Courtesy Of YouTube

YouTube

Dalam beberapa bulan belakangan ini, You Tube tiba-tiba menjadi salah satu tulang punggung untuk beberapa acara di stasiun televisi kita.

Dalam acara FGD bersama ICT Watch hampir sebulan lalu, salah satu pembicara dari Google ditanya oleh mas Donny BU. Pertanyaannya adalah seputar kebijakan Google sebagai pemilik dari website YouTube tentang fenomena banyaknya acara televisi yang mencomot video-video dari YouTube sebagai pengisi utama dalam acaranya meski tetap mencantumkan tulisan Courtesy Of YouTube.

Wakil Google yang datang langsung dari US itu terlihat bengong. Bengong bukan karena tidak mengerti pertanyaannya, tapi bengong karena bingung harus menjawab apa. Sepertinya fenomena tersebut tidak terjadi di tempat lain, bahkan mungkin ini adalah kasus pertama di dunia. Hanya ada di Indonesia.

Adalah program On The Spot Trans 7 yang sepertinya jadi pionir untuk cara-cara mencomot video dari YouTube dan kemudian menayangkannya dalam sebuah program khusus. Acara yang intinya adalah menayangkan 7 video berbeda dalam satu tema ( misalnya, 7 bangunan paling megah di dunia ) ini adalah program yang berevolusi. Awalnya adalah program yang menggabungkan antara musik dan beberapa video yang berkategori pengetahuan umum tapi kemudian fokus kepada video dan itupun diambil dari YouTube.

Entah karena dianggap berhasil, acara On The Spot ini kemudian dicontek stasiun TV lain atau program lain di stasiun TV yang sama. Ada acara Wow dengan format yang sama, ada juga acara Hitzteria dengan format gabungan antara musik ( penampilan live dan video musik ) serta potongan video dari YouTube.

Begitulah Indonesia, ketika ada sebuah fenomena menjadi hits maka beberapa orang lainnya akan saling berburu untuk mengikuti fenomena tersebut. Soal modifikasi dan kreatifitas itu soal belakangan, yang penting ikut trend dulu sambil tentu saja berharap bisa ikut mereguk keuntungan.

YouTube memang jadi fenomena baru di dunia hiburan, bukan cuma Indonesia tapi juga hampir di seluruh dunia. Ketika pertama kali dibuat pada Februari 2005, Situs yang dibangun oleh 3 orang mantan karyawan PayPal bernama Steve Chen, Chad Hurley dan Jawed Karim ini mungkin belum terpikirkan akan mengubah hidup banyak orang seperti sekarang.

Perlahan-lahan, YouTube jadi sebuah gerakan yang mendobrak pola tradisional dalam dunia hiburan konvensional. Dulu, artis harus merangkak dari bawah, pemusik harus bermusik dari panggung ke panggung dulu sebelum keberuntungan menghampirinya. Jalan cepatnya mungkin hanya ikut acara pencarian bakat yang pernah marak di stasiun televisi kita. Tapi YouTube kemudian seakan mengubah segalanya.

Situs yang pada tahun 2008 dibeli korporasi Google ini jadi salah satu alternatif menjejakkan kaki di dunia hiburan, khususnya dunia musik. Semua tentu tahu bagaimana Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, Briptu Norman sampai Ayu TingTing meraup kesuksesannya dalam waktu yang lumayan singkat. Semua punya kesamaan, meraihnya lewat jalur YouTube.

Di level yang lebih tinggi, semua pasti mengenal nama Justin Bieber. Anak muda asal Amerika Serikat yang juga meraih kesuksesannya lewat jalur YouTube. Singkatnya YouTube juga seakan menjadi anomali dalam bisnis hiburan. Tak heran kalau situs ini menjadi begitu terkenal dan fenomenal.

Seorang teman blogger Makassar pernah bercerita. Suatu pagi saat sedang mandi, seorang ibu tetangganya datang ke rumahnya. Sepertinya ada sesuatu yang penting sehingga si teman buru-buru menyelesaikan ritual mandinya. Ternyata sang ibu tetangganya itu meminta tolong untuk diajarkan cara mengunggah video ke YouTube. Pasalnya, sang ibu punya anak gadis yang menurutnya bersuara cukup bagus dan baru saja sang ibu merekam anaknya yang sedang bernyanyi.

Fenomena Shinta-Jojo dan Briptu Norman yang terkenal gara-gara YouTube rupanya mengilhami si ibu untuk ikut merintis jalan mempopulerkan anak gadisnya. Siapa tahu nasib baik juga memihak kepadanya.

Begitulah, YouTube yang memberi keleluasaan untuk mengunggah dan membagikan video rupanya benar-benar mempengaruhi banyak orang. Bukan cuma mereka yang berharap untuk bisa menikmati popularitas dalam waktu singkat, tapi juga stasiun televisi yang tak mau bersusah payah untuk membuat sebuah program acara.

Mari kita lihat, sampai kapan YouTube ini menjadi alternatif untuk meraih kesuksesan dan alternatif untuk membuat sebuah program acara televisi. Akankah dia bertahan lama ? atau hanya sesaat ? Setidaknya saat ini kita akan banyak melihat tayangan televisi dengan tulisan “Courtesy of YouTube” atau mungkin deretan artis baru yang melejit lewat YouTube.

About The Author

Leave a Reply

13 Comments on "Courtesy Of YouTube"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Lomar Dasika
Guest

Singkatnya, sang wakil google tersebut sampai sekarang belum memiliki jawaban yang tepat (termasuk T&C) atas pencomotan video oleh YouTube itu yach? 😀 hohoho

yap, di luar dari soal comot mencomot oleh On The Spot, tapi emang kreatifitas orang Indonesia kadang perlu banget dipertanyakan. Mereka kreatif lhhooo….tapi entah kenapa lebih seneng njiplak daripada kreasi membuat sesuatu yang baru. Sayang. 🙂

jarwadi
Guest

shinta jojo, briptu norman dan acara tv itu juga sekaligus iklan gratis untuk mempertenar youtube di Indonesia. dan akhirnya tuntutan internet broadband makin tinggi 🙂

giewahyudi
Guest

Onthespot pun pernah meminjam ide dari postingan saya.. *skip*

indobrad
Guest

on the spot? acara gak penting itu. biarin aja hehehe

latree
Guest

hadeeh… kemaren anakku juga diajak syuting oleh bapak temennya. bikin lipsing lagu apaa gitu. katanya mau diunggah ke yutub biar terkenal kaya sinta jojo.
aku sedih dengernya. entah kenapa.

anugrha13
Guest

yuk bikin sesuatu yg bisa seperti you tube tapi apa yah…hehehe

ya pasti lah semua ada saatnya menjadi “peak” dan pasti ada saatnya “down” tinggal kita tunggu aja hehhee

pararang
Guest

hahaaaa… itu acara kesukaan saya di trans… soalnya riweh kalo harus buffering ato donlod sendiri videonya dr youtube

wpDiscuz
%d bloggers like this: