Negeri Para Pelupa

ilustrasi

ilustrasi

Kawan, sadarkah kamu kalau kita hidup di negeri para pelupa? Negeri di mana orang-orangnya begitu mudah melupakan apa yang terjadi, lalu dengan mudahnya melenggang melanjutkan hidup. Negeri di mana kesedihan kadang hanya diingat dalam sehari-dua. Setelahnya, kita bisa kembali tertawa riang, melangkah dengan ceria seolah-olah tak ada sesuatu yang penting yang telah terjadi.

Kawan, masih ingatkah kau kejadian 14 Januari lalu? Bom meledak dekat jantung ibu kota, orang-orang panik, orang-orang ketakutan. Tapi hanya dalam hitungan jam, orang-orang juga sudah mulai lupa. Mereka sibuk dengan tukang sate yang santai, sibuk dengan polisi cakep berbadan kekar, lalu sibuk dengan perdebatan-perdebatan seputar kejadian itu. Kita perlahan lupa kalau ada yang mati dalam kejadian itu, ada nyawa yang meregang dan ada orang-orang yang menangis kehilangan.

Lalu kita mendengar kabar ratusan orang di Kalimantan Barat sana diusir paksa dari perkampungan mereka. Rumah mereka dibakar, nyawa mereka diancam. Mereka adalah orang-orang yang sempat salah jalan, terbujuk rayuan hingga dianggap sesat. Tapi kita lupa kalau mereka juga adalah manusia yang punya hak untuk hidup, punya hak untuk menjadi seperti kita. Kita lupa kalau anak-anak mereka seperti juga anak-anak kita, punya hak untuk tumbuh tanpa harus dibayangi trauma menyesakkan.

Kita juga mungkin sudah lupa kalau di Sampang dan Lombok ada juga saudara-saudara kita sesama orang Indonesia yang terusir dari tanah mereka. Dipaksa menjauh membawa barang seadanya dan rasa takut sebesar-besarnya. Hanya karena keyakinan mereka berbeda, orang-orang jadi merasa punya hak untuk mengusir mereka. Kita lupa kalau mereka juga punya hak untuk hidup seperti kita.

Lalu kita juga lupa kalau hampir 18 tahun lalu ada ibu-ibu yang kehilangan anaknya dalam sebuah perang melawan tirani. Kita mungkin lupa, tapi tidak dengan ibu-ibu itu. Setiap kamis mereka berdiri tegak tak jauh dari istana yang mulia presiden Indonesia, hanya bediri tegak tanpa berteriak. Mereka hanya meminta kejelasan nasib anak mereka, anak-anak yang mereka lahirkan dengan penuh perjuangan, dari rahim mereka sendiri. Kita mungkin lupa, tapi tidak dengan mereka.

Lalu kita juga kadang lupa kalau para pembesar itu pernah berbuat curang mencuri uang rakyat. Ketika mereka kembali mengemis meminta dukungan, kita tetap memilihnya, mengantarnya hingga ke kursi empuk di kantor-kantor pemerintahan atau di kantor-kantor dewan perwakilan rakyat. Mungkin kita memang pelupa, atau mungkin juga kita pemaaf.

Kita pun kadang lupa kalau dulu kita bersaudara, satu darah, satu negara. Ketika ujaran-ujaran kebencian hanya karena perbedaan paham merebak, kita lupa kalau kita bukan Tuhan yang bisa menjamin seseorang bisa masuk surga atau neraka. Kita lupa kalau kita bukan pemilik sertifikat surga yang bebas mengkaplingnya sesuka hati.

Soal tanah, kita juga lupa kalau tanah Papua itu punya orang Papua. Kita kadang seenaknya mencaplok tanah mereka, menambang isinya lalu membawanya pergi dan meninggalkan remah-remah untuk mereka. Kita pun kadang lupa, memaksakan menanam padi dan sawit di tanah mereka. Padahal mereka tak butuh itu.

Kita memang sering lupa banyak hal, bukan begitu kawan? Kita hidup di negeri di mana orang-orangnya gampang lupa pada rasa sakit, gampang lupa pada rasa sedih dan gampang lupa pada rasa kehilangan. Selama itu bukan terjadi pada kita.

Tapi gampang lupa juga ada baiknya. Mungkin itu yang membuat bangsa kita tetap bisa bertahan, separah apapun badai yang menyerangnya. Kita tetap bisa berdiri, mencari makan dan mencari hidup. Sambil melupakan yang lain, melupakan sesuatu yang dulu membuat bangsa ini jadi satu, dan jadi kuat.

Kita lupa kalau surga itu begitu luas, bagi mereka yang tak gampang lupa. Jangan sampai lupa, wahai penghuni negeri para pelupa. [dG]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

One Response

  1. BlogS of Hariyanto
    26/01/2016

Add Comment