Tags: ,

Bella Luna

Bella Luna; 20 Maret 2011

Malam merangkak makin kelam di luar sana. Rintihan hujan semakin deras, suaranya memenuhi atmosfir. Angin merangkak melalui semua celah yang bisa dilewatinya, masuk ke dalam ruangan dan menghantarkan hawa dingin.

Dani masih duduk selonjoran di lantai. Di tangan kanannya sebatang pulpen tergenggam lunglai. Di tangan kirinya selembar kertas putih tergenggam. Guratan tangannya terpapar jelas pada lembaran kertas putih itu. Lima lembar kertas lainnya yang sudah berubah seperti bola teronggok dekat kakinya. Lampu 5 watt menerangi ruangan yang lembab. Sayup-sayup terdengar suara musik dari player di ujung ruangan.

Mystery the moon
A hole in the sky
A supernatural nightlight
So full but often right
A pair of eyes a closing one
A chosen child in golden sun
A marble dog that chases cars
To farthest reaches of the beach and far beyond into the swimming sea of stars

Dani menghela nafas. Membungkuk dan melipat kakinya, kembali mencoretkan sesuatu pada lembaran kertas putihnya. Keningnya berkerut menandakan otaknya yang berpikir keras. Pulpen di tangan kanannya bergerak lambat, mengguratkan huruf demi huruf yang bersambung menjadi sebuah kata dan kemudian bersambung lagi menjadi sebuah kalimat.

Dani berhenti menulis. Tubuhnya ditegakkan rapat ke tembok, kertas putih itu diangkatnya mendekati wajahnya. Temaram lampu membuatnya memicingkan mata untuk membaca deretan huruf yang dirangkainya menjadi kalimat.

Hanya sebentar sebelum kertas itu kembali menjadi bola kertas setelah diremas. Bergabung dengan lima bola kertas lainnya di lantai.

Dani menyandarkan bahu dan kepalanya di dinding. Sebatang rokok yang tersulut dihisapnya dalam-dalam. Dia memicingkan matanya ketika asap putih dihembuskan dari mulut, memenuhi ruangan untuk sejenak sebelum hilang tak berbekas. Dalam kepalanya, asap putih yang pekat masih terus ada. Dani menghela nafas, berharap sedikit dari asap putih di kepalanya hilang. Tapi percuma, asap putih itu masih ada di sana. Memenuhi semua rongga kepalanya.

Menit menit berlalu, di luar hujan masih deras meninggalkan basah di seluruh bumi dan suara gemuruh di atap. Malam makin pekat dan basah. Dua batang rokok habis dihisapnya, sekarang dia kembali membungkukkan badan, meraih kertas yang lain dan mulai mencoret kembali. Lagu yang sama masih terdengar mengalun dari pemutar yang sama. Entah untuk kali keberapa .

The cosmic fish they love to kiss
They’re giving birth to constellations
No riffs and oh no reservation
If they should fall you get a wish or dedication
May I suggest you get the best
For nothing less than you and I
Let’s take a chance as this romance is rising over before we lose the lighting

Menit menit berlalu, di luar sana hujan mulai jenuh dan makin pelan membasahi bumi. Malam kian larut dan basah. Udara dingin masih memeluk seisi ruangan yang sedari tadi lembab. Dani menegakkan badan, memicingkan mata membaca tulisannya sendiri. Menit berlalu, dia menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirnya. Melipat kertas putih itu, meraih selembar amplop tak jauh dari sisinya dan memasukkan lembaran itu ke dalam amplop.

Dani memepetkan punggungnya ke dinding, membakar sebatang rokok, menghisap dan kemudian menghembuskan asap putih dari mulutnya. Dani memejamkan mata ketika berikutnya kembali menghisap rokok dan menghembuskan asapnya ke udara. Lagu yang sama masih mengalun dari pemutar yang sama.

You are an illuminating anchor
Of leagues to infinite number
Of crashing waves and breaking thunder
Tiding the ebb and flows of hunger
You’re dancing naked there for me
You expose all memory
You make the most of boundary
You’re the ghost of royalty imposing love
You are the queen and king combining everything
Intertwining like a ring around the finger, of a girl
I’m just a singer, you’re the world
All I can bring ya
Is the language of a lover
Bella luna, my beautiful beautiful moon
How you swoon me like no other

Malam bersiap berganti pagi. Hujan baru saja pergi. Dani beranjak ke meja di ujung ruangan. Membuka lacinya dan meraih sesuatu dari dalam. Dia tersenyum getir memandangi benda di genggamannya. Senyum yang tak biasa, senyum yang penuh beban. Seperti malam yang digelayuti mendung.

*********

Pagi yang cerah setelah hujan semalam. Tanah masih basah oleh sisa hujan meski mentari cerah ceria di ufuk timur. Seorang lelaki tua menyalakan televisi di ruang keluarga bersofa empuk. Tayangan berita favoritnya, seperti hari-hari biasanya. Baru saja kopi hitam dihirupnya ketika seorang lelaki berjas rapih di dalam kotak televisi itu berucap :

” Seorang lelaki muda ditemukan tewas akibat bunuh diri. Diduga pemuda tersebut mengakhiri hidupnya dengan sebuah pistol rakitan yang ditembakkan ke kepalanya. Di samping korban ditemukan sepucuk surat yang diduga isinya ditujukan kepada seorang wanita “

Si ?lelaki tua menghirup kopinya dengan santai. Di belakangnya, seorang wanita muda tiba-tiba kaku dan berwajah pucat sebelum jatuh berdebam ke lantai.

Namanya Luna.

May I suggest you get the best
Of your wish may I insist
That no contest for little you or smaller I
A larger chance yet, but all them may lie
On the rise, on the brink of our lives
Bella please
Bella you beautiful luna
Oh bella do what you do
Bella luna
My beautiful beautiful moon
How you swoon me like no other, oh oh oh

 

Makassar, 23 Maret 2011

About The Author

26 Comments

  1. indobrad
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
      • indobrad
        23/03/2011
        • ipul
          23/03/2011
  2. nanie
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  3. amriltg
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  4. greenfaj
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  5. giewahyudi
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
      • giewahyudi
        24/03/2011
  6. latree
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  7. irwin
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  8. anugrha13
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  9. Cipu
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  10. aRuL
    23/03/2011
    • ipul
      23/03/2011
  11. budies
    24/03/2011
  12. Rusa
    25/03/2011
  13. melivedder
    28/03/2011

Add Comment