In Memoriam : Luthfi Al Hakim

Jarum jam bergeser sekitar 15 menit dari jam 7 malam. Saya bersama supervisi freelance dan manager pemasaran sedang berada di ruang meeting. Pertemuan dengan freelance baru saja selesai beberapa menit yang lalu, di atas meja meeting masih ada beberapa biji kroket dan jalangkote sisa konsumsi meeting. Seorang lelaki muda bertubuh ceking berbungkus sweater marna oranye muda masuk.

” Masih ada yang bisa dimakan ? ” Dia bertanya ke saya.

” Oh, itu..ambil semuami “, Jawab saya sambil mempersilakannya mengambil sebiji kroket yang tersisa.

Dia bergeming, saya dan dua orang lainnya juga tidak terlalu memperhatikannya. Kami masih sibuk membahas persiapan pameran yang sebentar lagi akan digelar. Karena lelaki itu masih bergeming, iseng saya kumat. Kroket yang tinggal satu itu saya caplok sambil senyum-senyum. Saya lupa reaksinya seperti apa, yang saya ingat dia bergerak kea rah ibu Yeyen, manager pemasaran sambil minta ijin menghabiskan jalangkote dan kroket yang ada di depan ibu manager. Dengan sopan dia meminta ijin, dan ibu manager mengijinkan. Kami masih asyik berdiskusi ketika lelaki muda itu meninggalkan ruang meeting.

” Eh, itu di mejaku masih ada dua biji. Ambil semuami..” kata saya ketika dia sudah berada di pintu. Saya kembali sibuk dengan diskusi malam itu. Selanjutnya malam berjalan seperti yang kami rencanakan.

Lelaki ceking itu bernama Luthfi Al Hakim. Kami memanggilnya dengan nama Upiq seperti yang selalu dia ucapkan kala berkenalan. Umurnya belum genap 21 tahun, di kantor kami dia bertugas sebagai seorang tenaga surveyor. Saya mengenalnya sebagai anak muda yang cerdas, kreatif dan mudah bergaul. Tak heran bila di kantor kami dia dikenal akrab di segala divisi dan segala lapisan mulai dari para OB hingga para manager. Para ibu dan bapak di kantor kami juga mengenalnya sebagai anak yang periang dan hormat meski juga kadang kritis. Singkat kata, tak pernah ada cerita buruk yang diarahkan kepadanya.

Saya cukup akrab dengan anak ini. Entah kenapa saya merasa ada beberapa hal dari dia yang mengingatkan saya akan masa muda saya. Dulu saya juga seceking dia, dan dulu saya juga senang mencorat-coret dan menggambar kartun, persis seperti yang biasa dia lakukan. Belakangan dia meminta saya mengajarinya mengedit foto menggunakan Photoshop hanya saja sayangnya kami terkendala waktu.

Hidup ini memang penuh dengan misteri. Kita tidak pernah tahu apa rencana sang Illahi, utamanya bila menyangkut masalah ajal.

Saya tidak pernah menyangka kalau adegan pada paragraf awal di atas adalah adegan terakhir yang melibatkan saya dan Upiq dalam satu scene. Setibanya di rumah saya mematikan HP yang memang sudah kehabisan daya, bahkan saat terbangun menyaksikan partai Belanda vs Uruguaypun saya tidak berpikir untuk mengaktifkannya. Ketika terbangun kembali di pagi hari barulah saya menyalakannya kembali dan tanpa saya duga pesan singkat masuk dengan bertubi-tubi. Isi pesan singkat yang masuk semuanya sama, mengabarkan kepergian Upiq untuk selama-lamanya.

Saya butuh waktu beberapa menit untuk mengumpulkan kesadaran. Masih antara kebimbangan apakah ini nyata atau sekedar mimpi. Setelah merasa cukup sadar barulah saya mulai menelepon seorang teman dan mendapatkan kepastian kalau ternyata anak muda yang sering menyapa saya dengan sapaan “Pak Ip” itu benar-benar telah meninggalkan kami.

Malam itu, beberapa jam setelah menyantap kroket dan jalangkote yang saya tawarkan, maut menjemputnya di jalan raya. Sebuah kecelakaan maut membuatnya tak pernah punya kesempatan untuk sampai di rumah orangtuanya di Sudiang. Tuhan ternyata punya rencana yang tak kuasa ditolaknya, di depan kantor Kalla Electrikal System malaikat maut menjemputnya, membawanya bertemu sang penciptanya.

Pagi itu kami berkumpul di rumahnya, di ruang tamu jasadnya sudah terbujur kaku dengan selembar kain panjang bermotif batik yang menutupinya. Saya tidak bisa menahan tangis, mata saya yang awalnya hanya kabur tiba-tiba saja sudah terasa hangat oleh air mata. Berbagai kenangan tentang Upiq melintas di kepala saya. Awal 2009 saya dan Upiq berada dalam satu tim dalam rangkaian outbound. Dalam kegiatan itu terlihat jelas kecerdasannya dan kemampuannya bekerjasama dalam tim, tak heran tim kami jadi yang terbaik waktu itu.

Beberapa kali dia pernah mengeluh kepada saya tentang masalah ekonomi yang melilitnya, pernah pula dengan terpaksa dia meminta pinjaman ke saya. Sayang saya tidak bisa sering-sering membantunya dalam hal ekonomi karena sama halnya dengan dia, sayapun juga tidak berlebih dalam soal satu itu. Kondisinya itu juga mengingatkan saya pada masa muda saya, masa yang selalu penuh dengan pertanyaan, ” mau ngutang di mana hari ini ? “.

Sore hari selepas ashar kami mengantar jasadnya ke peristirahatan terakhir. Langit mendung hari itu, bahkan titik-titik air juga membasahi bumi, seakan bumi ikut bersedih kehilangan seorang lelaki muda yang baik hati, riang dan cerdas seperti Upiq. Sekali lagi saya meneteskan air mata ketika melihat sedikit demi sedikit jasadnya yang terbungkus kain kafan itu tertimbun tanah merah. Selepas itu hanya Allah yang tahu balasan yang pantas untuk dirinya.

Selamat jalan kawan, hari ini kami sudah tidak mungkin melihat dirimu lagi. Jalan kita sudah tak bersinggungan lagi, terlalu banyak hal yang sudah kita jalani bersama. Hanya doa yang bisa kami haturkan kepada-Nya, semoga Allah melapangkan jalanmu, menerima semua amal ibadahmu. Kami yang ada di sini akan selalu mengenangmu sebagai seorang teman yang baik.

Selamat jalan..

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

5 Comments

  1. awan suyanto
    08/07/2010
  2. Debby
    09/07/2010
  3. ipul
    10/07/2010
  4. indobrad
    10/07/2010
  5. ipul
    10/07/2010

Add Comment