A Writer Wannabe

writers block foto taken from Google

Banyak blogger yang menganggap dirinya sebagai writer wannabe, mereka yang ingin dianggap sebagai penulis dan memulainya sebagai blogger. Saya mengenal beberapa di antara mereka, dan saya menganggap mereka memang pantas untuk jadi penulis, naik satu level dari sekadar sebagai “blogger biasa”

Blogger adalah penulis juga. Saya sudah sering mendengar kalimat itu. Mereka yang memutuskan untuk punya blog dan kemudian mengisinya dengan beragam catatan, entah yang bersifat pribadi, sebuah karya sastra, sebuah laporan jurnalistik, sebuah esai atau bahkan hanya berupa kumpulan foto rasanya punya kasta yang sama dengan para penulis yang membingkai buah pikiran mereka dalam bentuk buku.

Blog jadi media baru untuk berekspresi, media baru untuk membagi isi kepala meski memang cakupannya masih belum seluas cakupan yang bisa ditembus oleh penulis konvensional yang membagi pikiran mereka lewat buku, koran atau majalah.

Tapi, sampai kapan ? Penggunan internet makin bertambah. Layanan internet makin luas merengkuh setiap inci dunia ini. Perlahan tapi pasti blog dan tentu saja para bloggernya akan mendapat tempat yang luas dan sama besarnya dengan para penulis konvensional itu.

Benarkah blogger adalah writers juga ? Mungkin memang benar, mungkin juga salah. Tergantung dari sudut mana anda memandangnya. Perdebatan itu akan selalu ada karena toh meski di dunia maya para blogger dianggap sebagai penulis tapi tidak semua blogger dapat previlege dianggap sebagai penulis di dunia nyata. Bloggers masih mahluk antah berantah yang kadang dengan rasa tidak percaya diri menuliskan bio sebagai : writers wannabe. Pengen dianggap sebagai penulis.

Ah sudahlah, mari kita sudahi perdebatan itu karena memang tidak perlu untuk diperdebatkan.

Saya mau cerita tentang seorang blogger yang dalam bionya juga menyebut dirinya sebagai writer wannabe, pengen dianggap sebagai penulis. Saya kenal dia sejak tahun 2000, dulu saya tidak tahu kalau dia senang dan bisa menulis meski berlembar-lembar suratnya sebenarnya sudah menggambarkan kalau dia bisa menulis. Dia bisa merangkai kata-kata menjadi deretan kalimat yang terstruktur dan nyaman dibaca.

Saya mengenalnya sebagai seorang wanita yang rajin membaca, wanita yang suka melahap buku apa saja. Ketika statusnya berubah menjadi seorang istri dan kemudian bertambah menjadi seorang ibu, dia lebih konsen membaca beragam catatan tentang ibu dan istri. Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia, dua nama penulis perempuan yang saya tahu sangat dikaguminya.

Saya tak pernah melihatnya menulis, dia juga tak hendak menjadi blogger. Tugas sebagai seorang ibu sepertinya membatasi gerak jemarinya, membatasinya untuk menuangkan isi kepalanya dalam deretan huruf yang menjadi kata dan kemudian menjadi kalimat. Bertahun-tahun saya tak pernah melihatnya menulis meski saya tahu dia masih sangat rajin membaca.

Jalan hidup manusia memang tidak bisa ditebak. Sebuah berkah menghampirinya ketika dia harus terbang jauh ke seberang benua meski saya tahu berat baginya meninggalkan keluarga kecilnya, dua malaikat kecilnya yang sedang tumbuh. Tapi semua pasti membawa kebaikan selama dimulai dengan niat yang tulus, itu keyakinannya.

Tulisannya di majalah

Di tanah yang jauh itu dia menemukan kembali hobi lamanya dan bahkan menemukan sebuah kelebihan lain, kelebihan yang selama ini mungkin lebih banyak tersimpan jauh dalam dirinya dan tak pernah mendapatkan jalan yang lapang untuk naik ke permukaan.

Di tanah yang jauh dan dingin di akhir tahun itu dia mulai menulis, dia mulai rajin mengisi beberapa laman blog yang diberinya tagline : piece of my life. Sementara itu jauh di ujung sini saya terkagum-kagum pada rangkaian kata yang dirajutnya. Hampir 11 tahun sudah saya mengenalnya, tapi membaca tulisannya saya seperti mengenal seorang wanita yang lain, seorang wanita yang ternyata bisa dan bahkan sangat bisa merangkai kata dan kalimat.

Saya suka caranya merangkai kata, saya suka deretan tulisannya. Entah yang fiksi ataupun yang non fiksi. Ketika menulis fiksi, dia membiarkan imajinasinya berlarian ke sana ke mari sampai terkadang membuat saya tak bisa menebak akhir dari ceritanya. Ketika menulis non fiksi dia menulisnya dengan jujur, membuat saya ikut merasakan apa yang dirasakannya melalui media tulisan yang lahir dari jemarinya.

Dua bulan ini kemampuannya mendapat pengakuan dari orang lain. Satu tulisannya dimuat di majalah ibukota, dua tulisan non fiksinya lolos dalam proyek buku keroyokan. Kemarin, satu lagi tulisannya lolos proyek buku keroyokan. Kali ini tulisan fiksi.

Hari ini dia masih menganggap dirinya sebagai writer wannabe, saya tahu itu hanya bentuk kerendahan hatinya karena saya rasa dia sudah cukup pantas untuk dianggap sebagai seorang penulis, seorang writer. Suatu hari nanti saya yakin akan lebih banyak orang yang akan mengakuinya. Dan tahukah anda siapa dia ? dia istri saya, dan dia punya blog.

Honey, you are a writer..not just a writer wannabe.

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

22 Comments

  1. Rusa
    14/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
  2. Rusa
    14/06/2011
  3. Mugniar
    14/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
  4. indobrad
    14/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
  5. aRuL
    14/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
  6. giewahyudi
    14/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
      • giewahyudi
        15/06/2011
        • iPul dg.Gassing
          15/06/2011
  7. melivedder
    15/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
  8. Tongkonanku
    15/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
  9. IndahJuli
    15/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      15/06/2011
  10. latree
    20/06/2011
    • iPul dg.Gassing
      20/06/2011
  11. Fachrie Lantera
    28/06/2011

Add Comment