Bertemu Passompe Wajo di Jambi

Rumah di Desa Tangkit rata-rata berarsitektur Bugis

Rumah di Desa Tangkit rata-rata berarsitektur Bugis

Desa Tangkit Baru di Jambi ternyata 98% dihuni oleh keturunan Bugis Wajo.

“Asalnya dari mana?” Tanya saya pada seorang perempuan muda yang melayani kami di pusat penjualan hasil bumi di desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Muaro Jambi, Jambi.

“Saya orang Bugis, dari Wajo.” Jawabnya.

“Oh, sama dari ta’.” Kata saya sambil tertawa, dia hanya tersenyum membalasnya. Kalimat itu memang idiom yang biasa diucapkan ketika bertemu dengan orang sekampung di tanah rantauan. Artinya kurang lebih; kita berasal dari tempat yang sama.

Percakapan itu terjadi di suatu sore yang mendung, di bawah sebuah rumah panggung di tepian jalan tak jauh dari tugu nanas. Rumah panggung itu sangat besar, saya menduga lebarnya lebih dari 20m dengan panjang ke belakang sekira 15m. Arsitekturnya menyerupai rumah panggung khas Melayu dengan list plank (papan di ujung atap) berukir khas ukiran Melayu. Di bagian bawah rumah panggung itu ada pengolahan air kemasan dengan beberapa mesin suling menggunakan ultra violet. Di bagian dalamnya ada etalase dari kaca dan alumunium yang berisi beberapa olahan hasil bumi. Ada rambutan goreng dan selai nanas goreng.

Desa Tangkit Baru memang terkenal sebagai sentra nanas (ananas comosus). Sepanjang jalan mudah sekali menemukan kebun nanas karena terhampar di kiri-kanan jalan. Tapi bukan nanas yang membuat saya tertarik, tapi deretan rumah panggung dari kayu yang langsung mengingatkan saya pada suasana kampung Bugis di Sulawesi Selatan.

Rumah-rumah kayu itu persis seperti umumnya rumah panggung kayu di tanah Bugis. Atap segitiga bertutup seng dengan teras dan tangga yang menjuntai di bagian depan.

“Desa Tangkit Baru memang mayoritas orang Bugis.” Kata Refa, warga Jambi yang menemani kami sore itu.

Desa Tangkit Baru adalah pemekaran dari desa Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Muaro Jambi, Jambi. Desa ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari kota Jambi, mungkin hanya sekira 20 km. Sebuah jalan kecil selebar kira-kira 5 meter membelah desa, kondisinya agak rusak. Aspalnya bolong-bolong sehingga perjalanan melintasinya tidak bisa terlalu lancar.

Dari namanya kita bisa tahu asal mereka dari mana

Dari namanya kita bisa tahu asal mereka dari mana

“Saya tidak pernah ke Wajo. Hanya nenek dan ibu yang sering bolak-balik.” Kata perempuan muda yang saya lupa namanya itu. “Nenek saya baru pulang dari Wajo beberapa hari lalu.” Sambungnya.

Saya masih bisa menangkap logat Bugis dalam nada bicaranya, paling terlihat dari setiap ucapan iye’ yang keluar dari bibirnya. Iye’ adalah iya dalam bahasa Bugis-Makassar. Untuk orang yang seumuran atau yang lebih muda digunakan iyo.

Sayang tidak banyak yang bisa saya kulik dari wanita itu tentang status Bugisnya. Kami tak begitu lama mampir di rumahnya, hanya membeli beberapa penganan olahan hasil bumi sebelum melanjutkan perjalanan ke desa Tangkit.

*****

Jejak orang Bugis Wajo di Jambi memang sangat terasa. Desa Tangkit Baru hanya salah satunya, selain itu di beberapa desa lainnya utamanya yang berada di pesisir pantai, orang Bugis Wajo sangat mudah ditemukan.

“Salah satunya di desa Sadu, dekat perbatasan Sumatera Selatan.” Kata Sopiyan, seorang warga Jambi lainnya. “Desa itu mungkin 98% diisi orang Bugis. Sebagian ada yang dulunya perompak yang lalu tobat dan memilih menetap di sana.” Sambungnya.

Dalam berbagai catatan disebutkan kalau perantauan orang Bugis Wajo memang banyak dimulai di akhir abad ke-15. Penyebab utamanya adalah ketidakpastian kondisi politik saat itu. Kerajaan Wajo yang bersekutu dengan kerajaan Gowa menderita tekanan besar setelah kerajaan Gowa takluk dari VOC di tahun 1667. Kerajaan Bone yang sudah lama berseteru dengan kerajaan Wajo dan membangun aliansi dengan VOC mulai melakukan tekanan politik yang menyebabkan banyak orang Wajo tidak nyaman. Salah satu cara menghindari tekanan tersebut adalah dengan melakukan migrasi besar-besaran, salah satunya adalah menuju ke tanah Melayu di Riau, Selangor dan Johor (sekarang masuk ke wilayah Malaysia).

Sebenarnya tujuan utama mereka meninggalkan tanah kelahiran bukan untuk melarikan diri, tapi berusaha mencari sekutu lain yang kelak bisa diharapkan untuk membantu merebut kembali tanah kelahiran mereka. Beberapa kerajaan di tanah Melayu (Sumatra dan sekarang Malaysia) memang menyambut baik para perantau Wajo ini. Mereka memberi tanah untuk para perantau ini, tanah yang kemudian dijadikan sebagai tempat baru untuk membangun koloni.

Dari niat awal untuk mencari sekutu hingga akhirnya para passompe (perantau) dari Wajo itu kemudian betah untuk tinggal lebih lama. Mereka kemudian menyebar ke beberapa daerah lain termasuk ke daerah yang kemudian bernama provinsi Jambi. Kontur Jambi yang 65% berada di dataran rendah adalah alasan utama untuk meneruskan kebiasaan mereka bertani dan berkebun. Sisanya tinggal di pesisir pantai dan menjadi nelayan bahkan penyamun.

Para perantau yang datang lebih dulu menjadi semacam pembuka jalan untuk para perantau yang datang belakangan. Gelombang berikutnya terjadi di masa perang kemerdekaan di dasawarsa pertengahan dan akhir 1940-an serta di masa pemberontakan DI/TII di bawah pimpinan Kahar Muzakkar di akhir 1950-an sampai awal 1960-an. Di masa itu situasi politik dan ekonomi tidak menentu sehingga banyak orang Wajo yang merasa lebih baik merantau mengikuti pendahulu mereka di Sumatra dan tempat-tempat lain di Indonesia.

Selain orang Bugis Wajo, perantau berikutnya juga datang dari sub suku Bugis lainnya. Orang Bone, Soppeng dan orang-orang Makassar serta sub suku Bugis dan Makassar lainnya juga ikut meninggalkan kampung halaman dan mencari kehidupan lain yang lebih baik di tanah rantau. Umumnya mereka memang berhasil secara ekonomi di tanah rantau. Ini bisa ditandai dengan rumah yang megah atau harta kekayaan lain yang mereka punyai.

Meski jauh di tanah rantau, para perantau Wajo dan Bugis-Makassar lainnya tetap memegang teguh adat istiadat mereka. Di desa Tangkit Baru, orang-orang Wajo itu tetap menggunakan bahasa Bugis sebagai bahasa sehari-hari sambil diselingi bahasa Melayu Jambi. Selain itu mereka juga masih memegang teguh adat istiadat yang tercermin dalam acara khusus seperti acara perkawinan, sunatan atau ritual lainnya.

Apa yang saya temukan di Tangkit Baru, Jambi hanya satu bukti lagi betapa orang Bugis-Makassar memang salah satu suku perantau di Indonesia. Mereka yang awalnya merantau karena alasan politis lalu merasa nyaman di tempat barunya, tapi tidak begitu saja meninggalkan akar budaya mereka.

Sayang saya masih belum banyak bisa menggali cerita mereka. Mungkin nanti saya harus meluangkan waktu lebih banyak untuk bisa bertemu mereka dan mendengar banyak tentang cerita mereka. [dG]

About The Author

6 Comments

  1. Mugniar
    16/02/2016
    • iPul Gassing
      16/02/2016
  2. Budhi Insan
    17/02/2016
    • iPul Gassing
      17/02/2016
  3. Gus Salim
    08/03/2016
  4. Rizal
    28/09/2016

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: