Tags:

Tukang O Jack

Pangkalan Ojek (foto: Wikipedia)

Pengalaman naik ojek yang paling mendebarkan itu adalah ketika suatu saat di Surabaya saya memilih naik ojek ke bandara.

Seorang lelaki berumur 30an di atas motor Honda Revo mendekat. Kulitnya kelam terbungkus jaket hadiah motor, matanya ditutupi kaca mata yang mungkin harganya tak lebih dari 20 ribu rupiah. Senyumnya lebar dan tampak ramah. Kami berbincang sejenak, setelah mencapai kesepakatan dia menyodorkan sebuah helm yang tampak kumal tanpa tali pengikat. Saya menerimanya dan duduk di sadel belakang. Sejurus kemudian motor itu mulai membelah jalan menuju tempat yang saya tuju.

Namanya pak Syarif, saya tidak tahu umur tepatnya. Dia adalah salah satu tukang ojek yang ada di kompleks kami. Belakangan ini saya mulai sering memakai jasanya, jadi langganan tepatnya. Sudah beberapa kali saya memintanya mengantar saya ke berbagai tujuan, bahkan ke bandara yang letaknya belasan kilometer dari tempat tinggal saya.

Kalau butuh saya tinggal menghubungi nomornya dan dia akan datang menjemput. Tukang ojek jaman sekarang memang rata-rata sudah melengkapi dirinya dengan telepon genggam supaya gampang dihubungi kapan saja.

Ojek adalah salah satu moda transportasi yang populer di berbagai kota di Indonesia. Meski tidak diakui keberadaannya secara resmi oleh dinas perhubungan tapi ternyata jasa tukang ojek masih sangat dibutuhkan oleh banyak orang.

Dibandingkan moda transportasi lain, ojek memang punya keunggulan dari segi kecepatan. Kendaraan beroda dua memang adalah kendaraan yang paling bisa diandalkan untuk menerobos kemacetan yang sudah jadi kawan akrab kota besar di Indonesia. Selain itu ojek tidak perlu menuruti rute tertentu, terserah kita yang mengarahkan atau si tukang ojek yang lebih hapal jalan.

Harga juga tentu jadi pertimbangan utama. Dari rumah saya ke bandara, menggunakan taksi bisa menguras dompet sebesar Rp. 80.000,- di luar ongkos tol. Dengan ojek saya hanya membayar total Rp. 60.000,- . Sebaliknya, dari bandara ke rumah ongkos yang saya tabung bisa jauh lebih murah. Karena rumah saya sudah diangap masuk ring tiga maka ongkos taksi bisa mencapai angka Rp. 120.000,- dengan ojek saya hanya membayar setengahnya. Itulah kenapa ojek jadi kendaraan yang sangat saya andalkan dari dan ke bandara.

Di bandara Sultan Hasanuddin ada banyak tukang ojek yang siap menawarkan jasanya ketika kita keluar dari bandara. Bandara yang besar dan megah ini memang termasuk bandara yang paling menyebalkan dari sisi transportasi. Keluar dari pintu kedatangan ada banyak jasa taksi, mobil rental dan tukang ojek yang berebutan menawarkan jasanya. Kadang dengan cara yang cukup mengganggu.

Tukang ojek biasanya akan menawarkan jasanya paling belakangan, tentu dengan melihat tampilan calon penumpang. Mereka tentu tidak yakin akan mendapatkan penumpang yang berpakaian rapih lengkap dengan koper yang ditarik.

Di bandara Juanda saya juga beberapa kali menggunakan jasa ojek, tentunya bila tujuan saya tidak terlalu jauh dan bisa dijangkau dengan cepat dari bandara.

Di beberapa kota, saya memang sering menggunakan jasa tukang ojek. Termasuk di Jakarta. Biasanya alasan utama adalah soal kecepatan, apalagi kota besar seperti Jakarta yang terkenal padat dan akrab dengan kemacetan. Ojek jadi solusi untuk itu, meski bayarannya sedikit lebih mahal dibanding bila naik angkutan umum lainnya.

Dari rangkaian pengalaman itu saya jadi paham kalau tipe tukang ojek itu juga beda-beda. Beberapa ada yang cerewet, rajin bertanya dan bercerita sepanjang jalan, beberapa juga ada yang lebih memilih diam hingga tujuan. Dari cara mereka membawa kendaraan juga ada ragam kebiasaan yang berbeda. Beberapa tukang ojek termasuk patuh pada peraturan lalu lintas, tapi lebih banyak yang tidak.

Pak Syarif langganan saya termasuk tukang ojek yang ugal-ugalan. Pertama kali meminta jasanya mengantar saya ke bandara saya sudah sempat merasa kesal. Dia memacu motornya dalam kecepatan tinggi dan sering sekali melakukan akselerasi yang bikin deg-degan. Belum lagi di lampu merah. Dia akan berada di barisan paling depan, melewati batas yang seharusnya. Kadang lampu belum lagi hijau dia sudah memacu motornya, apalagi kalau arus kendaraan dari depan tidak terlalu padat.

Tukang ojek seperti pak Syarif paling gampang ditemui. Di kota lain juga saya sering menemui tukang ojek yang tak patuh peraturan dan ugal-ugalan seperti pak Syarif. Hanya beberapa tukang ojek yang tampak kalem dan benar-benar patuh pada peraturan lalu lintas.

Pengalaman naik ojek yang paling mendebarkan itu adalah ketika suatu saat di Surabaya saya memilih naik ojek ke bandara. Sang tukang ojek bertubuh pendek dan kecil, bahkan kakinya nyaris jinjit bila motor sedang berhenti. Waktu itu ada Nadaa juga yang ikut bersama saya, jadilah kami berdua duduk di belakang tukang ojek dengan satu tas besar yang didudukkan di depan tukang ojek.

Perjalanan ke bandara benar-benar bikin saya deg-degan. Si tukang ojek beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan saat berhenti di lampu merah atau di kemacetan. Mungkin karena penumpang yang sampai 3 orang dan barang bawaan yang besar ditambah dengan kakinya yang sulit menapak ke tanah. Benar-benar mendebarkan hingga kami tiba di bandara. Saya bahkan sedikit ragu apa dia memang benar tukang ojek, apalagi saya menemukannya bukan di pangkalan ojek.

Ojek memang semakin banyak, popularitasnya belum surut. Dia masih menjadi sebuah pilihan alternatif di kota besar yang makin akrab dengan kemacetan. ?Banyak yang tertolong dengan keberadaan si tukang ojek ini, banyak juga yang mampu menyambung nafas keluarganya dengan menjadi tukang ojek.

Go..go Mr. O Jack!

[dG]

About The Author

7 Comments

  1. danie
    11/09/2012
    • iPul dg.Gassing
      11/09/2012
  2. Ceritaeka
    14/09/2012
  3. ian
    28/11/2012
  4. andi
    19/09/2013
    • iPul Gassing
      19/09/2013
  5. andi
    19/09/2013

Add Comment