Cedera..!!

ipul-dribling.jpg

Cedera bagi para pemain sepakbola adalah hal yang wajar, hampir semua pemain-profesional maupun amatir-pasti telah pernah merasakan cedera gara-gara bermain sepakbola. Tak terkecuali saya yang asli hanya pemain amatir, yang bermain bola hanya sekedar untuk mencari keringat dengan bekal kemampuan sangat seadanya.

Cedera engkel karena terkilir atau karena tackling dan benturan adalah cedera yang sudah sangat kerap saya alami. Kedua kaki saya sudah sangat kebal dengan cedera semacam itu. Bengkak di mata kaki hingga sulit berjalan adalah hal yang sudah biasa. Cedera yang paling saya takuti adalah cedera di bagian lutut. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya bila mengalami cedera pada lutut. Cedera lutut adalah cedera yang paling ditakuti para pesepakbola profesional.

Sudah banyak pemain sepakbola profesional yang terpaksa pensiun dari lapangan hijau atau terpaksa melihat sinar karirnya meredup karena cedera di bagian itu. Just Fontaine yang mencetak 13 gol di piala dunia 1958-Swedia terpaksa pensiun di usia dini gara-gara ligamen luutnya bermasalah. Ruud Gullit yang pernah kondang sebagai salah satu dari trio Belanda yang sangat bersinar di akhir 80-an dan awal 90-an terus menurun penampilannya gara-gara cedera di lutut. Yang paling anyar adalah Michael Owen, si wonder boy yang pernah berkilap bersama Liverpool itu terpaksa hilang dari peredaran sekian lama setelah lututnya juga bermasalah. Dan ada banyak contoh lain lagi yang mampu membuat saya bergidik ngeri membayangkan cedera tersebut.

Sabtu kemarin (19/04), seperti biasa saya dan teman-teman kantor mencari keringat dengan bermain bola. Dan seperti biasa juga, saya selalu bermain dengan penuh semangat. Sepakbola adalah olahraga yang sangat cocok bagi saya untuk menumpahkan segala emosi positif dan negatif. Saya bisa berteriak penuh semangat, dan bermain penuh semangat. Tak heran bila teman-teman mengenal saya sebagai salah seorang bek yang tak kenal kompromi dan cenderung keras (namun tidak kasar) bila bermain.

Dalam suatu kesempatan perebutan bola, secara tidak sengaja saya melakukan tumpuan yang tidak benar. Kaki kiri saya terangkat untuk melindungi bola sehingga total semua tumpuan berada pada kaki kanan. Saat kaki kiri di atas itulah terjadi benturan yang menyebabkan kaki kanan saya mendapatkan beban di luar kemampuannya. Karena tumpuan yang tidak benar itu maka rasanya lutut saya bergeser, saya bisa merasakan ada sesuatu yang berderak di lutut saya.

Sakit luar biasa, tanpa sadar saya langsung berteriak kesakitan, berguling dan mengaduh. Sialnya, teman-teman selama ini telah terbiasa melihat saya berakting kesakitan saat terjadi benturan. Sekali ini mereka kembali mengira saya hanya berakting. Memang biasanya dalam sebuah benturan, saya suka berakting seolah-olah pemain profesional yang sedang cedera, lengkap dengan teriakan dan gestured meminta pertolongan. Tak heran kalau teman-teman hanya tersenyum-senyum, bahkan saat beberapa detik kemudian saya tidak juga berdiri seperti biasa, mereka mulai kesal dan berucap : ” sudahmi..ayo bediri…”. Padahal waktu itu sakit yang saya rasakan sangat luar biasa, nyaris tak tertahankan.

Mereka baru sadar kalau saya tidak main-main ketika detik-detik berlalu dan saya masih mengaduh sambil berteriak kesakitan. Salah seorang teman langsung memberikan pertolongan pertama dengan menarik kaki saya. Mungkin karena tidak berbekal pengetahuan yang cukup tentang anatomi kaki, sehingga pertolongan tersebut saya rasa sia-sia. Sakitnya masih tetap terasa. Akhirnya pertandingan dilanjutkan, saya beringsut ke pinggir lapangan dan berbaring di sana sambil tetap menahan sakit. Saya tidak bisa menggerakkan kaki kanan, rasanya kaki saya terlepas dan mati rasa dari bagian lutut ke bawah. Ah, sebuah mimpi buruk yang jadi kenyataan.

Dari lapangan, saya dibonceng teman ke kantor. Sumpah, saat itu saya mengira kaki saya patah, sebabnya karena saya sama sekali tidak bisa menumpukan berat badan pada kaki kanan saya. Dari parkiran saya dipapah dua orang teman ke dalam kantor dan segera dibaringkan di sofa di ruang tunggu. Teman-teman segera merubung saya, sebagian-utamanya para wanita-langsung bergidik ngeri melihat lutut saya yang sudah mulai membengkak. Rasa nyeri pada sendi lutut saya rasanya makin bertambah.

Seorang ibu teman kantor segera berinisiatif memanggil dukun pijat yang rumahnya tak jauh dari kantor. Saya makin bergidik ngeri. Dukun pijat adalah manusia terakhir yang ingin saya temui-selain dokter tentu saja. Saya bisa membayangkan eksekusi yang akan dilakukan sang dukun pada lutut saya.

Bertahun-tahun yang lalu saya pernah melihat prosesi pemijatan pada lutut seorang teman yang cedera. Sang teman ini kebetulan adalah preman, dalam soal berantem dia sama sekali tak punya rasa takut sedikitpun, namun dalam proses pemijatan tersebut saya bisa melihat sendiri bagaimana si teman yang preman ini sampai menangis dan memanggil ibunya…tentu saja karena rasa sakit yang tak tertahankan. Rasanya agak berdebar juga menantikan kedatangan sang dukun pijat.

Akhirnya tak lama kemudian, sang dukun-yang adalah seorang ibu berusia separuh baya-datang juga. Tampilannya sederhana, namun di mata saya dia tiba-tiba berubah jadi menakutkan layaknya seorang algojo. Setelah melakukan observasi sejenak pada lutut saya, beliau segera meminta beberapa orang untuk memegangi saya. Alamat buruk-pikir saya. Pasti dia sudah mengantisipasi sebuah reaksi luar biasa dari saya sebagai pasiennya sehingga memandang perlu untuk meminta bantuan 3 lelaki lainnya untuk memegangi saya.

Saya betul-betul hanya bisa pasrah, tentu saja dengan debar jantung yang tak karuan. Teman-teman mulai merubungi saya, sebagian dari mereka berusaha melucu, mungkin maksudnya biar saya tidak tegang. Tapi sumpah, lelucon mereka jadi terdengar garing dan bahkan menjengkelkan. Saya lebih memilih menyibukkan diri dengan bertanya-tanya akan ke arah mana penyiksaan ini berlangsung.

Dan..benar saja…si ibu dengan tampang tak berdosa mulai mengurut lutut saya. Sesekali dia seakan-akan membetulkan letak tulang atau sendi yang bergeser. Rasanya luar biasa sakit. Seandainya di sekitar saya tak ada teman-teman kantor yang merubung-sebagian adalah cewek-cewek-mungkin saya sudah menangis atau setidaknya berteriak sekuat tenaga. Rasa gengsi masih bisa menahan saya untuk pura-pura tak terlalu kesakitan. Tapi…saat sang dukun melipat kaki saya, saya menyerah…tak tahan lagi hingga akhirnya berteriaklah saya.

Gila..!!!, saat menulis cerita inipun saya bisa membayangkan rasa sakit saya waktu itu. Kaki yang dibengkokkan sedikit saja rasanya sudah sangat sakit, waktu itu dipaksa hingga betul-betul bengkok dan betis bertemu dengan paha…saya tiba-tiba langsung pusing, ruangan seakan-akan berputar-putar tak karuan. Dalam hati saya berkata, kalau sampai prosesi pembengkokan itu diulangi sekali lagi, saya mungkin akan pingsan…apalagi saat itu perut saya belum terisi makanan sedari pagi.

Syukurlah karena ternyata siksaan dengan cara dibengkokkan itu hanya terjadi sekali saja. Berikutnya hanya berupa pijatan sederhana yang meski sakit tapi masih bisa saya tahan. Entah berapa lama saya berada dalam acara penyiksaan itu, yang saya tahu rasanya sungguh sangat lega ketika si Ibu menyelesaikan pekerjaannya dan memberi tips-tips, pertanda acara penyiksaan sudah selesai. Keringat dingin membasahi kening, dan jantung berdebar jauh lebih kencang. Saya bersyukur karena penyiksaan telah berlalu dan gengsi saya juga tidak jatuh-jatuh amat.

Saat lain yang cukup mendebarkan adalah ketika saya hendak balik ke rumah. Dengan susah payah saya mengendarai motor sendirian. Sangat pelan dan sangat hati-hati. Syukurlah saya akhirnya bisa tiba di rumah dengan selamat. Bengkak di lutut memang sudah mulai kempes, tapi rasa nyerinya masih tetap. Pada malam hari, rasa nyeri itu malah makin bertambah, hingga tidurpun rasanya jadi tak nyenyak. Ah, betul-betul sebuah mimpi buruk yang jadi kenyataan.

Hari minggu kemarin, saya diantar bapak ke dukun pijat yang lain. Mencari second opinion ceritanya. Bedanya dukun yang ini tidak pakai acara urut-mengurut atau pijat-memijat, hanya dengan membasahi lutut saya dengan air yang sebelumnya sudah diberi bacaan khusus. Sebelum berangkat saya sudah mewanti-wanti agar prosesi penyiksaan seperti yang saya alami sebelumnya tidak sampai terjadi lagi, dan Bapak meyakinkan saya. Pulangnya saya juga dibekali sebotol air untuk mengompres cedera pada lutut saya. Setelah dua hari menggunakan air dari sang dukun, rasanya agak lumayan. Saya sudah bisa berjalan meski tertatih-tatih, kaki kanan sudah bisa dibikin tumpuan, meski nyerinya masih suka datang.

Ah, betul-betul cedera yang menakutkan. Tapi setidak-tidaknya saya bangga karena sudah merasakan apa yang pernah dirasakan oleh Ruud Gullit, Michael Owen atau Ronaldo…hehehehe…Ah, mudah-mudahan cedera ini tidak sampai membuat saya trauma untuk kembali bermain bola nanti bila telah sembuh..

Doakan saya ya…

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

8 Comments

  1. daeng battala
    22/04/2008
  2. na
    22/04/2008
  3. lyli
    22/04/2008
  4. rusle'
    23/04/2008
  5. khie
    23/04/2008
  6. chubby-gal
    23/04/2008
  7. toyotague
    27/04/2008
  8. rayyan
    03/05/2009

Add Comment