Es MOSI..!!!

Malam senin kemarin saya lepas kontrol. Di bulan Ramadhan yang seharusnya jadi bulan temapt belajar menahan amarah dan emosi ini, saya malah kelepasan dan meluapkan emosi.

Ceritanya begini, di depan rumah kami tinggal pasangan muda yang usianya kira-kira cuma beda setahun dua tahun dengan saya, udah menikah setahun tapi belum punya anak. Dalam soal senioritas tinggal di daerah kami, saya memang lebih senior kira-kira setahun, cuman dalam segi pergaulan mereka memang lebih gaul.
Rumah mereka bahkan jadi tempat ngumpul ibu-ibu, bapak-bapak dan anak muda. Soalnya di halaman depan rumah mereka ada balai-balai yang sengaja dibuat untuk mengakomodir hobi kumpul-kumpul sebagian warga.

Saya jarang kumpul di situ, walaupun letaknya persis di depan rumah. Bukan apa-apa, malam hari jadi satu-satunya waktu yang tepat untuk menjalin kebersamaan dengan istri dan anak mengingat kami berdua sama-sama kerja. Selain itu, perkumpulan orang-orang di depan rumah saya memang nggak gitu nyambung topik pembicaraannya dengan saya.
Topiknya cemen, kalau gak bisa dibilang gak bermanfaat. Mending kalau mereka ngumpul sambil membahas berita-berita aktual seputar politik, ekonomi atau sport sekalipun, topik mereka sama sekali nggak jelas. Makanya saya kadang cuma sekedar say hello aja, biar gak dibilang sombong. Mending ngumpul dan diskusi sama teman-teman di dunia maya.

Nah, selama ramadhan perkumpulan itu mulai bergeser ke arah perkumpulan anak-anak muda yang kemudian sering nyanyi rame-rame pakai gitar. Kadang-kadang mereka berkumpul sampai jauh malam, bahkan lewat tengah malam. Sebelum malam senin kemarin sih semuanya oke-oke saja, sebelum jam satu kayaknya sudah pada bubar.
Malam senin kemarin, mereka sudah mulai kelewatan–menurut saya–ngumpul-ngumpul sambil nyanyi dan diiringi gitar plus galon minuman mineral yang disulap jadi drum.
Jam 11 saya masih sabar. Lagian saya juga masih asyik nonton bola di tipi. Jam 12 mereka masih asyik, malah kayaknya tambah rame. Jam 1 malam masih semangat juga. Sementara istri saya mulai terganggu.

Istri saya kebetulan tipe orang yang susah tidur. Dalam keadaan sunyi senyap bin gelap gulita saja dia nggak otomatis langsung bisa tidur, apalagi kalau memang suasananya ribut. Saya yang masih asyik di depan tipi mulai terganggu.
Jam 2 malam, atau kira-kira sejam sebelum waktu sahur tiba, anak saya terbangun. Suara ribut-ribut dari depan rupanya bikin tidurnya tidak nyenyak. Ini masalah baru, karena si kecil juga bukan tipe anak yang gampang tidur. Wah, sialan nih pikir saya..mana besok hari senin lagi, sudah jam 2 tapi belum bisa tidur nyenyak.


Emosi saya perlahan-lahan mulai naik. Dari satu strip trus beranjak ke dua strip, tiga strip dan akhirnya mencapai puncaknya ketika istri saya juga ternyata makin jengkel dan mulai triak komplen dari dalam kamar.

Okey, that’s enough…saya gak tahan lagi. Keluar ke teras dan dengan suara tinggi saya treak, “ boss…tolong jangan terlalu ribut bos..!!. ada orang mau tidur nih, besok hari senin, mau kerja….”. sampai di sini mereka rupanya merasa, saya sempat mendengar ada yang ngomong minta maaf. Karena emosi yang sudah terlanjur naik, saya pun melanjutkan, “ ini perumahan boss, bukan tempat pelacuran…!!!”. entah ide darimana, yang ada di pikiran saya hanyalah bahwa satu-satunya tempat di mana orang bebas bernyanyi-nyanyi seribut-ributnya sampai subuh sekalipun adalah di kompleks pelacuran….

Sehabis ngomong begitu, saya langsung masuk kembali ke rumah…entah apa reaksi mereka, yang jelas suara ribut-ribut itupun berhenti.
Saat tenang kembali saya baru sadar, mungkin kata-kata saya udah kasar banget. Tapi ya mo gimana lagi, mereka juga sih yang mulai. Saya jengkelnya karena mereka seakan-akan nggak mau peduli sama orang-orang sekitar, seakan-akan mereka tinggalnya di hutan.

Mereka sih asyik, seabis makan sahur bisa tidur sampe tengah hari dan gak perlu bangun pagi-pagi untuk ke kantor. Tentangga depan rumah saya kebetulan wiraswasta alias buka warung di rumah, jadi terserah mereka mau mulai beraktifitas jam berapa.
Sampai tadi malam, kayaknya mereka cuek aja saat saya pulang kantor dan lewat depan kumpulan mereka, padahal biasanya setidak-tidaknya ada senyum yang tersungging setiap kali melihat saya lewat. Saya juga masih malas untuk mulai tersenyum, toh bukan salah saya kalau saya sampai emosi, merekalah pemicunya….

Tapi yah, itulah….kadang-kadang memang ada orang-orang yang tak paham artinya hidup bertetangga, hidup berdampingan dengan orang lain yang punya kebutuhan dan sifat yang bermacam-macam.

Saya sih sebenarnya nggak suka musuh-musuhan sama orang lain, apalagi sama tetangga sendiri, tapi kan bukan saya yang mau…saya sih berharap kejadian ini bisa jadi pelajaran buat mereka biar lebih bisa mengerti arti toleransi…
Ah, entahlah….

Oya, OOT nih..
Mumpung ingat, saya mau mengajak para pembaca sekalian untuk sama-sama menyisakan sedikit waktu kita untuk bersama-sama memanjatkan doa kepada sahabat-sahabat kita di Myanmar yang sedang berjuang memperoleh kekebasan, keadilan dan kedamaian.
Tak peduli kita beda negara,beda ras, beda bahasa, dan beda agama sekalipun. Kita tetap sama dengan mereka, sama-sama umat manusia ciptaan Tuhan yang mendambakan kebebasan, keadilan dan kedamaian. Jauh dari jajahan siapapun..

Kita doakan semoga mereka tetap kuat untuk bersama-sama melawan Junta Militer yang norak itu. Semoga tak perlu lagi ada korban jiwa, untuk alasan apapun…karena nyawa bukan hak manusia untuk mencabutnya…

Salam,
Yang lebih suka perdamaian..

About The Author

4 Comments

  1. isnuansa_maharani
    02/10/2007
  2. Ifool
    03/10/2007
  3. yani
    05/10/2007
  4. ichaAwe
    07/10/2007

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: