ASEAN Community, Siapkah Kita?

Negara-Negara ASEAN (sumber: pattaya-times.com)

Negara-Negara ASEAN (sumber: pattaya-times.com)

Asia Tenggara sudah lama jadi perhatian dunia, silih berganti negara penjajah berusaha menguasai kawasan ini. Sekarang saat yang tepat bagi warga Asia Tenggara untuk bersatu dan mencoba ambil peran lebih besar. Tapi, siapkah kita?

Kembali masa ratusan tahun lalu. Kala itu tersebutlah sebuah kerajaan besar di tanah Jawa. Namanya kerajaan Majapahit. Dengan patihnya yang terkenal, Gajah Mada kerajaan ini memperluas kekuasaan hingga jauh ke ujung utara pulau Jawa. Kala itu Majapahit bahkan sampai melebarkan kekuasaannya hingga tanah yang kelak akan bernama Thailand.

Selang ratusan tahun kemudian orang berkulit putih datang ke kawasan yang dulu separuhnya adalah bagian dari kerajaan Majapahit. Tujuan mereka mencari sumber daya alam yang bisa mereka angkut dan bawa ke negara mereka. Mereka kemudian menemukan tanah-tanah baru yang kaya, bukan hanya hasil bumi tapi juga yang tersembunyi di bawah tanah. Selama ratusan tahun pula bangsa-bangsa kulit putih ini mengeruk hasil bumi dari ratusan bangsa yang hidup di tenggara Asia ini.

Kedatangan para kulit putih itu memang bermaksud menguasai, tentu dengan nafsu ketamakan yang luar biasa. Tapi selain membawa rasa takut, rasa tertindas dan hilangnya kebebasan, ternyata para penjajah itu juga sanggup menumbuhkan rasa senasib. Rasa senasib yang ujungnya jadi pemicu lahirnya negara-negara baru di kawasan Asia Tenggara.

Ratusan kerajaan bergabung menjadi satu negara yang sekarang bernama Indonesia. Beberapa kerajaan lain juga bergabung menjadi Malaysia, dan seterusnya dan seterusnya. Penjajahan adalah alasan untuk bersatu dan melawannya, bergabung dalam sebuah payung besar bernama negara. Negara-negara itupun kemudian berperang mengusir bangsa kulit putih, berjuang demi kemerdekaan mereka sendiri. Berjuang menentukan nasib mereka sendiri.

Ketika penjajahan sudah tinggal kenangan, tantangan lain muncul. Dunia tumbuh dengan sangat cepat, tantangan baru datang dengan nama yang berbeda meski bisa disebut sebagai penjajahan model baru. Bangsa-bangsa yang lebih dulu merdeka dan rata-rata berkulit putih tidak lagi datang sebagai penjajah, tapi sebagai pemodal, sebagai bangsa yang lebih kaya. Bangsa-bangsa baru di Asia Tenggara ini dengan cepat sadar kalau mereka harus bersatu sekali lagi, menjaga kedaulatan mereka, menjaga diri mereka dari tantangan baru yang makin lama makin terasa sebagai penjajahan baru. Maka terbentuklah ASEAN, organisasi yang isinya adalah negara-negara Asia Tenggara. Negara-negara baru yang masih selalu jadi incaran negara-negara mapan di ujung utara dan barat bumi ini.

Seperti ombak, tantangan itu juga tidak akan berhenti. Dan seperti ombak, hanya karang yang paling kokoh yang bisa menahannya. Hingga kemudian tercetuslah tujuan untuk menciptakan Komunitas ASEAN 2015 dengan 3 pilar utama: ASEAN Political-Security Community, ASEAN Economic Community dan ASEAN Socio-Culture Community baik dalam skala regional maupun global. Tujuannya pasti, memperkuat peran negara-negara ASEAN dalam peta dunia agar tak sekadar jadi negara pelengkap, atau bahkan tak sekadar jadi negara-negara objek.

ASEAN Community, Siap Atau Tidak?

2015 tinggal 2 tahun lagi, artinya mimpi membangun komunitas ASEAN tinggal sebentar lagi sebelum jadi kenyataan. Pertanyaannya: siapkah kita menyambutnya? 2 tahun bukan waktu yang panjang, segalanya masih bisa terjadi. Sayangnya karena belum banyak orang yang tahu tentang mimpi Komunitas ASEAN 2015 ini.

Pilar pertama adalah tentang politik dan keamanan. Rasa aman adalah dasar dari segalanya. Ketika negara aman, rakyat juga akan senang. Saya teringat pecakapan dengan teman-teman dari Afghanistan, betapa mereka merindukan kedamaian di negaranya yang akrab dengan kata perang, tembakan dan bom bunuh diri. Pembangunan jadi kalimat langka bagi mereka karena tidak adanya jaminan keamanan dari pemerintah. Apa yang dibangun hari ini bisa habis dalam semalam karena ulah bom.

Rasa aman adalah segalanya. Tanpa rasa aman, tak perlu berharap semuanya bisa lancar. Ekonomi tidak akan berkembang serta interaksi sosial dan budaya akan terganggu. Tak heran kalau politik dan keamanan jadi pilar utama dalam pengembangan ASEAN Community 2015.

Membangun pilar tentu harus dimulai dari membangun pondasi. Pilar tanpa pondasi adalah pilar semu yang gampang rubuh kapan saja. Pondasinya tentu saja adalah para warga negara-negara ASEAN. Tidak mungkin rasanya mengharapkan sebuah komunitas negara yang tidak melibatkan para warga negara. Warga negaralah yang jadi subjek, jadi pelaku dan jadi pihak yang paling merasakan untung-ruginya ASEAN Community ini.

Sosialisasi tentang ASEAN Community ini mungkin masih perlu lebih digalakkan. Selain pihak Kemenlu, di Indonesia memang sudah ada komunitas blogger ASEAN yang ikut mensosialisasikan tentang tujuan dari ASEAN Community 2015 ini. Pertemuan terakhir di Solo tahun 2013 semakin mempertegas pentingnya peran blogger dalam sosialisasi ASEAN Community ini. Blogger adalah bagian dari warga negara, blogger punya kedekatan dengan teknologi utamanya sosial media. Tentu akan sangat elok bila mereka diberi peran berlebih untuk menyampaikan tentang gagasan ASEAN Community 2015 ini.

ASEAN Blogger Community (sumber: indonesiatravel.com)

ASEAN Blogger Community (sumber: indonesiatravel.com)

Mengoptimalkan peran blogger dalam kawasan ASEAN bisa jadi satu bagian dalam integrasi konstruktif berbasis warga, atau orang menyebutnya sebagai people centered. Saya sudah sering mendengar gagasan tentang people centered ini. Buat saya ini adalah sebuah gagasan briliant tentang bagaimana mengembangkan sebuah program dengan menggunakan kekuatan dari warga sendiri tanpa harus direcoki oleh teori dan dogma dari luar yang belum tentu sejalan dengan pemikiran, gaya hidup dan adat istiadat warga setempat.

Warga setempatlah yang paling mengerti apa kekuatan dan kelemahan mereka, mereka pasti sudah punya cara yang terbukti selama ratusan tahun untuk bertahan hidup. Kita hanya butuh mengawinkan kearifan lokal itu dengan kemajuan teknologi tanpa harus bermaksud mengubahnya apalagi memberi label ketinggalan jaman. Peran para warga beserta pengetahuan mereka itulah yang paling penting untuk digali dan dimaksimalkan serta disempurnakan dengan pengetahuan yang kata orang pengetahuan modern.

Tiap komunitas warga pasti punya cara sendiri untuk bertahan dengan sistem ekonomi yang sudah mereka praktekkan selama ratusan tahun, mereka hanya perlu diperkenalkan sistem ekonomi modern yang mungkin tidak sesederhana sistem yang mereka pelajari selama ini. Tak perlu mencangkok seluruh sistem baru itu, mengawinkannya bisa saja membuat lahirnya sistem baru yang lebih sesuai dengan sosial dan budaya masyarakat setempat. Bukan sistem yang sepenuhnya mengadopsi sistem modern tanpa tahu cocok atau tidaknya.

Saya yakin, tiap negara (bahkan tiap wilayah dalam satu negara) punya tata cara sendiri, punya kearifan lokal sendiri dalam bertahan hidup. Ini tercermin dalam tatanan sosial dan budaya yang sudah mereka jalani selama ratusan atau bahkan ribuan tahun. Merekalah yang paling mengenal daerah mereka dan tentu paling tahu apa yang harus dilakukan untuk bertahan. Pemerintah hanya perlu memberi ruang untuk mengoptimalkan peran mereka. Ketika pengetahuan mereka benar-benar dioptimalkan, maka mimpi untuk membangun sebuah komunitas ASEAN yang kuat hanya tinggal selangkah mejadi kenyataan.

Tahun 2015 tinggal bersisa 2 tahun lagi. Belum semua dari kita mengerti apa itu ASEAN Community 2015, tapi masih ada waktu untuk memaksimalkan people centered, memaksimalkan pengetahuan berbasis warga untuk menyambut terbentuknya komunitas ASEAN 2015 ini. Pertanyaanya memang hanya satu: sudah siapkah kita menyambut ASEAN Community 2015? Siapkah kita menempatkan ASEAN In Your Hand? [dG]

About The Author

2 Comments

  1. Mugniar
    20/08/2013
    • iPul Gassing
      21/08/2013

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: