Tags:

Yang Tidak Malu Menjadi Anak Kecil

MTGF

Berkostum Pilot

Ada saat di mana kita merindukan masa kecil, masa ketika semua masih murni dan tak terukur oleh uang dan harta. Masa di mana perkelahian hanyalah selingan sebelum kembali tertawa bersama.

Waktu kecil saya sempat bercita-cita menjadi pilot pesawat tempur. Penyebabnya salah satu film seri di TVRI di periode akhir tahun 1980an. Kalau tidak salah judulnya Great Carrier, bercerita tentang kesibukan di atas kapal induk milik AS. Film itu membangun gambaran gagahnya seorang pilot pesawat tempur. Sayang, otak saya cetek dan tidak sanggup mengkonsumsi pelajaran-pelajaran eksak yang jadi syarat kalau ingin jadi pilot. Cita-cita itupun tenggelam dan tergantikan cita-cita yang lain.

Puluhan tahun kemudian, cita-cita masa kecil itu muncul lagi ke permukaan. Minggu 27 Oktober 2013 saya datang ke kawasan Benteng Somba Opu dengan seragam pilot pesawat tempur. Ini seragam asli yang saya dapatkan belasan tahun yang lalu. Hari itu saya bergabung dengan ratusan orang lain, sebagiannya juga berkostum unik. Jadilah saya bertemu dengan pejuang kemerdekaan, noni Belanda, pejuang jaman kerajaan, tiruan jenderal besar Soedirman hingga tokoh-tokoh kartun dari Jepang.

Bukan, saya bukan hadir di pesta kostum. Saya hadir di Makassar Traditional Games Festival 2013. Acara ulangan dari acara pertama setahun yang lalu, acara yang mencoba menggali kembali kenangan tentang permainan-permainan tradisional masa kecil dulu. Kostum-kostum unik itu hanya pelengkap, persis seperti masa ketika kita kecil dulu dan dipaksa guru untuk ikut karnaval tujuhbelasan.

Di tempat yang sama dengan tahun lalu, MTGF menyedot atensi banyak orang. Sebagian besar datang dengan wajah penuh semangat dan tak menunggu lama sebelum larut dalam permainan-permainan tradisional yang semakin sulit ditemui di jalan digital. Main engrang, mabboy, tander-tander, mallogo, dende, lompat tali, mabbaguli dan banyak lagi macamnya. Sebagian lagi masih malu-malu dan memilih duduk di rumput. Tapi tidak ada yang bisa menolak keceriaan hari itu. Tawa lebar atau senyum simpul diobral dengan murahnya, ditemukan di setiap sudut.

Bermain engrang

Bermain engrang

MTGF tahun ini dikemas lebih menarik dan lebih siap dibanding tahun lalu. Kalau tahun lalu semua berlangsung spontan, tahun ini anak-anak muda dengan semangat menggunung itu mempersiapkannya dengan lebih matang. Ada gapura penyambutan, ada wall of fame dan ada sound system. Hasilnya, keceriaan serasa berlipat ganda dibanding tahun sebelumnya.

Ratusan orang-orang yang tak layak lagi disebut anak kecil itu satu persatu seperti terlempar kembali ke masa lalu. Masa ketika kenaifan dan ketulusan anak kecil masih bersemayam di dada mereka, masa ketika semua kebahagiaan terasa sangat sederhana. Mereka bermain, tertawa, berlarian, berkeringat dan bahkan berbasah-basah di bawah siraman hujan bersama-sama. Saya ada di antara mereka, dengan seragam pilot saya terseret dalam arus ke masa kecil.

Di belakangnya ada anak-anak muda dari komunitas Jalan-Jalan Seru Makassar yang sudah mempersiapkan acara selama berbulan-bulan. Mengandalkan uluran tangan sahabat dan kawan yang peduli. Tak ada label sponsor besar apalagi dinas pemerintahan, semua hanya dari tangan-tangan kecil warga yang ingin bersenang-senang dan ingin kembali ke masa kecil mereka.

Bermain bersama

Sebagian peserta berfoto bersama

Minggu 27 Oktober 2013 saya dengan dandanan mirip seorang pilot pesawat tempur hadir di atas tanah yang ratusan tahun lalu ramai oleh para pedagang dari banyak negara jauh. Tanah yang ratusan tahun lalu jadi pusat peradaban kerajaan Gowa. Di atas tanah itu di hari itu saya merasakan kembali semangat bermain anak-anak kecil yang hadir dalam tubuh-tubuh dewasa. Tidak ada yang malu mengeluarkan sifat anak kecil mereka, sesuatu yang mungkin lama terperangkap di dalam tubuh tapi tak pernah keluar karena mereka enggan mengakuinya. Sampai kemudian MTGF datang dan memancing sisi anak kecil mereka.

Berbahagialah mereka yang hadir hari itu karena bisa memuaskan hasrat tersembunyi. Hasrat untuk menjadi anak kecil yang naif, tulus dan tidak takut pada masa depan. Saya salah satunya, dan sungguh! Rasanya menyenangkan. [dG]

**sayangnya panitia lupa mengundang Hitler dan malah membiarkan seorang peserta meniru sang Fuhrer. Jadilah Hitler marah besar**

About The Author

8 Comments

  1. Ahmad dahlan
    29/10/2013
    • iPul Gassing
      29/10/2013
  2. didut
    29/10/2013
    • iPul Gassing
      29/10/2013
  3. adelia kusuma
    30/10/2013
  4. akbar mangindara
    01/11/2013
  5. maslie
    04/11/2013

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: