Rejeki Bertemu Agustinus Wibowo

Bersama Agustinus Wibowo

Bersama Agustinus Wibowo

Rejeki memang tidak pernah tertukar. Saya percaya itu, rejeki bisa datang langsung atau datang lewat tangan orang lain.

Sebuah mention mendarat di akun twitter saya. Isinya menanyakan apa saya ada di Makassar, ketika saya jawab iya maka percakapan dilanjutkan via direct message. Si pengirim adalah Afdhal, kawan yang juga redaktur majalah Pradha Magazine, sebuah majalah berisi informasi travel khusus Indonesia Timur.

Dari direct message yang berbalas itu Afdhal meminta saya untuk mewawancarai Agustinus Wibowo untuk majalah Pradha Magazine. Alasannya, saya selalu menulis review buku Agustinus dan sepertinya sudah kenal dengan dia. Ahhay! Ini berita gembira tentu saja. Dengan cepat tawaran dari Afdhal saya terima dengan penuh semangat.

Dari awal ketika tahu Agustinus Wibowo akan datang ke Makassar saya sudah ancang-ancang untuk bertemu dengannya. Tak perlu saya cerita lagi betapa saya begitu mengagumi pria yang satu ini, sejak pertama kali saya membaca lembar demi lembar buku Garis Batas di tahun 2011. Acara Makassar International Writers Festival tahun ini jadi satu-satunya kesempatan saya untuk bertemu langsung dengan Agustinus, setidaknya tahun ini.

Saya hampir kecewa ketika ternyata jadwal saya bentrok dengan dengan jadwal MIWF yang menempatkan Agustinus sebagai pembicara. Sudahlah, belum rejeki kata saya dalam hati. Sampai kemudian tiba direct message dari Afdhal.

Berbekal nomor telepon dari Afdhal saya meminta waktu untuk bertemu dengan Agustinus. Kami sepakat bertemu di Fort Rotterdam tempat acara MIWF 2013 diadakan. Sore itu saya agak terlambat tiba di lokasi, sempat ketiduran dan terhalang hujan yang masih rajin mengguyur di bulan Juni.

Ramah, Santai dan Cerewet.

Nyaris satu jam dari waktu yang disepakati akhirnya saya melihat seorang pria berkulit putih bermata sipit berjalan ke arah saya. Sama sekali tidak ada tampang backpacker. Tubuhnya kecil, tidak sampai setinggi kuping saya. Hari itu dia mengenakan kemeja yang mirip baju koko dengan celana bahan dan sepatu kulit mengkilap. Benar-benar jauh dari bayangan seorang pejalan dengan ongkos pas-pasan. Saya bahkan sempat membayangkan bagaimana pria kecil ini mampu memanggul tas besar yang berat di medan yang tak bersahabat.

Ketika mendekat saya memperkenalkan diri dan ternyata dia ingat kalau sayalah Ipul yang sering memention dia di twitter. Iya, kami memang sempat beberapa kali bertukar mention di twitter atau setidaknya dia membalas sapaan saya. Dari situ saya sudah membayangkan kalau Agustinus adalah orang yang ramah. Sebelum wawancara dimulai dia malah sempat memotret saya, ketika saya tanya buat apa, dia menjawab kalau itu akan digunakan sebagai pengenal karena nomor saya akan dia simpan.

Wawancara kemudian kami mulai. Terus terang saya memang agak grogi karena bagaimanapun sudah lama saya menantikan waktu untuk bertemu langsung dengan penulis yang satu ini. Saya juga tidak pernah membayangkan dapat bertemu dengan Agustinus dalam suasana santai tanpa gangguan. Bayangan saya, walaupun bertemu dia mungkin saja saya akan bertemu dengannya dalam sebuah acara bedah buku yang ramai dengan penikmat bukunya yang lain. Tapi ini berbeda dan jelas lebih membuat saya grogi.

Saking groginya, malam sebelumnya saya mengumpulkan data sebanyak mungkin tentang Agustinus termasuk membuat daftar pertanyaan. Saya berusaha membuat diri saya tidak tampak bodoh dengan mengajukan pertanyaan yang dangkal. Belakangan pertanyaan-pertanyaan yang saya susun ternyata tidak semuanya saya tanyakan.

Agustinus ternyata orang yang sangat ramah, santai dan cerewet. Dia senang berbicara, satu per satu pertanyaan singkat saya dijawabnya dengan panjang lebar sampai mewakili jawaban dari pertanyaan lain yang saya siapkan. Suasana juga dengan cepat berubah menjadi santai, apalagi ketika kami harus pindah tempat karena ruangan yang kami tempati harus ditutup karena sudah lewat jam operasional.

Dari cara berjalannya saya tahu kalau dia memang tukang jalan. Langkahnya cepat dan ringan, benar-benar langkah orang yang terbiasa berjalan jauh. Wawancara kemudian kami lanjutkan, dalam sesi kedua ini saya sudah menyimpan catatan saya ke dalam tas. Suasananya sudah bukan wawancara lagi tapi lebih kepada ngobrol.

Selama hampir satu jam lebih Agustinus berbagi banyak cerita, tentang perjalanan, tentang bukunya, tentang hidupnya. Sangat banyak sampai-sampai saya bingung bagian mana yang akan saya masukkan ke dalam majalah Pradha. Di atas segalanya terlihat benar kalau lelaki kelahiran Lumajang ini adalah orang yang memang senang berbagi.

Pertemuan hari itu harus diakhiri ketika Agustinus akan beranjak ke tempat makan malam. Sebenarnya dia mengajak saya ikut makan malam, tapi saya tak enak. Saya tahu ajakannya serius tapi selain tak enak saya juga sudah terlanjur berjanji ke anak-anak untuk mengajak mereka ke Mall, jadi pertemuan hari itupun akhirnya harus ditutup. Kami berpisah setelah sebelumnya saya tidak melewatkan kesempatan meminta tanda tangannya di dua buku yang saya bawa, Selimut Debu dan Garis Batas serta tentu saja foto bersama.

Sore yang indah, sore ketika mimpi saya jadi kenyataan. Iya, saya akui saya norak tapi saya tidak peduli. Kata Mamie, saya seperti seorang anak kecil yang dapat mainanbaru. Ah, saya pasti terlihat sangat gembira hari itu.

Selepas pertemuan dengan Agustinus saya tak lupa mengucapkan terima kasih pada Afdhal dan kru Pradha Magazine yang lain yang sudah memberi saya kesempatan untuk bertemu langsung dan ngobrol secara pribadi dengan Agustinus Wibowo. Benar-benar sore yang menyenangkan.

Dan sekali lagi saya percaya, kalau memang rejeki dia tidak akan lari ke mana-mana. [dG]

About The Author

7 Comments

  1. WHIZISME
    02/07/2013
  2. haerul
    15/07/2013
  3. Afdhal
    01/08/2013
    • iPul Gassing
      01/08/2013
  4. Silviana
    26/09/2013
    • iPul Gassing
      26/09/2013
  5. syarvia
    27/08/2015

Add Comment

Leave a Reply

%d bloggers like this: