BIOSKOP MAKASSAR DALAM KENANGAN

Berangkat dari diskusi di milis Blogger Makassar tentang bioskop-bioskop di Makassar yang dulu jumlah dan jenisnya beragam, saya tertarik untuk mengurai kembali kenangan akan almarhum bioskop-bioskop tersebut.

Perkenalan pertama saya dengan bioskop dimulai sejak masih berumur setahun lebih, katanya waktu itu saya diikutkan orang tua menonton salah satu filmnya James Bond, sayangnya bapak dan ibu sudah tidak hapal judul filmnya. Tapi kalau melihat sejarah filmnya, sepertinya yang mereka maksud adalah “Moonraker”-nya Roger Moore. Perkenalan pertama itu jelas tidak membekas, maklum masih orok. Perkenalan kedua terjadi sekitar tahun 1986 atau 1987, saya sudah lupa tahun pastinya. Yang saya ingat, waktu itu saya dan seorang adik dibawa ibu nonton film “Ari Hanggara”, tempatnya di bisokop MADYA, Jl. Kajaolalido (sekarang jadi gedung bank BII). Saya ingat waktu itu kami nonton di sana dengan gratis karena salah satu kerabat (paman dari ibu) bertugas sebagai tukang sobek karcis.

Setelah perkenalan kedua itu, saya sudah makin sering mengunjungi bioskop. Dibilang sering sebenarnya tidak cocok, karena kesempatan nonton bioskop hanya terjadi sekali setahun. Biasanya saya dan teman-teman (beberapa orang di antaranya lebih tua) nonton di bioskop pada hari kedua setelah lebaran Idul Fitri atau sehari setelah Idul Adha. Ini jadi semacam tradisi bagi kami (dan sepertinya juga bagi sebagian warga Makassar, terbukti dari membludaknya penonton pada waktu-waktu tersebut), dan film yang paling sering dipilih adalah film-filmya Warkop DKI, atau terkadang juga film kolosal produk negeri sendiri semisal “Saur Sepuh “ atau “Mahkota Mayangkara”. Film komedi khas warkop ini jadi favorit saya dan teman-teman, adegan-adegan slapstiknya mampu membuat kami terpingkal-pingkal dan pulang dengan rasa puas luar biasa. Sementara itu, film kolosal yang diangkat dari cerita radio seingat saya juga sangat mampu memuaskan kehausan kami akan hiburan. Bioskop yang selalu jadi pilihan adalah bioskop PARAMOUNT dan DEWI (Jl. Gn Bulusaraung-sekarang sudah jadi kompleks pertokoan). Waktu itu kedua bioskop milik keturunan India ini adalah salah satu bisokop favorit di Makassar. Oya, semasa SD beberapa kali juga saya dan teman-teman “dipaksa” nonton ke bioskop. Kalau tidak salah kejadiannya terjadi dua kali , yang pertama film G30S/PKI (orde baru banget yak..?), yang kedua adalah STAR WARS (lupa episode yang mana). Alasan pastinya apa, entahlah, yang saya ingat hanyalah bahwa momen tersebut sangat menyenangkan bagi serombongan anak-anak SD seperti kami.

Setelah duduk di bangku SMP, tepatnya saat kelas 3 (sekitar tahun 91-92), saya dan 2 orang teman sudah mulai menjadi movie mania, uang jajan kami pun mulai disisihkan agar bisa lebih sering meluangkan waktu nonton di bioskop.

Sebelum cerita lebih jauh, saya mau mengingatkan dulu tentang beragam bioskop di Makassar yang ada waktu itu. Bila dikelompokkan menurut kelas pelayanan dan fasilitas, maka saya bisa membuat 4 kelompok bioskop. Bioskop kelas A dengan pelayanan kelas 1 (dolby stereo, kursi yang nyaman dan AC yang super dingin) anggotanya adalah : MAKASSAR THEATRE dan STUDIO 21. Bioskop MAKASSAR THEATRE sudah ada jauh sebelum STUDIO 21 masuk Makassar, dan masih bertahan sampai sekarang . Seingat saya, sekitar tahun 1992 harga tiketnya Rp. 4000 s/d Rp. 5000,-. Harga yang sangat mahal dan sulit kami jangkau waktu itu. Bisokop kelas B, dengan fasilitas sedikit di bawah bioskop kelas A beranggotakan ARINI THEATRE (Jl. Rusa-sekarang gedungnya masih ada tapi sudah jadi showroom meubel), ARTIST (Jl. Gn. Lompobattang- sekarang lokasinya sudah jadi pusat pertokoan), MALL THEATRE (Jl. Cendrawasih-terakhir setahu saya bekas gedungnya masih ada, tapi sudah jadi puing-puing),bioskop ISTANA (Jl. Slt. Hasanuddin-bekasnya sekarang jadi deretan ruko). Terakhir ada bioskop PARAMOUNT dan DEWI yang sudah saya ceritakan sepintas di atas. Biasanya bioskop kelas B ini harga tiketnya antara Rp. 2500,- s/d Rp. 3000.

bekas bioskop ARINI , Jl. Rusa yang sekarang jadi showroom meubel

Kelas berikutnya, atau kelas C (tanpa AC yang memadai dan tanpa Dolby Stereo dengan kursi dari rotan tapi masih cukup nyaman), beranggotakan bioskop BENTENG (Jl. Penghibur-sekarang jadi Colors Pub), dan bioskop MUTIARA (sekitaran Jl. Veteran-belakangan kualitasnya menurun dan jadi bisokop kelas D, terakhir satahu saya puingnya masih ada). HTM bioskop kelas C ini biasanya antara Rp. 1000 s/d Rp. 1500.

Kelas terakhir, kelas D dengan fasilitas seadanya (hanya memakai kipas angin, dengan kursi rotan yang sebagian kondisinya sudah rusak dan tanpa peralatan stereo) beranggotakan bioskop JAYA (Jl. Gn. Bulusaraung-sekarang sudah menjadi ruko) dan bioskop APOLLO (Jl. Gn. Latimojong-bioskop ini bahkan sudah tidak saya kenali bekas-bekasnya).

Sementara itu, bioskop MADYA yang sebenarnya adalah kelas B dan cinta pertama saya pada bioskop justru telah lebih dulu tutup dan berubah jadi gedung bank.

Saat masih duduk di SMP itu bioskop sasaran kami adalah bioskop-bioskop kelas C dan D yang harga tiketnya masih bisa kami jangkau dengan cara menyunat uang jajan selama seminggu. Untuk keperluan itu kami harus sering-sering mengikuti perjalanan film-film incaran kami lewat koran. Dari sini kami jadi hapal jalur distribusi film-film menurut jenisnya. Untuk film-film Hollywood kelas 1 pasti masuknya lewat MAKASSAR THEATRE dan belakangan STUDIO 21. Setelah tayang selama seminggu atau tergantung dari laku tidaknya film tersebut maka jalur selanjutnya adalah ARINI, MALL THEATRE dan ARTIST. Lepas dari situ film akan turun ke BENTENG dan terakhir ke APOLLO sebelum hilang dari Makassar. Nah, waktu yang tepat untuk nonton film tersebut tergantung dari kondisi keuangan, bila agak longgar maka nonton di bioskop kelas C adalah kemewahan tersendiri bagi kami. Tapi lebih sering kami terpaksa nonton di bioskop kelas D, yang penting filmnya jangan sampai lewat. Karena masih ABG, biasanya yang jadi incaran adalah film-film yang full action dengan bintang-bintang seperti Sylvester Stallone, Jean Claude Van Damme, Steven Seagal, Brandon Lee,dll. Pokoknya asal ada gebuk-gebukan atau tembak-tembakannya, soal kualitas cerita nomor sekian lah…

Sementara itu untuk distribusi film-film Hongkong, biasanya setelah dari MAKASSAR THEATRE dan STUDIO 21, jatuhnya sama ke ARINI dan ARTIST, setelah itu jatuh ke ISTANA dan terakhir ke MUTIARA. Jadi bioskop ISTANA dan MUTIARA ini terkenal sebagai bioskop spesialis film-film Hongkong. Nah, khusus bioskop DEWI, PARAMOUNT, dan JAYA yang tergabung dalam satu grup, mereka memiliki spesialisasi dan jalur distribusi sendiri. PARAMOUNT biasanya memutar film-film Hollywood kelas 2 (biasanya film-film yang asal action dan semi bokep). Bila telah turun, film tersebut akan jatuh ke bioskop JAYA, yang letaknya hampir berada di depannya. Pada waktu-waktu tertentu PARAMOUNT juga akan memutar film-film Indonesia yang biasanya didominasi oleh film milik Warkop DKI, film kolosal atau film bertema hantu plus sedikit adegan hot yang tetap bertahan saat perfilman Indonesia sedang sekarat. Sementara bioskop DEWI terkenal sebagai spesialis film-film Bollywood sambil sesekali diselingi film-film Indonesia, mirip bioskop RIVOLI di Jakarta. Ini tidak mengherankan mengingat sang pemilik yang berdarah India dan jika ingin mendengarkan lagu-lagu india, silakan anda nongkrong di lobby DEWI mulai jam 12 siang sampai jam 10 malam, ditanggung kenyang lagu India….

Menonton di bioskop-bioskop kelas C dan D ini membuat kami mendapatkan berbagai pengalaman unik dan menarik, pengalaman yang tentunya tidak bisa didapatkan dari pengalaman nonton di bioskop kelas B dan A. Ambil contoh bioskop APOLLO, nonton di sini artinya anda harus berbagi tempat dengan nyamuk atau kutu busuk.

Kursi-kursi rotan dipasang berjejer dengan satu lorong di bagian tengah. Bila biasanya di bioskop-bioskop kelas A anda mendapatkan kondisi kemiringan yang nyaman,maka di APOLLO jangan harap anda akan menemukan kondisi yang seperti itu. Kemiringan memang ada, tapi sangat landai hingga nyaris tidak terasa, lantainya dibuat dari papan dengan kondisi yang rusak di beberapa tempat. Pendingin ruangan menggunakan kipas angin yang tergantung di langit-langit dan para penonton bebas untuk merokok, terbayang kan pengapnya ?. Bagaimana dengan kursinya ?, sebenarnya lebih tepat disebut bangku, karena memang terbuat dari kayu dan rotan, silakan anda membayangkan bagaimana rasanya duduk di bangku rotan yang kadang jalinan rotannya sudah rusak dan berisi kutu busuk. Bioskop ini biasanya terkenal sebagai langganan para tukang becak karena harganya yang murah meriah ini. Well, apapun itu sebagai anak-anak penggemar film dengan kantong yang tipis, itu semua tentu tak ada artinya. Oya, ada satu hal lagi yang unik. Biasanya di pertengahan film, atau pada saat penggantian rol, ada waktu jeda selama kurang lebih 10-15 menit. Waktu ini dimanfaatkan penonton untuk buang air kecil atau sekedar mencari udara segar di luar.

Nah, di bioskop JAYA ada hal yang unik lagi. Bioskop yang terkenal dengan poster filmnya yang hot ini menjadi pilihan kami saat usia memasuki masa remaja. Bioskop ini juga sering kami juluki “bioskop tunduk”, alasannya karena bioskop ini terkenal sering memutar film ecek-ecek yang tergambar dari posternya, jadi pada saat bubaran kami musti nunduk agar tidak keliatan orang yang berlalu lalang karena posisi bioskop ini yang pas berada di pinggiran jalan, malu kalau sampai ketahuan… Kondisi bioskop ini tidak jauh beda dengan kondisi bioskop APOLLO, kecuali keadaan bangkunya yang sedikit lebih nyaman. Istirahat “turun minum” juga berlaku di sini. Film-film yang diputar adalah film-film Hollywood kelas 2 yang saya yakin tidak akan anda temui di pagelaran Academy Award. Biasanya lagi nih, dalam satu pemutaran film seringkali ada potongan film-film semi porno (XX) yang diselipkan sepanjang kira-kira 3-5 menit, yang terjadi beberapa kali. Ini adalah momen favorit kami. Di hari Minggu, ada pemutaran extra jam 10 pagi. Film yang diputar biasanya film-film yang “tidak masuk akal”, semisal : “Sunan Kalijaga” yang waktu itu pun sudah sering diputar di TV. Sepintas memang tidak masuk akal bukan ?, tapi tunggu dulu…rupanya ada yang ekstra dari film ini. Penyisipan adegan-adegan semii porno biasanya jadi lebih sering..!!!. Tapi tidak jarang juga penonton tertipu, sudah bela-belain beli karcis untuk film-film yang “tidak masuk akal” itu tapi selipan tidak ada sama sekali, kacian deh Looo..(kami juga pernah jadi korban, hehehe..).

Saat mulai berseragam putih abu-abu perlahan-lahan kami mulai “naik kelas” dengan lebih sering mengunjungi bioskop kelas B, sambil tetap sesekali menengok bioskop JAYA (karena ekstra-nya tadi..). Sementara bioskop APOLLO sudah mulai hilang dari daftar, paling sial nontonnya di bioskop BENTENG. Kesempatan nonton di bioskop kelas A akhirnya datang juga, kalau tidak salah ingat waktu itu saya habis dapat order bikin kartu lebaran, dibayar Rp. 5000 plus 2 bungkus Dji Sam Soe. Karena sudah lama bermimpi, akhirnya duit itu terpakai buat nonton di STUDIO 21 Jl. DR. Sam Ratulangi, yang waktu itu masih baru. Filmnya ‘DEMOLITION MAN” punya Sylvester Stallone dan Wesley Snipes. Wuihhh..senangnya luar biasa, seumur-umur baru kali itu kami nonton film dengan kualitas Dolby Stereo yang oke banget.

Booming VCD-yang lebih praktis- yang mulai sekitar tahun 1995-1996 kemudian menggeser keberadaan bioskop-bioskop tersebut, termasuk Laser Disc yang hanya sempat bertahan sebentar menggantikan Video VHS dan Betamax. Bak hukum rimba, hanya yang kuat yang kemudian mampu bertahan. Satu persatu bioskop-bioskop tersebut tutup, sebagian besar berubah fungsi menjadi pusat pertokoan namun beberapa diantaranya masih bisa kita lihat sisanya. Yang bertahan kemudian hanya STUDIO 21 (yang pernah dianggap memonopoli dunia perbioskopan di tanah air) dan MAKASSAR THEATRE.

Bioskop DEWI sendiri sebagai spesialis pemutar film-film Bollywood kemudian ber-reinkarnasi menjadi bioskop REWA (letaknya satu gedung dengan REWA busana Jl. S.Saddang kompleks Maricaya Plaza). Tapi ini pun tidak bertahan lama. Sang pemilik yang juga terkenal sebagai pedagang kain besar di Makassar kemudian membuka bioskop baru di dalam lokasi Mall Ratu Indah, sekitar tahun 2002 dengan nama ZWE ZE. Ini juga tidak bisa bertahan lama karena jenis film yang diputar tidak jauh dari kualitas film yang dulu diputar PARAMOUNT, film Hollywood kelas 2. Sekarang bekas bioskop ZWE ZE diambil alih STUDIO 21, sementara gedung bekas STUDIO 21 di Jl. DR.Sam Ratulangi masih ada namun suda dalam keadaan kosong.

Hari ini masyarakat Makassar hanya mengenal 2 bioskop. MAKASSAR THEATRE dan STUDIO 21 (di Mall Ratu Indah dan Mall Panakkukang). Rasanya sangat mustahil untuk menghidupkan kembali almarhum bioskop-bioskop tersebut di tengah “monopoli” sebagian pengusaha bioskop dan serbuan produk VCD dan DVD (utamanya yang bajakan). Apapun itu, saya sangat ingin berterima kasih kepada para pengusaha dan kru almarhum bioskop-bioskop tersebut yang telah pernah menggoreskan memori indah dalam perjalanan hidup saya dan teman-teman.


Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

17 Comments

  1. rusle
    23/07/2007
  2. AMRIL TAUFIQ GOBEL
    23/07/2007
  3. Ifool
    23/07/2007
  4. Adink
    23/07/2007
  5. Ifool
    23/07/2007
  6. pit
    23/07/2007
  7. Babay
    24/07/2007
  8. elida tamalagi
    10/01/2010
  9. ipul
    12/01/2010
  10. irwanTawa
    02/06/2010
  11. ipul
    03/06/2010
  12. anita
    14/06/2010
  13. omcalip
    15/06/2011
  14. TJIANG
    09/01/2016
  15. Dwi Wahyudi
    21/09/2016
  16. Suarsana
    05/10/2016
  17. Ismail Ilyas
    05/08/2017

Add Comment