Caleg oh Caleg..

resized_janganpilihsayaPemilu legislatif sudah berlalu hampir seminggu dan eksesnya makin kerasa. Mulai dari rombongan warga yang kecewa karena haknya memilih tercerabut gara-gara administrasi yang berantakan, senyum manis para petinggi partai yang perolehan suaranya sangat menggembirakan, hingga yang paling sering kita dengar belakangan ini adalah tingkah norak atau efek stress berat yang menimpa para calon legislatif yang tak lolos ke gedung perwakilan rakyat.

Pemilu kali ini rasanya memang sangat berbeda dengan pemilu 5 tahun atau 10 tahun yang lalu, di mana sekarang ini parade para calon anggota legislatif rasanya sudah seperti parade warga masyarakat yang mengantri formulir pendaftaran PNS. Jumlahnya luar biasa banyak hingga perbandingan antara pelamar dan kursi yang tersedia sungguh sangat njomplang.

Ini sebuah fenomena baru, di mana begitu banyak orang yang kemudian berlomba-lomba menjadi calon anggota legislatif. Gaji dan guyuran rupiah serta fasilitas berlimpah jelas sangat menggoda mereka untuk berjuang ke gedung DPR/DPRD. Siapa saja, tak peduli status sosial, latar belakang pendidikan atau latar belakang lainnya. Semua orang tiba-tiba merasa sangat pantas mengemban amanah dari rakyat yang sesungguhnya sangat berat itu. Kemudian untuk memuluskan perjalanan mereka, beragam cara ditempuh. Sebagian besar adalah cara-cara yang meminta tebusan berupa rupiah yang tak sedikit. Karena itu pula, banyak para calon yang kemudian seperti berjudi. Menukar harta meraka dengan  kesempatan duduk enak di kursi DPR/DPRD.

Belakangan, meski hasil pemilu belum final, efek berjuang habis-habisan para caleg itu kemudian muncul ke permukaan. Para caleg yang tak lolos dan kemudian mendapati kenyataan kalau suara dukungan untuk mereka tak seperti yang diharapkan mulai dihinggapi beragam penyakit. Mulai dari penyakit fisik hingga penyakit mental.

Ada yang tiba-tiba jatuh sakit, tekanan darahnya meninggi, jantungnya berdetak di luar batas normal atau penyakit fisik lainnya yang disebabkan oleh stress akibat kenyataan yang tak sesuai harapan. Ada juga yang kemudian linglung dan bertingkah selayaknya orang gila, penyebabnya tentu sama. Stress karena kenyataan yang tak sesuai harapan.

Ada juga yang lebih lucu dan norak. Sadar kalau angan-angan manis menjadi anggota dewan yang terhormat sudah hilang tak berbekas, mereka mulai menunjukkan taringnya. Taring yang selama ini disembunyikan di balik seringai penuh keramahan dan persahabatan. Saru persatu materi yang mereka gelontorkan selama ini, yang katanya diberikan secara ikhlas mulai mereka tarik dengan sedikit memaksa.

Di Mamuju-Sulawesi Barat, ada tim sukses seorang caleg yang mengusir beberapa warga yang tinggal di atas sebidang tanah miliknya. Penyebabnya adalah karena para warga tersebut gagal memberikan suara sesuai persyaratan. Sang warga yang terusirpun hanya bisa pasrah membiarkan rumah mereka dibongkar.

Di Palopo-Sulawesi Selatan, ada seorang caleg yang merangkap pengusaha kost-kostan tega mengusir penghuni kost-annya karena mendapati kenyataan para penghuni kostannya ternyata tak mencontrengnya di pemilu kemarin.

Di beberapa tempat lain di Nusantara juga terdengar kabar bagaimana para caleg yang frustasi dan jadi norak itu meminta kembali sarung atau benda lain yang sebelumnya sudah mereka bagi-bagikan. Bahkan di Bone ada caleg yang sungguh tak tahu malu dan menarik kembali karpet yang tadinya dia sumbangkan ke Masjid, Masya Allah…sungguh luar biasa..

Tindakan-tindakan norak dan tak tahu malu itu rasanya sungguh membuat miris kita-kita yang mendengarnya. Saat harapan mereka tak bertemu dengan kenyataan, taring asli mereka kemudian tampak. Mereka tak lain dari para oportunis egois yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri tanpa mau tahu urusan orang lain. Sungguh tak pantas untuk mengemban sesuatu tugas suci bernama amanah.

Sebenarnya ini adalah sebuah keuntungan juga bagi para masyarakat kebanyakan. Untung karena mereka-mereka ini tak terpilih sehingga taringnya kelihatan lebih awal. Andai saja mereka-mereka yang bersifat setan itu benar terpilih dan melenggang ke gedung DPR/DPRD maka silakan anda bayangkan sendiri kerusakan macam apa yang bisa ditimbulkannya,

Alih-alih berjuang untuk para konstituennya, mereka dipastikan akan sibuk menghitung kembalinya modal kampanye mereka sebelum mulai berhitung nilai keuntungan materi buat mereka dan konco-konconya. Sungguh luar biasa…

Di antara para caleg yang ternyata mampu mendapatkan kursi dambaan mereka, saya yakin masih banyak yang sebenarnya punya wajah asli serupa setan. Tak semua tulus mau mengabdi untuk rakyat, bahkan rasa-rasanya banyak dari mereka yang punya agenda tersembunyi demi kesejahteraan diri sendiri dan orang-orang terdekatnya. Seandainya saja ada yang bisa membuat program atau alat yang bisa menampakkan niat asli sang caleg, maka saya yakin program atau alat tersebut akan mampu membuat kita geleng-geleng kepala saking banyaknya para caleg yang tak serius mengemban amanah.

Hal-hal seperti inilah yang kemudian berhasil membuat banyak rakyat menjadi apatis dan sama sekali tak berselera untuk ikut bergabung di pesta yang katanya pesta rakyat ini. Banyak yang sudah terlanjur patah arang melihat kelakuan para calon wakil rakyatnya, dan ini kemudian membuat mereka tak mau ambil pusing tentang siapa yang akan lolos dan siapa yang tak lolos. Lolos atau tidak kan sama saja, sama-sama maling berjubah orang suci.

5 tahun ke depan harus ada satu mekanisme ketat yang menyaring para caleg sehingga kemudian jumlah maling atau setan berjubah orang suci itu bisa diminimalisir, syukur-syukur (meski berat) dapat dihilangkan. Kami rakyat kecil ini hanya ingin hidup damai dalam sebuah balutan kepercayaan yang tinggi pada orang-orang yang kami anggap mampu mengemban amanah dari kami. Bukan orang-orang yang otaknya hanya dipenuhi strategi memperkaya diri dan menempatkan kebutuhan masyarakat di urutan seratus sekian.

Maaf kalau saya terkesan apatis pada para caleg, tapi rasanya kenyataan sudah bisa memberi sedikit bukti kalau banyak dari mereka yang sesungguhnya memang adalah setan (Tuhan, saya senang sekali menggunakan istilah ini). 5 tahun ke depan, semoga semuanya bisa lebih baik, sehingga gedung DPR/DPRD bisa dihuni lebih banyak oleh para wakil yang sesungguhnya, bukan para setan berjubah orang suci. Kami tak butuh setan..!!!.

About The Author

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: