Awalnya Dari Cinta

Ultah Kedua Anging Mammiri

Kira-kira sebulan belakangan ini saya baru saja menggabungkan diri dengan komunitas blogger Maluku, Arumbai. Saya tidak punya darah Maluku dan belum pernah ke Maluku, tapi saya punya beberapa teman-teman berdarah Maluku yang saya anggap sebagai teman-teman yang luar biasa. Hanya alasan itu yang saya gunakan sebagai dasar untuk bergabug dengan Arumbai. Dan syukurlah karena teman-teman di sana menyambut saya dengan hangat.

Beberapa hari belakangan ini milis Arumbai sedang ramai oleh perbincangan seputar persiapan acara Tabaos Arumbai menyambut hari jadi Arumbai kedua. Sahut-sahutan para anggotanya memperbincangkan persiapan acara. Keramaian ini tiba-tiba mengingatkan saya pada keramaian yang ?sama setiap kali Anging Mammiri sedang menggelar sebuah event.

Acara Blog For Life, Juli 2007

Saya sebenarnya agak telat bergabung dengan Anging Mammiri, beberapa bulan setelah komunitas blogger Makassar ini terbentuk barulah saya ikut serta. Tepatnya pada acara perdana mereka, Blog For Life, Juli 2007. Saya tidak sempat mengikuti ihwal persiapan acara tersebut, acara yang dianggap sebagai batu pijakan keberhasilan AM selanjutnya.

Saya baru aktif membantu persiapan acara AM saat ulang tahun perdana di bulan November 2007. Waktu itu kebetulan saya ditunjuk sebagai moderator dalam acara talkshow yang menghadirkan Budi Putra sebagai pembicara utama.? Meski begitu saya masih tetap merasa kurang terlibat. Penghalang utamanya tentu saja status sebagai orang yang sudah berkeluarga sehingga saya tidak bisa sebebas anak-anak muda itu yang bisa begadang dan berkumpul sampai tengah malam.

Meski tidak terlibat 100% saya bisa tahu bagaimana repotnya merencanakan, mengatur, dan menggerakkan sebuah event besar. Sahut-sahutan di milis project terkadang begitu intens, judulnya pun sangat menyita perhatian. Judul seperti URGENT atau HELP cukup mampu menunjukkan bagaimana hebohnya persiapan acara. Itu tentu saja belum seberapa bila dibandingkan dengan persiapan di lapangan.

Bisa anda bayangkan bagaimana repotnya menyusun proposal, ke sana ke mari menyambangi calon sponsor, audiensi dengan calon sponsor, deg-degan menunggu hasil audiensi, menghadapi penolakan dari calon sponsor, mencari calon sponsor lain, menghubungi calon pengisi acara, konfirmasi tempat, membuat rundown acara, dan lain-lain dan lain-lain. Intinya, sungguh merepotkan !! Apalagi kalau mengingat bahwa semua itu dilakukan sama sekali tanpa bayaran.

Kopdar Pertama Saya Bersama Anging Mammiri

Sampai ulang tahun ketiga, saya masih lebih banyak bermain di belakang layar. Membantu teman-teman melalui kemampuan saya membuat materi promosi berupa poster, spanduk, backdrop dan lain-lain. Saya belum berani mengambil tanggung jawab yang lebih besar, tentu saja karena sadar diri tidak bisa meluangkan waktu banyak dalam acara tersebut.

Beberapa kali saya sempat ikut rapat panitia dan selalu bisa menangkap semangat yang luar biasa dari anak-anak muda punggawa Anging Mammiri itu. Semangat yang saya yakin didasari oleh kecintaan pada komunitas dan rasa kekeluargaan yang sudah merekat kuat. Ini kegiatan non profit lho, kalau tanpa alasan itu kenapa coba mereka sampai rela meluangkan waktu dan tenaga ?

Rasa kekeluargaan yang besar juga membuat teman-teman di Anging Mammiri dengan mudah melupakan gesekan yang terjadi dalam semua proses interaksi. Jadwal yang mepet, daftar pekerjaan yang masih tertunggak, belum lagi mood yang sedang tidak cerah plus mungkin masalah pribadi yang menumpuk jadi alasan ketika kemudian muncul beberapa gesekan dalam setiap proses persiapan event.

Sebuah kalimat yang terkesan nyolot bisa dengan gampangnya memancing emosi teman-teman yang lain. Tapi, semua kemudian bisa terlupakan dengan cepat. Rasa kekeluargaan antar anggota membuat semua kesalahpahaman itu jadi sesuatu yang tidak berarti, hanya sebuah kerikil di jalan yang lapang. Sedikit mengganggu, tapi ketika terus melangkah kerikil itu akan terlupakan. Sesederhana itu.

Segala jerih payah, kekurangan tidur, rasa capek, emosi, benturan dan apapun namanya itu akan terbayar tuntas ketika backdrop diturunkan dan meja kursi dirapikan. Kilatan lampu flash kamera, suara shutter, tawa riang dan jabatan tangan yang erat jadi penanda lepasnya semua beban yang dirasakan selama persiapan. Berganti dengan rasa puas dan tentu saja rasa capek yang baru muncul ke permukaan. Dan pada momen inilah rasa kekeluargaan dan persahabatan itu akan makin terasa, mengikat kami untuk tahun-tahun berikutnya.

Beberapa bulan kemudian, kami akan membaca kembali semua dokumentasi persiapan acara, melirik kembali foto-foto acara dan kemudian akan sama-sama berdecak kagum pada kemampuan sendiri. Kok kita bisa ya ? Ternyata kita bisa ya ? Dan kemudian kami akan menceritakan semua masa-masa sulit di balik persiapan acara itu, dengan tawa yang renyah.

Semua itu berawal dari rasa cinta dan saling memiliki. Rasa keakraban dan rasa kekeluargaan. Tak ada uang dan profit ?yang terlibat di sini.

Cerita di balik layar persiapan acara AM, sebagian bisa dibaca di sini dan di sini

About The Author

23 Comments

  1. nanie
    26/02/2011
    • ipul
      26/02/2011
  2. kHie
    26/02/2011
    • ipul
      26/02/2011
  3. Syam
    26/02/2011
    • ipul
      26/02/2011
  4. indobrad
    26/02/2011
    • ipul
      26/02/2011
  5. Ceritaeka
    26/02/2011
    • ipul
      26/02/2011
  6. isnuansa
    26/02/2011
    • ipul
      27/02/2011
  7. Cipu
    26/02/2011
    • ipul
      27/02/2011
  8. anbhar
    27/02/2011
    • ipul
      27/02/2011
  9. giewahyudi
    27/02/2011
    • ipul
      27/02/2011
  10. aRuL
    27/02/2011
    • ipul
      27/02/2011
  11. Daeng Oprek Ji
    27/02/2011
    • ipul
      27/02/2011
  12. ndy
    10/03/2011

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: