Balada si Benyamin

Kulitnya putih bersih dan mengkilap selayaknya perak. Matanya besar dan agak kotak dengan dua kuping bulat berwarna perak. Di tubuhnya yang agak gemuk tersampir sedikit pakaian dari bahan kulit, kedua kakinya hitam dan kokoh. Namanya Benyamin, kusematkan kepadanya mengambil nama tokoh kesenian Betawi yang melegenda, Alm. Benyamin Sueb. Si Benyamin yang satu ini sudah menemaniku sejak tahun 2001, hampir 7 tahun yang lalu.

Benyamin yang ini adalah sebuah motor merk Piaggio jenis Vespa P150X keluaran tahun 1983. motor ini sebenarnya punya bapakku dan jadi bagian keluarga besar kami sejak 1994 setelah dibeli dari seorang dosen UNHAS. Dari tahun 1994 dia setia menemani bapakku menyusuri jalan-jalan Makassar bahkan sampai ke luar kota. Latar belakang bapakku yang menguasai mesin membuat kondisi Vespa ini selalu prima. Tak perlu masuk bengkel, bapak sudah bisa sendiri mengganti atau memperbaiki jeroan Vespa ini.

Tahun 2001, bapak dapat rejeki mobil dinas dari kantor. Akibatnya si Vespa dilungsurkan ke aku. Senang sekali rasanya, akhirnya aku bisa naik motor sendiri setelah selama ini ke mana-mana hanya bergantung pada angkutan kota. Tahun pertama bersama Vespa semuanya masih baik-baik saja. Peninggalan tangan dingin bapakku membuat si Vespa masih bisa meluncur dengan mulus tanpa kendala apapun. Memasuki tahun kedua, Vespa mulai bermasalah. Aku yang tak paham sedikitpun soal mesin rupanya mulai teledor untuk menjaga kondisi mesin Vespaku. Akhirnya, mogok menjadi menu yang akrab dengan kebersamaan kami. Tak terhitung berapa kali aku bingung dan berujung pada emosi gara-gara si Vespa mogok di tengah jalan.

Perlahan-lahan akupun mulai paham masalah-masalah apa saja yang sering dialaminya. Tanpa sadar aku mulai bisa menemukan jalan keluar setiap kali dia bermasalah, termasuk bagaimana merawatnya hingga tak perlu terlalu bersusah payah saat terjebak dalam kemogokan. Rasa sayang juga mulai tumbuh pada sosok gendut nan berat itu. sebagai buktinya, dia kuberi nama Benyamin. Dan diapun kemudian menjadi partnerku yang setia, my partner in crime.

Setiap hari dia menemaniku menyusuri jalan-jalan di Makassar bersama istriku, bahkan di saat dia sedang hamil. Beragam mitos yang mengatakan kalau orang hamil sebaiknya tak naik Vespa karena bisa keguguran tak kami gubris. Syukurlah karena kuasa Tuhan lebih besar dari mitos itu hingga istriku bisa melalui masa kehamilannya tanpa gangguan berarti.

Tahun 2003 Benyamin sempat masuk “rumah sakit” dan menjalani perawatan untuk mengembalikan kondisinya menjadi prima. Setahun kemudian dia kembali masuk “rumah sakit” untuk menjalani perawatan pada kulitnya yang mulai keriput dan mengelupas. Sebulan di “rumah sakit” Benyamin keluar dengan kulit baru berwarna perak mengkilap menggantikan warna putih apel sebelumnya. Senangnya hatiku saat itu, Benyamin tampak sangat gagah dan mewah dengan kulit barunya. Perawatanpun makin intensif kulakukan. Hampir setiap pagi kulit Benyamin kubersihkan dengan lap dan cairan khusus, serta di akhir pekan dia pasti kumandikan. Ini adalah masa-masa terbaik bersama Benyamin.

Tahun berganti tahun, akupun makin paham pada kemauan si Benyamin. Walau tak pernah sampai berani membongkar bagian dalam tubuhnya, namun saat dia butuh pertolongan pertama, aku bisa melakukannya. Jadi, selama tahun 2003 hingga awal tahun ini Benyamin tak pernah masuk “rumah sakit” lagi, paling-paling dia hanya masuk sejenak untuk mengganti bagian kecil dari tubuhnya yang sudah aus atau rusak.

Sejak 2 bulan lalu, kondisi kesehatan Benyamin mulai terganggu. Wajar mengingat sudah hampir 5 tahun dia tak pernah masuk “rumah sakit”. Berbagai penyakit membuat lajunya tak lagi kencang dan terbatuk-batuk pada beberapa kesempatan walau aku masih bisa mengobatinya dengan caraku sendiri. Akhirnya minggu lalu aku berkesempatan untuk membawanya ke “dokter” dan menyembuhkan semua penyakitnya.

4 hari di “rumah sakit” Benyamin akhirnya keluar dengan kondisi kesehatan yang sangat prima. Mulai hari Selasa kemarin dia sudah kembali menemaniku di jalanan kota Makassar. Lincah, cepat dan gesit itulah kondisi Benyamin saat ini. Sangat menyenangkan, rasanya aku ingin terus berjalan bersamanya, bahkan hingga ke ujung dunia.

Inilah kisahku bersama si Benyamin, motor gemuk yang sudah uzur namun tetap mampu tampil prima dan gagah. Dalam hati aku bersumpah tak akan pernah menjualnya tanpa alasan yang sangat mendasar. Benyamin akan selalu menemaniku hingga kapanpun. Walau ribuan varian model motor baru keluar aku sama sekali belum tergoda untuk mengambil salah satunya untuk menggantikan Benyamin. Pokoknya Benyamin forever, Vespa forever..!!!.

About The Author

Leave a Reply

10 Comments on "Balada si Benyamin"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
daengrusle'
Guest

pertamax lagi
wah sama2 rider nih, tp sa ndak ngerti mesin, biasanya kupercayakan saja kepada teman baikku yg sering jual mahal, AHASS!

Ina
Guest

Seniman sepanjang masa dan belum tergantikan sampe sekarang.
*angkat topi tanda hormat

🙂

daeng battala
Guest

Wah..boleh juga nih buat komunitas “blogger daeng rider”.
Tunggangan saya sekarang Suzuki Shogun 2002 yang kalau saya dan seluruh “pasukan”ku (istri 2 anak) menaikinya, maka orang-orang akan mengelus dada prihatin dan berkata,”kasihan banget ya itu motor, dinaiki orang-orang montok yang tidak berperi-kemotoran”..hehehe

pit
Guest

wahhh..jadi ingat Vespa kesayangan bapak-ku.bapak juga tidak mau menjual Vespanya yg sdh menemaninya selama 25thn-lebih tua dr sy bowww!!walaupun tidak pernah dipakai lg krn sdh ada beberapa kendaraan dirumah. tp hampir tiap pagi bapak “panasi” dan melapnya. Vespa itu seperti anak pertamanya..:D

Adink
Guest

Ternyata kita sama2 rider sensi 🙂

blogblakan
Guest

oh, ini toh orangnya yang banyak jadi bahan bincangan itu! salam kenal!

blogblakan
Guest

makasih mengisi shoutboxku. btw, ada 10 kata tentang blog ini di blogku!

Mus_
Guest
Motor pertama saya juga tahun 2001, waktu masih SMA di Balikpapan. Suzuki Shogun Millenium Edition warna silver. Saya merantau ke Makassar, motor itu ikut serta. Motor itu sudah melalui lebih dari 15 kota/kabupaten di 2 propinsi! Keren! Balikpapan, Samarinda, Makassar, Maros, Pangkep, Barru, Pare-pare, Sidrap, Pinrang, Gowa, Takalar, dan baaaanyak lagi yang saya mungkin sudah ndak bisa hitung (halah, hiperbola). Saya sudah bertekad untuk tidak menjualnya. Tapi apa daya, suatu hari di Balikpapan (motor itu ikut lagi ke sana), saya sedang jalan-jalan (kencan-red). Pulang pulang, bapak duduk di ruang tamu dengan mama, dan 2 orang lain yang saya tidak kenal.… Read more »
Ipul
Guest

@Mus:
ah..menyedihkan sekali ceritamu..
kadang2 kendaraan memang tanpa kita sadari sudah menjadi bagian dari hidup kita…karena bukan apa-apa, terkadang sebagian besar hidup kita dihabiskan bersamanya…

ikut berduka cita Mus…:)

wpDiscuz
%d bloggers like this: