Kisah Anak STM [Bagian 1]

Bagian depan STM Pembangunan (sekarang SMK 5)

Bagian depan STM Pembangunan (sekarang SMK 5)

Tiba-tiba saja saya merasa rindu menceritakan masa-masa sekolah di STM. Masa yang cukup memberi banyak warna dalam kehidupan saya.

“KAMU DULU SEKOLAH DI STM? DEH, SIA-SIANYA ITU MASA REMAJAMU.” Begitu kata seorang kawan sambil tertawa seperti mengejek. Saya juga ikut tertawa sambil sedikit bersungut-sungut. Tak ada rasa jengkel atau tersinggung sama sekali. Saya tahu dia hanya bercanda.

Candaan itu sudah lewat beberapa tahun, bahkan mungkin sudah 10 tahun. Saya lupa persisnya kapan. Sampai sekarang candaan itu masih lekat di kepala setiap kali ada topik tentang anak STM, termasuk ketika seorang peserta ajang Stand Up Comedy Kompas TV bernama Rahmet sering membawakan materi tentang anak STM.

Menjadi anak STM memang punya suka-duka sendiri. Teman saya itu menganggap STM membuat masa remaja sia-sia karena dia melihatnya dari sudut pandang percintaan. Anak STM memang fakir kisah percintaan, setidaknya dulu ketika saya masih jadi siswa STM. Bagaimana tidak? Populasi jenis kelamin perempuan di sekolah kami dulu tidak sampai 10% dari total siswa yang ada. Jumlah yang sangat sedikit itu akan makin sedikit kalau parameter cantik dan seksi dimasukkan sebagai tolak ukur mencari pacar. Jumlahnya akan tambah menipis kalau cewek yang tampilannya menyerupai cowok dikeluarkan dari daftar.

Jadi, hampir tidak mungkin anak STM (jaman saya dulu) bisa punya kisah-kasih di sekolah. Kalaupun ada, mungkin mereka hanya beruntung atau khilaf.

Awal Masuk STM.

Masuk STM memang jadi pilihan saya sejak SMP. Alasan utamanya karena saya berasal dari keluarga berada -dalam kesulitan ekonomi- sehinigga pikiran utama yang muncul adalah mencari kerja setelah lulus sekolah. STM seperti juga sekolah kejuruan lainnya membekali siswanya dengan keterampilan khusus yang memang siap untuk dikonsumsi dunia kerja. Inilah alasan awal saya ingin masuk STM. Pikiran saya, setelah lulus saya akan langsung bekerja biar tidak membebani keluarga lagi. Soal nanti akan kuliah atau tidak, itu urusan nanti.

Logo STM Pembangunan Makassar

Logo STM Pembangunan Makassar

Oleh orang tua saya dimasukkan ke STM Pembangunan, salah satu STM terbaik di kota kami. Sekarang STM ini berubah nama jadi SMK Negeri 5. Seingat saya hanya ada delapan STM serupa di Indonesia. Ciri khas paling membedakan STM ini dengan STM lainnya adalah masa belajarnya yang sampai empat tahun. Di kelas empat pelajaran hampir penuh dengan mata pelajaran kejuruan, hanya ada bahasa Inggris dan agama seingat saya yang adalah mata pelajaran umum. Itupun hanya di semester awal karena semester berikutnya semua pelajaran sudah penuh dengan pelajaran kejuruan plus praktek lapangan. Singkatnya, lulusan STM Pembagunan memang benar-benar lulusan yang siap kerja.

Karena masa belajarnya yang empat tahun itu maka ketika ada siswa yang tinggal kelas otomatis menjadapat julukan siswa PELITA alias pelajar lima tahun. Tentu karena masa belajarnya yang sampai lima tahun.

Saya memilih jurusan bangunan. Alasannya sederhana; karena saya senang menggambar sejak kecil, padahal sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali karena toh yang saya gambar juga bukan rumah atau gedung, tapi kartun. Orang tua sebenarnya berharap saya masuk jurusan elektro yang lebih elit (kesannya), tapi nilai tes saya ternyata memang tidak berhasil menembus jurusan itu. Jadilah saya siswa STM Pembangunan jurusan bangunan gedung.

Kelas satu belum ada penjurusan, semua siswa yang memilih jurusan bangunan masih disatukan dalam tiga kelas. Penjurusan baru dilakukan di tahun kedua dengan dua jurusan; bangunan air yang lebih mirip teknik sipil dan bangunan gedung yang lebih mirip teknik arsitektur. Saya tentu memilih yang kedua, masuk ke bangunan gedung sesuai harapan dari awal.

Di jurusan ini kami diajari teknik dasar mendesain bangunan, termasuk pengetahuan tentang bahan dan hitungan-hitungan dasar dalam merancang bangunan. Saya bisa dibilang siswa rata-rata, tidak terlalu menonjol tapi tidak juga terlalu bodoh. Saya berhasil menyelesaikan sekolah dalam waktu empat tahun dengan nilai yang tidak mengecewakan tapi juga tidak membanggakan.

Satu-satunya pelajaran dengan nilai tertinggi justru bahasa Inggris, pelajaran yang bagi teman-teman menakutkan tapi justru menyenangkan buat saya. Saat ujian akhir yang waktu itu namanya EBTA, saya malah jadi tumpuan teman-teman dalam menjawab soal. Contekan jawaban yang saya buat saya lemparkan ke teman terdekat, kemudian secara berantai jawaban itu disebar lagi ke teman yang lain.

Di akhir tahun keempat kami juga harus masuk studio, hampir seperti mahasiswa jurusan arsitektur. Kami diberi tugas merancang hotel atau pusat perbelanjaan. Selama sebulan penuh kami merancang tugas itu, sampai-sampai kami harus menginap di sekolah yang memang punya ruang berisi meja gambar lengkap dengan mesin gambarnya. Tugas ini jadi salah satu acuan dalam penentuan kelulusan kami.

Ada satu hal yang sangat menjejak dalam ingatan saya. Di salah satu ujian gambar seorang kawan tidak berhasil menyelesaikan tugasnya. Dia bukannya tidak bisa, tapi dia memang tidak mau. Di saat kami semua masih terpekur di depan meja gambar, dia sudah mengepak semua peralatannya dan pamit tanpa rasa bersalah. Tapi tingkahnya itu tidak membuatnya tersandung, nilai untuk ujian gambarnya bahkan lebih bagus dari nilai beberapa dari kami yang mati-matian menyelesaikan tugas. Bisik-bisik di antara kami muncul, konon orang tuanya yang memang punya uang berhasil membeli nilai untuk si anak. Entahlah, bisik-bisik itu hanya jadi cerita yang tak bisa kami buktikan.

[bersambung ke bagian 2]

Silakan Kakak, Dibaca Juga Kakak...

About The Author

4 Comments

  1. Nur Islah
    07/09/2015
    • iPul Gassing
      08/09/2015
  2. Aliefrahman
    08/09/2015

Add Comment