Jul
10

Timnas Belanda, andalan Nike dalam perang dengan Adidas
Final itu akhirnya akan sampai juga. Dua tim dari dataran Eropa akan saling berhadapan untuk menuliskan nama mereka dalam daftar peraih gelar juara dunia yang ke-19. Hebatnya lagi karena kedua tim sama sekali belum pernah merasakan gelar tertinggi itu sebelumnya. Belanda dan Spanyol adalah calon juara baru, dan salah satu dari mereka akan bergabung dengan 7 negara lainnya yang sudah lebih dulu mencatatkan diri dalam deretan negara terbaik di dunia sepakbola.
Di balik pertarungan puncak di lapangan nanti sebenarnya tersembunyi sebuah pertarungan yang tak kalah serunya, yaitu pertarungan antara dua produsen apparel terbesar, Nike dan Adidas. Nike dan Adidas tak pelak lagi sudah menjadi dua produsen terbesar alat-alat olahraga yang selalu bersaing ketat utamanya dalam satu dasawarsa terakhir. Tak heran bila pertarungan final antara Belanda vs Spanyol nanti menjadi sebuah pertaruhan luar biasa untuk reputasi mereka berdua.
Pertarungan minggu nanti adalah pertarungan jilid ketiga yang mempertemukan Nike dan Adidas secara head to head di partai final piala dunia. Pertemuan pertama mereka terjadi pada final tahun 1998 yang mempertemukan Perancis yang disponsori oleh Adidas dan Brasil yang disponsori oleh Nike. Kala itu Perancis yang berseragam Adidas berhasil mengalahkan Brasil yang berseragam Nike. Kesuksesan Perancis ini disambut meriah oleh Adidas. Menyusul keberhasilan Perancis, Adidas menerbitkan iklan satu halaman penuh berisi ilustrasi formasi pemain bola, di satu sisi lapangan digambarkan formasi 4-5-1 a la Perancis sementara di sisi sebelahnya ada formasi 4-4-2 a la Brasil. Yang menarik adalah karena di sisi Perancis terpasang 11 logo Adidas dengan nama permain-pemain Perancis di bawahnya, sementara di sisi sebelahnya hanya ada gambar bulatan dengan nama-nama pemain Brasil seperti lazimnya ilustrasi formasi sepakbola. Ini jelas sebuah pukulan telak untuk Nike.
Ayo baca sisanya »

Jul
08

Jarum jam bergeser sekitar 15 menit dari jam 7 malam. Saya bersama supervisi freelance dan manager pemasaran sedang berada di ruang meeting. Pertemuan dengan freelance baru saja selesai beberapa menit yang lalu, di atas meja meeting masih ada beberapa biji kroket dan jalangkote sisa konsumsi meeting. Seorang lelaki muda bertubuh ceking berbungkus sweater marna oranye muda masuk.
” Masih ada yang bisa dimakan ? ” Dia bertanya ke saya.
” Oh, itu..ambil semuami “, Jawab saya sambil mempersilakannya mengambil sebiji kroket yang tersisa.
Dia bergeming, saya dan dua orang lainnya juga tidak terlalu memperhatikannya. Kami masih sibuk membahas persiapan pameran yang sebentar lagi akan digelar. Karena lelaki itu masih bergeming, iseng saya kumat. Kroket yang tinggal satu itu saya caplok sambil senyum-senyum. Saya lupa reaksinya seperti apa, yang saya ingat dia bergerak kea rah ibu Yeyen, manager pemasaran sambil minta ijin menghabiskan jalangkote dan kroket yang ada di depan ibu manager. Dengan sopan dia meminta ijin, dan ibu manager mengijinkan. Kami masih asyik berdiskusi ketika lelaki muda itu meninggalkan ruang meeting.
” Eh, itu di mejaku masih ada dua biji. Ambil semuami..” kata saya ketika dia sudah berada di pintu. Saya kembali sibuk dengan diskusi malam itu. Selanjutnya malam berjalan seperti yang kami rencanakan.
Lelaki ceking itu bernama Luthfi Al Hakim. Kami memanggilnya dengan nama Upiq seperti yang selalu dia ucapkan kala berkenalan. Umurnya belum genap 21 tahun, di kantor kami dia bertugas sebagai seorang tenaga surveyor. Saya mengenalnya sebagai anak muda yang cerdas, kreatif dan mudah bergaul. Tak heran bila di kantor kami dia dikenal akrab di segala divisi dan segala lapisan mulai dari para OB hingga para manager. Para ibu dan bapak di kantor kami juga mengenalnya sebagai anak yang periang dan hormat meski juga kadang kritis. Singkat kata, tak pernah ada cerita buruk yang diarahkan kepadanya.
Ayo baca sisanya »
Jul
06

Wayne Rooney, salah satu bintang yang gagal bersinar di Afsel 2010 (Foto: FIFA.com)
Piala dunia makin mendekati ujungnya, hingga yang saat ini hanya tersisa 4 tim dengan kesempatan yang sama besarnya untuk melaju ke babak pamungkas 11 Juli nanti. Dari total 736 pemain yang tercatat berpartisipasi dalam ajang piala dunia ini, sudah 644 orang yang meninggalkan Afrika Selatan plus 28 orang pelatih dari 28 negara berbeda.
Deretan pemain yang harus meniggalkan Afrika Selatan tentu menyisakan beragam perasaan dalam diri mereka masing-masing. Bagi beberapa orang, meninggalkan Afrika Selatan tanpa sempat menyentuh babak final tentunya menjadi sebuah kekecewaan yang besar, namun ada juga pemain, pelatih dan ofisial yang meninggalkan Afrika Selatan dengan kepala tegak meski tak sempat melangkah terlalu jauh.
Berikut saya mencoba mencatat sedikit tentang rentetan kegagalan yang diderita oleh 644 pemain dan 28 orang pelatih yang sudah harus pulang tersebut. Mari kita lihat sama-sama.
Italia gagal menembus babak penyisihan grup. Catatan ini sekaligus menempatkan Italia sejajar dengan catatan buruk milik Brasil (1974) dan Perancis (2002) yang lebih dahulu tercatat sebagai juara bertahan yang tak berhasil lolos dari babak penyisihan grup.
Italia gagal menjadi juara dua kali berturut-turut. Catatan ini sebenarnya tidak terlalu buruk seandainya catatan buruk di atas tidak terjadi lebih dulu. Italia pernah menjadi juara dunia dua kali berturut-turut pada tahun 1934 dan 1938. Satu-satunya negara yang bisa melakukan hal yang sama sekaligus menjadi negara terakhir yang melakukannya adalah Brasil (tahun 1954 dan 1958).
Ayo baca sisanya »
Jul
04

Diego Maradona, meratapi kekalahan telak timnya (Foto: FIFA.com)
” Fabio Capello harus menyaksikan partai Jerman vs Argentina, supaya dia belajar bagaimana caranya mengalahkan Jerman “.Itu adalah kalimat yang meluncur dari mulut Diego Armando Maradona, pelatih Argentina ketika memastikan bahwa Argentina akan berjumpa Jerman di babak perempat final. Ucapan itu terasa sangat sombong, tapi sebagian orang sudah paham karena itu keluar dari mulut seorang Diego Maradona. Bukan Maradona namanya kalau sepi dari sensasi.
Waktu itu Maradona mungkin terbuai oleh penampilan anak didiknya kala menghempaskan Mexico. Sebelumnya, Maradona sudah berhasil menorehkan catatan 100% dalam kualifikasi grup dengan menang 3 kali, salah satunya dengan skor besar 4-1 atas wakil Asia, Korea Selatan. Dasar-dasar inilah yang kemudian membuat Maradona besar kepala dan menganggap kalau tak ada lagi tim yang mampu menghadang Argentina.
Sampai sebelum bertemu Jerman di perempat final, Argentina sudah cukup mampu membangkitkan optimisme orang kalau mereka memang punya kans jadi juara musim ini. Meski Lionel Messi sang pemain terbaik belum juga mampu mencetak gol, namun orang-orang masih bisa melihat betapa merepotkannya si kutu itu. Messi masih tercatat sebagai pemain dengan shoot on goal terbanyak sejauh ini. Pun orang makin terpukau pada aksi individu Carlos Tevez, utamanya ketika menyarangkan gol indah lawan Mexico.
Sayangnya, Maradona dan mungkin banyak orang lainnya lupa kalau sebagian besar gol-gol Argentina lahir karena kelebihan individu para personilnya, bukan karena kerja tim yang terkoordinasi rapih. Maradona juga mungkin lupa kalau di pertandingan terakhir melawan Inggris, Jerman sudah menunjukkan kalau mereka adalah tim yang paling jago memainkan kolektifitas dan punya koordinasi yang rapih di tiap lini.
Ayo baca sisanya »
Jul
03

Asamoah Gyan, aktor pemeran utama dalam drama Ghana vs Uruguay
Shakespeare adalah seorang yang sangat terkenal di dunia sastra. Salah satu karyanya yang paling fenomenal dan selalu dikenang orang adalah drama berjudul “Romeo and Juliet”. Tidak diketahui dengan pasti kapan karya itu pertama kali dituliskan dan dipentaskan oleh Shakespeare, meski beberapa orang bersepekulasi kalau karya itu pertama kali dipublikasikan sekitar tahun 1591 (sumber : Wikipedia). Selama beratus-ratus tahun, drama percintaan ini menjadi sebuah drama yang selalu dipuja orang, diadaptasi dalam ratusan atau mungkin bahkan ribuan macam naskah yang berbeda, termasuk ke dalam? layar lebar.
Soccer City Stadium, Johannesburg-Afrika Selatan di hari Jumat 2 Juli 2010. Tanpa dirancang sebelumnya, sebuah drama baru saja tersaji di depan puluhan ribu pasang mata yang hadir langsung di stadion serta jutaan lagi lainnya yang menonton lewat layar kaca. Aktor utamanya adalah seorang lelaki berkebangsaan Uruguay bernama Luis Suarez serta seorang lagi lelaki keling berkebangsaan Ghana bernama Asamoah Gyan.
Saat itu Uruguay berhadapan dengan Ghana dalam partai yang akan menentukan siapa di antara mereka yang akan melaju ke semifinal. Ghana mengejar rekor tampil pertama kalinya di babak semifinal sekaligus sebagai wakil Afrika pertama yang melakukannya. Sementara itu Uruguay ingin mengulang kembali sejarah yang terakhir kali mereka torehkan di tahun 1950, menjadi juara dunia.
Hingga 90 menit, drama masih berlangsung datar. Skor masih imbang 1-1 antara kedua tim. Muntari dan Forlan masih memegang peranan utama dalam pentas drama itu. Karena tak mencapai klimaks, pentas diperpanjang, 2 x 15 menit. Mungkin orang sudah menduga akan ada drama meski mungkin hanya sedikit yang menduga dramanya akan berakhir sangat menyesakkan.
Ayo baca sisanya »