BudayaPerjalanan

5 Hal Tentang Lanny Jaya

Kembali ke Lanny Jaya, dan saya kembali merasa takjub pada keindahan tempat ini. Kalau kalian penasaran tentang Lanny Jaya, maka inilah sepintas perkenalan dari saya.


Orang Lanny di tepi bukit

AKHIRNYA SAYA KEMBALI KE LANNY JAYA. Setelah bulan April yang lalu, sebuah tugas kembali mengharuskan saya ke Lanny Jaya, sebuah kabupaten di pegunungan tengah Papua sebelah timur yang sudah pernah saya sambangi. Kedatangan kedua ini waktunya memang tidak sepanjang kedatangan pertama, tapi dalam waktu yang sempit itu saya datang ke tiga distrik yang letaknya mulai dari yang dekat dari ibukota, sampai distrik yang jaraknya kira-kira sejam dari pusat ibukota. Kunjungan ke tiga distrik itu membuat saya makin mengenal Lanny Jaya, dan mulai merasa jatuh cinta (lagi) kepada kabupaten ini.

Karena sudah merasa lebih dekat itu, sepertinya saya harus membagikan cerita tentang Lanny Jaya kepada kalian. Siapa tahu kalian penasaran dengan kabupaten ini, atau siapa tahu kalian juga tertarik untuk datang ke sini.

Baca juga: Tidak Percaya, Akhirnya ke Lanny Jaya

Yuk, kita kenalan dengan Lanny Jaya.


Perjalanan melintasi medan yang berat, tapi alamnya luar biasa

Harus Lewat Wamena.

Lanny Jaya terletak di pegunungan tengah Papua sebelah barat. Dulunya, Lanny Jaya masuk ke dalam wilayah Kabupaten Jayawijaya dengan nama distrik Tiom. Barulah pada tahun 2008, Lanny Jaya memekarkan diri dan menjadi kabupaten baru dengan Tiom sebagai ibukotanya.

Nah untuk bisa mencapai Lanny Jaya, kita harus beranjak dari wilayah Jayawijaya khususnya kota Wamena. Dari Wamena, kita harus menggunakan mobil yang tergolong berat seperti Toyota Fortuner atau Hilux, Mitsubishi Strada atau Pajero, Ford Ranger dan sejenisnya. Pokoknya mobil yang bisa melintas di medan berat.

Jalan lintas Wamena-Tiom memang belum sepenuhnya bagus. Menanjak dan meliuk di punggung bukit dengan kondisi sebagian masih tanah timbunan, tapi sudah ada juga yang aspal rata. Waktu tempuh dari Wamena ke Tiom rata-rata 2,5 jam. Tidak terlalu lama, kan?

Oh iya, dalam rentang waktu itu mata kita akan dimanjakan oleh indahnya tanah Papua dengan bentang alamnya yang aduhai.


Pagi hari, kabut masih menggantung

Udaranya Lumayan Menggigit.

Berada di ketinggian antara 1.800 sampai 2.300 mdpl, Lanny Jaya lumayan dingin menggigit. Di malam hari suhu bisa turun sampai 8°C. Di siang hari, matahari sebenarnya cukup menyengat dan terik, tapi karena berada di pegunungan dengan embusan angin sepoi-sepoi, teriknya matahari tidak terlalu terasa. Rata-rata suhu di siang hari 18-21°C. Lumayan sejuk kan?

Tahun 2015, Lanny Jaya pernah ditimpa musibah hujan es dan salju yang memakan korban jiwa 11 orang tewas.

Selama berada di Lanny Jaya, jaket tidak pernah lepas dari badan saya. Baik itu jaket tipis, maupun jaket yang cukup tebal. Di siang hari udara yang sejuk juga tetap membuat kita betah berada dalam dekapan jaket, sementara di malam hari buat anak pesisir seperti saya, jaket adalah keharusan.

Oh ya, meski di pagi hari udaranya cukup dingin tapi saya tetap mandi dengan air dingin loh. Bukan air panas. Setelah mandi, tubuh malah terasa lebih segar dan lebih tahan dingin. Tapi, proses mandinya itu yang berat, ha-ha-ha-ha.


Bersama teman orang Lani

Dihuni Suku Lani dan Dani.

Dua suku ini adalah mayoritas suku yang menghuni Lanny Jaya. Secara fisik sulit membedakan orang dari kedua suku ini, pun dari bahasanya. Konon, orang Lani adalah sub suku dari Dani yang memang lebih besar dan bisa dibilang menguasai kawasan pegunungan tengah Papua bagian timur.

Satu hal yang saya suka dari mereka adalah ketika bercakap dalam bahasa daerah. Cengkoknya sangat khas dan sekilas di telinga saya terdengar seperti bahasa Perancis atau Arab. Saya hanya tahu satu kata dalam bahasa Lani, yaitu: wa wa wa.

Kata itu bisa berarti terima kasih atau salam. Ketika mereka bertemu, mereka akan memulai dengan kata itu; wa wa wa.

Oh satu lagi yang khas dari mereka, salam ketika bertemu. Selain melontarkan kata wa wa wa, mereka juga akan saling berjabat dengan cara yang unik. Alih-alih menjabat tangan, mereka akan saling menggamit lengan bagian dalam lawan bicara. Kadang mereka juga melakukan salam kipo, salam khas orang gunung Papua. Satu orang akan mengangsurkan jari tangan kanannya yang ditekuk ke dalam, sementara yang satu akan menekuk jari telunjuk dan jari tengah, memberi ruang untuk menjepit jari telunjuk lawan bicara yang tertekuk itu. Kemudian, keduanya akan sama-sama menarik tangan mereka sehingga menimbulkan suara “klok!” yang keras.

Beberapa kali saya mencoba salam kipo ini bersama teman-teman dari Lanny Jaya yang saya temui. Beberapa kali berhasil menimbulkan suara “klok!” yang keras, tapi sisanya lebih banyak hanya suara yang lirih.


Seorang warga di depan honainya

Beberapa Daerah Masih Termasuk “Daerah Merah.”

Karena berada di daerah pegunungan tengah Papua, maka Lanny Jaya termasuk salah satu daerah yang masih rawan dari sisi keamanan. Penyebabnya karena ada faksi Organisasi Papua Merdeka yang bermarkas di Lanny Jaya. Faksi ini dipimpin oleh Militer Murib yang seperti faksi OPM lain juga punya pasukan bersenjata.

Pasukan OPM di Lanny Jaya meski kadang bentrok juga dengan aparat keamanan, tapi dianggap tidak terlalu membahayakan. Mereka lebih sering bentrok dengan aparat saja daripada mengganggu warga. Ada beberapa faktor yang membuat mereka lebih kalem, salah satunya adalah karena kedekatan pak Sekda Lanny Jaya, Christian Sohilait dengan pemimpin OPM tersebut. Mereka berteman sejak kecil, namun sekarang harus berbeda jalan karena pilihan yang berbeda. Meski begitu, mereka tetap saling menghormati.

Baca Juga: Bertemu ‘Tiga Huruf” di Lanny Jaya

Kata orang, faksi OPM pimpinan Militer Murib hanya punya masalah dengan aparat baik polisi maupun tentara. Mereka tidak akan mengganggu warga pendatang meski tentu saja ada upeti yang harus dibayarkan. Buat saya, mereka lebih mirip organisasi massa daripada kelompok pengacau keamanan.


Luar biasa cakep kan?

Alamnya Luar Biasa Indah.

Ini adalah satu hal yang tidak bisa dipungkiri. Dengan lokasi di ketinggian, Lanny Jaya punya potensi keindahan yang Masya Allah luar biasa. Waktu pertama ke Lanny Jaya, saya hampir saja meneteskan air mata ketika melihat betapa megahnya alam Lanny Jaya. Rasanya benar-benar saya merasa kecil, tidak ada apa-apanya.

Ke mana mata memandang, di sana juga keindahan alam itu nampak. Bukit yang tegak berdiri menantang, sambung menyambung dengan mahkota atau kalung kabut. Hijau di mana-mana, disaput kabut tipis berwarna putih dan latar birunya langit di belakang. Benar-benar megah.

Di lembah-lembah, terhampar beberapa honai dengan halaman yang lapang. Suasana terasa sangat damai, hanya ada suara alam dan desir angin sejuk yang membelai wajah. Di malam hari, suara binatang malam akan jadi lagu yang mengiringi kabut tipis yang memeluk. Benar-benar malam yang syahdu.

Kalau kalian gemar mendekat pada alam, maka Lanny Jaya adalah tempat yang tepat. Sayangnya, akses ke sana memang tidak gampang. Biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit. Dengan kondisi yang seperti itu, Lanny Jaya memang belum bisa menjadi daerah tujuan wisata. Di sana pun hingga saat ini belum ada penginapan umum seperti hotel atau wisma. Apalagi paket wisata.

Maka, beruntunglah saya yang sudah pernah ke Lanny Jaya. Bukan begitu? [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (1)

  1. Lomar Dasika

    Boleh ngga sihhhhh akuuu sebal dan kZL sama dirimu pas baca artikel ini?

    saya sukakkk banget sama wilayah berhawa dingin. pas ada berita tentang salju Lanny Jaya dan beberapa kali laporan cuaca Lanny Jaya menunjukkan digit satuan, makin semangat hasrat saya menuju kesana.

    tapi sesuai dengan ceritamu Daeng,susah ya kesana apalagi kalau judulnya turis reguler. belum lagi sulitnya medan yg pastinya berimbas pada tingginya biaya yg harus dikeluarkan. bye byee backpacker.

    garis merahnya cuma satu : saya IRI!!! *merenggut di pojokan

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.