Trans Papua; Yey or Ney?

trans papua

Mulusnya Trans Papua

Jalan Trans Papua memang digenjot habis-habisan di masa pemerintah Joko Widodo. Pembangunan ini memang mendatangkan banyak hal positif, tapi ancaman pun tetap ada.

BERAPA JAM WAKTU YANG KALIAN BUTUHKAN dengan perjalanan darat dari Jakarta ke Surabaya? Dengan kereta api sepertinya bisa ditempuh dalam waktu maksimal 12 jam bukan? Kalau dengan mobil mungkin 14 jam? Asal bukan pas arus mudik, saya kira angka itu sudah masuk akal bukan? Padahal jaraknya 804km, lumayan jauh ya.

Sekarang coba kita cari tahun jarak tempuh dari Jayapura di ujung utara Papua ke Merauke di ujung selatan Papua. Coba tanya ke om Google dan lihat hasilnya. Dia pasti angkat tangan! Ha-ha-ha-ha. Tentu saja itu karena memang belum ada jalur darat dari Jayapura ke Merauke. Perjalanan hanya bisa dilakukan dengan dua alternatif; lewat udara, atau lewat laut. Dengan penerbangan, jarak tempuhnya kira-kira satu jam. Kalau lewat laut, mungkin lima hari! Ya karena kapal harus memutar bagian atas pulau Papua yang mirip burung itu. Dari Jayapura ke Nabire yang ada di bagian tengkuk, ke atas menuju Manokwari yang ada di bagian belakang kepala, terus ke Sorong yang ada di sekitar moncong, lalu turun ke Fak-Fak yang ada di bagian mulut, terus ke bawah. Pokoknya sampai capek.

Mamayo, jauh sampe!

Kenapa tidak ada jalan darat dari Jayapura yang langsung ke Merauke? Padahal kan jaraknya hampir sama dari ujung timur ke ujung barat pulau Jawa. Masak sih tidak bisa dibangun jalan darat yang menghubungkan dua kota besar itu?

Jawabannya; karena Papua bukan Jawa! Itu sudah!

Papua tidak seramah Jawa kalau bicara soal alam. Dari Jayapura ke Merauke itu harus melewati hamparan pegunungan tengah bagian timur Papua, lalu turun ke Boven Digul sebelum masuk ke wilayah dataran rendah di Kabupaten Merauke. Naik-turun gunung bok!

Kondisi seperti ini bukan hanya dari Jayapura ke Merauke saja, tapi hampir di sekujur tubuh pulau Papua. Ketemu gunung atau minimal bukit bukan hal aneh dan asing. Pokoknya kamu menoleh ke mana saja, maka matamu akan bertemu dengan pegunungan atau perbukitan. Mungkin hanya Merauke atau Asmat saja yang rata-rata daerahnya tidak berbukit. Sisanya, bukit atau gunung kakakk!

Baca juga: 5 Hal Unik Dari Papua

Sulitnya jalan darat di Papua membuat beberapa daerah jadi lumayan terisolir, susah untuk terhubung dengan daerah lain. Satu-satunya akses yang mudah adalah lewat udara, memanfaatkan pesawat perintis atau helikopter. Jadi jangan heran kalau pulau Papua punya 297 landasan udara (di Papua dan Papua Barat). Landasan itu termasuk landasan di bandara besar di ibukota kabupaten, serta landasan kecil di ibukota distrik. Jadi jangan heran kalau di beberapa distrik, anak-anak lebih excited melihat mobil daripada pesawat atau helikopter. Lah mobil mungkin hanya datang sesekali dalam setahun, dibanding pesawat atau helikopter yang bisa jadi datang beberapa kali dalam sebulan.

Kondisi alam yang berat tanpa jalan darat ini membuat harga-harga juga melonjak tinggi. Di Oksibil – Pegunungan Bintang – harga seliter bensin bisa mencapai Rp.50.000,-. Di Tiom – Lanny Jaya – seekor ayam kampung bisa dihargai Rp.1juta. Koq bisa mahal? Wajarlah ya, soalnya dibawanya pakai pesawat om, tante.

Di sisi lain, pengadaan layanan kesehatan juga jadi semakin sulit. Puskesmas mungkin ada, tapi petugas kesehatannya tidak ada. Di lain tempat, Puskesmas dan petugas kesehatan ada, tapi obat-obatan yang tidak ada. Akses yang sulit jadi alasan utama. Sungguh berat dan mahal membawa obat-obatan ke daerah yang jauh di pegunungan sana.

*****

DASAR INI JUGA YANG KEMUDIAN membuat pemerintah di bawah arahan presiden Joko Widodo menggenjot pembangunan jalan Trans Papua. Sejak 2015, pemerintah Indonesia menerbitkan undang-undang dan peraturan presiden yang diharapkan bisa mempercepat pembangunan Trans Papua.

Trans Papua adalah jalan yang dibangun menghubungkan Sorong di bagian barat Papua dengan Merauke di bagian timur Papua. Merauke di selatan Papua dengan Jayapura di bagian utara. Totalnya diperkirakan 4.330,07 km. 3.259,45 km di wilayah Papua dan 1.070,62 di wilayah Papua Barat. Pendanaannya sebagian besar masuk dalam APBN dengan total anggaran Rp.3,8 Triliun.

trans Papua

Infografis Trans Papua

Pembangunan jalan ini sebenarnya bukan mulai dari nol, karena sebagian kecil jalan sudah ada sejak jaman Orde Baru, lalu ditambah lagi sejak jaman presiden BJ. Habibie. Hanya saja memang pembangunan besar-besaran dan intensif dilanjutkan di era presiden Joko Widodo.

Pembangunan Trans Papua ini direspon positif banyak orang, utamanya orang Papua. Selama puluhan tahun menjadi bagian dari Indonesia, baru kali ini mereka melihat dan merasakan sendiri perhatian dari pusat (dalam arti positif) untuk tanah mereka. Selama ini Papua hanya diperhatikan ketika ada bencana alam atau bencana kelaparan, ada penembakan atau ada aksi kekerasan.

Sekarang, lumayanlah ya. Ada pembangunan yang bahkan dirasakan sampai ke bagian yang sulit dijangkau.

Saking massifnya pembangunan Trans Papua dengan membawa-bawa nama presiden Jokowi, pemerintah Papua sendiri konon sampai harus mengingatkan warganya kalau mereka juga ikut andil dalam pembangunan ini. Bagaimanapun, pembangunan Trans Papua tidak akan lancar kalau tidak dibantu oleh pemerintah provinsi dan kabupaten. Jadi seolah-olah mereka mengingatkan kalau mereka juga kerja, bukan hanya orang-orang dari Jakarta itu saja.

Selesainya beberapa pembangunan Trans Papua mulai terasa memberi dampak positif. Salah satunya yang pernah saya rasakan yaitu jalur dari Nabire ke Paniai yang melewati Dogiyai dan Deiyai.

trans papua

Bagian yang belum jadi antara Nabire – Paniai

Jalur trans ini 80% sudah mulus..lus..lus. Sisanya masih ada yang dikerjakan, ada juga yang sudah rusak karena tanah yang bergeser atau longsor. Tapi sebagian besar sudah nyamanlah. Perjalanan tujuh jam bisa dinikmati, apalagi di kanan-kiri pemandangan indah menghampar nyaris sepanjang jalan.

Selesainya jalur ini membuat harga-harga di Paniai terjun bebas ke garis normal. Harga bensin di SPBU normal seperti harga di Jawa, meski kadang pasokannya juga tidak lancar. Orang di Paniai bilang, harga bensin di Enarotali – ibukota Paniai – pernah mencapai Rp.30ribu/liter. Harga makanan juga meski agak mahal sedikit dari harga makanan di Makassar, tapi setidaknya masih terasa normal. Tidak ada harga seekor ayam kampung yang sampai Rp.1juta itu.

Pokoknya jalan trans yang licin itu terasa positifnya.

Di layanan kesehatan pun sama. Jalan bagus itu tentu saja memudahkan akses bagi mereka yang butuh layanan kesehatan. Mungkin termasuk pengadaan obat-obatan. Ini juga yang membuat Rumah Sakit Umum Daerah Paniai jadi salah satu rumah sakit terbaik di kawasan adat Mee Pago. Bahkan orang dari Nabire datang berobat ke sana. Salah satu penyebabnya mungkin saja karena jalan yang sudah mulus.

*****

TAPI.. ADA TAPINYA. Jalan mulus bisa seperti pisau bermata dua. Jalan mulus itu bisa membawa banyak hal-hal moderen merangsek bahkan sampai ke pegunungan, termasuk hal-hal jelek. Di Enarotali, lem aibon dan judi togel yang merupakan penyalahgunaan modernisasi itu ikut masuk bersama para pendatang. Jalan mulus memang memudahkan para pendatang untuk sampai ke Enarotali, termasuk hal-hal buruk yang mereka bawa.

Di sisi lain, Orang Papua di pegunungan juga seperti kurang siap menerima derasnya pengaruh yang dibawa oleh para pendatang lewat jalan mulus itu. Mereka yang memang tidak punya tradisi berdagang atau menabung karena aslinya adalah bangsa peramu, harus siap sedia menjadi sekadar penonton saja. Modernisasi dan kemajuan masuk dengan cepat ke kampung mereka, bahkan ke bagian dalam rumah mereka. Sayangnya, mereka kadang tidak siap dan akhirnya malah jadi korban.

trans papua

Mereka hanya ada di tepi jalan

Mereka kalah bersaing dengan para pendatang yang kadang hanya menempatkan mereka sebagai objek, sumber penghasilan, dan bukan mitra. Jadilah mereka kemudian tertinggal sebagai penonton, menyaksikan modernisasi yang datang lewat jalan mulus itu mengubah banyak hal di sekeliling mereka. Lalu mereka hanya disisakan remah-remah dan penyakit sosial. Pendatanglah yang jadi pihak paling menikmati mulusnya jalan itu.

Memang tidak semua seperti itu, tapi harus diakui hal seperti itu ada dan terjadi.

Harus diakui, tanpa para pendatang Papua mungkin tidak akan berkembang, seterusnya akan jadi hutan belantara. Tapi, dengan hadirnya pendatang yang juga membawa sifat rakus itu, segalanya tidak serta merta jadi lebih baik. Papua menjadi maju, moderen, tapi orang aslinya ada yang tetap tertinggal. Jadi korban yang digilas modernisasi.

 

Bagaimanapun jalan mulus lewat Trans Papua ini membawa banyak perubahan. Kemudahan layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan tentu saja memberi dampak positif, bahkan buat mereka yang ada di pegunungan atau daerah yang aksesnya sulit. Namun, terkadang kita lupa bahwa di balik pembangunan fisik infrastruktur itu ada manusia yang menikmatinya. Manusia yang juga harus ikut dibangun, bukan dibiarkan bangun dengan sendiri.

Mungkin para pengambil kebijakan harus lebih peduli untuk mempersiapkan orang Papua menyambut hadirnya jalan mulus yang membawa modernisasi ke halaman rumah mereka. Bagaimanapun mereka adalah subjek, bukan sekadar objek. Jangan sampai orang pusat lupa membangun manusia dan hanya fokus membangun fisik.

Jadi, Trans Papua; yey or ney? [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

6 Comments

  1. Prima Hapsari
    13/02/2018
    • Daeng Ipul
      13/02/2018
  2. Dedew
    13/02/2018
    • Daeng Ipul
      13/02/2018
  3. vira
    15/02/2018
  4. Josii
    26/02/2018

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.