Wisata Kopi Di Makassar

Black Coffee (sumber: Google)

Black Coffee (sumber: Google)

Indonesia termasuk salah satu penghasil kopi terbaik di dunia. Makanya tidak heran kalau ada banyak tempat di Indonesia yang bisa jadi tujuan wisata kopi, Makassar salah satunya.

Saya penggemar kopi, dalam sehari bisa habis 2 mug besar kopi. Biasanya sih kopi hitam yang tidak dicampur susu atau krim, hanya sedikit gula. Sebenarnya bisa lebih dari 2 mug kalau saja saya tidak malas bikinnya. Maklum, beberapa bulan belakangan ini sedang asyik mencoba beragam cara bikin kopi, bukan cuma masak air dan disiram ke gelas yang sudah ada kopinya.

Awalnya cuma penasaran, pertama kali dapat kopi Vietnam sekalian dengan Vietnam drip-nya. Ternyata rasanya memang enak, beda dengan kopi yang asal disiram. Setelah itu jadi ketagihan dan penasaran untuk mencoba berbagai cara menyeduh kopi. Berikutnya saya coba membeli French Press yang juga ternyata menghasilkan rasa berbeda. Selain dua alat itu cara lainnya adalah dengan memasak kopi dan menggunakan saringan a la warung kopi tradisional.

Meski suka kopi tapi saya masih sangat amatir, jenis-jenis kopi yang saya nikmatipun masih sangat terbatas. Di antara beberapa yang sangat sedikit itu salah satunya adalah kopi Toraja. Iya, Toraja memang terkenal sebagai salah satu penghasil kopi terbaik di Indonesia (atau malah dunia?) meski sebenarnya tidak semua berasal dari Toraja karena kabupaten Enrekang tetangganya juga menghasilkan kopi-kopi terbaik.

Menikmati kopi kata orang paling asyik bila dilakukan bersama teman-teman. Kopi jadi teman terbaik untuk melewatkan waktu yang diisi dengan obrolan bersama teman-teman. Topiknya jadi kemana-mana, dari gosip terkini sampai kenangan masa lalu. Dan tempat terbaik untuk menikmatinya tentu saja adalah warung kopi.

Di Makassar sendiri ada banyak warung kopi bertebaran. Dari yang memasang nama Warung Kopi sampai yang berlabel Cafe meski isinya lebih mirip warung kopi. Selain warung kopi dan cafe sederhana itu memang ada beberapa yang benar-benar cafe alias warung kopi modern berlabel internasional.

Tren warung kopi ini muncul sejak sekisar 5 tahun belakangan ini. Tepatnya ketika Facebook makin menggaet perhatian orang. Awalnya hanya dari kenikmatan berbagi pesan dan cerita dengan teman-teman di Facebook yang kemudian berlanjut dengan permainan online yang kadang mendatangkan rupiah. Semakin lama semakin banyak orang yang kecanduan Facebook dan rela menghabiskan waktunya untuk nongkron di depan laptop dan mencari wifi gratisan.

Tren ini ditangkap dengan baik oleh beberapa pengusaha. Mereka membuat warung kopi atau cafe sambil menyediakan wifi gratis. Akibatnya warung kopi atau cafe mereka makin ramai dikunjungi orang, selain untuk mencecap rasa kopi atau minuman dan makanan lainnya, tujuan lainnya adalah agar bisa berselancar menggunakan wifi dari cafe bersangkutan.

Lama-lama orang jadi tidak peduli lagi pada rasa kopi yang disajikan karena tujuannya memang hanya untuk mencari koneksi agar bisa berselancar saja.

Ada Yang Tetap Bertahan

Di antara sekian banyak warung kopi dan cafe sederhana yang bertebaran di Makassar ada juga yang tetap bertahan dengan gaya tradisionalnya, fokus pada kopi. Salah satu yang paling terkenal adalah warung kopi Phoenam. Warung kopi ini sudah jadi salah satu legenda di kota Makassar karena sudah ada sejak jaman kemerdekaan. Warung kopi yang terletak di Jl. Jampea dan Jl. Boulevard ini dikelola oleh generasi ketiga dan tetap mempertahankan aroma kopi asli mereka.

Meski sudah sangat terkenal, Phoenam tetap bersikukuh untuk tidak ikut-ikutan tren dengan menyediakan koneksi internet. Mereka juga hanya buka sampai jam 6 sore, tidak seperti warung kopi atau cafe lain yang kadang tutup lewat dari jam 12 malam. Pengunjung Phoenam bisa dipastikan adalah orang-orang yang memang sengaja datang ke sana untuk menikmati kopi atau hidangan lain sambil bersilaturahmi dengan kawan atau kerabat.

Kopi Phoenam dan Roti Kaya (foto: @ciwangji)

Kopi Phoenam dan Roti Kaya (foto: @ciwangji)

Sebenarnya memang masih banyak warung kopi yang fokus pada jualan mereka tanpa berpikir untuk menyediakan koneksi internet. Coba saja ke beberapa tempat di sekitar pasar tradisional, di sana Anda bisa menikmati kopi dan suasana warung kopi yang sangat tradisional. Para pengunjung bertukar kabar dan cerita dengan bahasa daerah, keceriaan yang sederhana dan kadang malah perdebatan yang sedikit panas. Sama seperti cafe modern, warung kopi sederhana ini juga bisa tempat terjalinnya hubungan bisnis antar para pengunjung.

Nah, kalau bicara soal kopi saya punya satu tempat belanja kopi favorit. Namanya Toko Ujung yang terletak di Jl. Somba Opu yang memang dikenal sebagai pusat perbelanjaan oleh-oleh di Makassar. Di toko yang sudah ada sejak tahun 1920an ini tersedia macam-macam kopi. Hebatnya lagi karena mereka sendiri yang menggiling dan menyeleksi kopi yang dijual, jadi bukan sekadar menerima dari penyalur saja. Maklum, John Chendra sang pemilik memang sudah jadi seorang ahli kopi.

Selain menyediakan kopi, sang pemilik juga bersedia untuk berbagi resep dan cara menyajikan kopi. Ini yang membuat saya suka kembali ke Toko Ujung. Dari sana pula saya mendapat banyak masukan tentang cara menyajikan kopi yang enak meski tentu saja belum bisa seenak cara mereka yang memang bersekolah untuk jadi barista.

Kalau suatu saat nanti Anda sempat ke Makassar, cobalah luangkan waktu untuk mendatangi beberapa warung kopi yang sudah jadi legenda di kota ini. Menjelang pulang Anda mungkin bisa mampir ke Toko Ujung untuk membeli beragam kopi Toraja yang bisa dijadikan buah tangan. Percayalah, kopi Toraja memang enak! [dG]

About The Author

10 Comments

  1. nanie
    24/09/2013
    • iPul Gassing
      24/09/2013
  2. Hotel di Puncak
    10/10/2013
  3. supllier kopi Toraja
    11/09/2014
  4. Ciwang Nas
    09/04/2015
    • iPul Gassing
      10/04/2015
  5. Zule
    26/06/2015
  6. Firda
    29/06/2015
  7. Kopi Indonesia
    11/11/2015

Add Comment