Perjalanan

Ada Cerita Tentang Paniai dan Enarotali

Ada Cerita Tentang Paniai dan Enarotali
Enarotali Paniai
Bandara Enarotali

Akhirnya saya bisa ke Paniai, tepatnya ke Enarotali. Sebuah nama yang dulu membawa kengerian buat saya.

Paniai. Nama itu saya dengar sekisar tahun 2014. Bulan Desember, dan sebuah kejadian di Paniai menjadi pembicaraan nasional. Empat orang remaja meregang nyawa di ujung senjata aparat keamanan. Semua bermula dari kesalahpahaman, tapi sayangnya kesalahpahaman itu berakhir menyedihkan. Empat orang meninggal, 12 lainnya luka-luka.

Itulah kali pertama saya mendengar nama Paniai. Bahkan saya tidak tahu di mana letaknya di peta.

Tiga tahun kemudian, saya menerima penawaran kerja. Salah satu lokasinya adalah Paniai. Bayang-bayang kejadian itu muncul di kepala, lengkap dengan foto beberapa orang yang terkapar dengan darah di tubuh mereka. Belum lagi desas-desus kalau Paniai masih menjadi kawasan Organisasi Papua Merdeka (OPM). Menyeramkan, sekaligus membuat penasaran.

Baca juga: Kenapa Papua Mau Merdeka?

21 Januari 2018, saya akhirnya menginjakkan kaki di Enarotali, ibukota Paniai. Sehari sebelumnya saya tiba di Nabire dengan pesawat ATR Garuda dari Jayapura. Penerbangan Jayapura ke Nabire ditempuh dalam waktu 1 jam 25 menit. Sebagian besar melintasi daerah pegunungan Papua bagian utara. Sepanjang penerbangan saya lebih banyak tidur dan membaca.

Dulu Nabire dan Paniai satu wilayah. Kabupaten Paniai, ibukotanya Nabire. Lalu Paniai memisahkan diri, menjadi kabupaten sendiri dengan Enarotali sebagai ibukotanya. Keduanya termasuk dalam wilayah adat Mee Pago. Jalan darat dari Nabire ke Enarotali sudah lumayan bagus. 285 km yang kebanyakan menanjak meniti punggung bukit. Sesekali menurun, sesekali bertemu tebing yang longsor.

Enarotali Paniai
Pemandangan seperti ini ada sepanjang jalan ke Enarotali

Jalan itu sudah ada sejak tahun 2000an, dibuka perlahan menembus hutan dan bukit. Sebelumnya, warga yang hendak ke Enarotali harus menggunakan pesawat terbang sejenis Twin Otter atau helikopter dari Nabire atau Timika. Jalan darat juga bisa, tapi butuh waktu berhari-hari melewati hutan dan bukit. Bukan pilihan yang nyaman.

Jalur Nabire – Enarotali termasuk dalam skema Trans Papua di pemerintahan Joko Widodo, sebagian besar hanya peningkatan mutu. Jalan ini melewati dua kabupaten lain; Dogiyai dan sedikit Deiyai. Kita bahkan akan melintasi Monamani, ibukota Dogiyai yang juga punya bandara kecil. Total waktu yang dibutuhkan adalah 7 jam perjalanan, kadang bisa lebih tergantung kondisi alam dan gangguan manusia. Untuk naik ke Enarotali, penumpang harus membayar Rp.600.000,- per orang. Harga akan lebih murah kalau mereka turun dari Enarotali ke Nabire, hanya Rp.300,000,- per orang. Sebagian besar mobil yang berangkat adalah mobil kelas berat sekelas Toyota Fortuner, Toyota Hilux, Mitsubishi Strada dan semacamnya. Jarang ada Avanza.

enarotali paniai
Angkot Nabire – Enarotali

Bukan hal yang aneh kalau di jalan sesekali kita akan bertemu dengan warga yang menutup jalan. Alasannya beragam, dari yang meminta ganti rugi karena babinya tertabrak, masyarakat yang marah karena keluarganya jadi korban tabrakan, sampai warga yang iseng saja meminta uang dari mobil yang melintas.

“Kalau nabrak babi, kasih tinggal saja. Biar orang di belakang yang punya urusan,” kata Munsyir, supir yang membawa kami ke Enarotali. Dia asli Palopo dan sudah lima tahun mencari nafkah sebagai supir di Nabire. “Kadang ya kita juga yang kena sial, babi ditabrak mobil lain tapi kita yang tanggung jawab,” sambungnya.

Sehari sebelum kami pulang, jalur Nabire – Enarotali ditutup warga di daerah Mapia. Alasannya, dua anak kecil jadi korban kecelakaan. Meninggal. Warga tidak terima, mereka memalang jalan dan meminta ganti rugi dari semua mobil yang melintas. Satu supir yang kami temui di jalan bercerita, dia harus membayar Rp.1.5jt plus bonus pukulan.

“Masih mending kalau cuma dapat pukul, ada juga yang dapat sangkur,” kata Munsyir lagi.

Kejam? Barbar? Well, coba lihat sisi lainnya.

Mereka adalah orang-orang yang jadi korban modernisasi. Mereka tidak dipersiapkan melawan deras laju modernisasi. Bangsa peramu yang hanya jadi penonton ketika modernisasi hadir lewat jalan mulus, mobil kencang dan barang-barang moderen lainnya. Mereka bisa apa? Hanya jadi penonton dan terus terpinggirkan. Cara mereka melawan hanya dengan itu, meminta “hak” mereka pada para pendatang, meski dengan cara yang memaksa.

Enarotali, Kota Tua Yang Memburuk.

Kami tiba di Enarotali sore selepas pukul lima. Matahari tertutup awan, hujan baru saja pergi. Tanah basah, meninggalkan becek yang lengket di ban mobil. Kami melintasi pasar Enarotali, pasar yang sibuk meski sore sudah hendak pergi. Pasar itu tampak kusam, tidak teratur. Mama-mama Papua berjualan di tepi jalan. Sayur, buah, udang, ikan mujair, digelar begitu saja di atas tanah yang basah dan kecoklatan. Babi-babi besar dan kecil berkeliaran mencari makan.

Pasar Enarotali

“Sayang sekali, kotanya jadi berantakan seperti ini,” kata Kak Luna, teman seperjalanan.

Dari laman internet saya pernah menemukan satu gambar cantik kota Enarotali dari tahun 1970an awal. Konon kota ini memang kota tua, dibentuk oleh para misionaris yang datang sejak tahun 1960an. Di tepi kota ada tiga danau yang termasuk salah satu danau tercantik di dunia. Di seberang danau ada kampung-kampung yang sebagian masih jarang tersentuh oleh “rambut lurus”, sebutan buat para pendatang.

Enarotali tahun 1979
foto: https://ozoutback.com.au
danau paniai
Satu sisi Danau Paniai, “negara tetangga” ada di seberang sana

“Negara Tetangga” kata orang. Menandakan kalau kampung-kampung itu masih didiami oleh para penggerak OPM. Pantas saja tidak ada orang “rambut lurus” yang berani ke sana.

Kami menginap di Penginapan Subur di depan bandara Enarotali. Pemiliknya pasangan Jawa yang sudah berumur. Mereka tiba di sana sejak tahun 1978 dan mendirikan penginapan itu sejak 2002. Pak De Paijo dan Bu De Paijo, begitu orang menyebutnya. Pak De Paijo adalah guru SD yang sudah pensiun dan mendirikan penginapan itu. Dia tidak hendak kembali ke Jogjakarta, kota asalnya. Mungkin dia berencana menghabiskan hidup di Enarotali.

Angin dingin dengan segera menyambut kami, memaksa kami merapatkan jaket. Hal yang umum untuk kota yang berada di ketinggian 1.700 mdpl ini. Bahkan warga lokal pun berkeliaran dengan jaket yang tertutup rapat. Orang Paniai sebagian besar berasal dari suku Mee, sisanya orang Moni dan sebagian kecil pendatang. Baik dari Jawa, Sumatra maupun Sulawesi.

Si kecil yang mencari makan di depan penginapan kami

“Apa yang akan saya temui di sini? Kekerasan kah? Atau..” Saya sibuk menebak-nebak dalam hati. Bertanya-tanya apakah yang akan saya temui di Enarotali.

Orang-orang Papua asli berseliweran di depan penginapan yang memang berada di jalan utama itu. Wajah mereka keras, khas orang gunung. Saya tidak berani berdiri di luar pagar penginapan. Saya masih terkungkung stigma. Orang Papua itu jahat, kata satu suara dalam hati saya. Bodohnya, saya mengiyakan saja. Hari pertama, saya tidak berani keluar pagar penginapan.

Kota ini sungguh buruk, kata saya dalam hati lagi. Tidak teratur, becek, kotor. Sungguh berbeda dari gambaran Enarotali yang saya lihat di internet, foto dari awal tahun 1970an itu.

Senyum Manis Warga Enarotali

“Mereka lembut sekali ya,” Kata Kak Luna.

Sore itu kami berjalan kaki ke pasar Enaro, bertiga dengan seorang teman lagi yang sudah lama tinggal di sana. Sepanjang jalan kami bertemu wajah-wajah keras namun berhiaskan senyum tulus. Laki-laki, perempuan, tua, muda.

“Selamat sore,”

Sapaan itu jadi sering kami terima, sepanjang jalan. Kami membalasnya dengan sapaan yang sama dan senyum yang sama. Tiba-tiba saja saya merasa malu sudah pernah mengamini stigma dalam hati sendiri. Ternyata di balik wajah keras dan penampilan garang mereka, ada ketulusan dan kelembutan. Bahkan di pasar yang kusam dan becek itupun, kita masih mudah menemukan senyuman tulus dari bibir yang kadang kemerahan bekas sirih pinang.

Sesekali memang ada suara teriakan dari pria-pria yang memanggil kawannya, atau mereka yang bercanda sesamanya. Suara ini bisa saja mengangetkan, rasanya seperti mendengar dua orang yang saling mengancam. Nadanya tinggi dan berat. Suara yang mungkin akan sukar kau temui di pasar di Solo atau Jogja.

Lalu ada juga seorang perempuan yang berkeliling pasar, berteriak-teriak sekuat tenaga dengan khotbah tentang Jesus dan hari akhir. Mungkin dia memang pengkhotbah, atau mungkin juga dia stress dan setengah gila. Tapi sebagian besar orang tidak peduli, membiarkannya begitu saja.

Lapangan dekat pasar Enarotali

Seorang mama tersenyum lebar ketika kami sapa. Giginya tanggal sebagian, membuat senyumnya jadi tambah lucu. Di tempat lain seorang pria tersenyum canggung ketika saya menyapanya dan memberinya senyuman. Mungkin dia tidak terbiasa tersenyum pada orang asing, tapi setidaknya dia mencoba tersenyum.

Ketika kami tiba, listrik PLN sedang terputus. Sudah 12 hari katanya. Ada alat yang rusak dan harus dibawa ke Nabire. Sebagian orang menuduh pemadaman itu ada kaitannya dengan politik. Paniai akan menggelar pilkada tahun ini, dan bupati petahana mendapat banyak kecaman dari warga. Dia kehilangan dukungan. Warga terpaksa memakai genset sendiri untuk mengalirkan listrik mulai pukul enam sore sampai tengah malam. Sisanya gulita.

Menjelang kepulangan kami, listrik PLN membaik. Warga akhirnya bisa menikmati listrik lagi dari mulai pukul delapan pagi hingga pukul satu siang. Kemudian dilanjut pukul lima sore hingga pagi. Tidak ada listrik yang 24 jam.

“Ini saja kita sudah bersyukur,” kata Bu De Paijo.

Sinyal internet jadi barang langka di sini. Sebagian besar hanya Edge yang bahkan untuk membuka gambar di WhatsApp saja susahnya minta ampun. Beruntung kita masih bisa menelepon. Operator pun hanya satu; Telkomsel. Sisanya, no service.

Kami meninggalkan Enarotali pagi pukul 10. Diiringi kecemasan, apakah jalan di Mapia sudah terbuka atau belum. Beruntung karena perjalanan kami lancar hingga ke Nabire. Enarotali tertinggal di belakang, tapi masih menyisakan banyak tanya buat saya. Suatu saat sepertinya saya akan kembali ke sana lagi. Bertemu lagi dengan senyum manis tulus itu, wajah tegang, dan rahasia yang seperti meminta untuk dibuka.

Kisah-kisah seperti inilah yang selalu membuat saya jatuh cinta pada Papua. Pada tanah emas penuh ironi. Pada kisah yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (2)

  1. Sepertinya bakal tambah seru lagi daeng kalau sempat di sela-sela kerja mengunjungi pasar tradisional di sana. Minimal buat stok nulis entah kapan, atau buat latihan photo street.

    Biarpun mendung, tapi danaunya bagus 🙂

    • di sini agak susah kalau mau street foto, banyak yang gak mau difoto dan bisa-bisa mereka akan marah
      makanya kemarin jalan ke pasar sama sekali gak bawa kamera hehehe

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.