Jalan Sama Fotografer Itu…

fotografer

Iqbal si fotografer

Ini kisah jalan hampir dua minggu bersama fotografer. Di situ saya lihat sendiri bagaimana beratnya proses menciptakan satu foto bagus.

“PAK, SAYA BOLEH NAIK KE SITU?” Tanya Iqbal sambil menunjuk kuda-kuda di atas kepala kami.

Malam itu kami sedang bertamu ke rumah pak Hasan, kepala desa Koto Teguh, Jangkat Timur, Merangin, Jambi. Kami sedang melakukan pemotretan berkaitan tugas yang membawa kami melintasi Jambi dan Sumatra Barat itu.

Rumah pak Hasan seperti layaknya rumah Melayu, berbentuk rumah panggung dari kayu. Tidak ada plafon di lantai duanya, kita bisa melihat langsung kuda-kuda yang melintang sepanjang kurang lebih 6 meter di atas ketinggian sekitar 3 meter dari lantai.

“Iyo, naiklah,” kata pak Hasan dengan ramah.

Wajah Iqbal berseri-seri, seperti seorang anak kecil yang diperbolehkan mengambil mainan. Dia segera beringsut ke dekat dinding rumah, naik ke pegangan tangga lalu dengan gesit berpindah ke lemari kayu berjendela kaca. Sedetik kemudian dia sudah duduk di kuda-kuda kayu berukuran 6x12cm itu.

“Asu ini anak!” Kata saya mengumpat dalam hati. Tidak benar-benar mengumpat sebenarnya, tapi lebih kepada kagum. Saya sendiri sempat kuatir ketika melihat dia bergerak dengan lincah naik ke kuda-kuda itu. Saya kuatir kameranya akan jatuh dan rusak, bukan kuatir dianya yang akan celaka.

“Kuat ji ini pak?” Tanya Iqbal ketika sudah berada di atas kuda-kuda.

Iyoo, kuat lah. Kau naik enam orang juga dak apo itu,” kata pak Hasan meyakinkan.

Baiklah, kata saya dalam hati. Saya sudah sedikit tenang dengan jawaban pak Hasan. Bagaimanapun saya kuatir juga kalau kuda-kuda itu patah. Alamat cilaka buat kami. Kerjaan terganggu, rusak pula rumah orang.

Kemudian pemotretan dilanjutkan.

“Pak, agak ke samping ki sedikit pak. Jangki lihat ke sini,” kata Iqbal memberi perintah dengan logat Makassarnya dari atas kuda-kuda. Iqbal yang berjongkok di atas kuda-kuda itu mengingatkan saya pada ayam yang tidur di malam hari.

Bertengger seperti ayam yang tidur di malam hari

Saya menerjemahkan perintahnya ketika melihat pak Hasan dan beberapa bapak lainnya agak kebingungan. Maklum, di manapun dia berada Iqbal tetap setia dengan logat Makassarnya. Sesekali saja dia mencoba berbicara dengan menghilangkan logat khasnya.

Jepret! Jepret! Jepret!

Cukup lama juga dia di atas sana, mencari sudut yang pas dan sesekali memberi perintah kepada para “model-model”-nya di bawah. Dengan sabar “model-model” itu menuruti perintah Iqbal. Sampai kemudian dia berucap, “Oke, mantap pak.”

Kalimat itu penanda sesi foto dari atas kuda-kuda sudah berakhir. Iqbal beringsut turun dari kuda-kuda, beberapa sarang laba-laba berpindah ke kepala dan bahunya.

“Bagaimana? Mantap?” Tanya saya.

“Iyye, mantap mi Daeng,” Jawabnya.

Alatnya Cukup Bikin Bahu Pegal

IQBAL SEORANG FOTOGRAFER, sehari-harinya bekerja sebagai jurnalis foto untuk sebuah media nasional. Selain sebagai jurnalis foto, dia juga rajin berkelana, sekadar berwisata sambil mencari objek yang menarik. Seringkali dia memenangkan lomba foto dengan beragam tema, tapi tema kesukaannya adalah human interest.

Selama 13 hari kami berjalan bersama, melintas dari Muaro Bungo di Jambi, menuju Merangin, Kerinci, lalu masuk ke Solok Selatan di Sumatra Barat hingga berakhir di kota Padang. Kami berdua berada dalam salah satu tim yang direkrut untuk penyusunan buku foto. Karena namanya buku foto, maka Iqbal adalah tokoh utamanya. Saya hanya menjadi pendampingnya saja. Mengurusi administrasi, logistik, akomodasi, transportasi, membuat jadwal perjalanan hingga menghubungi narasumber. Saya juga harus memastikan dia bisa bekerja dengan nyaman.

Pokoknya kenyamanan dan kelancaran dia bekerja adalah tujuan utama saya. Yaah selain kenyamanan saya juga tentunya, karena saya juga ikut bekerja bersama dia. Ha-ha-ha.

Selama hampir dua minggu jalan bersama Iqbal, akhirnya saya jadi tahu betapa sulitnya pekerjaan seorang fotografer. Sulit dan berat.

Mulai dari alat. Seorang fotografer profesional biasanya akan membawa lebih dari satu kamera. Satu sebagai kamera utama, satu lagi sebagai cadangan. Kedua kamera itu tentunya kamera profesional, bukan kamera kelas medium apalagi pemula. Nah kamera seperti itu biasanya beratnya juga naudzubillah. Satu body tanpa lensa saja sudah cukup mampu membuat bahu butuh dipijat, apalagi dua.

Kalian tahu beratnya Canon 5D atau Nikon D610? Lumayan bikin pocong terbirit-birit kalau kena lempar.

fotografer

Begini penampakannya ketika beraksi

Itu baru kamera, belum lensa.

Fotografer profesional pasti bekerja dengan lebih dari satu lensa, karena kebutuhannya juga banyak. Lensa fix untuk foto portrait, lensa wide untuk mengambil foto panorama dan lensa tele untuk menangkap objek yang jauh. Tiap-tiap lensa punya berat yang berbeda. Lensa fix mungkin tidak seberapa berat, lensa wide nah ini mulai deh agak berat, apalagi sekelas lensa ring merahnya Canon. Kalau lensa tele tidak usah saya ceritakan ya? Beratnya cukup untuk dijadikan pengganti dumbel biar otot bisep mencuat.

Baca Juga: Mencoba Lensa Lebar Murah Dari Canon

Selain dua yang penting itu, ada juga lampu flash. Saya baru sadar kalau fotografer profesional ternyata membawa lebih dari satu lampu flash. Ini tentu dibutuhkan untuk menciptakan efek yang sesuai keinginan dalam situasi tertentu. Misalnya ketika matahari terlalu terang sehingga membuat wajah subjek jadi terlalu gelap karena tertimpa bayangan benda lain, atau ketika mengambil foto di dalam ruangan dengan cahaya yang temaram. Dua flash meski tidak terlalu berat, tapi lumayan mengambil tempat.

Terakhir, tentu saja tripod. Ada momen ketika fotografer butuh sandaran hati, eh sandaran buat kamera atau flash-nya. Di sinilah tripod berperan. Kalau butuh dua lampu berarti butuh dua tripod. Kalau tidak ada tripod paling tidak fotografer butuh tongbro untuk menempatkan flash di titik yang pas.

“Bro, tolong bro,” alias pertolongan orang lain untuk memegang flash.

Fotografer Itu Kadang Memang Kurang Ajar.

SUDAH BISA MEMBAYANGKAN bagaimana repot dan beratnya membawa alat-alat foto? Baik, sekarang kita pindah ke bagian teknis pengambilan gambar.

Untuk mendapatkan satu foto yang bagus, ternyata butuh usaha yang luar biasa. Kalau bicara momen maka yang dibutuhkan adalah keberuntungan dan kejelian. Tapi kalau bicara foto yang disiapkan (setting), maka usaha tambahan juga dibutuhkan.

Usaha tambahan itu apa? Pertama, meyakinkan subjek agar mau bergaya di depan kamera dalam waktu yang tidak sesingkat-singkatnya. Gayanya juga beragam, tapi yang jelas bukan gaya berdiri tersenyum lebar, memonyongkan bibir dan membuat tanda peace dengan dua jari.

Bukan, bukan begitu!

Karena yang jadi subjek adalah warga desa dengan beberapa keberhasilan mereka, maka gaya foto tentu harus dibuat senatural mungkin. Mereka akan diminta untuk bergaya sesuai profesi mereka, biasanya lengkap dengan alat-alat kerja mereka. Kalau petani berarti bersama cangkul dan teman-temannya, kalau nelayan berarti bersama jala dan perahunya.

Kostum juga harus diperhatikan, jangan sampai mereka terlalu percaya diri dan datang dengan kostum terbaiknya. Alih-alih menggambarkan diri sebagai petani, malah menggambarkan diri sebagai undangan acara perkawinan anak pak Camat.

“Duh Bal, dia pakai batik lengan panjang. Bagaimana mi ini?” Saya berbisik ke Iqbal ketika seorang narasumber kami datang dengan batik lengan panjang.

Beliau salah menafsirkan permintaan kami. Beberapa menit sebelumnya dia datang dengan kaos oblong dan jaket kulit pembalap. Ada logo sebuah merek ban di jaketnya, besar sekali dan tidak mungkin ditutupi. Kami lalu memintanya untuk pulang dulu, berganti pakaian dengan pakaian yang biasa saja. Mungkin karena beliau pikir akan difoto, dikeluarkannya pakaian terbaiknya. Batik lengan panjang dengan kopiah hitam, sangat berwibawa.

Baca juga: Pilih Canon Atau Nikon?

“Nda apa-apa ji Daeng, kan dia tokoh masyarakat,” kata Iqbal.

Saya tahu dia tidak tega untuk meminta si bapak berganti pakaian lagi. Kami tidak sekurang ajar itu.

Soal kurang ajar, tidak sekali dua kali saya merasa betapa kurang ajarnya kami kepada para subjek foto.

Bayangkan, kadang mereka diminta Iqbal untuk berpose di panas terik, di tengah semak, di tengah dingin malam, berjongkok, menengadah, menaikkan tangan dan bermacam-macam pose lainnya dalam waktu yang lama. Sekali waktu seorang subjek foto kami bahkan meminta ijin mengganti posisi karena kakinya keram. Duh, sungguh fotografer yang kurang ajar.

“Tahan pak ya, sekali lagi pak. Tahan,” selalu itu yang diucapkan Iqbal, seolah-olah memberi harapan kepada si subjek  kalau siksaan bergaya itu akan segera berakhir. Tapi itu hanya harapan palsu karena bermenit-menit kemudian si subjek masih harus berdiri atau jongkok dengan gaya berbeda.

Tahan pak ya, sekali lagi

Sering pula saya lihat raut muka subjek foto kami berubah, dari awalnya cerah hingga pelan-pelan mulai seperti orang menggerutu. Capek dan bosan pastinya.

“Terima kasih banyak pak/bu. Maaf ya sudah merepotkan,” permintaan maaf itu selalu saya ulang setiap sesi foto selesai dan wajah lega terpampang jelas di wajah subjek foto kami.

Pfiuhhh, syukurlah. Mungkin itu yang diucapkan si subjek foto di dalam hatinya.

Saking kurang ajarnya, suatu waktu Iqbal bahkan sampai naik ke meja rapat di ruangan asisten bupati. Demi mendapatkan sudut yang bagus, dia tidak segan-segan naik ke atas meja rapat. Sebelumnya dia tidak lupa meminta ijin yang segera diiyakan si bapak subjek foto kami.

Iyo dak apo. Punyo negaro juo,” kata si bapak.

Sampai harus naik ke atas meja!

Kalau Perlu Tidur Di Tanah.

KEREPOTAN BERIKUTNYA dari fotografer adalah ketika dia harus mengambil posisi tidak wajar untuk mendapatkan sudut gambar yang bagus.

Saya tidak bisa menahan tawa ketika tiba-tiba Iqbal menjatuhkan badannya ke tanah, tidur telentang dan menghadapkan kameranya ke atas, ke subjek fotonya. Dia sama sekali tidak berpikir kaosnya akan kotor kena tanah, tidak ada kamus seperti itu.

fotografer

Kalau perlu sampai tidur di tanah

Berkali-kali dia mengambil posisi yang tidak umum, termasuk adegan naik ke kuda-kuda rumah itu.

Suatu kali dia bahkan hampir membahayakan nyawanya ketika dia naik ke atas motor yang sedang diparkir di atas kedua standarnya. Ketika asyik memotret, ternyata motor itu bergerak. Tanah tempatnya berpijak basah dan agak lembek, akibatnya motor itu tidak stabil dan dengan terpaksa jatuh tertidur. Iqbal yang berdiri tegak sambil memotret di atasnya juga ikut jatuh. Untung saja dia tidak celaka, kameranya pun tidak terganggu.

Terakhir, jalan sama fotografer itu membuat perjalanan kami jadi jauh lebih lambat. Sering sekali kami sedang asyik-asyik mengukur jalan ketika tiba-tiba dia berseru ke supir kami, “Bang, bentar bang. Berhenti sebentar bang,”

Kalau tiba-tiba dia minta berhenti, berarti ada objek yang bagus

Entah karena dia mendapati pemandangan yang menakjubkan atau ada adegan yang layak untuk difoto. Masalahnya, fotografer seperti Iqbal tidak memotret semenit-dua menit. Dia butuh bermenit-menit memotret, kadang sampai harus mengganti lensa. Ketika memotret orang panen misalnya, dia juga bukan tipe yang datang dan langsung foto. Dia akan memulai dengan mengobrol dulu, lalu meminta ijin untuk memotret. Lama bok!

Saya juga biasanya ikut memotret atau merekam video, tapi tidak lama. Asal sesuai standar Instagram atau Facebook, ya sudah. Cukuplah.

Dia memotret, saya cukup ber-selfie saja

Bagaimana? Tetap Mau Jadi Fotografer?

DUA MINGGU JALAN BERSAMA IQBAL membuat saya merekonstruksi ulang keinginan saya menjadi fotografer. Ternyata berat, bukan hanya berat di alat tapi berat di proses. Apalagi fotografer jurnalis itu juga dituntut punya insting kuat membaca situasi, harus pula punya kemampuan untuk menjalin relasi yang bagus dengan subjek atau orang lain. Bukan cuma datang, foto, ketawa-ketiwi lalu pergi.

Berat memang, tapi kenapa rasanya justru menantang ya?

Hampir dua minggu jalan bersama Iqbal, saya malah mendapatkan ilmu-ilmu baru. Ilmu-ilmu yang tidak secara langsung diturunkan Iqbal, tapi saya peroleh dari melihat proses dia mengambil gambar. Hasilnya? Pulang dari Sumatra saya mampir Jakarta membeli trigger untuk flash. Siapa tahu di proyek berikutnya saya bukan sekadar jadi pendamping dan penulis lagi, tapi juga sekaligus jadi fotografer. Tiga pekerjaan sekaligus! Ha-ha-ha-ha.

Oh ya, satu lagi yang ditularkan Iqbal selepas perjalanan 13 hari di Sumatra itu. Sekarang saya sudah mulai mencangklong juga, sama seperti dia!

Ah, jalan sama fotografer itu memang…. Yah, begitulah. [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

19 Comments

  1. Dewi Rieka
    16/11/2017
  2. Zilqiah angrainj
    16/11/2017
    • Daeng Ipul
      16/11/2017
  3. Nasirullah Sitam
    16/11/2017
    • Daeng Ipul
      16/11/2017
  4. Eryvia Maronie
    16/11/2017
    • Daeng Ipul
      17/11/2017
  5. tari
    16/11/2017
  6. Afat
    16/11/2017
  7. Adityar
    17/11/2017
    • Daeng Ipul
      17/11/2017
  8. deddyhuang.com
    17/11/2017
  9. Ammar dentaal
    20/11/2017
  10. Lianawati
    06/12/2017
    • Daeng Ipul
      10/12/2017
  11. M. Moko
    09/12/2017
    • Daeng Ipul
      10/12/2017

Add Comment