Ambisi kita bukan untuk mereka

Hari Sabtu (24 /10) kemarin saya abis menemani Nadaa ikut lomba mewarnai tingkat TK di Balla Lompoa. Acaranya rame banget, pesertanya lebih dari 1000 orang, maklum karena diikuti oleh hampir semua TK se-kabupaten Gowa. Jumlah peserta yang banyak ini tidak sebanding dengan kesiapan panitia pelaksana. Panitia tampak kewalahan mengatur para peserta, apalagi sebagian besar peserta ditemani orang tua mereka (utamanya ibu) yang membuat suasana jadi makin riuh dan susah diatur.

Kehadiran para orang tua murid ini kemudian memberi warna tersendiri pada lomba mewarnai itu. Saya jadi punya catatan sendiri tentang beberapa kesalahan yang kadang tanpa sadar kita terapkan pada pola pengasuhan anak-anak kita.

Catatan pertama adalah tentang bagaimana terkadang kita terlalu memaksakan pola pikir kita pada anak-anak kita yang sebenarnya punya pola pikir dan imajinasi sendiri. Saat lomba dimulai, beberapa orang tua mulai sibuk mengarahkan anaknya untuk menggunakan warna apa yang harus digunakan sang anak.

“ Bajunya pake warna merah nak..”
“ Bunganya warna kuning”
“ Pagarnya jangan kasih warna itu…”
“ Awannya kenapa pake warna itu..? “

Itu hanya sebagian instruksi yang sempat saya tangkap. Selebihnya tentu masih banyak jenis-jenis instruksi lainnya yang beredar. Dalam paham yang saya anut, instruksi seperti ini sedikit banyaknya sama dengan memaksakan kehendak pada anak atau setidaknya mengekang imajinasi mereka. Saya pernah membaca artikel tentang ini.

Nadaa_mewarnai

Selama ini saya (dan juga istri) tidak pernah mengarahkan Nadaa untuk menggunakan suatu warna tertentu setiap kali dia mewarnai gambar, meski itu untuk benda-benda yang identik dengan warna tertentu. Makanya terkadang Nadaa memberi warna merah untuk pohon, atau warna oranye untuk gunung. It’s OK kalau menurut saya. Toh, itu adalah imajinasi mereka, bukan imajinasi kita. Daya khayal mereka memang beda dengan daya khayal kita yang sudah dewasa di mana kita mungkin banyak memasukkan unsur logika bahkan untuk sesuatu yang bersifat seni misalnya.

Biarkan mereka bereksplorasi dengan warna yang mereka suka atau sesuai dengan imajinasi mereka, perlahan-lahan mereka akan mengerti sendiri tentang warna apa yang seharusnya mereka pilih untuk benda-benda tertentu. Itu adalah proses, akan lebih baik tentunya kalau mereka sendiri yang menjalani prosesnya secara alamiah tanpa ada paksaan dari orang yang lebih dewasa. Mungkin para orang tua menganggap itu sebagai arahan, namun tanpa mereka sadari arahan mereka kadang terkesan sebagai paksaan atau minimal sebagai sebuah standar dan pakem yang harus diikuti.

Dalam perspektif yang lain saya menganggap mewarnai adalah salah satu pintu gerbang bagi mereka untuk mengenal dunia seni, khususnya seni rupa. Dalam pandangan saya, seni apalagi seni rupa mesti mengesampingkan logika dan lebih banyak bermain dengan imajinasi. Semakin liar ide yang berhasil ditangkap dan dituangkan maka hasilnya tentu akan semakin bagus. Meski belum tentu Nadaa akan jadi seniman tapi setidaknya saya memberikan dia kesempatan selebar-lebarnya untuk bereksplorasi dengan imajinasinya sendiri, saya selalu membiarkan dia memilih warna sesuai kehendaknya. Saya hanya mengajarkan teknik dasarnya saja, selanjutnya biarkan dia yang belajar sendiri.

Hal kedua yang saya catat dari acara kemarin adalah bagaimana sebagian orang tua tiba-tiba menjadi sangat ambisius dan tidak menghargai sebuah proses. Saat acara telah dimulai, sebagian orang tua menolak menjadi sekedar penonton atau pemberi semangat dari luar garis batas yang sudah ditentukan. Mereka menerobosnya dengan asyik duduk di dekat sang anak dan ikut menggoreskan crayon.

Saya yakin mereka-mereka itu adalah orang tua yang sangat berorientasi pada hasil. Mereka tak peduli pada proses, yang penting hasil kerja anaknya terlihat bagus dan mengalahkan hasil para peserta lainnya. Soal itu diperoleh lewat proses seperti apa, itu urusan belakangan.

dibantuSaya sebenarnya kasihan pada sang anak. Sedari kecil mereka sudah diajarkan cara berkompetisi yang tidak benar. Orang tua mereka tanpa sadar sudah mengajarkan bagaimana memenangkan sesuatu dengan menghalalkan segala cara. Bayangkan kalau hal ini menjadi sebuah repetisi dan terbawa dalam alam bawah sadar mereka seterusnya. Hingga saat mereka dewasa nanti tak ada penghargaan pada sebuah proses karena yang penting adalah hasil akhir. Akhirnya tanpa disadari orang tua telah menjadi orang pertama yang menanamkan nilai yang salah pada anak-anak mereka.

Saya tidak tahu dengan anda, tapi bagi saya sebuah kompetisi sangat bergantung pada prosesnya bukan hasil akhir. Hasil akhir bagi saya adalah buah dari sebuah proses yang wajar dan jujur. Menang atau kalah tidaklah penting, yang penting adalah bagaimana kita (dan anak-anak kita) menghargai dan menjalani sebuah proses yang berisikan nilai-nilai kejujuran dan sportifitas. Saat proses itu kita jalani maka kekalahan pasti akan tetap membanggakan, setidaknya menjadi sebuah cermin untuk menjadi lebih baik di kompetisi selanjutnya.

Karena dasar itu juga maka selama acara kemarin saya selalu berusaha untuk tidak tergoda mendekat ke Nadaa, bahkan di saat suasana sudah sedemkian kacaunya. Saya membiarkan dia bermain dengan imajinasinya dan menikmati prosesnya. Saat dia bertanya warna apa yang harus dia pake untuk warna langitnya saya hanya bilang (dari jauh) , “ terserah Nadaa”. Dan, akhirnya dia mewarnai langit dengan warna cokelat. Bagi kita itu aneh, tapi bagi mereka itu adalah murni imajinasi mereka, imajinasi yang kadang tidak kita hargai dan tidak kita beri ruang untuk berkembang. Jadi meski kelihatan aneh tapi tanpa sadar kita sudah memberi mereka ruang untuk menjadi diri mereka sendiri. Insya Allah, itu akan banyak gunanya di belakang hari nanti. Yakinlah…

About The Author

4 Comments

  1. Mustamar Natsir
    28/10/2009
  2. yuni
    29/10/2009
  3. adikhresna
    12/12/2009
    • ipul
      14/12/2009

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: