Indonesia;potret negeri yang kian rusuh


454767-07472203042008bbentrok3.jpg

Seorang pria nampak tertelungkup dengan pasrah di atas paving blok kawasan Monas. Di sekitarnya, belasan bahkan mungkin puluhan lelaki berpakaian putih-putih dengan sedikit warna hijau bergantian menghujaninya dengan berbagai pukulan. Ada yang memukul dengan tangan kosong, ada yang menggunakan tongkat kayu, dan ada juga yang “hanya” menyarangkan tendangan ke tubuh lelaki yang nampak tak berdaya itu. Beberapa orang dari rombongan berseragam putih-putih itu memang ada juga yang nampak berusaha menahan emosi rekan-rekannya. Namun, mereka tak mampu membendung nafsu amarah yang semakin menguasai itu.

 

Kejadian di atas telah berkali-kali ditayangkan di TV. Tayangan saat terjadi bentrokan antara massa Front Pembela Islam (FPI) dan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berpendapat (AKKBB).

 

Entah sudah berapa kali kerusuhan seperti ini melanda negeri kita Indonesia. Konflik-konflik horisontal nyaris menjadi bagian sehari-hari dari berita di semua media dalam negeri. Ujung dari konflik itu biasanya gampang ditebak, kerusuhan yang berbau anarkis yang biasanya menyebabkan tumpahnya darah dan bahkan jatuhnya korban jiwa.

 

Dulu, saat masih kecil kita mungkin sering mendengar istilah bahwa negeri kita Indonesia ini adalah negeri dengan orang-orangnya yang berbudi pekerti halus, punya tenggang rasa yang tinggi dan sangat anti kekerasan. Sayangnya, hari ini kita sudah hampir lupa dengan istilah itu. Hampir-hampir tak ada lagi kesan manis penuh madu seperti yang dulu sering kita dengar itu.

 

Sekarang Indonesia adalah negeri di mana di dalamnya banyak orang yang sangat gampang tersulut emosinya, sangat mudah terprovokasi dan akhirnya sangat tidak menghargai arti sebuah kehidupan.

 

Lihatlah, beragam aksi anarkis biasanya menjadi ujung dari sebuah keputusan, entah yang bersifat politis atau bukan. Unjuk rasa anti kenaikan BBM, berujung dengan bentrok antara polisi dengan mahasiswa, dua pihak yang sebenarnya adalah korban dari himpitan ekonomi akibat kebijakan tak populer tersebut.

 

Di belahan Indoensia yang lain, dua kubu pendukung dua calon pemimpin daerah saling bertukar pukulan dan lemparan. Di jalanan, para warga yang mungkin bisa jadi hanyalah boneka dari para calon pemimpin itu saling bentrok dan lupa sama sekali kalau sesungguhnya mereka adalah bersaudara. Bayangkan berapa banyak waktu dan energi yang hilang hanya untuk menyiksa dan disiksa saudara sendiri. Kalau seperti ini, kapan ada waktu untuk mulai bekerja dan membangun daerah ?.

 

Sementara itu, sepakbola yang seharusnya menjadi olahraga yang dijalankan dan ditonton oleh orang-orang yang penuh sikap sportif dan saling menghargai seringkali juga berakhir dengan aksi anarkis dan saling serang.

 

Hari Minggu kemarin, sebuah pemandangan miris sebagai buah ketidakmampuan rakyat Indonesia menahan emosi kembali harus jadi santapan kita. Kali ini lebih “berkesan” karena salah satu pihak -yang nyaris tak mendapatkan perlawanan-membawa panji agama. Saya tak hendak berbicara lebih jauh tentang latar belakang masalah ini, karena memang saya tak pernah merasa cukup berhak untuk memberikan justifikasi pada setiap masalah yang menyangkut urusan agama. Ilmu saya belum cukup sampai ke situ.

 

Saya hanya tahu bahwa sebagai seorang muslim saya wajib percaya pada apa-apa yang telah digariskan dalam kitab suci Al-Quran dan Hadits Rasulullah S.A.W. Saya selalu berusaha untuk toleran terhadap saudara-saudara lainnya yang kebetulan tidak sepaham dengan saya. Saya tak pernah mempersoalkan agama yang mereka anut, semua saya kembalikan ke mereka sendiri, bagi saya yang terpenting adalah kepribadian mereka.

 

Saya bisa sedikit memahami apa yang ada dalam benak sebagian anggota FPI yang kemudian bertindak gelap mata dan menghalalkan cara kekerasan dalam menyikapi konflik horisontal tersebut.

 

Meski begitu saya juga tak suka dengan segala macam jalan kekerasan yang diambil dalam menyelesaikan sebuah masalah. Tak peduli apa jenis masalah tersebut. Kekerasan, apalagi yang dibaleli agama Islam tentu hanya akan mendatangkan kerugian. Bukan hanya pada diri lawan, namun juga pada diri sendiri-dalam hal ini ummat Islam. Stigma buruk masyarakat barat tentang wajah Islam yang kejam dan selalu menghalalkan cara kekerasan tentu seakan mendapatkan pembenaran. Padahal, sebagai ummat Islam kita semua tentu tahu kalau hal itu sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang berisi ajaran penuh kedamaian.

 

Menurut pandangan saya, dalam hal ini pemerintah memegang bola panas sebagai pihak yang tak mampu mengantisipasi konflik-konflik horisontal seperti ini. Seharusnya pemerintah sudah bisa mengantisipasi hal seperti ini sehingga bentrokan yang berujung kepada menetesnya darah di atas tanah Indonesia bisa dihindari sedini mungkin.

 

Pemerintah tak pernah tegas dalam mengambil tindakan, utamanya dalam berbagai konflik yang membawa-bawa nama agama. Mulai dari konflik Ambon, Poso hingga Ahmadiyah ini pemerintah selalu terkesan setengah-setengah dalam mencari solusi. Tak heran, hal ini kemudian menyuburkan sikap beberapa  organisasi yang mungkin bisa dikatakan sebagai organisasi garis keras untuk kemudian mengambil jalan sendiri dalam menyelesaikan masalah. Jalan yang sayangnya adalah jalan kekerasan.

 

Ujung dari semua ini adalah perasaan kita, para pecinta damai di negeri ini yang kemudian merasa terkoyak menyaksikan semakin seringnya para putra-putri ibu pertiwi menumpahkan darah sesamanya. Harus ada yang berani menghentikannya, dan dalam hal ini hanya pemerintah yang punya kuasa besar melakukannya. Jika tidak, saya kuatir akan lebih banyak lagi darah sia-sia yang mengalir di atas tanah Indonesia.

 

Sayang sekali bila itu jadi kenyataan…[DG]

About The Author

3 Comments

  1. kHie
    04/06/2008
  2. ipul
    04/06/2008
  3. Ally
    07/06/2008

Add Comment