Romantika Naik ATR

Pesawat ATR

Pesawat ATR pertama yang saya tumpangi

Sebenarnya saya selalu deg-degan kalau naik ATR. Apalagi kalau cuacanya buruk.

“Kalau hujan deras begini Garuda biasanya akan mutar kembali ke Makassar.” Kata seorang ibu yang sebelumnya larut dalam percakapan bersama saya.

Siang itu kami sedang berada di ruang tunggu bandara Tampa Padang, Mamuju, Sulawesi Barat. Di luar alam seperti sedang marah. Hujan deras bergemuruh, pandangan tak bisa lepas tertutup derasnya hujan. Pesawat Garuda yang harusnya tiba dari Makassar dan akan kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Makassar belum juga tiba. Saya melirik jam tangan, sudah lewat setengah jam dari jadwal.

“Garuda biasanya tidak mau ambil resiko, kalau cuaca seperti ini mereka lebih memilih kembali dulu.” Kata ibu itu lagi. “Kalau Lion cuek, mereka tetap terbang.” Sambungnya.

Hampir satu jam sebelumnya pesawat ATR milik Wings Air yang masih satu grup dengan Lion Air baru saja meninggalkan bandara Tampa Padang di bawah guyuran hujan. Hujannya memang belum terlalu deras, mungkin karena itu mereka berani terbang.

Bermenit-menit kami menunggu dalam ketidakpastian, hujan masih tetap sama. Deras dan menakutkan. Sampai kemudian petugas maskapai berdiri di dekat pintu keluar, menghadap ke arah kami dan memberi penjelasan.

“Bapak-bapak, ibu-ibu, pesawat Garuda tidak berani mengambil resiko. Cuaca buruk dan jarak pandang minim, pesawat terpaksa kembali ke Makassar.  Penerbangan terpaksa ditunda sampai besok pagi jam 10:00 WITA.”

Suasana ruang tunggu bandara kecil yang berisi mungkin tak lebih dari 100 orang itu mendadak riuh. Penumpang bercakap-cakap dengan sesamanya penumpang, mencari solusi perjalanan lain atau mencari solusi akan di mana menghabiskan waktu sampai besok pagi tiba. Ruang tunggu bandara seperti dipenuhi ribuan lebah, hiruk-pikuk dengan suara dengungan.

Perlahan-lahan keramaian bergeser ke arah luar, ke depan loket maskapai Garuda Airlines. Sebagian menanyakan nasib tiket mereka, sebagian menanyakan nasib perjalanan lanjutan dari bandara Sultan Hasanuddin dan sebagian lagi membatalkan tiket mereka dan mencari alternatif transportasi lain.

Berkerumun di depan loket Garuda

Berkerumun di depan loket Garuda

Seorang pria setengah baya dengan kepala yang nyaris botak berada di antara kerumuman orang di depan loket maskapai. Dia hendak menanyakan nasib penerbangan lanjutannya dari bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Rencananya setibanya di Makassar dia akan melanjutkan penerbangan ke Jakarta dengan pesawat bermaskapai sama. Bapak itu bisa bersyukur karena tidak ada masalah berarti, pihak Garuda Airlines bisa menguruskan penerbangan lanjutannya untuk besok hari. Toh mereka masih berada dalam naungan manajemen yang sama.

Tapi tidak dengan beberapa penumpang lain. Seorang pria muda berjanggut lebat dan berkacamata duduk mencangkung di tangga dekat loket. Mukanya terlihat kebingungan sambil terus menatap layar telepon genggam di tangannya. Dia harus melanjutkan perjalanan sore itu dengan pesawat yang lain dan maskapai berbeda. Garuda Airlines tidak bisa berbuat banyak, mereka tidak punya kuasa untuk mengurus kepindahan jadwal pesawat pria itu.

“Jadi gimana mas?” Tanya saya.

Dia menghela napas panjang dan menatap saya dengan pandangan kuyu. “Yah gimana lagi, harus beli tiket baru. Ini saya masih coba hubungi kantor.” Jawabnya.

Setidaknya dia masih beruntung, masih ada kantor yang bisa menguruskan tiket barunya dan mungkin menambah biaya perjalanannya untuk menginap sehari di Mamuju. Tapi seorang pria lain tak seberuntung dia. Pria itu berangkat dengan dana sendiri dan dengan sangat terpaksa merelakan tiket pesawat dari Makassar ke Jakarta sore itu hangus begitu saja.

“Yah, mau mi diapa.” Katanya dengan nada pasrah dan cengiran tipis di wajahnya.

Walaupun suasana cukup gaduh tapi tak ada yang sampai tersulut emosi. Beberapa kali memang nada tinggi terdengar dari kerumunan, sebagian karena kalut, sebagian lagi karena mempertanyakan potongan 20% buat mereka yang mau membatalkan tiket. Tapi sepertinya semua penumpang paham kalau pilihan itu mungkin yang terbaik daripada mengambil resiko terbang dalam cuaca buruk.

*****

Pengalaman pesawat batal terbang di Mamuju adalah yang pertama untuk saya. Selama ini hampir semua penerbangan yang saya lakoni lancar-lancar saja, paling sial hanya keterlambatan berjam-jam, tapi tidak yang sampai dibatalkan. Untung saya berangkat karena tugas, setidaknya semua pengeluaran ekstra tidak saya tanggung dari kantong sendiri. Ini juga alasan kenapa saya tetap tenang selama kegaduhan berlangsung. Mungkin reaksi saya akan beda kalau saya berangkat dengan dana sendiri.

Saya juga baru tahu kalau Garuda Airlines yang melayani rute Makassar-Mamuju dan sebaliknya tidak berani mengambil resiko besar. Berbeda dengan Wings Air yang tetap memaksakan diri untuk terbang meski kedua maskapai itu menggunakan model pesawat yang sama; ATR 72.

ATR 72 adalah jenis pesawat yang diproduksi oleh perusahaan Perancis-Italia, ATR. Model ATR 72 dengan dua baling-baling di kanan-kiri adalah pengembangan dari model ATR 42 yang lebih kecil. Di Indonesia jenis pesawat yang pertama dioperasikan tahun 1988 ini paling banyak digunakan oleh maskapai Wings Air. Wings Air memang banyak melayani rute-rute jarak dekat dengan bandara kecil yang tidak bisa dijangkau oleh pesawat jet.

Karena badan pesawat dan kemampuan yang lebih rendah dari pesawat jet maka wajar saja kalau pertimbangan menerbangkan pesawat jenis ATR lebih banyak. Untuk cuaca yang mungkin bagi pesawat jet tidak terlalu masalah, bisa saja jadi pertimbangan bagi pesawat ATR untuk membatalkan penerbangan. Seperti yang terjadi di Mamuju minggu lalu.

Pertama kali saya menumpang ATR adalah ketika perjalanan dari Lombok ke Bali yang ditempuh dalam 20 menit. Terus terang penerbangan perdana itu lumayan menakutkan buat saya. Meski cuaca sangat bagus, tetap saja saya merasa sepanjang perjalanan guncangan pesawat begitu menyiksa. Utamanya ketika lepas landas dan ketika akan mendarat. Alasan lainnya karena jarak jelajah ATR yang hanya sekira 25.000 kaki membuat kita masih bisa melihat daratan dengan jelas. Ini membuat sensasi deg-degan saya makin terasa.

Seorang teman pernah bercerita pengalaman menakutkannya menumpang pesawat ATR rute Jayapura-Wamena yang harus terbang di antara lembah Papua yang selain indah juga terkenal kejam. Sepanjang perjalanan katanya sangat menegangkan karena beberapa kali pesawat berguncang hebat.

“Deh, sampai berapa kali itu Al Fathiha saya baca.” Katanya. Kenapa hanya Al Fathiha? Jangan tanya saya, mungkin hanya itu surat pendek yang dia hapal.

Tapi sejujurnya, menumpang pesawat ATR juga menyenangkan. Ketika akhirnya menjejakkan kaki di tanah, rasa syukur luar biasa menyelinap ke dalam hati. Mungkin karena pertarungan bathin selama perjalanan yang berlangsung sengit sampai akhirnya ketika selamat, rasaya sugguh luar biasa!

Bagaimana dengan Anda? Pernah merasakan penerbangan yang menegangkan? [dG]

About The Author

2 Comments

  1. Dwi Wahyudi
    19/01/2016
    • iPul Gassing
      19/01/2016

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: