Jun
25

Antoni Di Natale, kecewa berat setelah gagal membawa Italia ke 16 besar (foto:Getty Images)
.
Santiago Bernabeau, 22 Mei 2010. Jose Mourinho baru saja mengantar Inter Milan sebagai juara Champions Eropa, sekaligus melengkapi 2 gelar lokal yang mereka rengkuh sebelumnya. Inter Milan seperti membawa kembali arwah juara-juara Italia yang sempat beristirahat selepas final Champions 2007. Selepas kemenangan AC Milan, wakil-wakil Italia kemudian selalu memberi jalan kepada tim-tim dari Inggris dan Spanyol. Kemenangan Inter Milan kemudian dianggap sebagai momentum kebangkitan kembali sepakbola Italia seperti era 90-an.
Sebenarnya ada anomali pada perayaan Inter Milan tersebut. Dari 11 pemain inti yang dipasang plus beberapa pemain pengganti, tidak ada satupun pemain yang berdarah asli Italia. Semuanya adalah pemain import, bahkan sang peracik strategipun asli Portugal. Beruntung pemilik klub masih berdarah Italia dan bukannya import seperti pemilik Manchester United atau Liverpool.
Selang kira-kira sebulan kemudian, kenyataan di atas berbanding lurus dengan pengumuman skuad Italia yang akan dibawa ke Afrika Selatan. Tak ada seorangpun pemain Inter Milan di antara 23 nama yang dikantongi Marcello Lippi. Bukti kalau sebenarnya Inter Milan memang bergantung nyaris 100% pada kemampuan legiun asing. Tak salah juga kalau ada yang mengatakan bahwa skuad Italia tidak akan melangkah jauh di world cup edisi ke-19 ini. Kenyataan yang disodorkan Inter Milan adalah jawabannya. Italia masih kekurangan stok pemain yang levelnya pas untuk kejuaraan berkasta tertinggi seperti piala dunia. Kemudian datang deretan pembenaran lainnya. Hasil buruk di kualifikasi plus cedera sang dirijen serangan bernama Andrea Pirlo di menit-menit akhir menjelang terbang ke Afrika Selatan. Italia berdiri di jejerang belakang dalam antrian para unggulan. Tak ada yang cukup rasional untuk menyandingkannya dengan tim sekelas Argentina, Spanyol dan Brasil.
Ayo baca sisanya »
Jun
22

Jepang, salah satu tim Asia yang masih punya harapan ke babak 16 besar. (foto: Getty Image)
Putaran kedua South Africa 2010 pungkas digelar, dan seperti biasa piala dunia selalu memunculkan kejutan. Lupakan kekalahan Perancis 0-2 dari Mexico karena memang sebenarnya tim ayam jantan biru itu sudah terluka sebelum tiba di Afrika Selatan. Saya membayangkan ratusan ribu orang Irlandia yang tertawa gembira ketika Cauhtemoc Blanco menjebol gawang Perancis untuk kedua kalinya. Mereka adalah orang-orang teraniaya yang harus rela batal berangkat ke Afrika Selatan gara-gara tangan kiri Thierry Henry. Mungkin kondisi Perancis sekarang adalah buah dari karma yang mereka tabur sendiri.
Tapi bagaimana dengan Jerman dan Inggris ? mereka tidak berdosa pada tim manapun dalam perjalanan ke Capetown. Inggris menang fair dalam 9 dari 10 laga penyisihan grup, Jerman menang secara jujur atas Australia 4 gol tanpa balas di laga pembuka. Kedua penampilan itu membuat banyak orang percaya kalau mereka akan tampil mulus di Afrika Selatan. Sayangnya, harapan itu tidak berumur panjang. Jerman menyerah 0-1 pada Serbia, terima kasih pada Klose yang mendapat kartu merah dan Podolski yang gagal mengeksekusi penalti. Inggris, kembali bermain membosankan dan hanya bisa imbang dari negeri leluhur Zinedine Zidane, Aljazair.
Beruntung masih ada Argentina, Belanda, Brasil dan Portugal yang menyelamatkan muka para tim unggulan meski ada catatan kecil khusus untuk penampilan Belanda yang masih saja belum menunjukkan tipe permainan mereka yang sesungguhnya.
Partai-partai membosankan masih saja tergelar di putaran kedua ini. Tim-tim yang tak percaya diri masih setia bermain defensif. Memasang lebih dari 5 orang di depan kotak penalti demi menghadang serangan lawan yang mereka tahu lebih kuat. Hasilnya, hanya sedikit tim yang berhasil mencetak gol lebih dari satu. Sampai putaran kedua saya masih merasa lebih terhibur oleh partai antara dua tim yang selevel, salah satunya USA vs Slovenia. Merasa sama-sama punya kemampuan setara, kedua tim berani main terbuka dan walhasil kejar mengejar golpun terjadi. Ini berbeda dengan partai ketika tim seperti Serbia menghadapi Jerman atau Aljazair menghadapi Inggris. Tapi syukurlah karena putaran terakhir hanya menyisakan sedikit ruang untuk para tim defensif itu karena sebagian besar partai tersisa adalah partai hidup mati untuk mencari tiket lolos ke 16 besar.
Ayo baca sisanya »
Jun
14

Bukan Mexico, negeri yang baru saja mengandaskan sang juara bertahan Italia. Bukan juga Uruguay, dua kali juara dunia dan bukan pula Perancis, juara 1998 yang mencetak kemenangan pertama di Afsel 2010. Adalah Korea Selatan yang membuka keran kemenangan di pagelaran piala dunia ke-19 ini. Hebatnya lagi, lawan yang mereka taklukkan adalah mantan juara Eropa tahun 2004, Yunani. Bahkan sampai pertandingan ke-6, Korsel menjadi satu-satunya negara yang mampu memenangi pertandingan dengan margin 2 gol.
10 tahun yang lalu Korsel mungkin hanya bisa bermimpi menekuk tim dari benua biru. Jangankan menekuk, mencetak satu poin saja rasanya hanya jadi khayalan. Korsel memang rajin tampil di ajang piala dunia mewakili Asia, namun sebagian besarnya hanya menjadi penggenap, penghibur bahkan lumbung gol. 8 tahun lalu, Korsel merubah posisinya di peta persaingan piala dunia. Menjadi tuan rumah bersama Jepang, mereka melesat hingga ke semifinal. Memang ada banyak kontroversi yang membayangi kesuksesan mereka termasuk tudingan (dan kenyataan) kalau beberapa kemenangan mereka adalah karena bantuan dan ketololan wasit, namun setidaknya keberhasilan itu berpengaruh pada tingkat kepercayaan diri mereka setelahnya.
4 tahun lalu di Jerman mereka memang tidak bisa kembali mengulangi kejayaan mereka di tanah sendiri, bahkan untuk lolos ke babak keduapun mereka gagal. Namun, penampilan mereka sudah sangat jauh membaik dibandingkan 8 tahun sebelumnya di Perancis. Korsel sudah mampu membuat Perancis keteteran dan benar-benar sudah menolak untuk jadi lumbung gol.
Ayo baca sisanya »