Kemana perginya lirik-lirik indah ?

vedder1

Ibu-ibu, bapak-bapak/siapa yang punya anak bilang aku/aku yang sedang malu/pada teman-temanku karena hanya diriku/yang tak laku-laku..

Lirik di atas tentu sudah tak asing lagi di kuping orang Indonesia. Lirik di atas adalah potongan lagu dari band Wali berjudul “Cari Jodoh’. Harus diakui kalau lagu di atas memang sedang laris-larisnya sehingga bukan Cuma anak-anak muda saja yang dengan fasihnya mendendangkan lirik di atas, orang tua sampai anak-anak kecilpun tak kalah fasihnya melantunkan lagu band asal Sumatera Barat itu.

Bagi saya, lirik lagu di atas melengkapi kekecewaan saya pada beberapa band-band baru yang muncul belakangan ini. Sebagai seorang penikmat lagu, saya selalu menganggap sebuah lagu adalah gabungan dari lirik yang indah dan musik yang melenakan. Meski tak pandai bermain musik dan bukan seorang sastrawan tapi tetap saja saya menganggap paket tersebut adalah harga mutlak dalam menikmati sebuah lagu.

Belakangan ini musik tanah air memang sedang kebanjiran pendatang baru, utamanya yang berbentuk band. Beberapa di antara mereka-atau malah sebagian besarnya-adalah band-band yang sering disebut sebagai “band tiga jurus”. Berbekal 3 kunci nada, mereka bikin lagu dan tampil di panggung. Seorang produser bermata jeli kemudian mengorbitkan mereka, tanpa peduli kualitas bermusik mereka yang sesungguhnya. Persoalan berapa lama mereka akan bertahan, itu soal belakangan, yang penting mereka bisa dijadikan mesin uang selagi masih sempat. Maklum, ini juga bagian dari ciri khas orang Indonesia yang suka latah.

Hadirnya band-band tiga jurus ini memang selalu ada di tiap dekade. Tahun 90-an saat saya mulai kenal akrab dengan musikpun begitu. Seleksi alamlah yang kemudian membuat band-band karbitan nan cemen itu berguguran satu persatu. Namun, periode tahun 2000-an ini semuanya jadi terasa makin menggila. Ini tentu ada hubungannya dengan akses yang semakin mudah. Entah akses bermain musik, entah akses ke dapur rekaman.

Belakangan, musik Indonesia memang menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Lihatlah berbagai acara musik di stasiun televisi dalam negeri, jatah untuk musik dalam negeri selalu lebih besar dibanding jatah untuk musik luar. Sayangnya, meski jadi tuan rumah di negeri sendiri, menurut saya kualitas musik malah menurun. Terlalu banyak pemusik-utamanya band-yang tampil apa adanya. Sebagian besar tampil dengan kemampuan bermusik yang minim dan dilengkapi dengan lirik yang sangat datar, tidak dalam dan sangat apa adanya.

Coba lihat lirik berikut ini : Suara, dengarkanlah aku/ apa kabarmu/ pujaan hatiku.

Buat saya lirik di atas lucu. Koq dia minta suara untuk mendengarkannya,bukankah seharusnya dia yang mendengarkan suara. Aneh, menurut saya…

Dua contoh di atas tentu hanya sebagian kecil saja dari menjamurnya lirik-lirik rendahan di dunia musik tanah air. Silakan anda mencari sendiri contoh-contoh lainnya.

Semuanya kemudian kembali kepada kita semua sebagai pendengar. Tak ada satupun aturan di dunia ini yang  mengatakan kalau lagu tak berkualitas tidak boleh diedarkan. Ini soal selera, dan tak ada aturan tentang selera. Dan karena soal selera itupun maka saya menganggap kalau belakangan ini musik dalam negeri kita semakin memprihatinkan.

Akhirnya saya bertanya, ke manakah perginya lirik-lirik indah itu..?

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

6 Comments

  1. yani
    26/06/2009
  2. n t a n
    29/06/2009
  3. iQKo
    29/06/2009
  4. Ipul
    29/06/2009
  5. iQko
    30/06/2009
  6. ricky
    20/11/2010

Add Comment