Perjalanan

5 Tantangan Wisata di Papua

5 Tantangan Wisata di Papua
Lanny Jaya
Honai di kaki bukit

Papua punya semua syarat untuk dijadikan tujuan wisata. Pantai, gunung, danau, budaya, cerita, makanan, apa saja. Tapi tantangan untuk mengembangkannya memang berat.

PAPUA. Ah, nama tempat ini jadi semacam impian bagi banyak orang. Sebuah tempat yang menarik dengan beragam cerita dan pemandangan alamnya. Saya beruntung pernah tinggal di sana, berinteraksi langsung dengan orang Papua, bekerja bersama mereka dan bahkan sempat mendatangi tempat-tempat yang jauh. Ke jantung Papua.

Bicara Papua, kebanyakan orang mungkin langsung teringat Raja Ampat. Kawasan wisata yang sedang jadi primadona wisata Indonesia. Keindangan pantainya mengundang banyak orang untuk datang ke sana. Padahal, Raja Ampat hanya satu titik kecil dari sekian banyak kawasan yang bisa dijadikan tujuan wisata di Papua.

Kalau bicara keindahan alam, Papua bisa jadi salah satu juaranya. Kalian mau apa? Pantai? Gunung? Danau? Papua punya. Bahkan puncak gunung yang ada esnya pun Papua punya. Belum lagi kalau bicara soal budaya, adat istiadat dan beragam hal menarik lainnya. Papua unik dan tentunya mengundang banyak rasa ingin tahu orang-orang.

Sayangnya, wisata Papua memang belum bisa dikembangkan secara maksimal. Ada banyak hal yang jadi penghalangnya, jadi tantangan untuk mengembangkannya.

Berikut lima hal yang menurut saya jadi tantangan berat untuk mengembangkan wisata Papua.

1. Jarak.

Oh yes. Papua ada di ujung timur Indonesia, jauh sekali dari pusat Indonesia beranama Jawa. Penerbangan dari Jakarta ke Papua ditempuh dalam waktu 5 jam penerbangan, ditambah transit. Lama waktu penerbangan seperti itu konon sama dengan waktu penerbangan dari Jakarta ke Jepang. Konon loh ya, soalnya saya belum pernah ke Jepang.

Itu baru jarak ke kota-kota besar di Papua. Dari kota-kota besar itu biasanya kita harus berangkat lagi ke daerah yang jadi tujuan wisata. Misalnya kalau mau ke Raja Ampat, berarti dari Jakarta ke Sorong dulu, dari Sorong ke Raja Ampat. Itupun belum ke spot tujuan seperti Painemo atau Wayag yang bisa makan waktu berjam-jam.

Hal yang sama kalau misalnya akan ke Wamena menengok festival Lembah Baliem. Dari Jakarta ke Jayapura dulu, dari Jayapura lanjut ke Wamena lagi. Lumayan menguras tenaga dan waktu kan?

danau emfote
Danau Emfote, di Jayapura

2. Biaya.

Jarak yang sungguh luar biasa itu akibatnya berimbas ke biaya juga. Utamanya biaya transportasi. Iyalah ya, karena jaraknya jauh jadi waktu tempuhya juga berkali-kali lipat. Belum lagi biaya bahan bakar yang mahal.

Beberapa tempat di Papua, harga bahan bakar memang tidak seperti di tempat lain di Indonesia. Bisa sampai tiga kali lipat lebih mahal, dan ini berimbas ke makin mahalnya biaya berwisata.

Untuk paket wisata ke Raja Ampat saja, katanya harganya bisa mencapai belasan sampai puluhan juta, sama dengan paket umroh ke tanah suci. Meski katanya sekarang harga paketnya sudah lebih murah dan terjangkau.

Kadang kita harus pakai pesawat untuk menjangkau tempat di Papua

3. Fasilitas.

Ini juga jadi tantangan tersendiri. Belum semua tempat wisata di Papua punya fasilitas yang memanjakan wisatawan. Buat kawasan yang sudah terkenal seperti Raja Ampat mungkin sudah lebih baik, sudah banyak resort dan hotel. Tapi tidak untuk kawasan lain yang sebenarnya punya potensi wisata yang luar biasa.

Saya pernah ke Lanny Jaya, dan kalau tempat itu dijadikan tujuan wisata saya yakin akan sangat banyak yang mau berkunjung ke sana. Tapi ya itu tadi, selain jauh, mahal, belum ada fasilitas yang memadai. Hal yang sama juga saya temui di Paniai, daerah yang punya keunikan alam dan budaya yang sangat menarik.

Buat para backpacker atau petualang yang menyukai tantangan mungkin tidak menjadi masalah, tapi tidak bagi yang bepergian dengan keluarga. Apalagi membawa anak kecil.

4. Pungutan Liar.

Sebenarnya tidak tepat juga kalau dibilang pungutan liar, karena ini sudah disepakati secara tidak tertulis antara pemerintah dan warga. Mungkin lebih tepatnya pungutan tidak resmi.

Jadi begini, semua tanah di Papua sebenarnya ada yang punya. Minimal dipunyai oleh kelompok adat tertentu dan menjadi bagian dari tanah adat. Nah ketika wilayah tersebut dibuka untuk kawasan wisata, maka dengan sendirinya pemilik tanah adat itu merasa punya hak untuk menarik restribusi dari siapa pun yang mengambil keuntungan dari tanah mereka.

Kebiasaan ini ada di banyak tempat di Papua. Bahkan di Jayapura sekalipun. Salah duanya adalah di wilayah Pantai Hamadi dan Base G. Di dua pantai itu selain membayar retribusi resmi dari Pemda, kita juga akan dimintai pembayaran dari warga pemilik tanah adat tersebut. Jumlahnya beragam, tergantung kemampuan menawar. Antara Rp.20.000 sampai Rp.50.000,-.

Di salah satu koran lokal Papua, saya pernah membaca surat pembaca yang mengeluhkan masalah ini. Si pembaca mengeluh karena merasa dipalak, hanya mampir sebentar di Pantai Hamadi sudah dimintai bayaran. Padahal katanya dia hanya parkir dan belum sempat menikmati pantainya.

Ini memang jadi tantangan tersendiri. Jadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah kalau memang berniat mengelola potensi wisata mereka. Bagaimana mencari jalan tengah supaya pengunjung tidak merasa terganggu tapi warga pemilik tanah adat pun merasa dapat manfaat.

Pantai Base G
Pantai Base G, Jayapura yang juga tidak kalah indahnya

5. Keamanan.

Ini tantangan besar juga bagi pengembangan potensi wisata di Papua. Dengan luas wilayah yang luar biasa itu dan kondisi politik yang kadang tidak stabil, keamanan adalah tantangan lain. Untuk wilayah pesisir seperti Raja Ampat dan Jayapura, keamanan mungkin bukan isu besar. Tapi untuk wilayah pegunungan seperti Wamena, keamanan bisa jadi masalah.

Selain perilaku warga seperti para pemabuk atau orang-orang jahat lainnya, ancaman keamanan kadang datang dari pihak Organisasi Papua Merdeka, atau yang kerap disebut “tiga huruf”. Dari bahaya diculik sampai dicelakakan.

Baca juga pengalaman bertemu “tiga huruf” di Lanny Jaya di sini

Masalah ini bukan masalah yang ringan untuk diselesaikan. Ada banyak faktor yang jadi pengaruh, dan faktor-faktor itu berkelindan seperti benang kusut.

*****

Begitulah. Kalau bicara potensi wisata di Papua, maka pulau ini one is the best lah pokoknya. Tapi memang tantangan untuk mengembangkan potensi wisata di Papua itu masih sangat besar. Itupun kalau pemerintah daerah memang berniat mengelola dan mengembangkan potensi wisata mereka.

Untuk saat ini, biarlah Papua tetap jadi misteri yang hanya bisa didambakan dan bikin penasaran banyak orang. Biar alamnya tetap terjaga, dan kehidupan sosialnya tidak terganggu. Kalau perilaku wisatawan sudah lebih dewasa dan menghargai budaya lokal, bolehlah akses wisata di Papua dibuka selebar-lebarnya.

Begitu kira-kira.[dG]

Bagikan Tulisan Ini:

About Author

a father | passionate blogger | photographer wannabe | graphic designer wannabe | loves to read and write | internet junkie | passionate fans of Pearl Jam | loves to talk, watch and play football | AC Milan lovers | a learner who never stop to learn | facebook: Daeng Ipul| twitter: @dgipul | [email protected] |Connect ke Google+ profile

Comments (1)

  1. Memang butuh waktu yang lama, transportasi terbatas, biaya mahal dan lainnya kalau berkunjung ke Papua (khususnya para wisatawan).

    Saya pernah membaca tulisan teman, dia tidak menuju tempat-tempat wisata yang sudah dikenal. Malah blusukan pasar, main bareng warga, dan menyumbangkan buku. Katanya, itu cara dia mengakali selama di sana hehhehe.

    Sayang sekarang akun fb-nya tidak aktif lagi. 🙁

Comment here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.