Hilmy, my birthday boy

Setiap orang tua pasangan suami istri pasti mendambakan seorang anak. Itu juga yang jadi impian kami semenjak pertama kali menikah meski kemudian kehadirannya seperti tak sesuai dengan rencana kami. 25 september 2008, untuk kedua kalinya kami mendapatkan rejeki berupa seorang anak lelaki yang lahir dengan sehat dan selamat. Prosesnya tidak gampang, apalagi karena waktu itu kami memilih klinik seorang bidan untuk sebagai tempat untuk melahirkan buah hati kedua kami ini. Meski telah didorong sekuat tenaga oleh bundanya, tapi si jabang bayi masih bersikeras bertahan dalam perut. Rupanya dia terlilit ari-ari sehingga pantas saja proses lahirnya tak mudah.

Beruntung bahwa kami berada di tangan yang benar. Si Ibu bidan ternyata punya “sesuatu” yang mungkin melebihi bidan-bidan lainnya, atau bahkan dokter ahli sekalipun. Dengan seorang diri dia berhasil mengeluarkan si jabang bayi dari rumah yang telah dihuninya selama 9 bulan lebih. Hanya seorang diri dan tanpa bantuan alat apapun. Beberapa bulan kemudian, seorang sepupu saya berada dalam kondisi yang sama. Bayinya terlilit ari-ari dan akhirnya dia membutuhkan sebuah operasi untuk menyelamatkan si jabang bayi. Biaya yang dikeluarkan sepupu saya itu besarnya 10 kali lebih besar dari biaya yang saya keluarkan. Ini adalah bukti kalau tak selamanya mempercayakan proses kelahiran pada seorang bidan itu tidak sebaik dengan proses melahirkan di rumah sakit dengan bantuan dokter ahli.

Dua tahun kemudian, bocah kecil yang kami beri nama Hilmy Farand Zaydan itu telah tumbuh menjadi seorang bocah kecil yang lucu. Kosa katanya bertambah setiap hari, pun dengan tingkahnya. Dia tumbuh menjadi seorang anak yang ingin banyak tahu. Pertanyaan khasnya, ” itu apa ?” setiap kali melihat sesuatu yang baru adalah bukti kalau dia memang anak dengan rasa ingin tahu yang besar. Kami melihat sebuah kecerdasan pada tingkahnya dan semoga saja itu bukan perspektif subjektif kami.

Bila dibandingkan dengan kakaknya yang lebih dulu lahir 4 tahun sebelumnya, Hilmy memang relatif lebih cerewet dan lebih banyak tahu. Sebelum berumur 2 tahun dia sudah lancar menghitung dari 1 sampai 10, sudah bisa membedakan setidaknya 3 warna dan bisa dengan tepat menyebut nama ayah, bunda, kakak, bulik, bude, tante, oom dan sepupu-sepupunya meski dengan pelafalan yang tentu saja belum sempurna. Kemampuan motorik halusnyapun cukup mengagumkan. Coretan-coretannya di atas kertas terlihat sudah mulai berbentuk dan bukan sekedar coretan tak bermakna lagi.

Satu hal yang paling membuatnya berbeda dengan kakaknya di usia yang sama adalah sifat humorisnya. Hilmy jelas jauh lebih humoris dari Nadaa sewaktu berusia yang sama. Sebelum berumur 3 tahun, membuat Nadaa tersenyum adalah hal yang sulit apalagi ketika belum berumur setahun. Hilmy berbeda, sejak masih dalam kereta bayi dia adalah anak yang murah senyum meski kepada orang asing sekalipun. Tak heran ketika masih dititipkan di rumah neneknya, Hilmy jadi favorit banyak orang karena sifatnya yang gampang tersenyum dan tertawa itu.

Sampai sekarangpun Hilmy masih jadi anak yang humoris. Gampang tertawa dan tentu saja gampang membuat orang tertawa dengan tingkah kanak-kanaknya yang juga menggemaskan. Hilmy jadi kesayangan banyak orang, tak heran sang mbah di Semarang begitu kesepian ketika Hilmy menghabiskan 3 minggu waktunya di Makassar saat lebaran kemarin. Hal yang sama juga dirasakan datonya di Makassar ketika Hilmy berangkat ke Jawa.

25 september tahun ini Hilmy genap berusia dua tahun. Dia jauh di seberang lautan bersama bundanya yang sebentar lagi akan menyeberang benua. Sebenarnya ingin sekali rasanya bisa memeluk bocah kecil itu, mencium pipinya dan mereguk aroma khas bayi yang dikeluarkan setiap inci pori-pori tubuhnya. Saya hanya bisa berdoa semoga dia tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas dan kelak bisa berguna bagi orang banyak.

Tak penting bagi saya dia akan menjadi apa nantinya. Jadi dokter seperti yang banyak dicita-citakan anak-anak kecil atau jadi apa saja. Yang terpenting bagi saya hanyalah dia bisa menjadi orang yang bahagia dan bertanggungjawab dengan pilihannya. Terserah dia mau memilih menjadi apa saja sepanjang itu tak dimurkai Allah.

Hari ini saya kembali meresapi bagaimana rasanya menjadi orang tua yang punya cita-cita dan harapan tulus untuk anaknya. Semoga kebahagiaan masih terus akan menjadi milik kami dan semoga anak-anak kami ini akan menjadi anak-anak yang bisa membanggakan siapa saja, bukan hanya kami orang tuanya.

Selamat ulang tahun Hilmy, peluk dan cium dari ayah yang jauh dari sisimu.

About The Author

7 Comments

  1. indobrad
    27/09/2010
  2. ipul
    27/09/2010
  3. Setiawan
    28/09/2010
  4. arief_spekta
    10/10/2010
  5. BABY DIJA
    15/10/2010
  6. ipul
    15/10/2010
  7. Adek Sedja
    11/02/2012

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: