Agar Tak Jadi Tua di Tanggal Tua

Ini adalah sebuah acara Kompetisi Blogger ShopCoupons X MatahariMall. Yang diselenggarakan oleh ShopCoupons. voucher mataharimall dan hadiah disponsori oleh MatahariMall.

Ilustrasi

Ilustrasi

Tanggal tua, selalu punya cerita tersendiri. Apalagi buat seorang pekerja lepas seperti saya.

Dengan agak malu-malu saya mendekati pria itu. Suasana memang sedang sepi di rumah yang kami jadikan sebagai mess kantor. Pria muda itu sedang asyik di depan komputer, mengerjakan sebuah tabel laporan pekerjaan.

“Boy,” saya menyapanya dengan nada agak ragu-ragu. Kami memang biasa saling memanggil dengan panggilan boy. Entah siapa yang memulai. Dia menghentikan pekerjaannya, lalu berbalik. Mata kami bersitatap. Dia seperti menunggu kalimat yang keluar dari saya. Ada suara yang tercekat di kerongkongan, menunggu beberapa detik sebelum bisa keluar.

“Anu boy, mau pinjam duit. Bisa ndak? Lagi seret nih, hehehe,” dengan nada canggung akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibir saya.

Dia tersenyum, seperti mengejek. Tapi saya tahu dia tidak betul-betul sedang mengejek.

“Butuh berapa boy? Gocap cukup gak?” Tanyanya.

Alhamdulillah, kata saya dalam hati. Tentu saja suara itu tidak terdengar, justru kalimat lain yang keluar, “Cukuplah boy. Cuma buat seminggu, mudah-mudahan beberapa hari ini saya sudah gajian.”

Dan selembar uang lima puluh ribu keluar dari dompetnya, diangsurkan dengan tangan kanan dan saya terima juga dengan tangan kanan. Senyum lega dan ucapan terima kasih mengakhiri adegan itu. Dia kembali ke kesibukannya, saya pun berlalu ke depan televisi.

Saya tidak akan pernah lupa adegan itu dan adegan lain yang serupa. Adegan yang terjadi sekira 15 tahun lalu, ketika saya masih hidup melajang sebagai salah seorang karyawan baru di sebuah kantor pengembang. Saya tinggal di sebuah rumah mess punya kantor bersama beberapa kawan yang berasal dari Jakarta. Salah seorangnya adalah Nito, kawan yang akhirnya banyak membantu saya di saat susah.

Saya ingat betul, saat itu sebagai lajang dengan gaji yang kecil, hidup terasa sangat sulit. 10 hari menjelang gajian nafas mulai tercekik, hemat sebisa mungkin, bahkan kadang kehabisan uang di tengah jalan. Seperti seorang pelari yang kehabisan nafas dan megap-megap sebelum tiba di garis finish.

Kepada Nitolah saya sering meminta bantuan, juga kepada seorang kawan lain yang saat itu sebenarnya sudah jadi atasan saya. Mereka berdua paham betul kesulitan saya yang kala itu juga sedang menyambi sebagai mahasiswa. Kuliah dan kerja dengan gaji yang kecil betul-betul sebuah perjuangan. Tanggal tua jadi penambah kerumitan.

*****

Angin bisa berubah kapan saja, termasuk angin dalam kehidupan. Perlahan-lahan saya mulai bisa hidup lebih teratur dengan kantung yang lebih longgar. Tidak berlebih memang, tapi setidaknya saya juga tidak kekurangan.

“Pak, maaf. Saya bisa pinjam uang ndak? Lagi betul-betul kosong ini,” kata seorang pria muda ceking berkulit kelam kepada saya.

Saya menatap wajahnya yang lesu dan tampak ragu. Sekelebat bayangan kehidupan masa muda saya hampir sepuluh tahun lalu berkelebat, hadir dalam bentuk wajah si pria muda itu. Saya tersenyum, membuka dompet dan menyerahkan selembar uang lima puluh ribu.

Sorry, saya hanya punya segini. Pakailah dulu,” kata saya.

Ucapan terima kasih dan senyum gembira tergurat di wajahnya, lalu dia permisi dan menjauh. Bayangan masa muda saya sepuluh tahun lalu masih melekat sepeninggal pria itu.

Alhamdulillah, kata saya dalam hati. Sepuluh tahun lalu saya adalah pria muda yang canggung dan malu-malu meminta tolong pinjaman uang agar bisa bertahan hidup. Hari itu saya sudah sepuluh tahun lebih tua dan sudah bisa menolong orang lain yang seperti saya dulu, butuh pinjaman untuk melanjutkan hidup sampai gajian datang.

*****

Tanggal tua. Entah kenapa nama yang satu itu jadi seperti momok yang cukup menakutkan bagi banyak orang Indonesia. Tidak ada patokan pasti tanggal berapa yang disebut tanggal tua. Tapi karena rata-rata orang Indonesia gajian di awal bulan maka sepertinya tanggal 20an sampai batas akhir bulan berjalan disebut sebagai tanggal tua. Tanggal ketika dana sudah mepet, kantung mulai menipis dan dompet lebih banyak berisi nota dan struk ATM.

Bagi seorang pekerja lepas seperti saya, tanggal tua sesungguhnya tidak mengenal tanggal yang pasti. Meski tanggal masih berada di posisi satu digit, saya bisa saja sedang berada dalam fase tanggal tua kalau dana dari klien belum masuk, atau dana tabungan dari kerjaan lain sudah terpakai. Tanggal tuanya pekerja lepas berbeda dengan tanggal tuanya pekerja tetap. Meski tetap saja sama-sama menakutkan.

Para pemikir dan praktisi keuangan sudah paham betul terhadap fenomena menakutkan ini. Mereka menciptakan teori-teori ekonomi dan keuangan untuk menaklukkan tanggal tua dan menjadikan setiap tanggal menjadi tanggal muda. Coba tengok rak buku di bagian ekonomi atau keuangan, mudah sekali menemukan buku-buku yang membahas tentang teori-teori menaklukkan tanggal tua.

Ketika lajang, teori-teori itu tidak menarik buat saya. Toh tak ada tanggungan sama sekali, tak perlu risau perut orang lain, tak perlu risau pada tagihan bulanan apalagi pada uang sekolah anak. Hidup cukup dengan memikirkan diri sendiri, tidak heran gaji yang memang kecil semakin mengkerut seperti kulit kaki yang direndam di air semalaman.

Bagaimana tidak? Begitu gaji tiba di tangan nafsu pun tak terbendung. Semua yang mau dibeli, dibeli selagi bisa. Semua yang mau dinikmati, dinikmati selagi bisa. Makan di luar, nongkrong di cafe, pokoknya hidup seolah hari esok tak datang lagi. Lalu semua berubah ketika tanggal dua puluhan mulai merapat. Otak mulai memasang alarm, lalu mulai mencari-cari cara agar tetap bisa hidup sampai masa gajian datang lagi. Dari berhemat sebisa mungkin sampai meminjam uang ketika tak ada lagi yang bisa dihemat.

Tiba-tiba saya menjadi tua di tanggal tua. Semua berkerut. Dari dompet, kantung hingga kening.

Belajar dari pengalaman pahit itu saya pun mulai mengorganisir diri, apalagi ketika memutuskan 100% hidup sebagai pekerja lepas yang tak tentu kapan gajian. Berhemat jadi mantra yang selalu diucapkan ketika dana dari klien cair. Yah, kadang ada juga masa ketika saya gelap mata dan terpaksa lupa sejenak pada kata berhemat. Ketika sadar, cepat-cepat saya memohon ampun, berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Sampai kemudian saya khilaf lagi, memohon ampun lagi, begitu seterusnya.

berhemat

Berhemat, menahan diri agar uang tidak keluar sembarangan

Berhemat memang bukan urusan mudah. Selalu ada sisi lain dalam diri yang menggoda.

“Kamu sudah kerja capek-capek, nikmatilah. Tidak apa-apa, kan tidak berlebih.”

“Eh mumpung ada lensa murah loh, tidak tiap hari lensanya semurah itu.”

“Jaketnya bagus loh, murah lagi.”

Godaan seperti itu selalu hadir setiap kali dana sedang lumayan longgar. Meskipun kata berlebih itu sebenarnya subjektif dan tidak ada standarnya, atau lensa yang dibeli murah akhirnya lebih banyak tinggal di dry box. Paling parah, jaket yang sudah menumpuk jadi makin menumpuk dan ternyata jarang dipakai.

Untuk niat memang butuh kekuatan besar, lebih besar dari kekuatan Superman!

*****

Selain berhemat apa lagi yang bisa dilakukan untuk bisa bertahan hidup di tanggal tua yang tak tentu kapan datangnya itu? Yak betul! MENABUNG. Kata praktisi keuangan, menabung itu di depan, bukan di belakang ketika ada sisa. Teori yang gampang, meski praktiknya kadang tidak mudah. Bukan apa-apa, ketika uang datang akal sehat seperti hilang. Barang-barang yang dulu diinginkan seperti menari-nari ingin diangkut ke rumah.

Tapi tidak! Sekali lagi menabung itu penting! Dan inilah yang coba saya praktekkan. Ada satu rekening yang khusus menyimpan dana tabungan, sebagai persiapan amunisi di tanggal tua atau ketika tiba-tiba butuh. Lalu dua toples plastik saya ubah sebagai celengan. Satu untuk uang koin, satu lagi untuk uang kertas.

Ini dia P3K saya di tanggal tua

Ini dia P3K saya di tanggal tua

Setiap kali menemukan koin di kantung celana, maka satu toples jadi tempat peristirahatan sementaranya. Begitu pula ketika tiba di rumah dan menemukan lembaran uang sepuluh ribu, dua puluh ribu sampai lebih besar dari itu di kantung celana. Dengan menguatkan niat, selembar dua lembar uang itu saya lipat kecil dan masukkan ke toples yang lain. Lalu lupakan, biarkan dia beristirahat di sana.

Ini jadi semacam persiapan pertolongan pertama ketika saya betul-betul tidak punya uang lagi di tanggal tua. Beruntunglah sampai sekarang saya belum harus mengorek-ngorek toples tabungan itu. Masih amanlah.

Ada tabungan lain lagi yang sebaiknya juga dijadikan cara untuk menyiasati tanggal tua. Tabungan akhirat namanya. Mudah-mudahan saya tidak dianggap sok menggurui atau malah dianggap riya’ karena menceritakan kisah ini.

Jadi begini, suatu hari bertahun-tahun lalu ketika mengantar anak ke sekolah, tiba-tiba saja saya merasa tergerak untuk mengangsurkan selembar uang kepada seorang pengemis tua di tepi jalan. Saya sama sekali tidak berpikir apa-apa tentang itu, meski terus terang tatapan mata sang pengemis tua itu begitu menusuk. Saya tidak bisa menerjemahkannya, tapi tatapan mata itu seperti bukan tatapan mata biasa.

Lalu beberapa jam kemudian ketika sedang sibuk di kantor, seorang kawan lama tiba-tiba menelepon. Isi teleponnya begitu menyenangkan. Dia meminta nomor rekening saya, berniat melunasi biaya kerja yang pernah kami sepakati. Sebenarnya pekerjaan itu sudah berlalu sekian lama, mungkin sudah hampir berbilang setahun lebih. Saya sudah lupa, tertutup oleh pekerjaan lainnya. Tapi rupanya kawan lama itu tidak lupa, ketika dana proyek itu akhirnya cair setelah melewati beragam rintangan, dia meneruskan hak saya.

Kejadian itu sampai sekarang masih terus terbayang. Apa yang kita beri dengan ikhlas, Insya Allah akan dikembalikan berlipat ganda. Ingat ya, ikhlas! Bukan karena mengharap balasan berlipat ganda.

Manusia kaya dari apa yang dia miliki, tapi manusia bahagia dari apa yang dia berikan.

*****

Tanggal tua. Momok yang memang menakutkan bagi sebagian besar dari kita yang tak hidup penuh kelebihan. Butuh strategi khusus untuk bisa menjalaninya dengan tenang. Selain berhemat dan menabung, rajin-rajin mencari peluang dari toko-toko daring (online shop) juga bisa jadi salah satu cara tetap “hidup” di tanggal tua.

Salah satu toko daring terbesar di Indonesia yang sedang melesat pesat belakangan ini juga memberi salah satu promo di tanggal tua. MatahariMall.com, hadir dengan promo  Tanggal Tua Surprise (TTS) yang datang setiap minggu ketiga setiap bulan berjalan untuk semua kategori. TTS ini memberikan potongan harga sampai 80%, jumlah yang tentu saja berarti sangat banyak apalagi di musim tanggal tua.

Promo TTS dari MatahariMall

Promo TTS dari MatahariMall

Memang, butuh kejelian lebih untuk meneliti beragam info diskon dari MatahariMall.com, kita bisa nongkrong di website resminya atau mengunjunginya berkali-kali. Siapa tahu beragam promo di sana hadir tepat ketika kita memang butuh tapi dana kita sedang seret.

Dengan ketelatenan dan keberuntungan, kita bisa seperti Budi, tokoh rekaan di video promosi YouTube MatahariMall.com #JadilahSepertiBudi. Pria yang hidup susah di akhir bulan tapi akhirnya menemukan cara untuk tetap bertahan hidup karena bantuan dari MatahariMall.com.

Ah seandainya saja MatahariMall.com sudah ada 15 tahun lalu ketika saya pun masih seperti Budi, mungkin saya tak perlu menjadi tua di tanggal tua. [dG]

About The Author

9 Comments

  1. Nengbiker
    21/05/2016
  2. Anggara
    22/05/2016
  3. Ismail
    22/05/2016
    • iPul Gassing
      23/05/2016
  4. Adetruna
    23/05/2016
  5. Rizka
    26/05/2016

Add Comment