Tags: ,

Televisi, Kotak Racun Yang Membuai

Yes, shutdown your TV and start to write

Yes, shutdown your TV and start to write

Mungkin benar kalau televisi merusak dan membuat bodoh karena sejak dulu sudah ada yang percaya kalau televisi itu adalah racun.

“Besok TV harus dimatikan di jam belajar! Kalian jadi bodoh gara-gara televisi!.” Bentak ibu dengan suara penuh amarah. Kala itu saya dan adik-adik masih kecil, Ibu mendapati kami tidak mengerti arti kata “Alhamdulillah” yang dengan segera memicu kemarahannya. Televisi jadi kambing hitam. Kotak kaca di ruang tengah keluarga kami dituding bertanggung jawab penuh pada kebodohan kami anak-anaknya. Walhasil, selama beberapa hari televisi memang dimatikan di jam-jam belajar kami. Hanya beberapa hari karena mungkin ibu atau bapak juga tidak tahan melewatkan acara kesukaan mereka (dan kami anak-anaknya juga) di jam-jam belajar.

Kala itu belum ada YKS, juga belum ada Campur-Campur atau sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Saya lupa apa tepatnya acara TV yang selalu memukau kami setiap malam. Kalau tidak salah ada Bagito Show dan beberapa film serial luar termasuk Mac Gyver yang luar biasa itu. Tapi tidak peduli apa acaranya, televisi tetaplah jadi kambing hitam kebodohan kami waktu itu.

Samar-samar saya ingat bagaimana di awal tahun 1980-an keluarga kami yang kala itu masih tinggal di kampung jauh dari kota menjadi satu keluarga terpandang hanya karena kami punya TV National hitam putih pemberian almarhum nenek. Setiap malam ruang tengah kami penuh dengan para tetangga, orang kampung yang berselimut sarung dan mencangkung di depan televisi menatap kagum pada aksi Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih.

Sampai kemudian sebagai anak kecil saya mulai terbuai oleh kotak kaca itu, kotak kaca yang oleh sebagian orang tua dianggap sebagai racun padahal mereka sendiri kadang sulit melepaskan pandangannya dari kotak bernama televisi. Sebagai anak yang tumbuh di era orde baru dan era ketika televisi hanya ada TVRI saya tak paham betul racun itu seperti apa. Saya malah bangga ketika itu, bangga karena bisa tahu ada tokoh bernama Nelson Mandela, Ronald Reagen, Yasser Arafat, Francois Mitterand dan Margareth Thatcher. Tokoh-tokoh yang saya akrabi namanya di acara Dunia Dalam Berita. Saya ingat, kadang dengan bangga saya menyebutkan nama-nama itu di depan kawan-kawan sekolah yang rupanya tidak mengkonsumsi televisi sebanyak saya.

Ketika beranjak remaja, hormon dalam tubuh juga ikut berkembang. Kala itu stasiun televisi makin bertambah, TVRI bukan satu-satunya stasiun televisi lagi yang ada di republik ini. Album Minggu Ini akhirnya punya lawan, kalau dulu acara itu hanya satu-satunya acara yang membawa potongan video artis pujaan ke ruang tengah kami maka perlahan muncullah acara lain yang kemasannya lebih menarik. Ada Rocket, Video Musik Indonesia dan akhirnya ada MTV yang kala itu tayang di ANTV. Menyenangkan karena sebagai remaja yang jauh dari ibukota perlahan kami bisa merasa ikut jadi bagian trend jaman itu.

MTV, Beverly Hills 2010 atau sinetron Pondok Indah membawa impian saya dan mungkin kawan-kawan saya juga tentang hidup yang nyaman di rumah megah, pakaian trendy yang dibeli di mal-mal dan tentu saja kendaraan mengkilap dengan seri terbaru. Mimpi kami dibentuk oleh televisi, mungkin secara tidak sadar kami sudah diracun oleh kotak kaca itu. Pastinya saya dan teman-teman hanya satu contoh kecil karena di luar sana juga pasti ada banyak anak-anak remaja lainnya yang bermimpi seperti kami, atau tepatnya diracuni televisi seperti kami.

Seorang ekonom dari MIT, Benjamin Olken pernah melakukan penelitian di lebih dari 600 desa di Jawa Timur dan Tengah hanya untuk mengetahui pola ketergantungan para penonton televisi di daerah tersebut. Dari survey itu Olken berkesimpulan kalau setiap satu penambahan stasiun televisi maka rata-rata waktu menonton warga akan bertambah 7 menit. Kala itu baru ada 7 stasiun televisi nasional, jadi bayangkan bagaimana hasilnya jika survey itu dilakukan hari ini ketika setidaknya ada 10 stasiun televisi yang beroperasi secara nasional. Olken bahkan kaget ketika melihat kenyataan bagaimana orang Indonesia begitu kecanduan televisi. Dengan gelengan kepala dia mengaku heran ketika menemukan rumah yang nyaris bobrok dengan lantai tanah yang kotor tapi tetap punya televisi di ruang tengah mereka.

Wajar kalau Olken sampai kaget seperti itu. Televisi di Indonesia perlahan-lahan mulai jadi kebutuhan primer bagi kalangan menengah. Tidak sekali dua kali saya menemukan keluarga yang hidup sederhana dan nyaris kekurangan tapi memaksakan diri untuk punya televisi. Bukan hal yang aneh bila di perkampungan yang disebut orang perkampungan kumuh sekalipun kita akan mudah menemukan antena televisi yang menjulang tinggi. Ketika pertama mengontrak rumahpun benda pertama yang saya beli adalah: televisi!

Bayangkan Anda seorang ibu yang seharian harus bersimbah peluh menyelesaikan pekerjaan rumah dan tidak punya opsi lain untuk melepas kepenatan dari rutinitas itu. Satu-satunya pilihan adalah televisi yang ada di ruang tengah, televisi yang menawarkan ragam mimpi yang secara tidak sadar menghipnotis karena masuk lewat 90% indera kita. Ibu yang penat seharian atau suami yang capek setelah bertarung di jalan seharian hanya tahu kalau televisi bisa membuat mereka rileks, tertawa riang dan sejenak melupakan beban hidup. Toh anak-anak juga jadi riang dan tidak merepotkan ketika pandangan mereka bisa dipakukan ke kotak televisi.

Ketika saya kecil, ibu marah karena saya dan adik-adik terlalu banyak menghabiskan waktu di depan televisi. Padahal waktu itu belum ada YKS. Hari ini banyak ibu-ibu dan bapak-bapak yang marah karena YKS dianggap merusak moral dan mengganggu tumbuh kembang anak-anak mereka sampai mereka merasa harus membuat petisi untuk menghentikan tayangan YKS. Rupanya ada yang tidak berubah, selalu ada orang tua yang begitu terganggu dengan televisi. Selalu ada orang tua yang merasa televisi membuat anak-anak mereka bodoh dan rusak.

Mungkin benar kalau televisi merusak dan membuat bodoh karena sejak dulu sudah ada yang percaya kalau televisi itu adalah racun. Tapi saya percaya, televisi juga punya sisi lain yang bisa mencerdaskan. Ketika saya fasih menyebut nama-nama tokoh besar tahun 1980-an, atau fasih menyebut ibukota negara-negara yang ada di dunia, sebagiannya adalah karena televisi.

Dan kemudian semua adalah pilihan. Takluk pada racun televisi yang dikemas dengan sangat memukau itu atau mencari sisi lain kotak kaca itu yang mencerdaskan. Sebelum menekan tombol power televisi tanamkanlah dalam kepala Anda kalau tidak semua yang ada di dalam kotak kaca itu adalah kenyataan. Sebagian adalah cerita yang disusun dengan skenario tertentu yang memang berniat menghipnotis kita para penontonnya. Selamat menonton! [dG]?

About The Author

Leave a Reply

3 Comments on "Televisi, Kotak Racun Yang Membuai"

Notify of
avatar
Sort by:   newest | oldest | most voted
nengbiker
Guest

yang bikin heran lagi kalau lihat acara bedah rumah or something yang aslinya orangnya memang engga punya. selesai dibedah rumah dan diperbaiki kehidupannya selalu ada tv nangkring.

karena stasiun tv perlu juga penonton tvnya tanpa peduli orangnya bisa bayar listrik apa engga?

farid nugroho
Guest

sekarang sepertinya perintah mematikan tv karena bikin bodoh sudah tidak ada lagi padahal sangat relevan dg kondisi sekarang.

Mugniar
Guest

Sy persis ibu ta’ … sy ngomel2 kalo anak2 mulai terbuai lagi dengan kotak itu. Sy tidak melarang sama sekali anak2 nonton tapi saya kontrol. Acara sekarang makin melenakan. Padahal tantangan hdup makin besar. Rakyat kita sibuk nonton acara hura2 tiap hari, ada saja dari pagi sampe malam. Baru kaget nanti tahun 2015 tahu2 banyak orang asing di sekitarnya karena era AFTA terbuka dan tiba2 saja lahan kerja sudah habis direbut sama orang2 asing itu 🙁

wpDiscuz
%d bloggers like this: