Perjalanan

Menengok Wajah Terdepan Indonesia di Skouw

Menengok Wajah Terdepan Indonesia di Skouw
skouw
Tampak depan pos imigrasi di Skouw

Akhirnya saya bisa ke luar negeri. Momen pertama ini terjadi di Skouw, perbatasan dengan Papua Nugini yang berjarak sekira 69km dari kota Jayapura.

 

Saya belum pernah ke luar negeri – sebagian dari kalian mungkin sudah tahu. Di usia setua ini belum sekalipun saya menginjak negara lain selain Indonesia. Kenapa? Sudahlah, alasannya tak perlu saya tulis berulang-ulang.

Minggu, 28 Januari 2018 – yang bertepatan dengan ulang tahun wanita tersayang saya – akan selalu saya kenang. Hari itu adalah hari yang spesial, karena hari itu untuk pertama kalinya saya menginjak negara lain selain Indonesia. Spesialnya lagi karena negara itu adalah Papua New Guinea (atau kerap juga ditulis; Papua Nugini).

Sejak pertama menginjakkan kaki kembali di Papua, saya dan rekan-rekan setim sudah berjanji suatu saat nanti akan ke Skouw, perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini yang jaraknya sekisar 69km dari Jayapura. Dengan perjalanan darat, Skouw bisa ditempuh selama lebih kurang dua jam.

Kami meninggalkan Abepura pukul satu siang dengan mobil sewaan. Total ada empat orang di atas mobil dan saya yang menjadi supirnya. Andalan utama kami adalah Google Maps karena meski dua orang dari kami sudah pernah ke Skouw, tapi mereka tidak hapal jalan. Untungnya jalan ke Skouw tidak terlalu rumit, ada banyak penunjuk jalan di pertigaan supaya pengguna jalan tidak bingung. Pun jalanan lumayan bagus, lapang dan licin.

Hanya sekali kami salah jalan, berbelok ke kiri di wilayah Koya yang ternyata masuk ke wilayah pantai rekreasi. Akibatnya kami harus membayar retribusi adat – sesuatu yang lazim di Papua. Satu retribusi adat, satu lagi retribusi liar yang ditagih anak-anak ABG tanpa surat izin atau tiket. Tak apalah, kami jadi tambah pengalaman. Jadi tahu kalau ada pantai bagus tidak jauh dari Jayapura, meski harus merugi Rp.40.000,-.

Skouw
Jarak dari Jayapura ke Skouw

Perjalanan ke Skouw melewati tepian teluk Yotefa dan meniti punggung bukit. Sekilas pemandangan terlihat menarik, khas tanah Papua yang hampir sekujur tubuhnya penuh dengan alam yang indah. Saya tidak bisa khidmat menikmati keindahan alam itu karena harus fokus mengemudi.

“Perbatasan kita menyedihkan, beda jauh sama perbatasan punya Papua Nugini,” kata Afdhal yang datang ke Skouw tahun 2014 lalu. “Malu-malu ki sama negara tetangga,” sambungnya.

Gambaran itu yang terbayang di kepala saya ketika kami semakin dekat dengan Skouw. Namun, semakin mendekati Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, bayangan itu buyar seketika. Beberapa ratus meter sebelum sampai ke pos, pemandangan berbeda langsung terlihat. Jalan dibeton, di kanan jalan ada kios-kios milik warga sementara sebelah kiri ada geliat pembangunan.

“Wuih bedanya mo,” seru Afdhal.

Belakangan saya baru tahu dari laman internet kalau pembangunan itu adalah dalam rangka upaya perbaikan wajah Indonesia di perbatasan. Presiden Joko Widodo lewat Inpres Nomor 6 Tahun 2015 mencanangkan Percepatan Pembangunan Tujuh PLBN Terpadu dan Sarana-prasarana Penunjang di Kawasan Perbatasan. Skouw termasuk salah satunya, di samping tiga perbatasan dengan Timor Leste di Nusa Tenggara Timor, dan tiga lagi perbatasan dengan Malaysia di Kalimantan Barat.

Area yang sedang dibangun rencananya akan dijadikan kawasan terpadu. Akan ada pasar dan pusat perbelanjaan di sana. Pos perbatasan itu sendiri diresmikan tanggal 9 Mei 2017.

Skouw
Bagian belakang pos imigrasi menuju gerbang perbatasan

Pos Lintas  Batas Negara itu memang dipercantik, tujuannya agar perbatasan yang sekaligus wajah depan Indonesia bisa mencerminkan martabat bangsa, kebanggaan, nasionalisme dan harga diri bangsa. Kalau tujuannya memang itu, maka perbatasan Skouw memang berhasil memberikan gambaran yang lebih mentereng dibanding tugu perbatasan Papua Nugini yang sekarang nampak seadanya.

*****

SEBELUM MASUK KE POS PERBATASAN, kami harus melapor dulu di pos jaga. Beberapa orang tentara berseragam berjaga dengan senyum ramah. Pengunjung cukup menitipkan tanda pengenal, baik KTP ataupun SIM. Karena itu hari Minggu, maka pengunjung nampaknya cukup ramai. Ratusan KTP terjajar rapi di kota kayu di atas meja pos penjagaan.

“Dari mana ini pak?” Tanya seorang penjaga berpangkat Kopral Kepala.

“Dari Makassar pak,” Jawab saya.

“Wah, kita juga dari Makassar. Dari Maros, Kariango,” seru seorang penjaga yang lain.

Kami jadi makin akrab, tapi tidak lama karena kami segera beranjak ke bagian dalam. Sesuai tujuan kami.

Kami melewati bangunan besar yang adalah pos imigrasi. Bangunan itu sepi, tidak ada kegiatan di sana. Mungkin karena itu hari Minggu? Entahlah. Dari pos yang megah dan dibangun dengan menonjolkan budaya Papua itu kami terus berjalan ke bagian belakang, menuju gerbang perbatasan. Jaraknya cukup jauh, mungkin sekira 200 meter. Ada juga bangunan karantina di sebelah kanan dan pos penjagaan di sebelah kiri. Tidak jauh dari situ ada juga menara mercusuar yang menjulang. Sepertinya itu bangunan lama yang dipertahankan. Keseluruhan pos perbatasan dan kawasan terpadu itu dibangun di atas lahan seluas 10,7 Ha.

Di ujung jalan berdiri gerbang besar dengan dua pintu. Gerbang itu menghadap ke wilayah Papua Nugini dengan tulisan besar di sisi luarnya: SELAMAT DATANG DI INDONESIA, lengkap dengan lambang Garuda Pancasila.

Di seberangnya berdiri gerbang Papua Nugini dengan pagar memanjang. Di gerbang itu tertera tulisan dalam bahasa Inggris dan bahasa Tokpisin atau broken english yang merupakan bahasa persatuan Papua Nugini. WELKAM LONG PAPUA NEW GUINEA, atau selamat datang di Papua Nugini.

Ini gerbang Papua New Guinea yang sekarang terlihat biasa saja. Kalah mentereng dengan gerbang Indonesia
Skouw
Sebelah kiri gerbang Indonesia, sebelah kanan gerbang Papua New Guinea

Kami berjalan menyusuri pagar itu menuju sebuah bangunan yang ada di selatan yang merupakan pos penjagaan Papua Nugini. Bangunannya sangat sederhana, berbanding terbalik dengan bangunan berfungsi sama di sisi Indonesia. Kami bisa melewati bangunan itu dengan tenang, tanpa pemeriksaan sama sekali dan bum! kami sudah sudah di Papua Nugini.

Bagaimana rasanya berada di luar negeri?

Well, saya harus mengakui kalau saya tiba-tiba jadi norak. Berfoto dengan latar mobil tentara yang berplat Papua Nugini. Tiba-tiba saja saya merasa berada di negara berbeda meski sebenarnya tidak terlalu banyak perbedaan dengan sisi Indonesia. Puluhan wisatawan dari Indonesia juga menyeberang ke Papua Nugini, berbaur dengan orang-orang berkulit hitam dan berambut keriting khas Melanesia. Sulit membedakan mana orang Papua Indonesia, mana orang Papua Nugini.

Tapi tetap saja saya merasa berada di tanah asing.

Beberapa bangunan dari kayu yang merupakan barak tentara terlihat berbeda dengan umumnya bangunan di Indonesia. Beberapa tentara dengan tubuh tegap dan kulit hitam berkeliaran. Seragam mereka berbeda dengan seragam tentara Indonesia. Kalau tentara kita berseragam hijau loreng, mereka menggunakan seragam abu-abu. Seperti seragam tentara Amerika Serikat di Timur Tengah.

Skouw
Pos imigrasi Papua New Guinea, terlihat sederhana dibanding pos yang sama di sisi Indonesia

Tidak jauh dari pagar perbatasan berderet kios milik orang Papua Nugini. Kios itu menjajakan beragam makanan seperti sosis atau kornet, pisang bakar dan beragam minuman. Ada juga beragam kaus bergambar negara Papua Nugini berwarna cerah; merah, kuning, hijau dan hitam. Kios-kios itu sederhana, dari kayu dengan atap seng. Pemiliknya adalah orang Papua Nugini yang sepanjang waktu bercakap-cakap dengan bahasa Tokpisin.

Beratus-ratus tahun lalu mereka dan orang-orang Papua di sisi Indonesia pasti punya nenek moyang yang sama. Hidup dengan tradisi yang sama dan bahkan mungkin dengan darah yang sama. Mereka bersaudara, sebelum kemudian orang Eropa datang dan membangun batas-batas imajiner yang memisahkan mereka. Satu akhirnya masuk ke wilayah Indonesia, satu lagi masuk ke wilayah Papua Nugini. Mereka terpisah, garis batas berdiri di antara mereka yang dulunya mungkin sedarah.

Baca Juga: Garis Batas; Cerita Tentang Ragam Batas Dalam Kehidupan Manusia

Skouw
Warung sederhana milik warga Papua New Guinea

Di belakang warung-warung sederhana itu terhampar Papua Nugini. Kami hanya bisa melihat dari jauh, dari ketinggian setelah membayar Rp.10.000,-. Di bawah sana ada kampung, rumah-rumah panggung dari kayu tertata rapi di tepi pantai. Bangunan itu seperti bangunan-bangunan yang biasa saya lihat di film-film tentang Hawaii. Mungkin karena sebenarnya orang Papua, Papua Nugini, Hawaii punya akar budaya yang mirip. Melanesia.

Kami duduk cukup lama di tepi tebing, membicarakan banyak hal tentang Papua dan Papua Nugini. Di bawah sana ombak bergelung dan jauh di sana seperti ada laguna yang indah. Sayang laguna itu terlalu jauh, meski katanya ada angkutan kota yang bisa membawa kita ke sana. Rupanya kita memang tidak butuh passpor untuk melintas ke wilayah Papua Nugini, bahkan untuk turun ke kampung terdekat. Asalkan tidak lebih dari 24 jam, kata orang.

Skouw
Di bawah sana adalah kampung Papua New Guinea
Skouw
Rumah-rumah khas Melanesia

Pukul empat sore kami meninggalkan pos perbatasan Skouw.

Kalau bangunan megah adalah lambang martabat bangsa, maka Pos Lintas Batas Negara Skouw sudah berhasil. Dia megah, berdiri tegak mentereng membuat pos perbatasan milik Papua Nugini seperti bangunan yang datang dari masa puluhan tahun lalu. Sekarang mungkin gantian orang Papua Nugini yang bergumam; masak pos perbatasan kita cuma begini? Bikin malu.

Semoga saja tampang bermartabat dan mentereng itu tidak berhenti sampai di pos perbatasan saja. Kita memang harus menjadi negeri yang bermartabat, negeri yang mentereng dan menjadi rumah damai buat semuanya. Termasuk buat Papua. [dG]

 

Tips ke Skouw:

  1. Karena tidak ada kendaraan umum ke Skouw, maka moda transportasi paling nyaman adalah dengan mobil atau motor pribadi. Kita bisa menyewa mobil dari Jayapura atau Abepura.
  2. Waktu terbaik untuk ke Skouw adalah di pagi hari sebelum pukul 10:00 WITA sebelum terlalu ramai. Waktu paling ramai mulai pukul 10:00 WITA, utamanya di hari Minggu.
  3. Kalau ke Skouw di musim kemarau, jangan lupa membawa penutup kepala seperti topi, payung atau sapu tangan. Mataharinya galak bok! Plus jangan lupa juga bawa air minum.
  4. Sebelum melewati pos penjagaan di Skouw, pastikan kamu membuka semua jendela mobil (kalau naik mobil). Ini aturan ketika melewati pos penjagaan militer.
  5. Sepanjang perjalanan mampirlah di penjual buah-buahan di tepi jalan di Koya. Buah-buahannya enak, dan di Koya Timur ada penjual tape yang maknyus banget.
Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (3)

  1. Saya cari-cari foto pantai rekreasi di wilayah Koya, penasaran.
    Asyiknya di… jalan-jalan ke luar negeri, betul-betul jalan kaki, tidak naik pesawat.

  2. Dulu sempat dilulas salah satu televisi jika pembangunan perbatasan Indonesia & PNG dilaksanakan, sempat juga memperlihatkan cuplikan menggunakan drone. Dan terlihat megah. Dari dulu sampai sekarang yang terus membuatku teringat tentang perbatasan kedua negara ini adalah garis batasannya nyaris lurus ke bawah, hanya ada sedikit cekungan lebih luas PNG di bagian tengah 🙂

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.