2 berita dalam 1 hari

Pengumuman pemenang Sumpah Pemuda XL

Sekitar pukul 10 WITA, perasaanku tidak enak. Sudah sejak sehari sebelumnya si kecil Hilmy masuk rumah sakit. Demam yang dideritanya sejak hari senin membuat mbahnya terpaksa membawanya ke dokter anak dan hasilnya dia harus diopname karena diduga terkena demam berdarah. Hari Kamis, mbah bilang, Hilmy sudah mendingan. Panasnya sudah turun. Tapi entah kenapa saya masih kuatir, setahu saya panas yang turun bagi penderita DB justru pertanda dia memasuki masa kritis. Tapi sudahlah, saya hanya bisa berdoa semoga Hilmy cepat sembuh. Kata mbah lagi, gak usah ke sini dulu mas, Hilmy udah agak mendingan koq.

Beberapa jam sebelum jumatan saya coba menelepon mbah, mencari tahu kondisi Hilmy. Di seberang, mbah kedengaran agak panik dan bingung. Rupanya Hilmy makin lemah, trombositnya turun lagi ke angka 40.000 jauh di bawah angka normal yang 100.000. Dokter malah menyarankan Hilmy segera dirontgen biar ketahuan kondisi dalam tubuhnya. Deg..!!! saya panik, kalut dan bingung harus berbuat apa. Dengan mata yang memanas saya hening sejenak mengirim doa dan al-Fatihah semoga Allah meringankan beban anak kedua kami itu.

Tidak sampai satu jam setelah berita yang membuat panik itu sebuah email masuk ke inbox saya. Sebuah ucapan selamat dari pak Amril. Rupanya tulisan saya menang di lomba penulisan tentang Sumpah Pemuda yang digelar XL Axiata. Tulisan saya yang ini terpilih sebagai salah satu tulisan terbaik nomor dua dan berhak mendapatkan 1 unit blackberry.

Saya tentu saja senang bukan kepalang, tapi sebelum benar-benar berteriak kegirangan saya coba cek ke website resmi Soempah Pemoeda 2.0 dan benar saja, di pengumuman pemenang tertera nama saya bersama 13 orang pemenang lainnya. Alhamdulillah, saya berteriak kegirangan. Sendirian di dalam ruangan yang memang sedang sepi. Ini kali kedua saya memenangkan lomba menulis setelah menang di Gempita Afsel yang diadakan Kompasiana waktu itu. Rasanya sungguh sebuah anugerah yang luar biasa.

Terus terang sejak awal saya memang optimis bisa memenangkan sesuatu meski itu hadiah paling bontot. Entahlah, kemenangan di ajang Gempita Afsel membuat saya sedikit lebih percaya diri dalam mengikuti lomba menulis tentang Sumpah Pemuda ini. Namun belakangan rasa percaya diri saya sempat luruh juga ketika menyempatkan untuk blogwalking dan menengok beberapa peserta lomba yang lain. Menurut saya rata-rata tulisan mereka yang menjadi pesaing saya itu berbobot semua, pelan-pelan saya mulai menurunkan target. Belakangan saya malah lupa dengan lomba ini.

Di situs Soempahpemoeda.org tertera kalau pengumuman pemenang lomba akan tayang tanggal 12 November, tapi pada tanggal yang dimaksud sama sekali tidak ada pengumuman pemenang. Saya baru mengeceknya tanggal 17. Lewat FB Indonesia Berprestasi saya dapat info kalau keputusan pemenang mundur ke tanggal 18. Di tanggal yang tertera saya coba untuk kembali menengok website tersebut, tapi belum ada perubahan. Saya coba menengoknya beberapa kali karena penasaran tapi tetap pengumuman yang dinantikan tidak muncul juga hingga akhirnya saya sedikit melupakannya, apalagi ditambah dengan kondisi Hilmy yang terbaring lemah di rumah sakit.

Pagi menjelang siang itu saya sungguh berada dalam suasana yang tidak nyaman. Bohong kalau saya tidak senang mendengar berita kemenangan saya, rasanya saya ingin berlari dan berteriak kegirangan waktu itu tapi di sisi lain kondisi Hilmy tetap membuat saya kuatir. Rasanya berita kemenangan itu datang bukan di saat yang tepat, anda mungkin bisa merasakan bagaimana tidak enaknya saat kita tidak bisa plong merayakan sebuah berita gembira.

Gema kegembiraan atas kemenangan itupun perlahan menghilang ketika siang harinya saya kembali menelepon mbah, katanya Hilmy makin gawat sampai harus dibawa ke ruang ICU. Adduh..!!! rasanya langsung lemas. Hilang semua senyum kegembiraan yang tadi sempat tersemat di bibir. Saya bahkan hampir menangis membayangkan anak sekecil itu harus berurusan dengan jarum suntik dan jarum infus. Bayang-bayang Blackberry baru seketika menjadi samar dan rasanya tak terlalu penting lagi.

Dan sore merangkak malam. Kabar terakhir Hilmy mulai membaik, selang oksigen sudah dilepas dan dia sudah mulai minum susu langsung dari botol. Sedikit demi sedikit kekhawatiran mulai merayap pergi meski tentu saja sebagai orang tua saya masih terus merasa tak tenang.

Begitulah, dua berita dengan kadar yang bertolak belakang datang di waktu yang hampir bersamaan. Rasanya sungguh membingungkan, entah harus bersikap bagaimana. Bergembira karena menang rasanya koq tidak plong, tapi sebagai manusia biasa saya tetap tidak bisa berbohong kalau kemenangan ini memberikan sensasi kegembiraan tersendiri.

Ah, di penghujung malam saya cuma berdoa semoga berita bahagia hari ini adalah awal dari berita-berita bahagia lainnya di hari esok. Aminn..

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

6 Comments

  1. indobrad
    20/11/2010
  2. Cipu
    20/11/2010
  3. ipul
    20/11/2010
  4. ipul
    20/11/2010
  5. almascatie
    20/11/2010
  6. almascatie
    20/11/2010

Add Comment