Menjejak Tanah Sumba

Sumba dari satu sisi yang hijau

Sumba dari satu sisi yang hijau

Sumba! Akhirnya bisa ke sana juga!

Udara panas langsung menyergap begitu saya keluar dari bandara Umbu Mehang Kumba, Waingapu. Jam tangan menunjukkan pukul 12:30 WITA, matahari benar-benar seperti berada di ubun-ubun. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau Sumba.

Selama ini pulau itu nyaris tak pernah saya perhatikan. Lalu muncullah film Pendekar Tongkat Emas yang kebetulan mengambil lokasi di Sumba. Film itu membuat saya tiba-tiba suka pada hamparan alam Sumba yang berbukit dan penuh dengan padang savana. Hamparan alam yang unik, berbukit tapi kering, hijau tapi juga kecokelatan.

Nyaris setahun kemudian sebuah keberuntungan menghampiri, saya dapat tawaran pekerjaan yang membuat saya bisa ke Sumba. Alhamdulillah, tawaran itu tentu saja saya terima dan tepat tanggal 13 Desember 2015 saya menginjakkan kaki di Waingapu, Sumba Timur.

Kesan pertama melihat Sumba dari atas udara adalah, pulau ini memang kering. Bukit-bukit berterbaran di mana-mana, tapi semua nyaris dikuasai warna cokelat menandakan tanah yang kering. Kesan itu makin diperkuat ketika baru saja keluar bandara matahari dan suhu yang panas langsung menyergap. Tapi satu hal yang menyenangkan, langit Sumba biru cerah! Persis sama dengan langit di tempat lain di Indonesia Timur.

Sumba dari ketinggian

Hari pertama di Waingapu tidak banyak yang saya lakukan. Setelah chek in di hotel yang sudah disiapkan, saya beristirahat sejenak. Sore harinya saya coba jalan-jalan keluar hotel, menuju pusat kota. Tapi jalanan sepi, toko banyak yang tutup. Belakangan saya sadar, ini hari Minggu dan sebagian besar warga Waingapu yang Nasrani tentu saja lebih sibuk di gereja. Saya akhirnya memilih kembali ke hotel dan menghabiskan hari di sana.

Mirip Jeneponto.

Keesokan harinya kegiatan dimulai. Jam tujuh pagi saya dijemput di hotel oleh rekan field officer di Sumba. Hari ini kami akan menyusuri pesisir utara pulau Sumba menuju satu desa yang bernama Kadahang. Kota Waingapu masih sepi di pagi hari, atau mungkin memang keadaannya seperti itu? Entahlah.

Tahu-tahu kami sudah berada di jalan raya yang lapang dan sepi. Kanan-kiri tanah tandus menghampar, sesekali jalanan berkelok dan menanjak. Di sebelah kiri bukit kadang berdiri tegak tak beraturan sementara di sebelah kanan lautan lepas berwarna biru cerah terhampar di kejauhan. Lukisan alam yang kontras itu tak berhenti membuat saya berdecak kagum.

Sejekan saya merasa melintas di kabupaten Jeneponto, sebuah kabupaten di selatan kota Makassar yang juga terkenal dengan tanah keringnya. Bedanya hanya dua, langit di Sumba lebih biru dan tidak ada ladang garam. Selain itu semua hampir sama.

Jalan lapang dan kering

 

Salah satu lokasi film Pendekar Tongkat Emas

“Ini lokasi syuting film Pendekar Tongkat Emas.” Kata Marlin, field officer yang menemani saya ketika kami tiba di satu titik.

“Oh ya? Bisa berhenti sebentar?” Pinta saya. Mereka mengiyakan. Mobil menepi dan berhenti, saya langsung turun dengan menenteng kamera. Kesempatan ini tak boleh saya sia-siakan, kapan lagi berada di depan bentangan alam yang begitu menawan dan pernah jadi latar salah satu film Indonesia terbaik itu?

Puas merekam gambaran alam itu saya kembali ke mobil. Perjalanan dilanjutkan. Kami menghabiskan waktu sekira 90 menit untuk sampai ke tujuan. Hari itu kami mendatangi kelompok petani yang untuk pertama kalinya memanen tanaman lain selain jagung yang sudah jadi bagian dari hidup mereka.

Selepas kegiatan pertama kami kembali ke kota Waingapu. Siang beranjak menjelang sore, tujuan selanjutnya adalah beberapa daerah di tepian kota yang berada di ketinggian. Tempat-tempat yang kami datangi tak kalah menawannya. Dari ketinggian terbentang hamparan bukit dan lautan nun jauh di sana. Matahari menyengat, tapi angin tetap berhembus seperti membelai wajah.

Sisi Sumba yang hijau

Sore itu kami habiskan di sebuah bukit tempat di mana kami bisa melihat bandara Umbu Mehang Kumba dari ketinggian. Di sisi barat terlihat bukit-bukit yang dipenuhi warna hijau pepohonan, berbeda dengan dataran Sumba yang tadi siang kami lewati. Sayang kami tak sempat menantikan matahari pulang, tubuh sudah terlalu capek selepas perjalanan panjang dari pagi.

Sisi Lain Sumba.

Besoknya kegiatan berlanjut. Kali ini kami menuju barat pulau Sumba, meniti jalan menuju Waikabubak yang berada di Sumba Barat. Perjalanan kali ini agak berbeda dengan perjalanan sehari sebelumnya. Kalau kemarin jalanan lebih banyak datar dan melintasi daerah kering maka hari ini perjalanan melintasi daerah berbukit yang hijau.

“Daerah sini curah hujannya memang tinggi.” Kata pak Rahmat yang mengantar kami. Daerah yang hendak kami tuju adalah kecamatan Lewa, sekira 60 km sebelah barat kota Waingapu.

Kalau sebelumnya mata saya dimanjakan oleh pemandangan yang kontras, maka hari itu mata saya dimanjakan pemandangan yang teduh. Bukit-bukit menjulang tinggi, rerumputan hijau dan pepohonan rapat berdiri. Satu-dua bukit memang hanya dipenuhi rerumputan hijau dengan sedikit pohon di punggungnya. Sesekali kuda juga tampak di punggung dan puncak bukit.

Ini Sumba yang terkenal dengan bukit dan padang savananya

 

Kuda sangat penting bagi orang Sumba

Kuda bagi orang Sumba nampaknya sangat vital. Di mana-mana kita bisa dengan mudah melihat hewan berkaki empat itu, digunakan sebagai alat transportasi, membantu petani mengangkut hasil pertanian sampai jadi hiasan di ukiran kain dan bahkan dijadikan patung. Sumba juga terkenal dengan acara pacuan kudanya. Setahun sekali di bulan Agustus ratusan joki dari berbagai daerah memacu kuda mereka, berebut penghargaan tertinggi.

Acara hari kedua tidak sepadat hari pertama, kami bisa kembali ke Waingapu sebelum sore menjelang. Dalam perjalanan pulang saya sempat berhenti beberapa kali untuk mengabadikan lukisan alam yang kali ini berbeda dengan lukisan sehari sebelumnya. Dua wajah Sumba yang sama-sama memikat.

Alam yang kontras

Pengalaman pertama menginjakkan kaki di Sumba adalah pengalaman yang menyenangkan. Akhirnya saya bisa menambah lagi satu perbendaharaan daerah Indonesia Timur yang bisa saya datangi. Masih ada empat pulau besar lagi yang belum saya jejaki; Maluku Utara, Sumbawa, Flores dan Timor. Tapi untuk sekarang saya sudah cukup senang bisa melihat lansung pulau Sumba meski tidak sempat menjelajahinya.

Seperti yang saya bilang di sini, saya tidak bisa mencampuradukkan antara pekerjaan dan jalan-jalan. Kali ini saya ke Sumba untuk bekerja, mungkin suatu saat nanti saya kembali untuk benar-benar hanya jalan-jalan. [dG]

 

About The Author

Leave a Reply

2 Comments on "Menjejak Tanah Sumba"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
Evi
Guest

Bagi saya Sumba itu eksotis banget. Bukan karena cantiknya saja seperti dalam foto-foto ini tapi juga jauh dan tak banyak terbaca oleh saya. Semoga sukses dengan pekerjaannya di Sumba mas dan sukses juga dengan jalan-jalannya nanti 🙂

shu @travelographers
Guest

artikelnya mantab menggambarkan sisi lain sumba yang menarik untuk dijelajahi. semoga suatu saat bisa ke sumba juga.

wpDiscuz
%d bloggers like this: