Negeri Rapuh

Ilustrasi

Ilustrasi

Jangan-jangan memang negeri kita ini sangat rapuh, merawat kebencian untuk para provokator, untuk bisa disulut kapan saja.

Saya baru saja tiba di rumah setelah perjalanan dinas ke Lombok ketika berita tentang pembakaran vihara di Tanjung Balai, Sumatera Selatan itu masuk ke handphone saya. Saya tidak sempat menyimak lama, keburu jatuh tertidur karena besoknya masih harus melintasi beberapa kabupaten lagi di Sulawesi Selatan.

Selanjutnya cerita tentang pembakaran vihara dan kerusuhan bermuatan etnis dan agama itu melintas sepotong-sepotong di antara kesibukan lain. Informasi yang saya baca hanya sekelebat, sepotong-sepotong dan pastinya tidak utuh. Komentar simpang siur juga begitu ramai melintas, kebanyakan menyayangkan kejadian itu, tapi ada pula komentar yang justru memanas-manasi. Untungnya komentar memanas-manasi itu bukan datang dari teman-teman saya di media sosial.

Sampai sekarang saya masih belum tertarik memberikan komentar tentang kejadian itu. Rasanya tidak bijak untuk ikut mencemplungkan diri di pusaran yang sedang menghebat tanpa tahu persis apa yang terjadi. Sudah terlalu banyak orang yang sok pintar dan sok tahu segalanya di media sosial.

Tapi, kejadian itu tak urung membuat saya juga berpikir. Berpikir betapa rapuhnya negeri kita. Betapa banyaknya api dalam sekam yang bisa disulut kapan saja, oleh siapa saja dan oleh kepentingan apa saja.

Perjalanan ke beberapa daerah membuat saya menemukan begitu banyak potensi konflik yang bersumber pada perbedaan ras dan agama. Saya tentu tidak akan menyebutkannya secara detail potensi apa itu, tapi saya berani bilang kalau itu adalah nyata.

Ada orang-orang beragama A atau bersuku Z yang dengan spontan mengeluarkan komentar jelek tentang orang-orang beragama B atau bersuku Y. Mungkin tidak sepenuhnya bermuatan kebencian, tapi setidaknya itu tetap adalah potensi konflik. Hanya butuh bahan bakar yang pas untuk membuat potensi itu jadi menghebat menjadi sebuah api yang membesar.

Banyak dari potensi itu yang hadir dari perjalanan panjang perseteruan antar kerajaan di masa lalu. Semacam perseteruan turun temurun yang dirawat secara kolektif, menjadi warisan para leluhur. Perseteruan yang sejatinya sudah lama berakhir itu masih terus tersimpan, diteruskan ke generasi selanjutnya lalu diceritakan terus menerus. Memang tidak sampai melecut perseteruan baru, tapi bibitnya masih ada dan terus ada. Tentu karena ada yang merawatnya.

Lalu soal agama. Hal ini tentu sangat sensitif, bahkan jauh lebih sensitif dari mengejek tim sepakbola daerah. Mengejek tim sepakbola daerah berarti harus siap menjadi korban perundungan atau caci maki para pendukungnya. Tapi, mengejek ajaran agama, apalagi yang mayoritas berarti harus siap dengan konsekuensi yang lebih besar. Bukan cuma pribadi yang menjadi sasaran, tapi bisa-bisa kelompok dan golongan ikut terseret.

Satu perbuatan individu, jadi legitimasi untuk menyudutkan satu golongan yang kebetulan sama dengan si pelaku. Apalagi mereka hanya minoritas.

Saya jadi bertanya-tanya; jangan-jangan toleransi antar umat beragama dan kehangatan antar etnis yang saya lihat di banyak tempat di Indonesia itu hanya sekadar kamuflase saja? Jangan-jangan cerita bahwa orang Indonesia itu ramah dan saling menghormati itu hanya ada di buku paket pelajaran sekolah?

Atau mungkin memang semua sudah berubah? Kebencian antar ras dan agama yang sudah lama tersimpan dan diwariskan turun temurun itu sekarang kotaknya dibuka kembali. Siap untuk digunakan sebagai alasan untuk memerangi orang lain yang berbeda agama dan etnis dengan kita.

Mungkin memang negeri kita adalah negeri yang rapuh. Negeri yang terlalu peduli pada warisan kebencian turun temurun, terlalu sakit hati pada ketidakadilan yang hanya bisa dipendam dan serupa bom waktu. Lalu, ketika ada manusia lain yang lebih cerdik melihat gejala, semua itu dijadikan bahan bakar untuk memantik kerusuhan yang lebih besar. Apapun tujuannya.

Saya jadi takut, jangan-jangan nanti Indonesia berhasil diubah menjadi seperti Rwanda yang pernah (dan masih) panas oleh perseteruan etnis. Duh, sungguh bukan sebuah bayangan negara yang menyenangkan. [dG]

 

About The Author

Add Comment