Perjalanan

Berlayar ke Asmat

Berlayar ke Asmat
Suasana turun dari kapal Tatamailau

“Maaf pak, tiket ke Asmat untuk hari Senin sudah habis,” kata mbak-mbak yang ada di seberang telepon.


JAWABAN ITU SAYA TERIMA setelah sebelumnya mengajukan pertanyaan; adakah kursi kosong ke Asmat hari Senin? Bersama pak Rara, kami memang berencana mengunjungi Asmat pekan itu. Perjalanan rencananya dimulai hari Minggu, mampir di Timika dulu semalam sebelum menyeberang ke Agats, ibukota Asmat. Sayangnya, jawaban mbak-mbak dari maskapai Airfast itu cukup membuat kami bingung.

Kalau tidak ada penerbangan ke Agats, terus kita naik apa? Atau perjalanan dibatalkan saja?

Ternyata jawabannya adalah; TIDAK. Kami tetap terbang ke Timika dan berjudi untuk mencoba peruntungan di hari Senin. Siapa tahu tiba-tiba ada seat kosong di hari itu. Opsi kedua, kami bisa naik kapal PELNI yang berlayar dari Timika ke Agats di hari Selasa, telat sehari dari jadwal perjalanan kami. Tidak apalah, asal bisa menyeberang ke Agats kita berangkat saja.

*****

SEPERTI YANG PERNAH SAYA TULIS SEBELUMNYA, perjalanan ke Asmat memang sangat bergantung pada kemurahan Tuhan. Moda transportasi massal ke Asmat hanya ada dua; pesawat perintis dan kapal PELNI. Khusus pesawat perintis, ada dua maskapai yang melayani penerbangan dari Timika ke bandara Ewer, Asmat. Airfast (berangkat hari Senin, Kamis dan Sabtu) serta Dimonim Air (berangkat hari Rabu dan Sabtu). Tapi, Dimonim Air yang adalah maskapai subsidi dari pemerintah Asmat kadang tidak punya jadwal yang pasti.

“Dimonim pernah tidak terbang 12 kali (dari jadwal seharusnya),” kata Heri, petugas bandara Ewer.

Maskapai Airfast sendiri sempat tidak terbang karena pesawatnya sedang menjalani pemeliharaan. Akibatnya penumpang jadi menumpuk di hari Senin, hari yang seharusnya jadi hari keberangkatan kami.

Opsi kedua selain pesawat terbang perintis adalah kapal laut milik PELNI. Ada beberapa kapal laut yang melayani rute Timika-Agats. Waktunya sebenarnya lebih rapi dan bisa diprediksi, tapi sayang jedanya lumayan panjang. Dalam sebulan hanya dua kali kapal putih (begitu orang Papua menyebut kapal PELNI) menyeberang dari Timika ke Agats dan sebaliknya. Bukan jadwal yang nyaman untuk mereka yang tidak punya waktu lama di Agats.

Baca juga: Agats, Hidup di Atas Papan

Nah selain dua opsi itu, kita juga sebenarnya bisa menyewa pesawat perintis dengan harga yang lumayan. Puluhan jutalah pokoknya. Kalau hanya punya uang antara 5-10 juta rupiah, kita bisa menyewa kapal kecil yang membelah lautan menuju tujuan. Untuk kapal berkekuatan 45 pk, harga sewanya Rp. 5jt sekali jalan, sedang kapal dengan kekuatan 80 pk biayanya antara 8-10 juta. Tapi, membayangkan kapal motor sekecil itu membelah lautan selama lebih kurang 3-4 jam koq rasanya agak menakutkan ya?

Jadi opsi menyewa kapal motor kecil sepertinya hanya berlaku untuk mereka yang punya keberanian lebih. Saya tidak termasuk di dalamnya.

****

KARENA OPSI MENUMPANG KAPAL PERINTIS sudah tidak berlaku, maka sekarang saatnya kami pindah ke opsi kedua; menumpang kapal PELNI. Kebetulan ada kapal PELNI bernama Tatamailau yang berlayar dari Tual dengan tujuan akhir Merauke. Kapal ini akan mampir di Timika, lalu ke Agats dan berakhir di Merauke sebelum kembali dengan jalur yang sama.

Tidak sulit untuk membeli tiket kapal laut ini. Kami hanya perlu menyambangi kantor PELNI dan menebus dengan uang sebesar Rp. 103.000,- (dibulatkan menjadi Rp.105.000,-). Hanya ada satu kelas yang dijual, kelas ekonomi. Di atas kapal, jika penumpang ingin menambah kenyamanan, kita bisa bernegosiasi dengan anak buah kapal yang menawarkan kamar mereka. Harganya antara Rp.200.000,- hingga Rp.300.000,- per kamar.

“Kapal masuk jam 3 subuh, jadi bapak siap di pelabuhan paling lambat jam 2 ya pak,” kata petugas PELNI yang melayani kami. Kapal akan berlabuh selama 2 jam sebelum lanjut berlayar ke Agats.

Berdasarkan informasi itu, maka kami berangkat dari kota Timika ke pelabuhan Pomako sejak pukul 1:30 dini hari. Ada satu orang lagi yang ikut bersama kami, salah seorang temannya teman yang bekerja di Asmat dan kebetulan baru habis menunaikan ibadah cuti.

Tadinya saya mengira pelabuhan Pomako itu tidak terlalu jauh dari kota Timika. Saya luput melihatnya di peta. Bayangan saya, pelabuhan Pomako seperti pelabuhan Soekarno Hatta di Makassar, bisa ditempuh dengan perjalanan kira-kira 20-30 menit.

Eh, ternyata saya salah.

Pelabuhan Pomako ternyata jauh di bagian selatan kota Timika, kira-kira 40 km dan ditempuh dengan perjalanan satu jam lebih. Jauh, saudara-saudara! Plus, tidak ada perkampungan ramai di sekitar pelabuhan. Padahal, awalnya kami menawarkan opsi ke supir kami untuk menginap di penginapan di sekitar pelabuhan saja. Biar tidak repot kalau mau ke pelabuhan nanti subuh, kata saya.

“Nda ada penginapan di sana pak,” kata pak supir yang membawa kami. Setelah melihat sendiri kondisi pelabuhan Pomako, saya akhirnya paham betapa bodohnya usulan kami itu.

Pelabuhan Pomako jauh, terpencil dan tidak ada perkampungan yang ramai di sekitarnya. Jangan membayangkan pelabuhan seperti Soekarno Hatta di Makassar, apalagi Tanjung Priok. Jauh sekali bedanya. Pelabuhan Pomako bahkan tidak punya ruang tunggu besar tempat para penumpang menunggu sebelum naik ke atas kapal.

Bersiap naik ke kapal

Kapal yang tadinya dijadwalkan masuk pukul 3 dini hari pun baru masuk pukul 7 pagi. Air yang surut membuat kapal tidak bisa masuk, akibatnya kami menunggu di dalam mobil selama 4 jam lebih. Tidak ada ruang tunggu, dan hujan sempat mengguyur dengan derasnya. Suasana di pelabuhan pun gelap karena lampu penerang banyak yang sudah tidak berfungsi. Untungnya karena ada banyak calon penumpang yang bernasib sama, sehingga paling tidak kami ada teman menunggu.

******

PUKUL 7 PAGI LEWAT, kapal Tatamailau sudah merapat di pelabuhan Pomako. Tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan musim libur. Meski sempat berdesakan untuk naik ke kapal, tapi masih bisa kami tolerir. Di atas pun kami tidak menemui kesulitan berarti untuk menemukan tempat tidur.

Kelas ekonomi yang berada di dek-dek 3 sampai 6 penuh dengan ranjang besi yang disusun rapi. Ada kasur-kasur  yang dipasang di atas ranjang besi itu. Suasana hari itu tidak terlalu ramai, banyak sekali ranjang yang kosong.

Perjalanan dari Timika ke Agats ditempuh lebih kurang 10 jam. Air laut tenang sehingga tidak ada goyangan berarti hingga kami tiba di Agats sekitar pukul 8 malam.

Setelah hampir 10 tahun, saya akhirnya kembali menikmati perjalanan dengan kapal PELNI. Membelah lautan, tidur bersisian dengan penumpang lain dan menghirup aroma khas kapal PELNI. Belasan tahun lalu, sebelum tiket pesawat sangat terjangkau, kapal PELNI adalah andalan ketika ingin menyeberangi lautan, utamanya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Satu hal yang sangat saya apresiasi adalah perbaikan layanan PELNI, bahkan untuk kelas ekonomi. Kasurnya nyaman, kebersihannya terjaga, toilet lumayan bersih dan berfungsi. Makanan yang dulu dibagikan di piring kaleng, sekarang sudah diubah. Sayangnya karena sekarang makanan disajikan dalam wadah plastik berbentuk kotak. Memang lebih manis dilihat daripada piring kaleng a la ransum narapidana, tapi yaaah sampah plastiknya itu loh.

Kapal sedang kosong, kita bebas memilih ranjang

Cuma itu satu-satunya yang agak mengganggu buat saya. Sisanya, sangat terasa perbaikannya dari sejak terakhir saya menumpang kapal PELNI hampir 10 tahun lalu.

Kami tiba di pelabuhan Agats sekitar pukul 20:00 WIT. Pelabuhan penuh, ada banyak orang yang menjemput dan banyak lagi yang akan naik ke kapal, menuju tujuan akhir Merauke. Pengalaman pertama menumpang kapal PELNI ke Agats cukup menyenangkan, meski harus ditebus dengan tubuh yang capek karena menunggu berjam-jam di pelabuhan serta kurang tidur.

Tapi setidaknya, kami sudah berhasil menginjakkan kaki di Agats. [dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (2)

  1. Terakhir naik kapal PELNI dari Waingapu (Sumba) ke Ende (Flores). Memang sudah sangat banyak perubahannya dan agak lebih bersih dari puluhan tahun lampau 😀 Yang sama itu plastik sampahnya… 😉

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.