Kisah Anak STM [Bagian 2]

Kisah ini adalah sambungan dari bagian pertama

Tidak Semua Anak STM Suka Tawuran.

Mendengar nama “anak STM” maka yang terbayang adalah anak-anak berseragam putih abu-abu yang gandrung pada tawuran. Ini sudah jadi pameo yang dipercaya banyak orang. Entah bagaimana awalnya, tapi saya menduga ini ada hubungannya dengan kurangnya jumlah mahluk manis dalam satu lingkungan STM. Kekurangan mahluk manis membuat kehidupan terasa keras, didominasi oleh hormon testosteron yang gampang menggelegak.

Kehidupan STM adalah kehidupan yang maskulin dan untuk menjaganya maka tawuran jadi salah satu cara yang dipilih. Tanpa tawuran, maskulinitas anak STM seakan tidak sah. Kalau tak ada lawan di luar, antar kelas atau antar jurusan juga tak mengapa.

Tapi rumus itu tidak berlaku untuk kelas kami. Selama empat tahun sekolah di STM hanya sekali saya dan teman-teman ikut dalam ajang tawuran resmi maupun tidak resmi. Tawuran resmi adalah tawuran yang dikoordinir entah oleh kakak kelas ataupun teman kelas yang lain. Sementara tawuran tidak resmi adalah tawuran spontan yang kadang terjadi ketika ada acara di luar kelas atau ada keramaian yang melibatkan siswa-siswa berseragam putih abu-abu.

Satu-satunya tawuran yang kami ikuti itu justru di hari terakhir kami sebagai siswa STM. Setelah pengumuman lulus keluar, hampir satu sekolahan berkonvoi keliling kota memuaskan rasa senang dengan baju yang penuh coretan. Di depan SMA Negeri 1 tawuran pecah. Entah siapa yang memulai, yang jelas lempar-lemparan batu terjadi. Saya dan beberapa teman sekelas juga ikut, benar-benar hanya sebagai penggembira. Hanya satu-dua batu yang kami lempar sebelum akhirnya kami berhamburan ketika sirine mobil polisi mulai terdengar. Tidak ada adegan saling pukul seperti layaknya tawuran.

Beberapa orang teman sekelas pernah terlibat perkelahian dengan teman dari kelas lain, tapi itu tidak dianggap sebagai tawuran karena itu adalah urusan pribadi mereka. Pernah juga sebuah tawuran massal terjadi, kakak kelas mengorganisir kami untuk menyerbu (lagi-lagi) SMA Negeri 1 yang memang seolah jadi lawan utama semua STM di kota Makassar. Kami mengiyakan, ikut dalam rombongan sampai depan toko tempat kami biasa menunggu angkot. Ketika rombongan lain naik angkot dan menuju lokasi pertempuran kami malah melipir ke rumah salah seorang teman, tetap di sana sampai sore menjelang.

Sebagian dari kami memang pengecut, tak punya nyali untuk berkelahi (dan itu termasuk saya) sementara sisanya adalah anak-anak yang memang tidak doyan berkelahi. Jadilah kami selalu berusaha menghindari kontak fisik seperti yang biasa dilakoni anak-anak STM.

Kami seakan jadi membantah anggapan kalau anak STM itu rajin berkelahi dan gandrung pada tawuran.

Tapi kami juga tidak bersih-bersih amat, sesekali kami juga berbuat nakal seperti layaknya anak remaja. Bolos, merokok di belakang sekolah sampai mencoba minuman keras. Tapi sama sekali tidak sampai merugikan orang lain atau berbuat onar. Khusus untuk urusan minum minuman keras, saya dan beberapa teman sekelas melakukannya karena terpaksa. Anak-anak dari kelas lain menyodorkannya kepada kami disertai kalimat, “ayolah, demi persahabatan.” Kami sendiri tidak pernah sampai benar-benar membeli sendiri untuk kami konsumsi.

Beda dengan merokok, kami melakukannya secara sadar dan sistematis. Paling sering kami lakkukan di luar sekolah, tapi sesekali juga dengan sembunyi-sembunyi kami merokok di bagian sekolah yang tersembunyi atau bahkan di kelas. Saya ingat pernah tertangkap basah merokok di kelas sampai harus berurusan dengan guru BP yang saat itu benar-benar jadi sosok paling ditakuti di sekolah kami.

Di ruangan BP (kalau tidak salah singkatan dari Bimbingan dan Pembinaan) saya gemetaran dan keringat dingin. Saya harus menandatangani surat perjanjian tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang sama, nama sayapun dicatat di buku hitam berisi nama-nama anak bermasalah. Sampai beberapa hari saya memutuskan untuk berhenti merokok. Tapi itu hanya berlangsung beberapa hari saja, selanjutnya saya kembali merokok meski lebih hati-hati dari sebelumnya.

Untuk urusan bolos, sangat sering saya dan beberapa teman geng- yang kami beri nama Ghoblock-melakukannya. Modusnya kami berpura-pura ke kamar kecil setelah sang guru selesai mengabsen semua murid. Kami biasanya nongkrong di belakang kelas, di tempat yang tersembunyi sambil merokok atau sekadar mengobrol. Kadang kami juga nongkrong di kamar kost seorang kawan yang tak jauh dari sekolah. Kami kembali lagi setelah yakin kalau jam pelajaran sudah berganti.

Guru yang jadi “korban” kami adalah guru yang sudah renta atau guru perempuan yang kami anggap lembek dan tidak killer. Untuk guru yang killer, kami tetap tidak berani.

Geng Ghoblock.

Seperti layaknya anak-anak remaja, kami juga punya geng yang berisi 11 orang anggota. Belakangan jumlahnya tinggal 10 setelah salah seorang terpaksa dikeluarkan dari sekolah karena tinggal kelas di kelas yang sama selama dua tahun. Nama geng kami GHOBLOCK, singkatan dari Ghost On The Block. Saya yang memberinya nama, tanpa filosofi apapun. Nama itu saya pilih dan akhirnya disetujui teman-teman mungkin karena terkesan gagah saja.

Di kelas kami ada geng lain yang namanya RHUZAK, plesetan dari “rusak” tanpa ada kepanjangan atau arti tertentu. Kedua geng ini punya karakteristik yang berbeda. Anak-anak Ghoblock adalah anak-anak yang bandel (menurut kami) dengan prestasi akademik biasa saja sedang geng Rhuzak berisi anak-anak rajin yang prestasi akademiknya selalu masuk 10 besar. Meski begitu kami tidak bisa dibilang bersaing, kami tetap berteman seperti biasa. Geng itu hanya muncul karena kebiasaan kami nongkrong dan menghabiskan waktu bersama.

Saya tidak tahu apakah di kelas lain juga ada geng, tapi seingat saya kakak kelas kami juga ada geng yang cukup terkenal. Namanya CHECHAK, singkatan dari Cewek Cari Kita yang kemudian ditambahi huruf “H” di akronimnya agar terkesan gaul.

Kami anak-anak Ghoblock merasa diri kami lebih keren dan lebih gaul, sering kali kami menggunjingkan anak-anak Rhuzak yang kami anggap culun dan lugu. Mungkin sebaliknya mereka juga begitu, hanya saja kami tidak tahu. Di permukaan kami seperti biasa saja tapi saya rasa di belakang kami sering saling menggunjingkan.

Di antara kedua geng ini ada anak-anak lain yang tak punya geng. Ada yang benar-benar tidak akrab dengan kami, ada juga yang akrab dengan kedua geng, rajin ikut nongkrong dengan kedua geng tapi tidak memutuskan untuk ikut salah satunya. Ikatan antar geng ini cukup kuat di tahun kedua- tahun ketika kami mulai disatukan berdasarkan jurusan- sampai tahun ketiga. Di tahun keempat geng kami mulai pecah, ada beragam alasan internal yang menjurus drama di dalam tubuh geng. Alasan-alasan ini membuat kubu-kubu kecil muncul di tubuh geng, kami tidak solid lagi. Di ujung tahun ajaran menjelang perpisahan malah terjadi baku hantam antar dua anggota geng gara-gara perempuan.

Dari kesebelas anggota geng itu hanya satu-dua yang pernah saya temui selepas sekolah, itupun bertahun-tahun yang lalu. Entah dimana mereka semua, saya benar-benar kehilangan kontak dengan sebagian besar anggota geng Ghoblock.

Lucu juga rasanya mengenang masa-masa STM itu, masa-masa yang menurut saya cukup banyak menorehkan cerita dalam kehidupan. Karenanya saya hanya tersenyum mendengar candaan teman di paragraf awal di atas. Masa remaja saya mungkin tersia-siakan tanpa kisah cinta seperti yang dialami banyak anak SMA, tapi ada juga banyak kisah lain yang bisa saya rekam selama saya menghabiskan waktu di STM. Bagaimanapun, kisah di STM cukup berkesan buat saya. [dG]

About The Author

Add Comment