Ada Kebaikan Dan Kebahagiaan Di Kepingan Biskuit Roma

Acara launching biskuit Roma

Acara launching biskuit Roma

Suatu hari si sulung, Nadaa minta dibelikan biskuit Roma kelapa. Dia masih dalam tahap penyembuhan setelah terkena tipes, jadi makanannya harus dipilah dan dipilih. Belum boleh makan makanan yang berat apalagi yang keras.

Awalnya saya agak ragu, apa boleh dia mengkonsumsi cemilan pabrikan seperti biskuit Roma? Tapi bundanya mengiyakan, jadilah saya juga tak menolak membawa pulang sebungkus biskuit Roma buat Nadaa.

Biskuit Roma memang sudah jadi salah satu bagian penting di banyak rumah tangga Indonesia. Variannya banyak, dari yang rasanya asin, manis sampai yang rasa coklat. Saya harus mengakui kalau biskuit Roma dan Mayora sebagai pabrikannya punya banyak ide untuk menyediakan cemilan beraneka rasa bagi warga Indonesia. Kalau dengar kata Mayora saya jadi ingat masa SMP, slogan: satu lagi dari Mayora yang hadir lewat iklan televisi kala itu jadi salah satu jargon yang sering kami ucapkan ketika bercanda satu sama lain.

Mungkin karena itu juga saya langsung mengiyakan saja ketika undangan launching logo baru biskuit Roma tiba via email. Rabu tanggal 27 November kemarin di bawah rintik hujan yang masih lirih saya menuju hotel Aryadutha yang berhadapan langsung dengan pantai Losari. Terlambat sejam dari undangan, entah kenapa pagi itu hujan mengguyur kota Makassar dengan intensitas yang lumayan tinggi.

Setiba di ruang Masamba 5, acara ternyata belum dimulai. MC baru saja mulai membuka acara, syukurlah saya belum terlambat rupanya. Setelah menandatangani buku tamu saya dan daeng Taqdir yang datang berbarengan segera menuju kursi bagian depan. Sudah ada teman-teman blogger lainnya dan tentu saja para jurnalis media cetak, online, televisi dan radio. Beberapa di antaranya saya kenal, sempat berbagi sapa singkat sebelum saya mulai konsentrasi pada acara.

Indy Barens Ternyata Kurus Ya?

Hari itu ada 3 pembicara yang duduk tepat di depan backdrop biskuit Roma yang didominasi warna merah. Ada pak Ricky Afriyanto sang direktur PT. Mayora Indah Tbk, ada ibu Ir. Hj. Titien Sutarty, Dipl, MM (Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Selatan) dan satu lagi ibu ceriwis yang sudah akrab di layar kaca, Indy Barens yang memang jadi brand ambassador biskuit Roma. Indy Barens ini membuat saya agak pangling, ternyata dia lebih kurus dari yang biasa saya lihat di layar kaca. Benar kata orang, kamera televisi membuat Anda terlihat lebih gemuk.

Ibu Titien yang mulai bercerita. Wanita paruh baya yang kepalanya dibalut hijab ini menceritakan tentang program-program kesehatan di lingkup provinsi Sulawesi Selatan, utamanya yang menyangkut kesehatan ibu dan anak. Ibu Titien rupanya sangat lihai bernegosiasi, dalam pemaparannya dia banyak menyebut keunggulan produk biskuit Roma. Buat saya ini langkah brilian untuk membuka keran kerjasama antara pemerintah provinsi dengan produsen biskuit Roma.

Selepas ibu Titien giliran Indy Barens yang berbagi pengalamannya sebagai brand ambassador biskuit Roma. Dulu saya tidak terlalu peduli pada latar pemilihan Indy Barens sebagai duta biskuit Roma sebelum akhirnya saya paham apa alasannya. Di dalam rumah tangga, ibu adalah penentu kebijakan terakhir, utamanya menyangkut apa saja yang boleh dikonsumsi oleh anak-anaknya. Tentu saja ini yang jadi pemikiran utama bagi biskuit Roma untuk memilih Indy Barens yang juga adalah seorang ibu sebagai brand ambassador biskuit Roma. Ibu yang baik adalah ibu yang bisa memilih makanan-makanan bergizi bagi anak-anaknya dan tentu saja bagi penghuni rumah lainnya dan biskuit Roma yang selalu berkomitmen menyediakan cemilan bergizi tentu bisa jadi pilihan utama ibu-ibu Indonesia.

Indy Barens membagi pengalamannya dengan gayanya yang khas, santai dan ceriwis. Suasana yang dasarnya memang santai dan cair oleh keriuhan para awak media yang hadir menjadi lebih santai karena Indy Barens. Gelak tawa dan teriakan-teriakan lucu bergantian memenuhi ruangan.

Bikin Biskuit Itu Tidak Main-Main!

Setelah Indy giliran pak Ricky Afriyanto mewakili PT. Mayora Indah Tbk yang membawakan presentasi tentang biskuit Roma. Pemaparan pak Ricky yang disertai beberapa slide presentasi dan video ini benar-benar membuka mata saya. PT. Mayora Indah Tbk ternyata tidak main-main ketika memproduksi biskuit Roma. Membuat biskuit tidak semudah yang saya bayangkan, mereka benar-benar mengukur berat bahannya karena kurang atau lebih 1 gram saja bisa memengaruhi rasa.

Itu baru tahap pemilihan bahan, tahap pemanggangan ternyata lebih sulit. Biskuit Roma punya alat pemanggang sepanjang 100 meter dengan teknik pemanggangangan yang tidak sederhana. Alat ini dikendalikan oleh seorang baking manager dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Sang manager bukan hanya harus paham teknik pemanggangan tapi juga harus punya rasa yang peka untuk tahu waktu yang tepat menghentikan pemanggangangan. Salah sedikit saja biskuit yang dihasilkan bisa hangus dan tentu memengaruhi rasa. Luar biasa! Pantas saja biskuit Roma bisa bertahan sejak tahun 1948 dan jadi salah satu produk andalan dari Indonesia.

Untuk pengendalian mutu, Roma juga tidak main-main. Mereka punya sistim pengendalian mutu produk (Food Safety Management System/FSMS). Sistem pengendalian mutu inipun mendapat pengakuan standar operasional seperti ISO 22000 tahun 2005 dan ISO 9001 tahun 2008. Soal halal atau tidak, kita tidak perlu kuatir karena Roma sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). MUI bahkan menganugerahkan penghargaan “Best Manufacturer of Halal Products”? kepada grup Mayora.

Penghargaan dari MUI itu bukan satu-satunya, karena grup Mayora juga menerima penghargaan yaitu: Top 100 Exporter Companies in Indonesia (Majalah SWA), “Top Five Best Managed Companies in Indonesia” (Majalah Asia Money), “1st place of Food and Beverages Sector in Top 100 public listed companies” (majalah Investor pada tahun 2009 dan 2010).

Mereka serius bikin biskuit!

Mereka serius bikin biskuit!

Setelah panjang lebar membuka mata para peserta tentang keunggulan produk biskuit Roma, pak Ricky menutup presentasinya dengan pengenalan logo baru biskuit Roma. Logo baru ini sebenarnya tidak terlalu beda jauh dengan logo lama biskuit Roma, hanya saja ada beberapa bagian yang dipoles sehingga terlihat lebih elegan dan modern menggantikan logo lama yang mulai terasa ketinggalan jaman.

Logo baru biskuit Roma

Logo baru biskuit Roma

Setelah sesi dari 3 pembicara utama, sesi dilanjutkan dengan tanya jawab. Banyak orang yang mengangkat tangan, tentu karena antusias ingin tahu banyak tentang produk biskuit Roma. Itu hanya satu faktor karena alasan lainnya adalah hadiah yang diberikan kepada 3 penanya pilihan 3 pembicara.

Ada 20 pertanyaan yang diajukan para peserta, rangenya beragam. Mulai dari pertanyaan berat tentang ide bisnis Mayora, inovasi dari biskuit Roma, teknis pemilihan bahan biskuit Roma, strategi biskuit Roma mencari produsen gandum selain Australia, alasan menggunakan nama Roma sebagai nama biskuit, komitmen biskuit Roma untuk kepedulian lingkungan alam dan masyarakat sekitar pabrik sampai pertanyaan ringan seperti kenapa memilih Indy Barens sebagai brand ambassador dan apa resep Indy Barens sampai bisa langsing begitu cepat.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan baik oleh ketiga pembicara, utamanya oleh pak Ricky dari Mayora dan Indy Barens sebagai brand ambassador. Sesi tanya jawab ini menjadi seperti sebuah sesi diskusi ringan saja sambil tentu saja sesekali diselingi gelak tawa dari para hadirin. Di akhir sesi dipilih 3 orang penanya dengan pertanyaan paling favorit versi ketiga pembicara.

Acara hari itu ditutup dengan penyerahan secara simbolis 194.800 keping biskuit Roma dari Mayora kepada wakil provinsi Sulawesi Selatan. Keping biskuit ini nantinya akan diteruskan oleh pemerintah Sulawesi Selatan sesuai program mereka. Kami yang hadir hari itu juga tentu saja membawa kepingan biskuit yang ada di dalam goodie bag yang dibagikan. Jumlahnya juga tidak sedikit, mampu memancing senyum anak-anak di rumah.

Isi goodie bagnya ramee!

Isi goodie bagnya ramee!

Hari itu saya jadi tahu banyak kalau bisnis biskuit ternyata memang tidak sesederhana yang selama ini saya bayangkan. Butuh komitmen kuat untuk menumbuhkan kepercayaan dari konsumen, saya kira itu juga yang jadi pemikiran biskuit Roma hingga mereka memilih tagline: serving goodness and happiness sebagai tagline baru menemani logo baru mereka. Anak saya Nadaa mungkin menemukan kebaikan dan kebahagiaan dalam kepingan biskuit Roma itu sampai memaksa saya membelikannya kala itu. [dG]

About The Author

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of
avatar
wpDiscuz
%d bloggers like this: