5 Kenangan Makan yang Paling Berkesan

Meski bukan termasuk tukang makan, tapi setidaknya ada lima kenangan tentang makan yang paling berkesan buat saya.

MAKAN. Bagi saya, kegiatan satu itu hanya sekadar untuk menyambung hidup, untuk mengisi perut semata. Makan bukan sebuah kegiatan rekreasi, bukan kegiatan hobi yang memaksa saya harus mencari tempat makan yang lagi nge-hits misalnya. Tidak, tidak sampai segitunya. Kadang saya malah sebisa mungkin mengeluarkan uang seminim mungkin untuk bisa makan. Kadang malah saya hanya makan sekali sehari, karena toh dengan makan sekali sehari itu rasanya sudah cukup.

Namun, ketika sedang berada di tempat lain maka acara makan hampir selalu jadi salah satu bagian yang berkesan. Namanya saja makan di tempat berbeda, pasti ada pengalaman baru dan terkadang seru. Meskipun terus terang saya tidak gampang cocok dengan makanan yang agak berbeda. Salah satunya adalah makanan Jawa. Meski mungkin sudah puluhan kali bolak-balik Jawa, tetap saja saya agak kagok kalau berhadapan dengan makanan Jawa yang rasanya agak manis, beda dengan makanan Sulawesi Selatan yang rata-rata asin.

Dari sekian pengalaman makan di tanah orang, berikut ini ada lima pengalaman makan yang paling berkesan dari lima daerah berbeda. Urutan ini acak saja, tidak beradasarkan tingkat berkesannya. Saya cerita ya:

danau sentani

Ikan kuah kuning di tepian Danau Sentani

1) Makan Ikan Kuah Kuning di Tepian Sentani

Kejadian ini terjadi tahun 2014, kali pertama saya menginjak Jayapura dan kali pertama juga melihat langsung Danau Sentani. Danau yang sudah menitikkan rasa penasaran saya sejak melihat fotonya di sebuah majalah tahun 90an.

Setelah tugas utama selesai, oleh Jeni – teman pendamping lokal, saya diajak menikmati ikan gabus kuah kuning di salah satu restoran di tepian Danau Sentani. Saya lupa nama restorannya, tapi sepertinya itu adalah salah satu restoran terbaik di tepian Danau Sentani. Sayang kami datang malam hari sehingga suasana sungguh temaram, hanya ada kilauan lampu-lampu dari kejauhan.

Baca juga: Damai di Sentani

Saya aslinya tidak terlalu akrab dengan ikan air tawar, tapi ikan gabus yang saya santap malam itu sungguh berbeda. Rasanya memang renyah, khas ikan gabus. Kuah kuningnya? Hmmm segar! Apalagi ditambah dengan Papeda, olahan sagu khas Papua.

Gabungan antara Papua, Sentani dan Papeda itulah alasan kenapa kenangan makan di tepian Sentani ini sungguh berkesan. Kapan lagi ya bisa makan di sana?

Ikan asar di depan pelabuhan Tulehu

2) Makan Ikan Asar di Depan Pelabuhan Tulehu

Ikan tongkol yang diasapi, orang Ambon menyebutnya ikan asar. Saya bersama Mamie menikmatinya di depan pelabuhan Tulehu, malam sebelum kami menyeberang ke Pulau Seram. Soal rasa sebenarnya tidak istimewa selain bahwa memang ikannya sangat empuk, khas rasa ikan dari daerah yang lautnya masih bersih.

Hal yang paling berkesan dari kegiatan makan ini adalah kesempatan mengobrol panjang dengan Mama Ina, penjaja ikan asar yang berbaik hati memberikan satu tempat buat kami untuk makan. Beliau sangat ramah, bahkan awalnya menolak untuk dibayar ketika kami sudah selesai makan.

Baca juga: Kisah Semalam di Tulehu

Paduan antara ikan asar, keramahan Mama Ina dan mama-mama lainnya serta logat Ambon yang berseliweran di kuping adalah alasan utama kenapa kenangan makan ini jadi berkesan. Ah, Ambon! Beta rindu jua.

Saransi, penjual coto di Pasar Malinau

3) Makan Coto di Malinau, Kalimantan Utara

Jauh-jauh ke Malinau, Kalimantan Utara hanya makan coto? Mungkin Anda berpikir begitu. Untuk apa coba orang Makassar jauh-jauh ke Malinau makan coto?

Saya ceritakan ya. Sebelum kejadian makan coto itu, saya dan tim baru saja menyelesaikan masa hampir dua minggu di pedalaman Kalimantan, bertemu orang-orang Dayak dan bergaul dengan mereka, merasakan keramahan mereka. Saya juga sempat mengalami kejadian tak mengenakkan ketika perahu saya terbalik di sungai Malinau.

Selama hampir dua minggu itu bisa dibilang makan saya agak tidak teratur. Bukan karena makanan yang disajikan orang-orang kampung baik hati itu tidak enak, bukan! Lebih kepada karena lidah saya tidak mudah menerima makanan baru begitu saja, butuh waktu yang agak lama.

Baca juga: Tragedi Sungai Adiu dan Salam Hangat dari Kalimantan

Jadi tidak heran ketika kembali ke kota dan bersiap untuk menyeberang ke Tarakan, betapa bahagianya saya ketika menemukan satu warung coto milik perantau dari Gowa. Meski cotonya tentu saja tidak seenak coto di Makassar, namun tetap saja coto itu sangat berkesan.

nasi padang

Deretan masakan Padang di Warung Sederhana

4) Makan Nasi Padang Empat Kali Berturut-Turut di Jambi.

Saya awalnya tidak mengira kalau masakan Padang ternyata begitu merajai beberapa daerah di Sumatra, termasuk Jambi. Ketika tiba di Jambi untuk kesekian kalinya saya baru sadar, orang sana lebih banyak menjamu tamu di restoran Padang.

Jadilah selama empat waktu makan berturut-turut saya diajak makan di warung Padang. Dari yang kelas menengah ke atas semacam Warung Sederhana dan Warung Cempaka (salah satu restoran Padang paling terkenal di Jambi), hingga warung sederhana di jalur Jambi – Bangko.

Baca juga: Bertemu Passompe Wajo di Jambi

Empat kali berturut-turut makan daging dan sayuran bersantan ternyata berkesan juga. Ini rekor baru buat saya, dan ternyata di belakang hari kembali terulang ketika saya kembali lagi ke Jambi. Jadi sekarang ketika mendengar kata Jambi maka hal pertama yang terbayang justru adalah makanan Padang! Ha-ha-ha-ha.

Suasana malam di Manokwari

5) Makan Ikan Bakar di Mansinam Beach, Manokwari

Ikan di wilayah timur Indonesia itu memang juara! Segar dan rasanya lezat. Tidak perlu banyak bumbu karena ikannya sendiri sudah sangat menggoda rasanya. Inilah yang saya dan teman-teman rasakan ketika makan malam di tepian pantai, tepatnya di hotel Mansinam Beach, Manokwari.

Ikan-ikan lezat dihidangkan di depan kami dan tanpa menunggu lama berpindah dari piring ke perut. Sungguh lezat!

Kemudian tibalah waktunya untuk membayar. Seorang petugas datang membawa tagihan. Jeni menengok tagihan tersebut dan tak lama menyorongkannya ke saya. “Murah sekali,” katanya.

Saya menerima lembar tagihan itu dan menengok angka di atasnya. Murah apanya? Kata saya dalam hati. Di kertas itu tertera angka Rp.1.280.000 (kalau tak salah ingat), angka yang buat saya sungguh besar. Jeni rupanya hanya melihat angka 280 dan luput melihat angka satu di depannya. Maklum, suasana memang remang-remang karena kami berada di tepian pantai.

Baca juga: Mengenok Indahnya Manokwari

Wajah Jeni langsung berubah ketika melihat dengan saksama angka di kertas tagihan itu. Lalu tak berapa lama tawa kami meledak, menertawai ketololan kami sendiri.

“Addoooh! Ini uang per diem langsung habis ini,” kata Jeni sambil geleng-geleng kepala. Lalu kembali kami tertawa tidak habis-habisnya. Sampai sekarang pun kalau mengingat kejadian itu, saya masih suka geli sendiri. Jeni pun begitu.

Well, itulah lima pengalaman makan paling berkesan buat saya selama ini. Buat Anda yang memang hobi makan, pengalaman itu mungkin tidak ada artinya ya? Hi-hi-hi. Bagaimana dengan Anda? Punya pengalaman makan yang seru dan berkesan? [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

2 Comments

  1. Eryvia Maronie
    18/05/2017

Add Comment