Ritsleting dan Kenyataan Yang Menyakitkan

Ritsleting Jeans (foto: Google)

Ritsleting Jeans (foto: Google)

Kadang kita asyik dengan pikiran sendiri sebelum akhirnya kita tahu kenyataan yang justru membuat kita malu dan kecewa.

Saya jarang buang air kecil di pesawat. Penerbangan paling lama yang pernah saya tempuh hanya berkisar antara 2 jam, waktu yang cukup singkat dan tidak terlalu menuntut ritual mengosongkan saluran urin. Tapi waktu itu berbeda, entah karena cukup banyak menkonsumsi air di ruang tunggu sampai saya terpaksa harus mengunjungi toilet di pesawat.

Waktu itu saya dalam penerbangan menuju Sorong dari Makassar. Setelah pesawat cukup lama di angkasa, tiba-tiba saya merasa harus ke toilet. Maka beringsutlah saya ke toilet. Saya bukan tipe orang yang bisa nyaman buang air di toilet umum, bahkan toilet pesawat yang bersih sekalipun. Tapi mau bagaimana lagi, ini panggilan alam.

Singkatnya, urusan buang air kecil selesai. Saya keluar dari toilet di bagian depan pesawat dan berjalan kembali ke tempat duduk. Sepanjang perjalanan ke tempat duduk saya menangkap tatapan dari beberapa penumpang ke arah saya. Bukan cuma satu dua, tapi ada beberapa penumpang yang menatap saya. Tatapan yang sembunyi-sembunyi maupun yang terang-terangan. Beberapa di antaranya adalah wanita.

Dalam hati saya bertanya-tanya, ada apa? Kenapa mereka begitu berhasrat menatap ke arah saya? Ada yang salah? Atau saya mungkin terlihat cukup keren ya sampai mereka tergoda menatap seperti itu? Saya pilih alasan kedua, mungkin saya memang terlihat cukup keren sampai mereka menatap dengan tatapan yang tidak biasa. Dalam hati saya tersenyum.

Tapi senyum dalam hati itu dengan cepat menguap ketika saya tiba di kursi dan siap untuk duduk kembali. Saya tahu sekarang kenapa mereka menatap saya dengan tatapan yang susah saya artikan itu. Ritsleting celana saya rupanya masih terbuka! Sial! Jadi ini rupanya alasan kenapa mereka menatap saya seperti itu. Bukan karena kagum tapi malah geli atau mungkin malu melihat saya yang begitu percaya dirinya jalan di lorong pesawat dengan ritsleting yang masih terbuka. Rona hangat dengan cepat menjalar di pipi. Sial!

Insiden ritsleting ini adalah gambaran kecil tentang hidup kita. Di suatu masa kita kadang merasa begitu bangga dan bahagia atas sesuatu yang kita temukan. Tatapan orang-orang di pesawat itu adalah temuan yang dengan cepat menstimulasi otak untuk menemukan alasan dan kesimpulan. Kalau dasarnya kita orang yang biasa berbahagia maka otak akan mencari kesimpulan yang membuat kita bahagia. Kalau sebaliknya maka otak akan mencari kesimpulan yang berbeda pula. Kita hidup dengan asumsi dan kesimpulan sebelum kita mendapatkan informasi secara penuh.

Kita kadang hidup dengan asumsi kita sendiri tanpa berusaha melihat realita secara penuh. Sebelum semua informasi terserap kita sudah sibuk dengan asumsi sendiri. Kadang kita berhenti di informasi awal dan buru-buru berasumsi bahkan membuat kesimpulan. Kita tidak berusaha lagi mencari informasi lebih dalam. Separuhnya karena kita sudah nyaman dengan asumsi yang kita dapat dari beberapa informasi awal, sisanya mungkin karena kita takut asumsi itu bisa berubah ketika informasinya lengkap.

Begitulah hidup. Kadang kita sibuk dengan pikiran dan asumsi kita sendiri sebelum kita selesai menghimpun semua informasi yang kita dapat dari sekitar kita. Tentu tidak salah karena toh kita hanya manusia yang punya keterbatasan. Menjadi salah jika kita berkeras menolak informasi lain yang mungkin akan mengubah asumsi kita.

Jadi, ketika ada orang yang menatap pada kita jangan buru-buru menganggap dia menatap karena kita keren, mungkin ada yang salah pada kita. Atau sebaliknya, ketika ada orang yang mencibir pada kita bukan berarti kita yang tidak beres. Bisa saja karena dia yang salah menilai. Jangan terlalu cepat berasumsi dan membuat kesimpulan sebelum semua informasi dilengkapi.

Bukan begitu?

[dG]

About The Author

3 Comments

  1. Mirna si Emon
    19/03/2013
  2. ballassi
    23/03/2013

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: