Menikmati Semarang Dengan Cara Berbeda (Bag.1)

Fam Trip Blogger 2017

Ini motocross yang kami pakai.

Ini pengalaman pertama saya naik motocross. Olahraga paling ekstrem yang pernah saya lakukan paling hanya bersepeda di pegunungan dan bermain dam di dalam kelas. Iya, bermain dam di dalam kelas saat pelajaran berlangsung itu olahraga ekstrem loh. Kedapatan guru, berarti siap-siap menerima hukuman diusir dari kelas.

NGENGG! NGENGG!

Suara knalpot motor yang cempreng dengan oktaf tinggi yang bisa membuat juri Indonesian Idol menutup kuping itu memenuhi udara. Satu per satu peserta berangkat dari garis start menuju garis finish di tepi waduk Jatibarang. Di sepanjang jalan warga kampung menatap kami dengan wajah kasihan, sebagian dengan wajah heran.

“Kasihan orang-orang kota ini. Jarang piknik,” mungkin itu yang ada di kepala mereka.

Tapi kami menebalkan muka. Dengan gagahnya kami menerobos jalanan kampung yang rata, lalu berbelok ke arah makam dan terus ke arah kebun hingga kemudian berhenti karena bingung.

“Ini bener gak sih lewat sini?” Tanya Arya yang ada persis di depan saya.

“Yah..mana saya tahu?” Saya pun kebingungan.

Kami benar-benar tersesat, bahkan seorang polisi pengawal yang juga ikut bermotocross juga ada di belakang kami, sama tersesatnya.

Loh, tak kira mas ini (sambil menunjuk ke saya) warga sini, makanya ya aku ikutin,” katanya ketika kami sudah selesai bermain Trabas.

Saya dikira warga lokal! Baiklah, ternyata kemampuan saya nge-blend masih sangat bagus.

Kebingungan kami terobati ketika akhirnya seorang pemandu tiba. Rupanya jalan kami sudah benar, hanya saja bayangan bahwa jalanan seharusnya rata dan licin itulah yang membuat kami bingung. Padahal namanya motocross, jalanan yang dipilih tentu saja bukan jalanan yang rata. Justru semakin ekstrem semakin seru.

Kami akhirnya bisa berkumpul dengan sehat dan selamat di garis finish, di tepi tebing yang menampakkan waduk Jatibarang di bawah sana. Tawa-tawa memenuhi udara, keluar dari mereka yang geli mengingat pengalaman seru barusan. Kami tidak terlalu lama di sana, karena selanjutnya kami harus kembali ke desa, ke titik awal kami tadi.

Perjalanan kembali ke desa sedikti lebih ringan karena kami mengambil jalan memutar. Meski begitu harus saya akui rasa pegalnya tetap berbekas sampai dua hari setelahnya. Kalau anak-anak Kelas Inspirasi punya motto: sehari mengajar, seumur hidup menginspirasi, maka hari itu saya membuat motto baru: sehari bermotocross, tiga hari pegalnya masih terasa.

Pegal, tapi seru!

Acara di Jatirejo dituntaskan secara adat. Bergelas-gelas es kolang-kaling dan jahe hangat dihidangkan, pun dengan beragam gorengan yang tak menunggu waktu sebelum disantap manusia-manusia yang keletihan itu.

Menjelang pukul 17:00 WIB kami meninggalkan Jatirejo, bersiap menuju Hotel Pandanaran, tempat kami menginap selama pelaksanaan acara Fam Trip Blogger. Malam harinya kami dijadwalkan makan bersama di Hotel Pandanaran sebelum berlanjut ke Balaikota, menghadiri puncak acara ulang tahun ke 470 kota Semarang.

Nasi Branjangan dan Konser di Balaikota.

“Acaranya di lantai lima,” Kata Lenny, salah seorang peserta Fam Trip Blogger 2017 yang kami temui di lantai satu. Saya dan Wira Nurmansyah tersesat ke lantai satu, padahal acara makan malam diadakan di lantai lima. Ternyata Lenny pun sama. Bertiga kami lalu menuju ke lantai lima.

Sebuah meja ditaruh memanjang di sebuah ruangan di lantai lima. Di atasnya ada hamparan daun pisang yang jadi alas beragam makanan. Ada nasi tentu saja, lalu sayuran jenis urap, kemudian beragam lauk dari ayam, ikan wader, tempe, tahu dan telur serta tentu saja kerupuk. Semua dihampar begitu saja di atas daun pisang yang jadi pelapisnya. Aroma makanan merebak ke hidung, membuat kami jadi tidak sabar untuk segera mencicipi.

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

8 Comments

  1. Reh Atemalem
    08/05/2017
    • Daeng Ipul
      08/05/2017
  2. Nasirullah Sitam
    08/05/2017
    • Daeng Ipul
      08/05/2017
  3. tari
    10/05/2017
  4. Nurul Rahmawati
    10/05/2017

Add Comment