga tahun menunggu sampai akhirnya saya bisa merasakan punya meteran listrik sendiri. Berikut adalah cerita saya.

Jumat 11 Maret 2011. Menjelang pukul 10 malam saya baru tiba di rumah bersama Nadaa. Ada pemandangan berbeda ketika melihat sepintas rumah kami. Biasanya lampu di teras samping menyala, tapi kali ini semau kelihatan gelap gulita, hanya seberkas cahaya dari lampu jalan yang menerobos lewat dedaunan dan jatuh di teras depan.

Ketika pintu terbuka, saklar lampu saya on kan tapi tetap gulita. Apa yang salah ? Pikir saya. Beranjak ke depan saya coba melihat box MCB, saklarnya pada posisi ON. Ketika membuka pintu depan dengan cepat saya menemukan pemandangan yang membahagiakan. Sebuah meteran listrik sudah terpasang beberapa centi meter dari sudut kusen pintu utama. Hampir saja saya melonjak kegirangan malam itu. Ketika saklar saya naikkan ke posisi ON dengan segera ruangan tengah terang benderang oleh cahaya lampu.

Ah, penantian hampir tiga tahun akhirnya terbayar sudah.

Sejak mulai membeli rumah ( yang juga penuh dengan perjuangan dan masalah itu ) kami sudah mulai dipusingkan dengan listrik. Opsi mengajukan permintaan penyambungan listrik melalui jalur legal ke PLN sepertinya bukan opsi yang masuk akal. Saat itu Makassar sedang berada dalam krisis listrik, untuk punya sambungan listrik bukan hal yang mudah. Meski punya segepok rupiah, bukan jaminan anda akan bisa langsung mendapatkan sambungan listrik. Masalah utamanya adalah pada ketersediaan energi listrik yang memang tidak ada. Mau bawa uang berapapun,pihak PLN akan angkat tangan. Tak ada aliran listrik, artinya silakan anda mencantol untuk sementara kalau memang butuh listrik.

Kondisi itu bukan hanya milik kami yang tergolong orang kecil ini. Di lingkungan perumahan mewah tempat saya mencari sesuap nasi, kondisi sama juga terjadi. Mereka yang membeli rumah sampai harga ratusan juta bahkan mendekati miliaran rupiah itu pun tetap kebingungan mencari sambungan listrik. Kantor kami sampai pernah harus menghadapi warga yang datang beramai-ramai menanyakan hak mereka mendapatkan sambungan listrik.

Ironis memang. Negeri kita adalah negeri kaya energi, minyak, batubara, angin hingga matahari melimpah di zamrud khatulistiwa ini. Tapi kenyataannya, listrik susah menjangkau rumah penduduk bahkan yang di perkotaan sekalipun. Ketika musim kemarau datang, pemadaman bergilir jadi barang yang lazim. Minimal dua jam dalam sehari bahkan di kota Makassar pernah sampai 4 jam sehari. Dua jam di siang hari dan dua jam di malam hari.

Itu kondisi terparah ? Ah, ternyata bukan. Seorang teman yang tinggal di sebuah kota di pulau Kalimantan bercerita kalau kotanya rata-rata berlangganan listrik padam sampai 6 jam sehari. Ironis ? iyyalah mengingat kotanya dikepung oleh beragam tambang energi yang menandakan kalau kotanya sebenarnya kaya energi. Luar biasa bukan ? Luar biasa aneh maksudnya.

Saya tidak tahu bagaimana kondisi sebenarnya yang ada di dalam tubuh Perusahaan Listrik Negara sebagai penyedia utama layanan listrik negeri ini. Setiap tahunnya mereka mengaku rugi hingga ratusan miliar rupiah plus kenyataan di lapangan kalau memang banyak warga dan pemohon yang tidak terpenuhi permintaannya. Salah urus, atau memang ada kesalahan mendasar pada negeri kita ? Energi kita masih kurang untuk bisa dinikmati seluruh warga ? Atau cara mengolahnya yang salah ?

Mau bertanya ke siapa ? Ada yang bisa jelaskan ?

Tahun 2010 kemarin muncul kabar menyejukkan tentang program pemerintah untuk menyiapkan 1 juta sambungan khususnya kepada pemohon rumah tangga. Harapan kami muncul kembali. Sayangnya sang instalatur yang dulu mengaku siap mengurus pemasangan listrik untuk kami sudah angkat tangan, beruntung dia masih mau mengembalikan 100% uang yang dulu kami setor ke dia.

FYI, jaman sekarang kalau mau mengurus segala sesuatunya melalui jalur resmi sepertinya anda harus punya rasa sabar yang berlipat-lipat, jadi jalan pintas selalu jadi pilihan utama. Opsi itu juga yang akhirnya kami pilih. Seorang lelaki berkumis menawarkan jasa, katanya dia bisa membantu menghadirkan listrik di rumah kami. Biayanya ? Beberapa kali lipat dari yang seharusnya. Pfuih..!! Mahal, tapi yah sudahlah, kami butuh dan kami tidak punya cukup kesabaran untuk mengikuti jalur resmi.

Apa kemudian semua berjalan lancar ? Ternyata tidak juga, kami tetap harus menunggu berbulan-bulan sebelum akhirnya kabel ditarik dari gardu ke rumah. Baru kabel, meteran belum ada. Selang dua minggu kemudian dan sampailah saya pada momen ketika pulang malam dan menemukan meteran listrik itu sudah terpasang. Selesai sudah penantian panjang hampir 3 tahun.

Dan,tahukah anda kalau penantian 3 tahun yang akhirnya berbuah manis itu rasanya menyenangkan ? Yah, akhirnya terang hadir di rumah kami.

 

,,

About The Author

8 Comments

  1. indobrad
    15/03/2011
  2. niQue
    15/03/2011
  3. Cipu
    15/03/2011
  4. aRuL
    15/03/2011
  5. daengrusle
    16/03/2011
  6. daengrompa
    18/03/2011
  7. unggulcenter
    30/03/2011
    • ipul
      30/03/2011

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: