Ketoprak Tobong Di Pinggiran Jaman

Jelang Pentas karya Albertus Widi

Jelang Pentas karya Albertus Widi

Meski terus dilindas jaman, ternyata ketoprak tobong di tepian Jogjakarta masih tetap bergulir. Bahan bakarnya adalah cinta, dengan volume yang sungguh luar biasa.

Malam sudah pekat ketika kami berhenti di sebuah tempat di satu titik di kota Jogjakarta. Tepatnya di daerah Kalasan yang agak jauh dari hiruk-pikuk kota. Meski gelap saya bisa meraba kalau di sekitar kami adalah sawah-sawah dan rumah sederhana para penduduk.

Tempat yang kami datangi adalah bangunan sederhana tanpa dinding. Dari luar memang mirip tempat pertunjukan, tapi sama sekali tidak mendekati bentuk gedung pertunjukan di kota besar. Di bagian depan ada sebuah warung sederhana berpenerangan seadanya. Di dalamnya ada beberapa bapak-bapak yang menyeruput kopi panas dan menjumput beberapa gorengan. Celoteh soal politik dan korupsi memenuhi warung kopi sederhana itu.

Hampir bersisian dengan warung kopi itu ada sebuah loket yang diisi seorang wanita. Para pengunjung harus membeli karcis jika ingin masuk ke dalam gedung pertunjukan. Ada seorang pria berjaket yang duduk di atas kursi besi berkarat yang akan memeriksa tiket sebelum kita bisa masuk ke dalam gedung pertunjukan. Di dalam gedung berderet puluhan kursi, semuanya kursi besi yang sudah berkarat di beberapa bagian. Sebenarnya tidak tepat kalau saya menyebutnya sebagai gedung karena toh tempat itu tak berdinding selayaknya gedung pertunjukan. Hanya deretan kursi besi, tiang besi dan atap berbahan plastik serta panggung sederhana di salah satu ujungnya yang membuat tempat ini bisa disebut gedung pertunjukan.

Malam itu kami diajak mengunjungi kesenian Ketoprak Tobong dari Kelana Bhakti Budaya di Kalasan, Jogjakarta. Kami bukan hanya menonton, tapi sekaligus diajak ke belakang panggung menyaksikan para pekerja seni itu mempersiapkan penampilan mereka. Kami berjalan melintasi panggung hingga tiba di tempat para pemain sedang mempersiapkan diri.

Di bawah bangunan sederhana itu ada beberapa orang pria dan wanita yang duduk melingkari seorang pria. Bohlam kekuningan menyinari mereka yang nampak sedang serius bermusyawarah. Asap rokok sesekali terlempar ke udara menutupi cahaya bohlam. Si pria yang jadi pusat perhatian nampak bersemangat memberikan arahan. Semua dialog berlangsung dalam bahasa Jawa, saya tak paham seluruhnya, pun tak berniat untuk mengganggu mereka.

Orang-orang itu adalah para pemain ketoprak tobong. Setiap menjelang pentas mereka selalu mempersiapkan diri dengan cerita yang akan dibawakan. Tidak ada sutradara utama, semua pemain bisa menjadi sutradara sesuai kesepakatan. Tidak ada naskah yang ditulis oleh penulis skenario, sutradara hanya melemparkan garis besar cerita dan semua pemain bebas menanggapinya, bebas memberikan masukan dan improvisasi.

Musyawarah sebelum tampil

Ketoprak tobong adalah sebuah jenis kesenian tradisional yang aslinya datang dari Jawa Timur. Kata tobong disematkan karena mereka adalah rombongan yang berpindah-pindah selayaknya kaum gipsy di Eropa daratan. Kelana Bhakti Budaya sendiri memang berasal dari Jawa Timur, selama bertahun-tahun mereka pindah dari satu kota ke kota lainnya. Di Kalasan mereka sudah menetap selama 2 tahun, membangun bilik sederhana di belakang panggung sebagai tempat tinggal sementara dan pentas setiap Rabu dan Sabtu malam.

Bahan Bakarnya Adalah Cinta

“Maaf ya mas, bukannya saya porno. Saya ini seniman, seniman itu harus sering ngentu.” Kata lelaki itu. Namanya Sambudi, usianya sudah 47 tahun dengan tampang yang sedikit sangat. Bagaimana tidak sangar, kumis tebal melintang di atas bibirnya, rambutnya dibiarkan panjang hingga hampir menyentuh bokong. Tubuhnya tegap dengan beberapa tatto yang menghiasi lengan dan dadanya. Suaranya berat dengan kalimat-kalimat yang apa adanya tanpa ada saringan. Tak heran kalau kalimat bernada porno itu meluncur begitu saja dari mulutnya.

Pak Sambudi satu dari belasan pemain ketoprak tobong. Selepas briefing dengan pemain lainnya, satu persatu mereka sibuk berdandan sesuai peran mereka malam itu. Pak Sambudi yang kebagian peran sebagai patih dengan segera mengenakan kostum patih. Seorang personil lainnya ikut membantu pak Sambudi mengenakan kostumnya. Mereka memang saling membantu ketika ada personil yang kesulitan.

Merias wajah sebelum tampil

Saling membantu

Tapi tidak semua saling membantu. Sebagian besar persiapan dilakukan sendiri tanpa bantuan kawan, merias wajah misalnya. Pria dan wanita pemain ketoprak tobong itu sibuk merias wajah sendiri. Nampak sekali kalau mereka sudah hapal di luar kepala setiap langkah merias wajah sesuai karakter yang mereka perankan. Tidak perlu seorang make up artist seperti di belakang layar pembuatan sinetron karena mereka semua adalah make up artist yang sudah ditempa pengalaman bertahun-tahun. Dengan lincah tangan mereka menyapukan bedak ke sekujur wajah, disusul dengan pemerah bibir, pemerah pipi dan terkadang kumis buatan sesuai tuntutan peran. Semua dilakukan dengan cepat di bawah siraman cahaya lampu seadanya, benar-benar seniman yang penuh dedikasi.

Dedikasi adalah kata yang tepat menggambarkan keberadaan para pemain ketoprak tobong itu. Bayangkan, untuk sekali tampil mereka hanya mendapatkan bayaran Rp. 5.000,- sampai Rp. 6.000,- tergantung peran mereka. Jumlah yang sangat jauh untuk bisa menutupi kebutuhan hidup. Tak heran, sehari-hari mereka juga mengerjakan pekerjaan lain untuk menopang kehidupan. Ada yang jadi pembantu rumah tangga, membantu petani di sawah hingga pekerjaan-pekerjaan lainnya.

Pak Sambudi dan tattonya

“Saya pernah kerja jadi tukang cukur dan tukang bengkel.” Jawab pak Sambudi ketika kami bertanya perihal tatto bergambar gunting dan obeng di tangannya. Itulah pekerjaan yang dia lakukan sehari-hari demi menutupi kebutuhan hidupnya.

Dedikasi dan cinta, tanpa dua kata itu mustahil mereka bisa bertahan setiap Rabu dan Sabtu malam untuk tampil di atas panggung. Penonton tak selalu banyak, kadang hanya satu-dua kursi yang terisi. Bila beruntung, kursi di dalam gedung bisa terisi lebih dari setengah. Tapi mereka tidak pernah ambil pusing. Tak ada penontonpun mereka tetap akan naik ke panggung dan mementaskan lakon yang sudah disepakati bersama. Adakah cinta yang lebih besar dari itu? Cinta yang tak bersyarat, cinta yang tak kenal nilai rupiah atau silaunya popularitas.

Ketoprak tobong nasibnya hampir sama dengan banyak kesenian tradisional lainnya, hidup di pinggiran jaman dan siap terlindas roda modernisasi. Hanya orang-orang yang punya cinta berlebih saja yang rela meluangkan waktu, tenaga dan mungkin malah uang mereka untuk menjadi penjaga kesenian tradisional itu. Mereka tak pernah bertanya berapa honor yang akan mereka terima, merekapun tak pernah bertanya akan sekaya apa mereka nantinya. Tapi, jangan tanyakan cinta mereka pada kesenian tradisional itu. Mereka hidup untuk ketoprak dan mungkin akan mati untuk ketoprak. Di antaranya ada cinta yang jadi bahan bakar kehidupan mereka.

Foto Jelang Pentas karya Albertus di Dji Sam Soe Mahakarya Indonesia mungkin akan jadi saksi tentang dedikasi orang-orang yang mencintai kesenian tradisional Indonesia, kesenian yang sesungguhnya adalah mahakarya negeri ini. Lahir dari perjalanan panjang tradisi suku-suku yang ada di Indonesia, mahakarya yang penuh dengan pesan penting kehidupan. Mahakarya yang tanpa peranan orang-orang penuh cinta itu kelak akan habis dan lenyap terhapus jaman. Hingga kita hanya akan tahu ceritanya dari dokumentasi yang tersisa. Anda tidak takut bayangan kelam itu akan jadi kenyataan? [dG]

About The Author

2 Comments

  1. didut
    24/10/2013
  2. Prima Hapsari
    27/07/2015

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: