Mau Ke Makassar? Perhatikan Kata dan Partikel Yang Mungkin Membingungkan Ini

logat Makassar
Ilustrasi

Sulawesi Selatan terdiri dari tiga suku besar; Bugis, Makassar dan Toraja. Ketiga suku besar itu masing-masing punya sub suku lagi yang terkadang punya bahasa berbeda-beda. Bayangkan, ketiga suku besar itu saja bahasanya sudah beda, apalagi ditambah sub sukunya. Misal, orang Gowa dan orang Jeneponto masih satu suku; Makassar. Tapi, orang Jeneponto punya bahasa sendiri yang bernama bahasa Konjo. Beberapa bahasanya sama sekali  tidak sama dengan bahasa Makassar yang digunakan oleh orang Gowa.

Baca juga postingan tentang bahasa gaul di Makassar.

Bahkan ada satu kabupaten bernama Enrekang yang setidaknya punya tiga bahasa yang benar-benar beda. Enrekang bagian selatan yang dekat dengan Bugis punya bahasa yang mirip bahasa Bugis. Lalu Enrekang bagian tengah punya bahasa sendiri, sementara Enrekang bagian utara punya bahasa yang mirip dengan bahasa Toraja. Padahal mereka masih satu kabupaten loh!

Pusing? Oh tentu saja.

Keragaman bahasa daerah yang sungguh berwarna itu membuat bahasa Indonesia menjadi lingua franca yang sangat penting. Tanpa bahasa Indonesia, sulit bagi orang Sulawesi Selatan untuk saling berkomunikasi lintas daerah.

BACA JUGA: Bahasa Gaul Makassar, Dari Pace Sampai Blender

Nah karena banyaknya ragam bahasa daerah itu maka perlahan-lahan bahasa Indonesia yang digunakan pun mendapatkan pengaruh. Entah dari kata-kata ataupun dari partikel. Akhirnya terbentuklah bahasa Indonesia logat Makassar.

Berikut ini setidaknya ada beberapa kata dan partikel dalam bahasa Indonesia logat Makassar yang paling penting dihapal oleh siapapun yang hendak datang ke Makassar. Setidaknya supaya Anda tidak bingung dan lost in translation.

Kita’

“Tadi gue bingung. Supir taksi yang bawa gue nanya,’kita mau turun di mana?’. Lah ngapain dia nanya coba? Kan cuma gue aja yang mau turun, dia gak ikutan,” Seorang kawan dari Jakarta menceritakan kejadian yang dianggapnya aneh di atas taksi.

Mendengar ceritanya saya malah tertawa ngakak. Jelas saja dia salah mengira, karena dia belum tahu tentang kata kita’ dalam bahasa sehari-hari orang Makassar. Disangkanya kita’ (dengan penekanan di bagian belakang) itu sama dengan kita yang adalah pengganti orang pertama jamak.

Kita’ dalam bahasa Indonesia logat Makassar berarti ‘Anda’, penghalusan dari kata ‘kamu’. Kalau di Jawa setara dengan kata ‘sampeyan’ atau ‘panjenengan’. Jadi kalau Anda ke Makassar dan bertemu dengan gadis cantik yang bertanya,” kita’ mau tidur di mana nanti?”, jangan ge-er dulu. Dia bukan mau mengajak Anda tidur bersamanya, tapi bertanya Anda mau tidur di mana?

Cerita lucu lainnya adalah seorang kawan yang bernama Kiky (dengan panggilan Ki’). Ketika pertama tiba di Makassar dari Sorong dan menunggu kawan di bandara, seorang perempuan tua bertanya dengan sopan, “Mau ke mana ki’?” Sang kawan tentu saja heran, baru tiba di Makassar tapi sudah ada orang yang tahu namanya? Mungkin saat itu dia merasa setara dengan Selena Gomez, dikenal banyak orang.

Belakangan dia geli sendiri ketika tahu kalau ternyata kata ki’ yang diucapkan si ibu adalah penyederhanaan dari kita’. Si ibu bertanya dengan sopan; Anda mau ke mana?

Sebentar.

Buat orang SulSel, kata sebentar tidak melulu berarti durasi yang singkat. Entah awalnya bagaimana, tapi kata sebentar buat kami juga berarti sama dengan ‘nanti’. Jadi kalau ada yang bilang; kita ketemu sebentar malam, maka itu berarti; kita ketemu nanti malam. Bukan berarti; kita bertemu sebentar saja nanti malam.

Paham ya? Lanjut.

Anu.

Ini juga entah bagaimana awalnya sampai kata ‘anu’ menjadi sangat akrab dengan orang SulSel. Kalau dalam KBBI, kata ‘anu’ dideskripsikan sebagai: yang tidak disebutkan namanya (orang, benda, dan sebagainya), maka dalam bahasa Indonesia logat Makassar, kata ‘anu’ digunakan sebagai pengganti sesuatu yang sudah sama-sama dimengerti.

Hebatnya lagi, kadang kami seperti berbicara dengan bahasa kode tertentu ketika menggunakan ‘anu’. Tidak perlu penjelasan, kami sudah sama-sama mengerti tentang ‘anu’ yang dimaksud lawan bicara kami.

Percayalah, ini adalah sesuatu yang instingtif.

Mau membuka misteri tentang anu? Silakan baca di sini

Partikel Mi, Ji, Pi, Ki

Nah ini dia pamungkasnya. Partikel yang selalu ada dalam setiap kalimat yang kami ucapkan dan selalu sulit untuk kami terangkan. Sederhananya sih seperti ini:

“Mi” digunakan tuk menunjukkan penegasan tentang kata di depannya bahwa kegiatan tersebut telah terlaksana, atau boleh dilaksanakan. Fungsi lainnya menegaskan bahwa sesuatu itu telah terjadi.

Contohnya: Ambil mi (ambil saja), besar mi (sudah besar), sembuh mi (sudah sembuh).

“Ji” digunakan untuk penekanan hanya, jika, cuma, dan penekanan penguat argumen.

Contohnya: Satu ji (hanya satu), kecil ji (kecil koq).

“Pi” digunakan untuk penegasan kata di depannya bahwa kegiatan itu akan dilakukan, atau kondisi yg memenuhi syarat, atau ketika memberi arahan tentang alasan pengalihan subyek atau objek.

Contoh penggunaan: Besok pi (besok saja), kurang satu pi (kurang satu lagi), nanti pi (nanti saja).

“Ki” digunakan untuk menegaskan sesuatu di depan partikel, bisa ukuran, bisa durasi.

Contohnya: besar ki (terlalu besar), lama sekali ki (terlalu lama).

Nah sebagai informasi awal, setidaknya itu dululah kata-kata dan partikel yang harus dipelajari sebelum Anda bertandang ke Makassar. Teorinya sih gampang, tapi yakinlah kalau praktiknya sangat susah, utamanya penempatan partikel.

Dulu saya punya bos yang sudah tinggal di Makassar puluhan tahun, beliau orang Surabaya. Meski sudah puluhan tahun tinggal di Makassar, beliau masih juga sering salah penempatan partikel dan salah memahami logat Makassar.

Misalnya, suatu hari beliau berkata, “Ah, jangan ji”. Tentu saja partikelnya salah, harusnya, “Ah, jangan mi”. Bedanya dengan anak asli Makassar, mungkin baru tiga tahun sudah pandai menempatkan partikel di kata yang tepat.

Jadi? Kapan ke Makassar? [dG]

Lebih lengkap bisa dilihat di sini:

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

27 comments

  1. Jangan sampai terbalik-balik. Lucu ki itu kedengarannya 😀

    Btw di kampungnya ibu mertua, di daerah Pinrang bahasanya bahasa Malimpung, beda sekali dengan bahasa Bugis. Katanya mirip-mirip dengan bahasanya orang Enrekang.

    Di Sorowako, ada bahasa Dongi, bahasa khas orang asli Sorowako.

    Kalau tidak ada bahasa Indonesia, pasti pusing komunikasinya orang2 Sulawesi Selatan hehehe

  2. “Mungkin saat itu dia merasa setara dengan Selena Gomez, dikenal banyak orang.”

    Hahahaha….mungkin saya Selena Gomez yg tertukar.
    Itu pengalaman yg menggelikan sekaligus memalukan. Hihihi…

  3. Beragam banget ya sukunya ditambah bahasa daerahnya yang beragam pula. Sepertinya seru banget bisa ke Makassar nih, semoga suatu saat saya bisa ke Makassar 🙂 Amiin

  4. Di Luwu juga (sebelum dimekarkan) bahsanya bahasa Tae’ tapi banyak juga yang beda 😀 Di selatan, bahasanya lebih ke arah Bugis dengan nada agak mendayu-dayu sementara di utara mirip bahasa Toraja, keras dan agak tinggi nada suaranya. Adalagi bahasa Padoe sama yang di Sorowako, sama sekali beda 😀

  5. Orang Bulukumba pernah berkata “Ara Ko?” yang kalau ngga salah, mereka menerjemahkan artinya sama dengan “Apa Kareba”-nya orang Makassar. Entah bener atau ngga, tapi Daeng mungkin bisa bantu jawab.

    Terus terang, Mi, Ji, Pi, Ki ini yang paling membingungkan dan sampai sekarang saya ngga bisa ngerti-ngerti, karena menurut saya nggak ada bentuk bakunya. hahaha.

    Tadi sekilas saya baca penjelasan Daeng, Mi itu mungkin sejenis Present Continuous, Pi itu sejenis Present Perfect. Tapi sehabis saya baca contohnya, kayaknya dalil yang saya ciptakan ini nggak tepat deh. Saya cuma ingat orang Mamasa pernah menuliskan spanduk “Altec, mi!” yang kalau saya ingat-ingat sekarang, mungkin artinya “Altec, saja!” *Altec-merek cat-red.

    Ah, kangen dengan SulSel. Sudah lama nggak kesana. Mungkin saya mau kesana lagi, cuma memang harus direncanakan 😀

    Anyway, Daeng ini salah satu blog yang saya ikuti yang masih rajin dan rutin update. salut, Ki! *entah bener apa ndak* hehehe.

    1. Oh, satu lagi, orang Pinrang pernah berkata, Orang Sidenreng bahasanya kayak mau ngedangdut.

      Ini dikatakan oleh seorang Ibu di Terminal Calaccu, Senkang waktu saya lagi mau pete-pete yang menuju Pinrang 😀

    2. Lomaarrr!!!! hahaha
      kapan dirimu ke SulSel lagi? kali ini harus ketemuan, siapa tahu bisa jalan bareng.

      Iya, emang agak ribet sih penempatannya. Walaupun sudah dijelaskan gitu tetap aja penempatannya gak semudah teori hahaha
      kata-kata terakhir agak kurang tepat, harusnya: salut ka (saya salut)

      bingung kan? hahaha

      1. bingung, Ki! *makin salah*

        orang Makassar langsung mengernyit karena ngga pas :))

        Hehehe…pasti! nanti kalau ke SulSel lagi pasti saya akan kabari. 😀

  6. Gin aja,…… dari pada bingung , dan agar bisa praktis dalam berbahasa, dan supaya tidak menimbulkan intrepretasi ganda yang bisa memicu kesalah-pahaman yang berujung masalah, mendingan kita lestarikan dan gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, yang dijamin memuat halus lembutnya berbahasa. Come on just go for it……..

    1. Ya gak gitu juga..
      tiap daerah punya kekhasannya sendiri-sendiri. berbahasa Indonesia yang baik dan benar perlu kalau untuk urusan formil apalagi dalam tulisan. tapi masak mau dipaksakan untuk kegiatan sehari-hari?

  7. Memang SulSel sangat kaya akan ragam bahasa daerah dan dialek, sekedar bayangan saya tinggal di salah satu daerah SulSel tepatnya di Kab. Luwu Utara (Masamba) disebuah desa yg termasuk sebagai Desa terluas diKabupaten “Ki dan termasuk Desa yg terpadat “Mi penduduknya.
    Didesa ‘ki saja na ada kapang (mungkin) 5 bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakatnya sebagai bahasa sehari-hari :
    1. Bahasa Tae (Mirip Bahasa Toraja tapi tdk sama ji semua)
    2. Bahasa Luwu (lebih banyak digunakan oleh masyarakat Kota palopo didaerah pesisir)
    3. Bahasa Limola ( Bahasa yg sampai sekarang ini masih dianggap sakral, konon utk mempelajari Bahasa ini tidak boleh ditulis, dan ada yg mengatakan bahwa Bahasa inilah yg sebenarnya digunakan dalam Bahasa Lontara (Entahlah))
    4. Bahasa Rampi (Bahasa salah satu suku di Luwu Utara)
    5. Bahasa Rongkong (Bahasa salah satu suku di Luwu Utara)
    dan yang pastiMI tidak ketinggalan Bahasa Bugis, Duri, Makassar, Dll….

  8. Ada juga pengalaman teman yg lucu:
    Dengar kata bunuh lampu, mereka kaget lampu kok dibunuh (kayak manusia)
    Trus teman sempat heran bolu dimakan sama nasi.
    Hahaha….

  9. Hahahaha hahahaha ha-ha-ha ballasi jawaia…..ampunan sebulan di sana dibodo2ika sama temang2. Ededwh lambat lain mengertija juga klo bahasa lain lebih menarik untuk dipelajari. Love Sulsel love PSM divisi JATIM

  10. Hahahaha…..bagus…
    Saya juga pernah terbingung bingung pemakaian kata “kita” selama hidup di makassar Pelita bbrp tahun lalu…

    Wkkwkw..anda menuliskan dengan sangat baik dan segar…
    Keren

    1. kalau di kota sih ada benteng rotterdam, pantai losari, museum kota, pulau samalona, pulau kodingareng keke. tapi sebenarnya lebih banyak lagi di luar kota Makassar. kalau di kota mending kulineran aja

  11. tabe daeng, sa lagi dekat dgn cwo mksr makanya mau belajar logat makasar tp asli susah daeng, sudahmi kucoba na selalu salah-salah jadi bingungki, hiihiisalam kenalji daeng dr papua,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.